Kisah romansa anak sekolah pada umumnya, sang pemeran utama tertarik pada pemeran cameo. gimana kelanjutan kisah mereka? yuk baca aja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gigiit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peristiwa hujan
Hari ini cuaca sedang buruk, bagaimana tidak jika hujan dari pagi sampai jam pelajaran terakhir berakhir masih belum reda?
Yuna lagi lagi mendesah pasrah, entah sudah berapa kali. Sahabat sahabatnya mempunyai jam pelajaran tambahan, sedangkan dirinya sudah selesai. Jeno dengan kelas Matematika, Dewa dengan kelas Sastra, Gita dengan kelas Design, dan Keno dengan kelas Ilmu bedah.
Dirinya hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri, cuaca yang dingin ditambah jaketnya ada dimobil Keno. Dengan perasaan bosan ia mengeluarkan earphone dan mulai memainkan musik, bibir tipisnya sesekali menyenandungkan lagu tersebut, bahkan tangannya ikut bergoyang sesuai aluran musik. Matanya terpejam menikmati setiap lirik yang diputar.
Earphone sebelah kirinya terlepas, lebih tepatnya dilepas oleh seseorang. Yuna menengok dan mendapati Arjuna tengah tersenyum padanya.
"Apaan?" tanya Yuna lalu mengambil earphone nya kembali.
"Gue juga mau denger" ucapnya.
"Lo pasang sendiri" ucap Yuna dengan ketus.
"Lo suka lagu Korea?" tanyanya.
"Suka. Everything about kpop gue suka" jawabnya dengan mata bersinar.
Satu hal yang baru saja Arjuna ketahui tentang Yuna. Oke akan ia catat.
"Mau gue nyanyiin?" tawar Arjuna.
Tawaran tersebut sontak membuat Yuna menghentikan aktivitasnya. Dengan segera ia melepas earphone nya, matanya membulat sempurna.
"Lo serius?" tanyanya.
"Serius" jawabnya dengan enteng.
"Oke" ucap Yuna sembari mengelus ngelus paha serta tangannya sendiri, memberikan kehangatan.
Arjuna yang melihat Yuna kedinginan dengan segera melepaskan sweater hitamnya dan memberikannya pada gadis disebelahnya.
"Nih pake" ucap Arjuna.
"Ga perlu" tolak Yuna.
"Pake sebelum Lo mati kedinginan" paksa Arjuna, dengan terpaksa Yuna memakai sweater milik lelaki tersebut.
"Kayanya kegedean deh" ucap Yuna.
Arjuna yang melihat itu tersenyum simpul, bagaimana tidak sweater miliknya menjadi sangat besar dipakai Yuna? Bahkan untuk ukuran gadis lainnya, Yuna termasuk gadis yang cukup tinggi, namun badannya langsing.
"Gapapa, makin cantik" ucapnya lalu mengacak rambutnya dengan gemas. "Lo nungguin sahabat sahabat Lo?" tanyanya.
"Iya" lalu ia melihat arlojinya, "Tapi kayanya mereka lama deh" Yuna mendesah pasrah.
"Gue anterin mau?" tanyanya. "Tapi gue lagi bawa motor, tapi tenang gue ada bawa mantel"
"Ga usah, gue bisa pake taksi" ucapnya.
"Yaelah jam segini nyari taksi pasti susah, apalagi hujan" ucapnya.
Setelah menimang ucapan dari Arjuna, apa boleh buat "Boleh deh" ucapnya, "Kalo ga keberatan" cicitnya lagi.
Arjuna mengeluarkan mantelnya dari dalam tas ransel, dan memberikannya pada Yuna. Sedangkan yang diberikan mantel hanya bisa melongo, mendapat ekspresi seperti itu, dengan segera Arjuna memakaikan mantel tersebut.
"Yuk ke parkiran" ajaknya dengan mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Yuna.
"Eh Lo ga pake mantel?" tanya Yuna.
"Kagak, gue cuma punya satu mantel" jawabnya santai.
"Eh ga jadi pake deh, nih Lo pake aja" ucap Yuna merasa bersalah.
"Gapapa, Lo pake aja" ucap Arjuna, "Fisik cowok tuh lebih kuat dibanding fisik cewek"
Arjuna membawa Yuna hujan hujanan untuk sampai ditempat parkir. Tangan kanannya menggenggam tangan Yuna dengan erat, sedangkan tangan lainnya memegang ranselnya untuk menutupi kepalanya.
"Seruuu" ucap Yuna seperti anak kecil. Arjuna yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Dah sampe" ucapnya begitu sudah sampai di motornya. "Yuk naik"
"Tinggi banget ini" ucap Yuna.
