IG : @ekytamaa
Ini tentang Bayu. Hidup penuh ketepurukan dalam bayang-bayang masa lalu. Membuat ia mengalami trauma dan depresi, sehingga tak mampu untuk ia hindari.
Kehilangan mama, papa, dan orang yang ia cintai, menimbulkan sejuta penyesalan begitu kentara. Saat itu, di pesta ulang tahunnya, peristiwa tragis terjadi. Tubuh Bayu membeku, kedua orang tua juga kekasih yang Bayu cintai mati terbunuh oleh sekelompok orang yang tak dikenal.
Lantas, bagaimana kehidupan Bayu selanjutnya dengan bayang-bayang masa masa lalu menyakitkan yang terus bergelut dalam hidupnya? apakah ia mampu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eky Tama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 06
...Bagaikan bunga landai tumbuh di tepi jurang yang selalu mekar berwarna jingga. Namun mudah layu dan berubah hitam bila terkena panasnya matahari. Ibaratkan seperti itulah, bila sifat manusia selalu congkak di awal tapi di akhir ia akan hancur....
"Ini celana lo, udah gue cuci dan juga udah gue setrika rapi."
Kinar menyodorkan kantong plastik bening berisikan celana seragam milik Bayu. Bayu mengambilnya dengan kasar tanpa berucap kata terima kasih pada gadis itu, membuat Kinar harus mengelus dada sabar serta mengontrol rasa emosinya pada Bayu. Sikap Bayu yang tak acuh dan congkak sudah terkoneksi di otak Kinar dengan sendirinya, sampai-sampai gadis itu harus wanti-wanti sekali jika harus berurusan dengan pemuda itu lagi. Ia tidak ingin punya masalah pada Bayu atau pun pada siswa-siswi lainnya. Punya masalah dan banyak musuh di sekolah itu poin terpenting yang harus Kinar conteng dan harus dihindari. Sebab, Kinar ingin dapat sekolah dengan hati tenang tanpa ada gangguan mana pun. Akan tetapi, apa yang diprediksikan Kinar ternyata salah besar. Setelah kejadian tabrakan tempo hari itu, Bayu malah semakin menggebu-gebu untuk terus menganggunya sampai Kinar benar-benar merasakan sakit hati. Padahal, ia sudah melakukan apa yang Bayu inginkan. Tapi pemuda itu sepertinya belum merasa puas juga.
Bayu memandang sinis Kinar, kemudian berujar sengit padanya. "Awas kalo enggak rapi! Lo ulang lagi setrikanya."
Bayu membuka kantong plastik itu lalu mengeluarkan celana seragamnya yang terlipat rapi. Kemudian ia memeriksakan celananya kalau-kalau ada yang masih kurang rapi dan lecet. Sebab, Bayu adalah orang yang suka sekali memperhatikan setiap barang yang ia miliki begitu detail, takut saja kalau ada yang rusak atau kotor. Setelah ia memeriksakan celana itu, mata Bayu beralih pada Kinar yang menunjukkan ekspresi takut juga cemas.
"Heh satu persen! Ini enggak rapi," kata Bayu sembari melempar celananya ke wajah Kinar dengan kasar. "Ulangi lagi setrikanya."
"Dari mananya kurang rapi? Gue udah berjam-jam buat nyetrika celana lo ini sampe licin malahan, Bayu," tukas Kinar sedikit meninggikan intonasi suaranya.
Bayu berkecak pinggang rampingnya. "Mata lo udah buta, ya? Coba lo lihat ujung celana gue masih kusut gini, sekarang lo ulang lagi! Gue enggak mau tahu, ngerti lo?"
"Tapi---"
"Apa? Lo mau nyela omongan gue?"
Kinar menggelengkan kepala cepat.
"Ya udah lo kerjakan, dasar cewek satu persen!"
"Nama gue Kinar, bukan satu persen!" kilah Kinar membenarkan.
"Bodo amat. Terserah gue mau panggil lo apa? Mulut-mulut gue juga. Dan lo itu enggak sederajat sama gue, lo itu miskin ... gelar satu persen itu udah cocok banget buat lo, paham? Besok celana ini lo kasih ke gue. Ingat harus benar-benar rapi ... satu persen."
Bayu melengos pergi begitu saja tanpa belas kasihan pada gadis itu, yang sudah mengeluarkan air mata saat mendengar hinaan pedas oleh Bayu. Kinar mengeratkan celana Bayu sembari memandangi punggung pemuda itu yang telah berjalan menjauh. Entah kenapa Kinar tidak bisa menyanggah ucapan tajam Bayu yang selalu membuat hatinya sakit. Kinar selalu pasrah-pasrah saja dengan sikap Bayu yang suka sekali menghinanya. Apa salahnya? Kinar tak mengerti, hari-harinya ia lewati terasa kelabu. Berhadapan dengan Bayu bagaikan bencana besar yang datang tiba-tiba kemudian menghancurkannya dengan sekejap. Kinar harus kuat hati dari segala lontaran menyakitkan begitu mulus keluar dari mulut pemuda itu penuh rasa kesabaran.
Meski sampai hari-hari berikutnya akan ada hujatan-hujatan lagi serta cercaan pedas dari pemuda sombong itu untuknya.
Flashback Off
...--- Selamanya ---...
Ting
Bayu menatap layar laptopnya ketika ada pesan email yang masuk. Ia mengernyitkan alisnya, saat mengklik pesan tersebut dengan alamat email yang tidak ia kenal. Rasa penasaran, Bayu membuka pesan itu dan membacanya.
