Pernikahan yang didasari cinta belum tentu selamanya akan abadi. Akan ada badai yang akan menghampiri, apakah sang nahkoda bisa mengatasinya atau tidak tergantung kesiapan diri.
Begitu juga dengan rumah tangga Ima, kebahagian yang ia nikmati hancur lebur saat suaminya punya Wanita lain dan lebih menyakitkan mertuanya ikut andil atas pengkhianatan putranya.
Ima yang sakit hati bertekad dalam hati akan membalas semua pengkhianatan suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tidak terasa malam ini adalah malam ketujuh hari setelah kematian ayah. Orang '- orang sibuk dj dapur mempersiapkan sajian untuk pengajian nanti malam dan beraneka ragam cemilan. Semuanya adalah saudara suaminya Ima.
Sahabat Ima juga datang lebih awal membantu sebisanya.
"Ima, kamu sudah makan?" tanya Ratna sahabat Ima.
"Tadi pagi sih udah." jawab Ima lesu.
"Kamu itu harus makan banyak, kamu itu perlu tenaga yang besar untuk menghadapi ini semuanya. Kamu ga boleh saki, kalau kamu sakit mereka keenakan. Makanya kamu itu semangat. " bisik Ratna.
"Makasih Rat, hanya kamu yang selalu ada dan peduli terhadap aku." ujar Ima apa adanya. Suaminya yang katanya sangat mencintai dirinya malah sibuk dengan istri keduanya. Seakan dunia hanya milik berdua tak malu mengumbar kemesraan di depan orang banyak.
Ima tak merasa cemburu sama sekali malah ia muak dan jijik melihatnya. Cinta di hatinya sudah mengeras saat pengkhianatan suaminya terbongkar.
Semua keluarga besar mas Aldi sudha tau tentang pernikahan kedua mas Aldi. Semuanya nampak begitu memanjakan Tika, wanita itu sama sekali tidak di perbolehkan untuk membantu ibu - ibu yang lain menyiapkan sajian untuk acara pengajian.
"Woy, kalau mau mesra - mesraan tau tempat dong." sindir Ratna yang sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin menyindir Aldi dan Tika.
"Iri ya, mbak. Makanya surih suaminya cepat pulang." ejek Tina tak terima di sindir Ratna.
"Ngapain juga iri ma perempuan gatal kaya kamu, masih mending gue ga rebut laki orang meski di tinggal dinas."
"Enak aja kamu bilang, aku ga rebut siapa - siapa mas Aldi yang mau sama aku."
"Sama aja, dasar pelakor. Mana ada maling ngaku maling, kalau iya penjara bakal penuh." Ratna lalu tertawa mengejek membuat Tina memanas.
"Kamu itu hanya orang luar jadi ga usah ikut campur masalah rumah tangga orang lain." ujar Aldi yang ikutan tersinggung.
"Trus kalau aku orang luar, salah gitu bela temanku yang di zholimi suami dan keluarganya. Ohh itu tak mungkin ferguso, gue Ratna akan membela sahabat gue sampai titik darah penghabisan." Ucap Ratna dengan mulut mencibir.
"Ima ga usah dekat - dekat teman kamu itu, dia itu pembawa pengaruh buruk buat kamu." tambah Aldi.
"Pengaruh buruk ga salah, kalian kali yang bawa pengaruh buruk buat mental sahabat gue. Eh Aldi ambil kaca besar liat diri loe di kaca, pantes ga buat sahabat gue. Cakep juga pas pasan, kaya juga berkat bantuan sahabat gue." Ratna yang ceplas ceplos mengeluarkan semau unek - uneknya yang selama ini tertahan karna Ima tak mengijinkan dirinya protes pada Aldi.
"Ratna udah, malu." bisik Ima melerai.
"Malu, malu sama siapa? gue bicara kebenaran kok."
"Brisik." celetuk Tina.
"Kalau ga mau brisik jauh - jauh sono,l."
"Ini rumah gue, suka - suka gue mau ngapain."
"Udah Rat, ga usah di lanjutkan. Percuma ngomong sama mereka ga bakal masuk." Tina menarik tangan Aldi menuju kamar tamu, lama - lama di sana bisa - bisa membuatnya stress dan emosi.
"Kamu tuh ya, terlalu lembek jadi orang, pantesan aja mereka jadi ngelunjak. Aku yang orang luar aja gemes pengen cakar tuh muka - muka munafik."
"Kamu tenang saja, setelah cara ini aku sudah punya rencana besar." bisik Ima takut di dengar orang lain.
"Aku percaya kamu dan akan selalu mendukung apapun yang akan kamu lakukan . Tapi kami harus hati - hati, mereka itu semuanya licik." ujar Ratna berbisik pula.
"Kita tunggu saja tanggal mainnya, biar mereka nanti terkejut." ujar Ima dengan seringai tipis yang mengerikan.
Ratna dan Ima sudah berpakaian rapi duduk di baris paling depan, sementara Aldi dan Tina duduk tepat di seberang mereka. Ima abai dan pura - pura tak melihat suaminya. Acara berlangsung khidmat dan berakhir dengan pembagian berkat.
"Ima aku pulang dulu. " pamit Ratna yang merasa beray meninggalkan Ima sendirian.
"Hati - hati, makasih ya." Ima melambaikan tangannya saat mobil Ratna sudah menjauh. Ima berbalik hendak masuk kekamrnya tapi tertahan saat suaminya memanggil.
"Kamu tidur sendiri aja, ya. Aku mau menemani Tina malam ini." ujar Aldi.
"Hmm...." Ima memutar mata malas dan melanjutkan langkahnya kekamar, saat hendak menutup pintu ada tangan yang menahannya.
"Kamu kok jawab gitu?" tanya Aldi tak puas dan kecewa dengan jawaban Ima.
"Trus aku mau jawab gimana, larang kamu gitu? Nangis - nangis biar kamu menemani aku. Sudahlah mas, aku lelah mau istirahat, kamu sudah di nungguin sama istri tercinta itu." usir Ima.
"Kamu berubah. "
"Aku berubah karna kelakuan kamu." Ima menutup pintu dengan kasar dan menguncinya. Ia tak peduli dengan teriakkan dan gedoran dari Aldi. Nanti jika sudah lelah pasti berhenti. Tanpa menganti pakaian Ima merebahkan tubunya lelah lahir dan bathin.
"Malam ini aku harus istirahat, besok aku akan memulai semuanya. Tunggu saja pembalasanku mas." Ima yang sudah lelah dan mengantuk langsung tertidur dengan pulasnya. Sementara itu Aldi terpaksa pergi ke kamar tamu menemani Tina karna Ima tak membukakan pintu untuknya.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍🙏🙏