Perasaan yang tak seharusnya terjadi pada seorang pemuda nakal terhadap gadis manis ini akan menjadi sebuah perjalanan cerita romansa yang jarang terjadi di kehidupan remaja lainnya. Kisah ini hanya membahas tentang para remaja yang sedang mengalami masa-masa pubertas dan kenakalan mereka.
"Namun, jangan sampai terbawa arus dengan semua cerita ini. Karena pada akhirnya semua hal akan menjadi berbeda dan membuat isi di dalam kepala kalian berputar."
Temani aku dan bawalah imajinasimu dalam cerita ini Kawan!
~Enjoy your reading~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risma Puja Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa jijik
Senyum Gloria hilang setelah melihat senyuman dari putra sulung Lindsey, "Hey Gloria..." Suaranya sangat jelas menyebut nama Gloria.
"Baiklah aku akan membantu Lindha dulu anak-anak, bersenang-senanglah." Lindsey pun meninggalkan mereka berdua.
"Hey gadis imut..." Bryson adalah putra pertama dari Lindsey yang kini tinggal bersama dengan Lindha karena jarak sekolah tak jauh dari rumah bibinya itu. "Kau," Gloria masih tercengang, sial sekali gadis itu. "Ternyata kau putri tiri bibiku..."
"Kau cantik sekali malam ini." Bryson menunjukan pandangan nakalnya saat menatap Gloria dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gadis itu benar-benar tak percaya akan dunia yang sempit ini, "Sudahlah."
Tak mau berlama-lama berhadapan dengan lelaki yang menyebalkan itu, Gloria pun masuk ke dalam rumah Lindha untuk mengasingkan diri dan memberitahukan apa yang terjadi pada Todd.
Rumah itu sangat bergaya klasik dan indah dimata Gloria, benda-benda antik terpajang di setiap sudut rumah itu. Ponselnya bergetar, "Jaga dirimu Glory, aku berpikiran negatif." Pesan teks yang di kirimkan Todd itu membuat Gloria merasakan hal yang serupa. "Aku baik-baik saja, sampai bertemu di sekolah besok, aku bosan tanpa kalian." Balasnya.
Ian terlihat tampan dan ceria dengan merayakan hari ulang tahun istrinya ini.
Dan orang-orang di luar sana begitu seru menikmati pesta meriah, sementara Gloria berada di dalam rumah Lindha seorang diri yang asik melihat benda-benda antik yang baru ia lihat.
Kemudian Bryson masuk dan mulai membuat Gloria merasa cemas. "Ah ramai sekali di luar sana." Bryson menjatuhkan tubuhnya sendiri ke sofa besar. Gloria tak mau melihat lelaki itu, ia menyibukkan diri dengan melihat foto-foto yang terpajang di dinding tembok ruangan itu. "Kau membenciku aku tahu itu..." Bryson memulai pembicaraannya. "Aku memang seperti ini, tak bisa dikendalikan." Lelaki itu terus berbicara seperti seorang pemabuk, sementara Gloria hanya mendengarkannya saja tanpa menatap wajahnya. Keadaan pun sunyi, Gloria sudah merasa tak nyaman.
Bryson berhenti bicara karena sia-sia, kini ia hanya memperhatikan gadis itu dan mulai menyadari bahwa Gloria memang cantik.
Warna hitam adalah warna favorit Bryson, seperti warna gaun yang di kenakan gadis itu. Pikiran sebagai seorang lelaki mulai muncul, Bryson mengakui bahwa tubuh Gloria memang sempurna dengan setiap lekuk tubuh moleknya yang indah itu, dan beberapa helai rambut terikatnya turun di atas bahunya. Mata Bryson benar-benar tak berpaling sama sekali saat itu.
Gloria membalik badan berniat untuk keluar dari rumah itu dan bergabung dengan yang lainnya.
Namun tubuh Bryson yang tinggi sudah menghalangi jalan keluarnya. "Jangan halangi jalanku." Pintanya yang kini harus menatap wajah lelaki itu. Bryson merasakan hatinya bergetar saat mata tajam Gloria menatap matanya, entah apa yang ia rasakan malam itu. "Menyingkirlah." Pinta gadis itu lagi, wajah Gloria memang sangat mempesona dan berhasil memikatnya.
Bryson memberikan jalan untuk ia lewati, namun apa daya bagi seorang lelaki matang melihat lekuk tubuh sempurna dari seorang gadis dan dibiarkan begitu saja, sia-sia.
Apa yang terjadi malam itu akan menjadi hal terburuk bagi Gloria, merasa jijik sekali. Namun tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali, "Hey..." Ketika pemuda itu mencengkram lengannya.