"Ya kalo pendek bukan motor sport namanya neng" jawab Arjuna dengan santai. "Lo pegang tangan gue, terus Lo naik"
Yuna mengikuti arahan Arjuna dan sampai dijok belakang dengan selamat.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan untuk mengobrol, lebih tepatnya untuk saling mengenal satu sama lain.
"Lo masuk dulu" ajak Yuna.
Arjuna yang mendengar itu membuat wajahnya pucat seketika, Yuna yang melihat perubahan ekspresi itu mengerti.
"Mama papa lagi ga ada dirumah" ucapnya.
"Ga usah lah, gue mending langsung pulang aja" tolaknya.
"Dengan keadaan Lo basah gini?" tanya Yuna.
"Ya biarin" ucapnya.
"Lo keras kepala banget deh!" ucap Yuna, lalu dirinya menarik tangan Arjuna agar mengikutinya.
"Yuna pulang" teriaknya.
"Kamu ujan ujanan sayang?" tanya suara berat itu yang tak lain papanya sendiri. Arjuna yang mendengar itu membuatnya kaku seketika. "Astaga kamu bawa siapa sayang?" tanyanya.
"Eh pap? Kok udah pulang?" tanyanya.
"Papa nanya ya dijawab" ucapnya.
"Ini temen Yuna pap, namanya Arjuna. Dia yang anterin pulang, soalnya Keno dan yang lainnya ada jam tambahan" jelasnya. Yuna menyenggol lengan Arjuna lalu berbisik pelan, "Kasih salam"
"Ha... Halo om, saya Arjuna" sapanya.
"Ya Arjuna" jawabnya.
"Pap aku ke atas dulu ya, kasian Arjunanya kedinginan" pamitnya.
"Saya ke atas ya om" pamit Arjuna.
"Jangan macem macem Yuna!" peringat papanya.
"Astaga Keno, Jeno sama Dewa aja udah sering berduaan dikamar sama aku kok" teriak Yuna, yang membuat Arjuna menggelengkan kepalanya tak percaya.
Kamar bernuansa pink, dengan dipojok kamarnya terdapat bunga. Harum dan rapih.
"Lo masuk kamar mandi" perintah Yuna, "Nih pake"
Arjuna yang mendapat baju laki laki mengernyit kebingungan.
"Itu punya sahabat sahabat gue, jangan heran karna mereka juga kadang suka nginep disini" jelasnya.
Arjuna dengan segera menuju kamar mandi, ia keluar dengan kaos hitam, celana training hitam dan jaket navy, rambutnya yang acak acakan membuatnya semakin seksi. Yuna yang melihat itu tanpa sadar menatap kagum, namun dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Sini gue keringin rambut Lo" ucapnya, lalu menyuruhnya untuk duduk didepan cermin. Sedangkan Yuna sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
"Gue pulang ya" ucap Arjuna begitu Yuna sudah selesai mengeringkan rambutnya.
"Tunggu dululah, bentaran lagi mereka pada kesini" ucap Yuna.
"Gue pulang deh, mami udah nyariin" ucap Arjuna lalu memperlihatkan pesan dari maminya pada Yuna.
"Yaudah Lo pake mobil gue, nih kuncinya" ucap Yuna lalu melempar dengan sembarang yang untung masih bisa ditangkap oleh Arjuna.
"Ayo anterin pamit sama bokap Lo" ucapnya.
"Iya ayo" ucapnya, "Pap... Arjuna mau pamit pulang"
"Lho makan dulu" ucapnya.
"Lain kali aja om, saya udah ditanyain mami soalnya" ucap Arjuna dengan tidak enak.
"Oh ya sudah, makasih ya udah anterin anak om" ucapnya.
"Iya, saya pamit om. Na gue pamit" pamitnya.
"Yoi, makasih ya" ucap Yuna dengan senyuman manisnya, "Ohya besok Lo jemput gue, tukerin lagi sama motor Lo dan ga boleh sampe lecet!" peringatnya.
"Jemput lo?" tanyanya dengan nada kaget.
"Iya, kenapa? Gamau lo? Ya kalo gamau gapapa" jawabnya dengan santai, lalu berbalik, namun sebelum berbalik, ia mendengar seruan Arjuna kembali.
"Besok gue jemput" ucapnya dengan lantang.
"Jangan sampe telat ya" peringatnya lalu tersenyum.
...****...
Hari ini adalah hari keberuntungan bagi Arjuna. Kapan lagi bisa dekat dengan Yuna, dan memakai mobilnya pula.