Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
BAB 5: Dansa di Atas Belati
[Sudut Pandang: SURA]
Undangan itu tergeletak di atas meja asrama seolah-olah itu adalah surat hukuman mati, bukan ajakan pesta.
Kertasnya berwarna krem tebal, pinggirannya dilapisi emas asli, dan baunya seperti mawar yang direndam dalam uang.
Malam Emas: Perjamuan Penyambutan Siswa Baru.
Pakaian: Formal Bangsawan.
Wajib Hadir.
"Kau sudah punya gaun?" tanya Lila, teman sekamarnya, sambil menyisir rambut pirangnya yang kusut. Lila sedang sibuk mencoba menyelundupkan seekor hamster ke dalam saku jubahnya.
"Aku punya uang," gumam Sura sambil menepuk kantong berisi koin emas hasil "donasi paksa" dari Jarek kemarin. "Masalahnya, aku tidak tahu bedanya gaun pesta dengan tirai jendela."
Lila terkikik. "Kalau begitu, biar aku yang pilihkan. Tapi sebagai gantinya, kau harus membantuku mengerjakan esai Sejarah Diplomasi Maritim."
"Sepakat," jawab Sura cepat.
Sore itu, mereka menyelinap ke kota di kaki tebing. Dengan uang curian Jarek, Sura membeli sebuah gaun bekas dari toko barang antik. Gaun itu berwarna hijau zamrud tua—warna yang cukup gelap untuk menyembunyikan noda anggur jika tumpah, dan cukup elegan untuk tidak terlihat murahan. Potongannya sederhana, tanpa renda berlebihan yang biasa dipakai gadis bangsawan manja.
Sura mematut diri di cermin retak asrama. Rambut hitamnya digelung naik, memperlihatkan leher jenjangnya. Dia terlihat... berbeda. Dia terlihat seperti seseorang yang bisa memiliki kebun anggur.
"Ingat," kata Sura pada bayangannya sendiri. "Jangan bungkuk. Jangan makan dengan tangan. Dan demi Tuhan, jangan mencopet siapa pun malam ini. Libur dulu."
Aula Perjamuan Akademi Gagak Putih lebih mirip katedral daripada ruang pesta. Langit-langitnya setinggi tiga puluh meter, dihiasi lukisan para pendiri akademi yang sedang menipu raja-raja kuno.
Musik orkestra mengalun lembut. Ratusan murid berpakaian mewah berdansa, tertawa sopan, dan saling berbisik menyebarkan gosip.
Sura berdiri di pinggir ruangan, memegang gelas kristal berisi jus delima. Dia merasa seperti penipu yang menyusup ke sarang naga. Setiap kali ada yang melihat ke arahnya, jantungnya berdegup kencang.
"Nona Valerine, bukan?"
Sebuah suara berat menegurnya.
Sura menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tinggi dengan lencana perak di dadanya—tanda bahwa dia adalah Senior (Tahun Ketiga). Wajahnya tampan tapi memiliki mata yang terlalu teliti, seperti akuntan yang mencari kesalahan pembukuan.
"Saya Vesper," kata senior itu, tidak mengulurkan tangan. "Ketua Klub Geografi dan Kartografi. Saya dengar kau dari Valerine?"
Sura tersenyum kaku. "Benar, Senior."
"Menarik," Vesper menyesap anggurnya. Matanya tidak lepas dari wajah Sura. "Saya sudah mengecek peta perpustakaan pusat tadi siang. Edisi terbaru, tahun 1899. Tidak ada nama Valerine di Selatan."
Darah Sura terasa dingin. Sialan. Kenapa ada orang yang seniat ini?
"Ah," Sura memutar otak dengan cepat. "Peta kerajaan memang lambat diperbarui, Senior. Wilayah kami baru dimekarkan tiga tahun lalu dari pecahan wilayah Duke of Oria. Ayah saya membeli tanah rawa yang tidak berharga dan mengubahnya menjadi kebun anggur."
Vesper menyipitkan mata. "Tanah rawa? Di Selatan? Jenis tanah di sana kebanyakan podzolik merah kuning. Sangat asam. Tidak cocok untuk anggur varietas Merlot. Anggur jenis apa yang kalian tanam?"
Sura membeku. Dia tidak tahu apa-apa soal tanah atau anggur. Dia hanya tahu anggur itu merah dan memabukkan.
"Kami menanam..." Sura tergagap. Lidahnya yang biasanya licin mendadak kelu. "Kami menanam..."
"Varietas Vitis Labrusca, hibrida khusus yang tahan asam," sebuah suara tenang memotong pembicaraan mereka.
Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar di pinggang Sura.
Sura tersentak, menoleh ke samping. Kian Arselio berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam dengan sulaman benang perak yang rumit. Dia terlihat begitu sempurna hingga menyakitkan mata.
Kian tersenyum pada Vesper—senyum yang penuh dengan pesona, tapi matanya dingin.
"Selamat malam, Senior Vesper," kata Kian sopan. "Maaf memotong interogasi Anda. Tapi Nona Valerine sudah berjanji memberikan dansa pertama ini untuk saya."
Vesper tampak kesal, tapi dia tidak berani melawan Kian—anak dari donatur terbesar akademi.
