Anak yang tak tahu siapa orang tuanya
Budak yang dianiaya dan diperjualbelikan
Hanya bertahan hidup dengan bernapas dan memakan makanan sisa
Setiap hari selalu ada luka dan luka lain yang bertambah
Hingga merasa dunia tak adil, lebih baik mati dari pada terus dipukuli
Di tengah keputusasaan, dia mengulurkan tangannya padaku. Sosok yang berjanji akan melindungiku, memberikanku senyum hangat untuk yang pertama kalinya.
Mungkin, mungkin aku bisa mempercayai meski hanya sekali, toh aku juga sudah berniat untuk mati. Jadi tak ada salahnya mencoba jalur baru bersama dengannya.
Bahagia datang, aku bisa tertawa tanpa beban sekarang. Guruku memberikan banyak cinta dan perhatian. Kupikir itu akan berlangsung selamanya, sampai kejadian itu terjadi ...
Guru ..., aku akan mencari keberadaan mu meski harus membolak-balikkan dunia ini!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Di desa, saat pagi menjelang. Warga beraktivitas seperti biasa. Tak ada yang menyadari kalau Jim sudah pergi dari sana. "Di mana pria itu?" tanya salah satu dari mereka merasa heran belum melihat Jim padahal hari sudah semakin siang. "Apa masih tidur?" katanya ragu.
"Biar aku bangunkan!" kata salah satu dari mereka mengajukan diri. "Kalau begini terus, bisa-bisa misi untuk menangkap bocah itu semakin tertunda!" katanya menggerutu.
"Ha-ha-ha, mungkin saja pria congkak itu sedang pusing karena tak bisa menepati janji yang dia buat," ejek seorang pria bertubuh kurus.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar dari lantai atas. Pria yang tadi berkata akan membangunkan Jim kembali dengan wajah panik bercampur kesal. "Dia tak ada!" katanya dengan suara nyaring.
"Mungkin di kamar mandi," balas si pemilik penginapan berpikir positif.
"Tak ada!" katanya lagi. "Aku tadi ke sana, mengetuk berkali-kali sampai tanganku sakit. Lihat ini!" lanjutnya memperlihatkan tangannya. "Karena kesal, aku pun langsung mendobrak pintu kamarnya. Tapi di sana sudah kosong, tak ada siapa pun. Bahkan barang bawaannya pun tak ada. Dia menghilang?!" lapornya dengan cepat.
"Tapi tak mungkin dia bisa kabur?" kata yang lain menimpali.
"Sekarang bukan waktunya memikirkan ini! Coba periksa apa ada barang-barang kita yang hilang?!" ucap seorang lagi mencurigai Jim yang kabur tanpa mengatakan apa pun.
"Benar, benar! Lebih baik kita pulang dan melihat apa ada barang kita yang hilang!" ucap yang lain setuju.
Setelah memakan waktu beberapa lama, mereka kembali berkumpul di tengah aula gedung yang memang sering mereka gunakan untuk rapat dan hal lainnya. "Tak ada yang hilang di rumahku!" kata salah satu dari mereka. Yang lain ikut bergumam hal yang sama.
"Huh, mungkin dia kabur karena malu tak bisa menyelesaikan masalah kita?!" cibir salah satu warga.
"Benar, padahal pria itu terlihat sangat percaya diri sebelumnya!" tambah yang lain.
"Diam semuanya!!!" si tetua desa pun angkat bicara. Hening, tak ada satu pun yang bersuara setelahnya. Semua perhatian tertuju pada apa yang akan disampaikan oleh tetua desa mereka.
"Jika pria itu sudah kabur, biarkan saja!" kata si tetua mengambil keputusan. "Sekarang yang harus kita pikirkan adalah cara untuk menangkap bocah pencuri itu, masalah kita yang sebenarnya!" katanya lagi.
"Kita bisa gunakan cara kemarin untuk memancing bocah sia*an itu!" dia merasa kemarin sangat mudah untuk melihat bocah kecil itu dari pada yang sebelum-sebelumnya. Biasanya mereka mengejar si pencuri itu kalau mereka tahu dia berhasil mencuri dan sudah kabur cukup jauh. Tapi kemarin, mereka bisa saja sudah berhasil menangkap bocah itu kalau si Jim tidak tersandung dan berteriak.
"Benar, benar! Kita bisa menggunakan cara yang sama untuk memancing pencuri kecil itu ke luar!" timpal yang lain setuju.
"Aku bisa memberi sebanyak apa pun roti yang diperlukan kalau untuk memancing pencuri itu!" ucap si pembuat roti maju ke depan.
"Mari kita lakukan saat hampir jam makan siang!" kata si tetua desa. "Lakukan secara bergiliran untuk menunggu dan berjaga," katanya lagi. "Sekarang bubar!" tambahnya kemudian berbalik pergi dengan langkah yang sangat pelan.