"What the hell!" Gadis itu tak suka, "Gloria." Dan tiba-tiba saja Gloria mematung setelah pelukan Bryson yang erat dari belakang punggungnya itu menahan kepergiannya. "Gloria..." Bisik pelan Bryson yang sangat jelas di telinga kanan gadis itu. Bukan hanya jelas tapi memang dekat seperti terasa hampir di gigit. Gloria merinding dan hatinya seakan terasa terbakar, "Lepaskan aku." Ucapnya dingin.
Bryson lebih mengeratkan pelukannya lagi, "Apa ini? Apa yang sedang kau lakukan?" Ucap pelan Gloria yang berharap Bryson akan menyadari kesalahannya kini.
Pelukannya tak kunjung lepas, Gloria marah.
Bryson tak bisa menahan dengan melihat leher indah di hadapannya, sementara Gloria marah ingin melepaskan diri. "Lepaskan aku." Suara gadis itu masih tenang walau hatinya sangat emosional. Hal yang tak terduga semakin memuncak, "Gloria..." Bryson mendesah dan kemudian wajahnya menelusuri leher gadis itu. Bryson merasakan gairah untuk pertama kalinya terhadap seorang gadis seperti Gloria, ia tak bisa mengendalikan diri.
Hati Gloria terasa sangat panas dan tangannya begitu bergetar hebat, dengan sekuat tenaga akhirnya ia berhasil melepaskan diri. "Dasar kau keparat!" Gadis itu benar-benar marah hingga tak tahan lagi untuk menampar wajah pemuda brengsek itu. Dan Bryson terdiam dan mulai menyadari dengan apa yang ia lakukan beberapa menit terakhir tadi. "Kau tahu sendiri bukan? Bahwa aku membencimu, kini aku sangat benci dan merasa jijik padamu!" Gloria berteriak dan matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
Gadis itu pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu dan berlari mencari ayahnya. Bryson hanya terdiam dengan lemas, masih di posisi berdirinya yang sama seperti tadi ketika ia memeluk dan menciumi gadis yang di julukinya imut itu, bahkan tamparan yang masih hangat itu tak terasa sakit untuknya.
Ia pun menjatuhkan tubuhnya lagi ke sofa dan mengatur nafasnya, kemudian ia tersenyum bodoh dan berkata sendiri "Sial!" Akibat menghabiskan hampir dua botol minuman maka dari itu ia tak bisa menahan dirinya sendiri.
~
"Ada apa denganmu?" Ian mulai cemas melihat putrinya menangis seperti itu. "Apa yang terjadi sayang?" Gloria tak ingin ayahnya mengetahui ini, karena bisa-bisa acara ulang tahun wanita yang di cintainya itu kacau. "Aku tak enak badan, perutku sakit yah." Bohongnya dan mengumpatkan tangisan. "Kalau begitu kau istirahat di kamar Lindha..." "Aku tak mau, aku pulang saja... Antarkan aku pulang." Pintanya. Namun Ian hanya terdiam menatap wajah putrinya itu yang basah, Ian tak bisa meninggalkan acara yang belum selesai. "Apa kau bisa bertahan sebentar saja?" Tanya ayahnya membujuk. Gloria langsung berpikiran beda, Ian lebih memilih Lindha daripada dirinya. "Jared akan menjemputku, sampai nanti yah." Gloria pun berlalu pergi merasa kesal pada ayahnya, namun pikirannya masih terjebak akan suasana ia bersama Bryson, menjijikkan. "Gloria... Ayah mohon..." Ian mencoba membujuknya lagi. "Bersenang-senanglah saja yah, jangan cemaskan aku." Gadis itu berjalan pergi meninggalkan keramaian di sana.
Dan seseorang dari balik jendela rumah Lindha tengah mengawasinya pergi, yaitu Bryson yang mulai memiliki perasaan, ia tiba-tiba menaruh hati pada Gloria. Ia tergila-gila.
Lindha merasa heran terhadap Gloria yang pergi tanpa berpamitan. Namun Ian mewakili putrinya untuk meminta maaf atas kejadian itu.
Dan gadis itu berdiri menunggu datangnya taxi di pinggir jalan, ia berbohong pada ayahnya tentang Jared yang akan menjemputnya. Sepanjang perjalanan Gloria menangis pedih akan ayahnya yang pilih kasih, dan juga Bryson yang beraninya menyentuh dirinya. Gloria harus merahasiakan hal ini, tak seorang pun ada yang mengetahuinya. Bahkan kedua sahabatnya pun tak tahu, karena bisa saja Jared akan mencelakai lelaki nakal itu. Bukan untuk melindunginya, tapi agar Bryson malu akan kesalahan yang ia lakukan padanya.
Berada di rumah seorang diri, ia bisa bebas menangis tanpa seorang pun mendengarnya. "Ibu, aku takut." Tangisnya yang meratapi bingkai foto raksasa Alexandra yang tersenyum cantik. "Ayah selalu seperti itu, apa yang harus aku lakukan bu..."