"Tentu, Tuan Arselio," Vesper membungkuk kaku. "Tapi pertanyaan saya belum selesai. Vitis Labrusca bukannya anggur iklim dingin?"
"Bukan jika kau menggunakan teknik okulasi akar ganda yang dikembangkan di Ostand Utara," jawab Kian lancar, seolah dia sudah bertani anggur sejak lahir. "Benar kan, Nona Valerine?"
Kian menatap Sura, memberi kode dengan matanya: Iyakan saja, Bodoh.
"B-benar," Sura mengangguk cepat. "Teknik okulasi. Itu rahasia dagang keluarga kami."
Vesper tampak masih curiga, tapi dia kehabisan argumen. "Baiklah. Nikmati pestanya."
Begitu Vesper pergi, Sura menghembuskan napas panjang. Kakinya lemas.
"Jangan pingsan," bisik Kian di telinganya. "Semua orang melihat."
Kian menarik tangan Sura, membawanya ke tengah lantai dansa.
"Tunggu, Kian," desis Sura panik. "Aku tidak bisa dansa! Aku cuma bisa lari dari kejaran anjing!"
"Ikuti aku," perintah Kian. Dia meletakkan satu tangan di punggung Sura, dan tangan lainnya menggenggam tangan Sura. "Kaki kanan mundur. Kaki kiri geser. Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga."
Musik waltz mengalun. Kian memimpin dengan gerakan yang tegas namun lembut. Sura tersandung beberapa kali, menginjak sepatu mengkilap Kian.
"Aduh," gumam Kian tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Itu sepatu kulit buaya impor. Harganya lebih mahal dari nyawamu."
"Maaf," Sura meringis, berusaha fokus pada kakinya. "Kenapa kau menolongku lagi? Kau mau uang lagi? Dompet Jarek sudah habis untuk beli gaun ini."
Kian memutar tubuh Sura, rok hijau zamrudnya mengembang indah. Untuk sesaat, Sura merasa seperti putri sungguhan.
"Vesper itu anggota Faksi Iron Wall," jelas Kian saat wajah mereka mendekat. "Faksi konservatif yang membenci pendatang baru. Aku dari Faksi Golden Key. Menyelamatkanmu dari dia adalah cara haluskuk untuk menampar wajah faksinya."
"Jadi aku cuma alat politikmu?" tanya Sura sinis, meski dia bersyukur tidak harus menghadapi Vesper sendirian.
"Di ruangan ini, semua orang adalah alat, Sura," bisik Kian. Matanya menatap Sura intens. "Pertanyaannya adalah, apakah kau mau jadi bidak, atau kau mau jadi pemain?"
Sura menatap mata abu-abu itu. Dia melihat ambisi yang menyala-nyala di sana. Kian tidak sedang berdansa. Dia sedang merekrut.
"Apa maksudmu?"
"Akademi ini terbagi menjadi tiga Faksi besar," kata Kian sambil membawa Sura berputar mengikuti crescendo musik.
"Iron Wall untuk para militeris dan loyalis kolot.
Silver Quill untuk para diplomat dan akademisi.
Dan Golden Key... faksi yang aku pimpin secara diam-diam. Kami adalah oportunis. Kami mencari orang-orang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain."
Kian mendekatkan bibirnya ke telinga Sura.
"Aku butuh seseorang yang bisa berbohong tanpa kedip. Seseorang yang punya tangan cepat. Seseorang yang tidak terikat aturan moral konyol bangsawan."
Lagu berakhir. Kian memposisikan Sura dalam pose penutup, menahan punggung gadis itu agar melengkung anggun ke belakang. Napas mereka menderu bersamaan.
"Bergabunglah denganku, Sura," bisik Kian. "Dan aku akan melindungimu dari seribu Vesper. Aku akan mengajarimu cara berdansa di atas pecahan kaca tanpa terluka."
Sura menatap Kian dari posisi itu. Dia tahu ini adalah tawaran berbahaya. Bergabung dengan Kian berarti masuk lebih dalam ke lumpur politik yang dia benci.
Tapi saat dia melirik ke pinggir ruangan, dia melihat Vesper masih menatapnya dengan curiga. Dia melihat Jarek berbisik-bisik dengan teman-temannya sambil menunjuk Sura.
Sura sadar, dia tidak bisa bertahan sendirian di sini.
Sura menegakkan tubuhnya kembali saat tepuk tangan membahana di aula. Dia tersenyum pada Kian—senyum yang kali ini tulus, namun penuh perhitungan.
"Aku tidak mau jadi bawahanmu, Kian," kata Sura tegas.
Kian mengangkat alis.
"Aku mau jadi mitra," lanjut Sura. "50-50. Keuntungan dibagi rata. Risiko ditanggung bersama. Dan kau harus mengajariku cara membedakan anggur sialan itu."
Kian terdiam sejenak. Lalu, senyum miring khasnya muncul. Dia mengulurkan tangan.
"Sepakat. Selamat datang di permainan, Partner."
Sura menjabat tangan itu. Kulit bertemu kulit. Dingin bertemu hangat.
Di tengah pesta yang gemerlap itu, sebuah aliansi paling berbahaya dalam sejarah Akademi Gagak Putih baru saja terbentuk.