Banyak orang berkata, kalau cinta pertama anak perempuan itu adalah ayah nya.
Tapi tidak dengan ku.
Bagaimana bisa aku menjadikan ayah ku sebagai cinta pertama ku, jika aku tidak pernah merasakan kasih sayang dan juga cinta dari nya.
Aku benci yang namanya cinta.
Cinta hanya membuat orang menjadi lemah karena hanya menjadikan mereka tak ubahnya seperti seorang budak.
Itu yang terjadi pada ibu ku.
Cinta hanya membuat orang menjadi tidak berdaya.
Cinta hanya akan membuat orang yang mengalaminya menderita.
Ini lah kisah ku, kisah kehidupan yang tak mudah bagi ku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfin Maghfiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Hukuman
Aku pergi ke sekolah dengan mata ku yang sembab.
Beruntung aku tidak terlambat, segera aku masuk ke kelas dan duduk di bangku ku.
Pagi ku di mulai dengan buruk, lutut ku begitu lemas karena marah, aku begitu mengkhawatir ibu dan Arya di rumah.
Setelah aku duduk di bangku ku, tak berselang lama bel berbunyi yang artinya pelajaran akan segera di mulai.
Imel berlari tergesa-gesa karena hampir telat.
"Aduh, Ra. Untung bu Erna belum datang. Kalo sampe gue telat di jam pelajaran nya bisa mampus gue" seru Imel dengan nafasnya yang tidak beraturan.
Aku hanya mengangguk dan mengambil buku di dalam tas ku.
Wajar jika Imel takut telat, karena bu Erna adalah guru matematika yang terkenal judes dan tegas.
Apa lagi hari ini bu Erna mengajar di jam pelajaran pertama.
"Eh, Ra. Lo udah selesai belum PR nya?" Tanya Imel
Aku mengangguk tanpa bersuara.
Imel menoleh dan memegang lengan ku
"Lo kenapa Ra, lo sakit?"
"Ngak Mel, gue ga papa" jawab ku dengan malas
"Kok lo diem diem mulu, ada masalah?"
Imel tau bagaimana keluarga ku, dan hanya dia satu-satunya teman ku yang tau cerita keluarga ku di sekolah ini.
Aku mengangguk dan menghela nafas.
"Sory ya Ra, gue banyak nanya. Lo pasti nad mood banget ya, apa lagi sekarang di tambah pelajaran matematika. Huuaa.... Aku benci matematika"
Aku mencari buku matematika ku di dalam tas namun tak ku temukan.
Aku mulai panik dan mengeluarkan semua isi tas ku, namun tetap tidak ada.
"Di mana buku gue, bukannya gue udah masukin ke tas ya semalem?" batin ku
Aku melihat jam di dinding yang terus berjalan, sebentar lagi bu Erna akan masuk ke kelas dan tanpa basa-basi akan meminta semua murid untuk mengumpulkan tugas.
Aku mencoba mengingat di mana buku ku berada, karena bisanya setiap malam aku sudah mempersiapkan semuanya tidak mungkin aku lupa.
Hingga akhir nya aku ingat kalau semalam aku tidak mengemas tas ku dan memilih untuk segera tidur.
"Ah, sial..."
"Kenapa Ra?" tanya Imel karena mendengar aku mengumpat
"Buku gue ketinggalan di rumah"
"Hah, kok bisa? Lo yakin ketinggalan di rumah, apa ga jatuh di jalan?"
"Ngak mungkin jatuh di jalan Mel, ini pasti masih ada di meja belajar. Aduh mana pas pelajaran bu Erna lagi" aku menepuk jidat ku karena merasa kesal tidak menyiapkan buku ku sebelum tidur.
Kepanikan ku semakin menjadi saat telinga mendengar detak sepatu guru mendekat ke arah pintu.
Pintu yang tertutup mulai terbuka dan terlihatlah bu Erna yang garang mulai melangkah masuk.
Ini pertama kalinya bagi ku meninggalkan buku pelajaran di rumah.
Aku hanya pasrah karena tidak ada pilihan lain.
Jika masih ada sedikit waktu mungkin aku masih bisa menyalin PR di buku lain, tapi nyatanya tidak.
Benar saja, setelah mengabsen semua murid, bu Erna langsung meminta semuanya untuk mengumpulkan buku tugas di meja nya.
"Kumpulkan tugas yang ibu berikan kemarin sekarang" titah bu Erna
"Ra, lo gimana?" bisik Imel
Aku hanya menggeleng karena memang tak ada yang bisa aku perbuat.
Imel maju ke depan dan memberikan buku tugasnya pada bu Erna.
Sementara aku hanya duduk diam dan mencoba tenang dengan mengatur nafas ku.
