Indonesia
NovelToon NovelToon
Pesona Janda Muda

Pesona Janda Muda

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:29.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Juliana

Arsen, adalah seorang CEO kaya tapi sederhana. Dia jatuh cinta kepada seorang wanita ojek online.

Namun ternyata wanita itu adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Wanita yang di bayang-bayangi kenangan almarhum suaminya, sehingga wanita itu berjanji untuk tidak menikah lagi.

Berbagai cara, dan segala perjuangan dilakukan demi manaklukan hati wanita itu yang seolah sudah mati rasa.

Akankah dia berhasil menaklukan hati janda muda itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Juliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu?

Tok.. Tok.. Tok..

"Selamat siang, Pak Arsen." Pak Lutfi datang menyapa setelah sebelumnya ditelepon untuk memberikan laporan tentang perekrutan Aruna.

Aku mempersilakannya masuk, menutup laptop dan memperhatikannya yang sudah duduk di hadapan meja kerjaku.

"Bagaimana proses interview tadi pagi?" aku bertanya kepadanya tanpa basa-basi. Aruna memang masuk rekomendasi dariku, tapi dia tetap harus mengikuti serangkaian tes untuk membuktikan dirinya layak menempati posisi ini.

"Proses interview lancar, Pak. Tes yang lainnya juga begitu."

Lega mendengar jawabannya, aku yakin Aruna wanita cerdas, ini bukan masalah besar untuknya, meski sebelumnya aku sempat khawatir.

"Jadi kapan dia bisa mulai kerja?"

"Hari Senin dia sudah mulai masuk, Pak. Kami sudah menyiapkan kontrak kerjanya."

"Good job, Pak Lutfi. Thanks!"

"Sama-sama, Pak. Saya izin pamit."

"Silakan, sekali lagi terima kasih." Aku menyunggingkan senyum, Lutfi membalas sekilas, kemudian hilang dibalik pintu.

Siang hari yang panas terasa menyejukkan, setumpuk pekerjaan seperti menjadi ringan begitu saja. Kabar yang dibawa Lutfi barusan seperti angin segar, membawa energi baru kepada jiwaku.

Aruna, wanita berambut panjang itu benar-benar sudah membuatku seperti orang gila, setiap waktu selalu terbayang kecantikannya.

Aku tidak sabar menunggu hari Senin dan bertemu dengannya.

Ceklek...

Pintu terbuka, seorang gadis tersenyum di depan pintu, tangannya menenteng beberapa plastik makanan dan minuman.

"Segitu sibuknya sampai ngga ada waktu untuk makan?"

Dia berjalan ke arahku masih dengan senyum yang menyungging dari bibir mungilnya.

"Kalau kamu ngga turun untuk makan, makanan itu yang akan naik bersamaku, ayo cepat makan!" dengan telaten dia menata makanan itu satu persatu di meja tamu.

"Apa kamu ngga ada kerjaan? Sampai sibuk ngurusin aku makan atau ngga?"

Dia menoleh, raut wajahnya yang ceria kini terlihat sedikit murung, lebih tepatnya kecewa.

"Aku akan pergi begitu kamu selesai makan. Jadi cepat habiskan makanannya."

"Saya bukan anak kecil, kamu ngga perlu repot-repot ngurusin perut saya." kali ini nada bicaraku sedikit meninggi.

Dia mengangguk, tersenyum dan berjalan mendekat ke arah meja kerjaku.

"Sikap kamu seperti ini yang bikin aku semakin ingin memiliki kamu, Arsenio."

Aku mendelik, sikapnya membuat semakin tidak respek. Aku tidak menyukainya sedikitpun, tapi dia terus mengejar sejak pertemuan keluarga setahun lalu.

Dia adalah anak dari rekan bisnis Papa, keluarganya bukan keluarga sembarangan, meski Papa sempat berharap kami akan saling jatuh cinta, tapi Papa menerima dengan baik keputusanku saat menolaknya.

Namanya Issalora, dia lebih dikenal dengan nama panggilan Ica. Wanita ini sama sekali bukan tipeku, gaya hidupnya yang hedon jauh sekali dengan gaya hidupku yang lebih suka sederhana, dia sangat suka pergi ke klub malam, dia juga seorang artis terkenal, yang memiliki banyak prestasi dan penghargaan.

Wajahnya banyak menghiasi film-film layar lebar, iklan, dan beberapa sinetron populer. Kehidupannya sangat erat dengan kamera, segala tentangnya selalu menjadi hal menarik untuk jadi berita, hanya sedikit sekali dia punya privasi.

"Jangan banyak buang-buang waktu, sudah berapa kali saya bilang kalau saya sama sekali tidak tertarik dengan rencana perjodohan kita."

"Itu kan sekarang, suatu hari siapa tahu kamu yang bakal ngejar-ngejar aku."

Dia tersenyum penuh percaya diri, sekejap kemudian melambaikan tangan pamit kepadaku.

"Jangan lupa dihabiskan makanannya." Ucap dia sebelum berlalu.

Aku menengok ke meja tempat makanan tersaji, meski terlihat lezat, tapi aku sama sekali tidak berselera makan.

Aku menekan tombol cepat untuk menelfon salah satu divisi terdekat dengan ruanganku.

