sebuah kisah tentang seorang gadis kepala batu yang kekeuh ingin meluluhkan hati seorang cucu dari pemilik yayasan sekaligus putra dari seorang pengusaha sukses.
Kanaya mendongkakkan kepalanya menatap mata Cakra dengan begitu dalam seakan ingin menyalurkan rasa cintanya.
"I really love you..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selvia Dwiguna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihajar Luna
"Sayang besok mau jalan ga sama bunda?anter bunda beli sayur ke supermarket"
"Emang besok bunda gakerja?" Tanya Kanaya.
"Bunda ambil cuti sebelum nanti ninggalin kamu 2 minggu"
"Hah?mau kemana?"
"Nanti ayah sama bunda harus dinas ke Bali selama 2 minggu"
"Terus bi erna mau nginep disini gitu?"
"Ya enggak lah,nanti bunda titipin kamu,udah pokonya tenang aja lagian masih lama"
"Terus ayah ko ga ikut cuti?"
"Ayah kamu gabisa cuti sayang,tau sendiri kan gimana sibuknya proyek baru perusahaan kita"
"Hmmm yaudah,besok aku ikut,tapi mau jajan ya"
"Kaya anak kecil aja minta jajan"
Ibu dan anak itu tertawa jarang sekali moment ini bisa terjadi.
...***...
Pagi-pagi sekali Kanaya sudah berada di kelasnya,bukan untuk menemui Cakra melainkan untuk mengerjakan tugasnya,ia lupa kalau ada tugas untuk hari ini.
"Sialan ko gue bisa lupa mana tugasnya banyak" Gerutu Kanaya sambil terus menulis di buku catatannya.
Saking fokusnya Kanaya sampai tidak menyadari kalau Cakra sudah datang,baru saja Arga akan mengagetkan Kanaya namun dengan cepat dicegah oleh Cakra.
"Biarin" Cegah Cakra sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya,Arga pun menarik kembali niatnya.
...***...
Semilir angin menerbangkan sebagian rambut lelaki itu,hanya disini ia bisa bersembunyi dari Kanaya.
Cakra melihat ke bawah melihat manusia menjadi sebesar semut,sesekali ia membuang nafasnya dengan lembut sembari memejamkan mata.
Rooftop satu-satunya tempat yang Kanaya jauhi ,Cakra pun baru tau kalau gadis itu takut ketinggian.
Cakra mengambil sebatang rokok dari dalam sakunya lalu membakarnya dengan korek yang selalu ia bawa,malam ini ia akan kembali bertanding dengan Alex,tak main-main kali ini taruhannya motor kesayangannya itu.
Jika ia menang,motor Alex akan menjadi miliknya,begitupun sebaliknya, bukan masalah motor yang ia khawatirkan kehilangan satu motor tidak masalah baginya,namun disini ia akan mempertaruhkan harga dirinya.
...***...
Dugggg
Lutut Kanaya terbentur ke lantai,ketiga pelaku itu malah tertawa puas,siapa lagi kalau bukan Cecil,Luna dan Jessi.
"Sialan lo! Beraninya keroyokan!" Bentak Kanaya sambil berdiri
"Heh cewe cewe cabe sialan apa maksudnya lo celakain temen gue? Belom ngerasain tamparan gue ya lo!" Ucap Karina tak mau kalah.
"Eh temen lo yang cewe cabe gatau malu,ngejar ngejar Cakra mulu!" Bentak Luna.
"Terus kalo gue ngejar Cakra masalah lo apa? Beras di rumah lo jadi berkurang?!" Balas Kanaya.
"Jelas masalah gue,Cakra cuma punya gue!"
Semua murid yang ada di sana tidak lupa merekam kejadian menghebohkan ini,mereka tidak mau kehilangan moment dimana para wanita itu sedang memperebutkan Cakra.
"Bangun lo!! Mimpi mulu!" Sentak Kanaya.
"Sialan! Sini lo!"
Plakkk.
Murid-murid yang sedang merekam tampak kaget dengan tamparan Luna yang begitu keras mendarat di pipi mulus Kanaya.
"Woyy cewe stres!sialan lo!" Bela Karina melihat tamannya di tampar seperti itu ia merasa tidak terima,sedagkan Kanaya masih bergeming di tempatnya,sudut bibirnya perih,pipinya pun terasa panas.
"Udahh stopp!" Teriak Kanaya menghentikan Karin yang saling menjambak dengan Luna.
"Rin udah mending lo ke kelas aja,makasih udah belain gue,jangan ngeladenin si cewe gila ini"
"Dan lo Lun,kalo lo bisa dapetin Cakra,buktiin jangan cuma bacot doang,gue tunggu tanggal jadian kalian,tapi kalo ternyata gue yang dapetin Cakra lo jangan nangis di pojokan!" Sinis Kanaya lalu pergi meninggalkan Luna yang tampak emosi.
...***...
Kanaya menatap wajahnya di depan cermin toilet sekolah,bibirnya sedikit lecet dan tentu saja pipi sebelah kanannya lebam.
Ia meringis melihat wajahnya saat ini.
Kanaya berjalan menyusuri koridor sekolah,semua orang menatapnya aneh namun Kanaya tidak peduli ia terus berjalan menaiki anak tangga lalu membuka pintu besi yang selalu tertutup,biasaya ia akan menghindari tempat seperti ini dengan alasan takut kesurupan namun sekarang mungkin ia sedang butuh sendiri.
...***...
Cakra meringis saat melihat sebuah vidio di grup kelasnya terlihat Kanaya yang sedang bertengkar dengan Luna dan kawan-kawannya.
"Keterlaluan banget si Luna"
Krekkkk
Pintu rooftop terbuka memperlihatkan Kanaya yang begitu berantakan,mata mereka bertemu lalu dengan cepat Kanaya memutuskan kontak matanya.
"Lo tau darimana gue disini?" Tanya Cakra,namun tidak ada jawaban.
"Emang lo ga cape ngejar-ngejar gue terus Nay?"
"Masih banyak cowo yang mau sama lo"
"Lo ha..." Ucapan Cakra terputus saat tiba-tiba Kanaya membentaknya.
"Gue cape Cakra gue cape!!Kalo gue bisa udah dari dulu gue cari yang lain!"
"Tapi gue gabisa.." Ucapnya lirih,air matanya tak bisa ia bendung lagi,benteng yang selama ini ia bangun sudah runtuh.
Entah kenapa Cakra merasa tidak tega melihat Kanaya yang seperti ini,namun dirinya masih belum bisa membuka hati untuk Kanaya.
"Nay..." Panggil Cakra dengan suara lembut,baru kali ini Kanaya mendegar Cakra memanggilnya dengan begitu hangat.
Kanaya mendongkakkan kepalanya menatap mata Cakra dengan begitu dalam seakan ingin menyalurkan rasa cintanya.
"I really love you..."
sayang nanggung bngttt🥰🥰