To : BayuSR@gmail.com
From : AP88@gmail.com
Bayu, apa kabar? Lo pasti kaget kenapa gue ngirik pesan ini ke lo, iya, 'kan? Dua minggu lagi gue pulang. Lo sehat, 'kan? Haha ... Bayu, gue kangen banget sama lo, setelah gue sampai di Jakarta, gue bakal jagain lo. Lo jangan bingung dan menerka-nerka siapa gue. Nanti lo bakal tahu. Jaga kesehatan lo ....
"Siapa sih dia? Sok kenal banget dengan gue," gumamnya pelan.
Tidak ingin makin penasaran, lebih baik Bayu mengabaikan pesan itu. Bahkan tidak berniat untuk membalasnya. Hanya satu alasan, Bayu tidak ingin ambil pusing memikirkanya dan tidak mau tahu siapa pengirim pesan email untuknya. Sebab Bayu merasa itu tidaklah begitu penting.
Bayu bangkit dari duduknya, melangkahkan tungkainya menuju balkon kamar. Angin malam begitu sejuk. Apalagi langit terang menderang dengan ribuan kerlipan bintang serta rembulan menampakkan sinarnya sangat elegan. Bayu mengadahkan wajah ke langit, merasakan setiap sensasinya angin malam begitu terasa pada tubuh kurusnya.
Helaan napas halus terdengar, wajahnya berubah layu bercampur aduk perasaan sendu semakin menjalar tanpa batas. Kenangan lampau masih menghantuinya, membuat Bayu berubah menjadi sosok pendiam dan murung, tidak seperti beberapa tahun lalu. Dulu Bayu adalah sosok yang suka banyak bicara, angkuh, egois, manja, ceria, bahkan sikapnya selalu membuat orang jengkel. Berbeda sekarang, sikap Bayu yang sekarang berubah total 180 derajat. Semenjak peristiwa silam menghadirkan sebuah penyesalan pada seseorang begitu besar tidak pernah berhenti Bayu pikirkan dan tak bisa dilupakan. Bayu sakit, rapuh, bahkan terpuruk dalam lingkaran kehidupannya yang kelam. Dan tidak akan pernah tahu berapa lama lagi ia rasakan.
"Maafkan aku," gumammya lirih bersamaan air mata lolos keluar dari kedua netranya, tak bisa Bayu tahan lagi.
...--- Selamanya ---...
Aji memasuki bar diskotik dengan langkah gontai. Ia celingak-celingak mencari seseorang yang ingin ditemuinya. Lampu disko menyemarak indah. Namun begitu silau. Musik disko yang dimainkan oleh DJ mengalun kencang sehingga dapat mengundang semua pengunjung yang ingin bergoyang ria. Aji melangkah menuju meja paling ujung ketika sudah menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya. Lalu ia mendekati, menjatuhkan bokongnya duduk di samping seorang pemuda dengan rambut ikal tengah menyeruput segelas bir.
"Bagaimana?" tanya pemuda rambut ikal itu pada Aji.
Aji terkekeh pelan. "Hampir berhasil, gue udah ngeyakinin semua anak kampus soal Bayu yang mengalami depresi itu. Terus gue hasut mereka buat enggak usah deket-deket lagi sama dia, karena depresi akut alias stres. Gue bilang asal aja entar ketularan gilanya."
Aji dan pemuda itu tertawa terbahak-bahak, tanpa peduli jika sebagian pengunjung memandang mereka aneh.
"Bego lo, mana ada penyakit stres bisa ketularan."
"Bodo, yang penting gue berhasil. Biar tahu rasa tuh, Bayu. Baguskan rencana gue?" ujar Aji bangga.
"Bagus, itu yang gue mau. Pastiin dia hancur, Ji," kata pemuda itu, tatapan matanya menajam.
"Lo tenang aja, ini baru permulaan. Masih ada permainan baru lagi gue buat untuk menghancurkan dia. Kalau perlu, dia gue bikin hidupnya sangat menderita."
"Terserah lo mau lakuin apa, yang penting gue enggak mau lihat Bayu di kampus itu lagi. Gue benci dia!"
"Lo serahin aja sama gue. But ... lo bisa tahu Bayu pernah depresi dari mana?" tanya Aji seraya mendekatkan tubuhnya di hadapan pemuda berambut ikal itu.
Pemuda itu tertawa menyeringai sambil mengangkat kedua kakinya dan meletakannya di atas mejar bundar.
"Soal dari mana gue tahu, itu enggak penting buat lo! Lo cukup kerjain aja apa yang gue perintahkan."
Aji berdecak. "Ckk ... pelit banget, sih. Enggak kasih tahu gue!"
Pemuda itu mendengus. "Lo ini terlalu kepo aja, mendingan lo pesan deh minuman sekarang, biar gue yang bayar."
Mata Aji membulat lucu. Ia tertawa senang, karena pemuda itu akan membayarkan minumannya. Inilah yang Aji nantikan, dapat minum gratis secara cuma-cuma.
"Itu yang gue suka dari lo, bro!" serunya senang.
Pemuda itu mencebik dengan tingkah Aji yang kadarnya sangat menyebalkan sekali baginya. Pandangan pemuda itu kini beralih ke depan memandangi para pengunjung yang berjoget disko sambir tertawa riang, meski wajah pemuda itu menunjukan mimik datar.
"Sebentar lagi lo akan hancur, Bayu," ujar pemuda itu dalam hati dengan senyum seriangaian menakutkan.
...--- Selamanya ---...
Halo ... Sebelumnya perkenalkan saya Eky. Usia? Hehe ... Enggak perlu disebutkan ya 😁 yang jelas saya adalah sosok perempuan bertubuh mungil 🤗 mohon dukungannya dalam cerita ini agar saya terus rajin up. Terima kasih 🤗😇