"Kenapa jumlah buku nya hanya 31, di kelas ini kan ada 33 murid. Siapa yang tidak mengumpulkan tugas?!" Tanya bu Erna
Aku memang sangat panik, tapi aku juga heran karena ada 2 anak yang tidak mengumpulkan tugas. Ya setidaknya aku ada teman saat akan menerima hukuman nanti.
"Siapa yang tidak mengumpulkan tugas!" tanya ulang bu Erna dan kini suaranya sedikit lebih keras
Aku mengangkat tangan ku dengan wajah ku yang tertunduk.
"Alam. Kamu tidak mengumpulkan tugas?!" tanya bu Erna
Aku langsung menoleh ke bangku di samping ku dan benar saja Alam juga mengangkat tangan seperti ku.
"Tiara, kamu juga?" begitu terkejut wajah bu Erna.
Sama dengan reaksi bu Erna, teman sekelas ku juga heran karena aku tidak mengumpulkan tugas.
"Kalian berdua, maju ke depan!"
Dengan langkah malas aku maju ke depan di samping meja bu Erna sejajar dengan Alam.
"Kenapa kalian tidak mengumpulkan tugas?! Tiara, kamu ini murid berprestasi dan selalu mengumpulkan tugas, ada apa hari ini?"
"Maaf bu, saya sudah mengerjakan tugas dari ibu semalam, tapi buku saya ketinggalan di rumah" jawab ku
"Ketinggalan? Bagaimana mungkin, selama ini kamu ga pernah loh Ra"
"Maaf bu, tapi saya berkata jujur. Buku saya memang ketinggalan di rumah"
"Sudah sudah. Kamu Alam, kamu adalah ketua kelas di sini. Sudah seharusnya kamu memberikan contoh yang baik untuk teman teman kamu. Di mana buku tugas mu, kenapa tidak kamu kumpulkan?!"
"Maaf bu, buku saya juga ketinggalan di rumah" jawab Alam
"Wah... Kalian rupanya janjian ya?"
Aku menoleh menatap wajah Alam dengan heran, selama 2 tahun satu kelas dengannya baru kali ini juga Alam absen tugas.
Dia juga pintar sama seperti ku, nilai kami saat penerimaan raport selalu saling mengejar.
Tapi beruntung aku selalu selangkah di depannya.
"Sekarang kalian berdua kembali ke tempat duduk kalian, setelah jam istirahat kalian akan menerima hukuman"
Alam melihat ke arah ku sebelum ia kembali ke tempat duduk nya, mata kami tidak sengaja kontak.
Dan aku langsung mengalihkan pandangan ku.
Jam pelajaran pun berlangsung hingga bel istirahat pun di bunyikan.
Aku dan Alam mengikuti bu Erna ke ruangan nya dan beliau memberi kami 2 sapu kemoceng.
"Ambil ini dan bersihkan gudang penyimpanan buku" titah bu Erna
Aku tidak menyangka bu Erna akan memberikan kami hukuman yang berat.
Gudang penyimpanan buku cukup luas untuk di bersihkan oleh 2 orang.
Alam pun juga terkejut dengan hukuman ini, tapi ya beginilah memang bu Erna.
Karena kami masih berdiri, bu Erna pun menggertak kami.
"Kenapa masih di sini? Ayo cepat kerjakan!"
Aku dan Alam langsung pergi.
Begitu kami membuka pintu gudang, debu langsung menyambut dengan berterbangan hingga membuat aku bersin.
"Ayo masuk" suruh Alam pada ku
"Kenapa harus gue, lo aja yang masuk duluan. Lo kan laki" aku menyuruh balik Alam, dan ia pun masuk.
"Entah akan di mulai dari mana ini, tempat ini begitu kotor dan berdebu, aku ga bisa" ujar ku dengan menutup hidung
Alam menoleh pada ku dan dengan sengaja menepuk tumpukan buku hingga debunya berterbangan pada ku.
Seketika aku langsung bersin tak henti hingga hidung ku merah pun dengan kedua bola mata ku.
"Accuh... Accuuhh...."
"Ra, Ra. Gitu aja bersin, se bersih apa sih rumah lo sampe lo langsung bersin saat ada debu?" Tanya Alam
Alam tertawa puas melihat ku bersin, ia pikir itu lucu mendengar suara bersin ku yang tak kunjung henti.
Aku terus saja bersin hingga hidung ku meler dan badan ku pun menjadi tremor.
Kepala ku pun pusing dengan tubuh ku yang mulai berkeringat dingin.
Melihat ku yang seperti semakin memburuk, Alam berhenti tertawa dan mulai panik.
BERSAMBUNG.....
☀️☀️☀️☀️☀️