"Ayo penuhi keranjang ini, aku tak bisa menunggu hingga waktu makan! Mari kita mulai dari sekarang saja?!" kata pria berbadan besar tak sabar. Dia sangat kesal dan ingin segera menangkap si pencuri kecil itu, jadi dia bisa melampiaskan kekesalannya dengan melayangkan beberapa pukulan ke arah bocah licik yang suka mencuri tersebut.
Mereka pun kembali ke pinggiran hutan, bergerak dalam satu kelompok yang berisi tiga orang seperti yang diperintahkan oleh tetua desa. Lama mereka menunggu, bahkan hingga mereka berganti giliran beberapa kali. Tapi bayangan bocah pencuri itu pun tak terlihat, warga yang menjaga mulai semakin tak sabar. Mereka pun berteriak saking kesalnya. "Arghh, berapa lama kita harus begini?!" umpat salah satu di antara mereka yang berjaga. "Kita bahkan sudah berjaga untuk yang kedua kalinya, tapi bocah pencuri itu bahkan tak terlihat di mana bayangannya!" katanya lagi dengan nada kesal.
"Apa dia sedikit bertambah pintar setelah apa yang terjadi kemarin?" tukas yang lain menimpali.
"Mana mungkin bocah rakus itu melewatkan roti yang bisa dia dapatkan dengan mudah hanya karena bersikap terlalu waspada!" timpal yang lain tak sependapat.
"Mungkin saja dia tahu kalau ini jebakan seperti yang kemarin!"
"Bisa jadi dia menunggu kita lelah dan mengambil roti itu saat kita mulai lengah!"
"Mungkin dia tak butuh hari ini karena mendapatkan cukup banyak kemarin!"
"Bisa saja dia mengambil nanti saat rotinya sudah tak layak dimakan!"
"Atau ... dia sudah pergi?"
Mereka bertiga saling menatap. Tak lama, mata mereka melotot tak percaya. "Kenapa kita tak kepikiran dari tadi?!"
"Mungkin dia pergi bersama Jim!"
"Ayo kita beri tahu tetua?!"
Ketiganya pun kembali ke desa, mereka terus mempercepat langkah mereka hingga nyaris terlihat seperti hampir berlari. "Tetua! Tetua!" panggil ketiganya saat mereka telah sampai di rumah sang tetua.
"Ada apa?" tanya si tetua tak berapa lama ke luar dari rumahnya.
"Ada yang ingin kami katakan pada anda!" katanya buru-buru.
"Apa itu?" tanya si tetua. "Apa bocah itu sudah tertangkap?" lanjut pria paruh baya itu menebak.
"Bukan itu, tetua!" katanya membalas.
"Kami rasa anak itu sudah pergi bersama Jim!" lanjut yang lain.
"Kami sudah menunggu untuk waktu yang lam, tapi anak itu tak terlihat dan tak muncul. Bahkan bayangannya pun tak ada!" kata yang satunya lagi menambahkan.
"Jadi kami menduga kalau anak itu mengikuti Jim dan kabur dari sini!" kata ketiganya serempak.
"Itu bukan hal yang mustahil," kata tetua desa merasa hal tersebut sangat mungkin terjadi. "Bisa saja Jim memang berniat membawa anak itu pergi dari sini!" katanya lagi menambahkan.
"Kurang ajar!" desis salah satu di antara mereka murka. "Padahal dia sudah berjanji membantu kita menangkap pencuri licik itu?!" tambahnya semakin emosi.
"Tak masalah, begini pun tak apa-apa," kata si tetua desa dengan tenang. "Kalau benar pencuri itu sudah pergi, bukanlah itu bagus? Itu yang kita inginkan selama ini!" katanya lagi.
"Memang benar, tapi aku bahkan belum sempat memberi pelajaran pada bocah itu!" katanya kesal.
"Bisa-bisanya dia pergi semudah itu tanpa mendapat satu atau dua pukulan dari kita!" kata yang lain ikut emosi.
"Harusnya kita jangan percaya begitu saja pada orang luar!" katanya mendengus kesal.
"Jangan terlalu marah, yang penting masalah kita selesai. Hanya saja penyelesaiannya tak sesuai dengan yang kalian inginkan!" kata si tetua desa pelan. "Sudah, lebih baik kalian pulang dan kembali memulai hari baru esok!" lanjutnya bijak.
"Baik, tetua! Kami permisi."
Ketiga orang itu pun pergi dan segera memberi tahu kan apa yang baru saja mereka dapatkan. Banyak di antara warga desa yang marah, tapi ada juga yang menerima begitu saja. Hanya ada satu orang yang terlihat sangat kesal, siapa lagi kalau bukan pencuri asli yang paling meresahkan yang mengambinghitamkan si bocah atas perbuatannya yang mencuri uang tetangganya sendiri.