"Halo, Pak."

"Rani, tolong ke ruangan saya sekarang, ya!"

"Baik, Pak."

Tidak lama Rani datang, aku menyuruhnya membereskan makanan yang dibawa Ica.

"Bawa aja, Ran. Bagiin ke teman-teman kamu yang lain."

Mukanya terlihat sumringah, dia bersemangat membawa seluruh makanan yang ada di meja.

"Terimakasih, Pak."

"Ya."

Kembali kubuka berkas dan melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk di atas meja. Aku menarik nafas mengumpulkan kembali energi dan mood yang sempat rusak karena Ica. Sesekali menengok ke arah jendela, melihat matahari yang cukup menyengat menyinari ibu kota siang ini.

.

.

.

Senja tiba, matahari yang tadi menyengat kini terlihat indah memancarkan cahaya jingga. Aku masih terduduk di sini, menikmati pemandangan kota dari atas gedung megah hasil jerih payah Papa sambil melakukan peregangan melenturkan otot-otot yang kaku.

Pekerjaan sudah selesai, sengaja dibereskan hari ini karena ingin menikmati weekend besok dengan santai tanpa dibayang-bayangi pekerjaan.

Lagi, wajah Aruna terbayang begitu saja, membuat senyum menyungging dengan sendirinya. Tanpa sadar, tanpa di inginkan.

Dengan reflek tanganku merogoh dompet, mengeluarkan foto Aruna yang tersimpan di dalamnya.

Foto berukuran 4X6 CM dengan background warna merah yang diambil tempo hari dari resume miliknya. Aku memandangi foto itu, lama___

Ada rasa ingin bertemu di sini, di dalam dada. Rasa yang menggebu, yang aku sendiri tidak bisa mengartikannya. Mungkinkah ini rindu?

Setiap memikirkan Aruna, debar ini menjadi tidak biasa, rasa senang muncul begitu saja.

Aku mengambil handphone, mencari kontak Aruna, nomornya sempat disimpan diam-diam saat aku melihat CV miliknya. Tidak ingin membicarakan apapun, hanya ingin mendengar suara wanita cantik itu. Wanita yang sudah beberapa hari ini mengganggu pikiranku.

Meski ragu, akhirnya jari ini reflek menekan tombol memanggil. Tidak diangkat. Huft...

WA-nya terlihat online, tapi kenapa dia tidak mengangkat telepon dariku? Apakah dia sedang sibuk? Tidak, jika dia sibuk tidak mungkin online.

Aku mencoba lagi, tanpa ragu sedikitpun. Kali ini tak lama dia menjawab teleponku.

"Halo," Sapa Aruna, suaranya begitu lembut dan merdu membuat debar ini semakin menjadi-jadi.

"Halo, maaf ini siapa ya?" Ucap dia lagi karena aku tak kunjung bicara.

Gagap!

Bingung!

Malu!

Ya, aku merasa menjadi orang bodoh, tapi anehnya aku menikmati kebodohan ini.

Klik.. Sambungan telepon dimatikan begitu saja.

Tidak menyerah, aku meneleponnya lagi. Suaranya menjadi candu yang bisa mengobati rindu.

"Halo," Kini suaranya terdengar sedikit kesal.

"Ini siapa? Tolong jangan iseng."

"Siapa?" Ucap seorang laki-laki di seberang telepon sana terdengar bertanya kepada Aruna.

Deg!

"Ngga tau, dari tadi nelepon tapi gak ngomong." Jawabnya sedikit berbisik.

Siapa laki-laki itu? Kedengarannya mereka sangat akrab. Segera aku mematikan telepon, merasa terganggu dengan suara laki-laki itu. Apakah dia temannya Aruna?

Saudaranya?

Atau, mungkin pacarnya?

Aku mengacak rambut, pikiran semakin tidak karuan. Kenapa aku tidak suka mendengar Aruna sedang bersama laki-laki? Memangnya aku ini siapa?

Brukkk...

Berkas di atas meja berjatuhan ke lantai saat tanganku memukul keras permukaannya. Pikiranku semakin tidak karuan, hatiku menjadi tidak tenang.

Aruna, sebegitu dalam kah rasaku padanya? Hingga dada ini terasa ngilu memikirkan dia sedang bersama laki-laki lain.

Bersambung...

1
Henrita Henrita
cerita yg mampu menyentuh hatiku. setiap kata tersirat makna yg dalam, tdk vulgar tapi menarik yg membaca sampai selesai tanpa ada ada yg tertinggal. terus berkaya yg bagus untukmu author. 👍👍👍
nanayju: Hai Kak, terimakasih banyak sudah mampir di karyaku 🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Henrita Henrita
hamil kknya runa
nanayju
Terimakasih, Kak. Enjoy reading 🙏🏻🥰
Nurjanah Nur
cara penulisannya enak di baca,,ceritanya bagus ,ringan ....pokok e baguslah
fiendry🇵🇸
luar biasa
fiendry🇵🇸
ijin mampir ya...
nanayju: Thanks ka 🙏🏻😍🥰
total 1 replies
Laras Azfar
aku mampir thor
nanayju: Thanks kaaaa 🥰
total 1 replies
nanayju
💪🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!