Adreanna Berenice, gadis berusia delapan belas tahun yang harus pindah rumah dan hidup sendiri atas wasiat mendiang orangtuanya, tidak pernah menyangka ia akan jatuh cinta pada seorang siswa laki-laki bertopeng yang ia temui di acara pesta dansa sekolahnya. Ia pun menyadari bahwa siswa laki-laki di balik topeng itu adalah teman satu kelasnya sendiri, yang terkenal memiliki sifat dingin.
Namun, suatu kejadian tak masuk akal membuat Adreanna melihat sisi hangat dan peduli siswa laki-laki itu, yang tidak akan ia lihat di sekolah. Bersamaan dengan itu, Adreanna tanpa sadar telah mengikat dirinya dengan sebuah takdir yang tertulis di sebuah buku di dalam perpustakaan rumahnya.
Buku yang mengisahkan pertarungan sengit dua pangeran vampir demi memperebutkan gelar sang ‘Pangeran Terakhir’, pengorbanan seseorang, dan balas dendam manis seorang penyihir.
Di samping memperjuangkan perasaannya pada cinta pertamanya, apakah Adreanna akan mampu bertahan di dalam takdir kelam tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drion, John, dan Leon
Aku menurunkan ponselku dan meletakkannya di atas nakas begitu Drion mengakhiri panggilan. Tanganku mencengkram buku bacaanku, mengingat ancaman Drion. Jangankan menyembunyikan mantra yang dicarinya, aku saja tidak tahu apa maksudnya.
Aku mengacak rambutku, mengingat ucapanku sendiri yang seolah-olah menandakan bahwa aku tahu sesuatu tentang mantra. Seharusnya aku tidak mengikuti permainannya begitu saja.
Drion dulunya adalah teman satu SD-ku. Namun, menjelang kelulusan, Drion menghilang begitu saja dan tidak pernah terlihat di mana pun. Banyak yang berkata bahwa ia pergi ke dimensi lain untuk mempelajari mantra ini dan mantra itu. Ia pun dikabarkan telah menjadi penyihir.
Tentu saja itu bukan kabar yang baik bagi siapa pun, termasuk aku. Bayangkan saja, setelah hilang kontak selama bertahun-tahun, lelaki itu entah bagaimana mendapatkan nomorku dan menelponku. Dan yang membuatku cukup cemas adalah ia bilang ia tahu di mana aku tinggal dan dengan siapa saja aku bergaul.
Peringatan Drion terngiang-ngiang di kepalaku ketika aku mencoba untuk tidur di malam harinya. Walaupun aku sedang memejamkan mata, tapi aku tidak bisa melepaskan jiwaku begitu saja ke alam mimpi. Dan tidak hanya malam itu aku kesulitan tidur, tapi juga malam-malam berikutnya. Sial, rasanya aku seperti baru saja dikutuk.
Aku melalui hari demi hari dengan rasa lelah akibat kurang tidur, hingga hari pengambilan ijazah tiba. Sambil mengenakan pakaian resmi dengan sedikit terkantuk-kantuk, aku memikirkan menu yang akan aku hidangkan pada diriku sendiri malam ini. Mungkin makanan yang dapat membuatku tertidur nyenyak di malam hari?
Aku jadi teringat saat aku dan koki di rumah lamaku bersama-sama membuat salmon panggang, pasta dengan saus karbonara, serta ikan dan kentang goreng. Kami berdua lalu membagikannya pada para pelayan dan staf rumah saat kedua orangtuaku sedang berpergian.
Momen hangat itu kini telah menjadi kenangan pahit. Sejak aku tiba di mansion ini, aku tidak pernah berminat menyantap makanan-makanan itu lagi.
Oh, sudah hampir pukul delapan pagi!
Aku bergegas keluar dari kamarku, menuruni tangga dengan sedikit terburu-buru. Namun, suara decit lantai kayu membuatku berhenti seketika.
Seluruh lantai di mansion ini, 'kan, terbuat dari keramik dan marmer. Mungkinkah tadi itu suara decit pintu kayu? Tapi, aku yakin semalam aku telah menutup rapat semua pintu kayu di mansion ini.
Sadar aku telah memikirkan yang tidak-tidak, aku berjalan cepat menuju pintu utama. Pihak sekolah memang tidak mewajibkan murid-murid seangkatanku datang pukul delapan, sih. Hanya saja, aku lebih suka datang pertama daripada datang terakhir. Rasanya canggung jika aku jadi yang terakhir datang ke sekolah.
Taksi datang tiga puluh lima menit setelah kutelpon, membuatku menaikkan setengah alis. Biasanya, taksi akan menjemputku dalam waktu dua puluh menit. Itu saja sudah terlalu lama bagiku yang berdiri sendirian di wilayah sepi ini, seakan-akan aku sedang menunggu kura-kura mencapai garis finish. Bisa kalian bayangkan betapa tidak tenangnya perasaanku saat menunggu taksi itu sampai lebih dari setengah jam.
“Nona dari mana? Saya tidak pernah mengangkut penumpang dari sekitar sini,” celetuk sang sopir sambil melirikku melalui spion tengah. Aku akhirnya mengerti mengapa beliau membutuhkan lebih dari setengah jam lebih untuk menjemputku. Meskipun begitu, aku merasa terusik dengan pertanyaannya.
Yah, aku memang tidak pernah bertemu sopir yang sama setiap memesan taksi. Aku juga akan lebih senang jika beliau tidak bertanya macam-macam padaku dan fokus mengemudi. Tetapi, melihat tatapan matanya yang biasa saja, membuatku menepis prasangka burukku.
“Saya tinggal di dekat sini, Pak,” jawabku seadanya.
Sopir taksi itu mengernyit sejenak. Lalu, tiba-tiba ekspresinya berubah terkejut. “Oh, ya! Mansion tua itu! Jadi, Anda penghuni barunya?” tanya sopir taksi itu ramah, membuatku mengangguk kecil.
“Kabarnya, sudah lama sekali mansion itu dibangun, tapi tidak pernah ada yang menghuninya. Sudah lokasinya tidak strategis, bangunannya kuno, harganya pun sangat mahal. Apakah orangtua Anda yang membeli mansion itu?” tanya sopir itu lagi. Aku ingin sekali mengatakan padanya agar tidak usah bertanya apa pun padaku, tapi kurasa itu tidaklah sopan.
“Ya, begitulah, Pak,” jawabku datar, sambil menoleh ke jendela mobil.
Langit sedang mendung. Aku harap tidak akan turun hujan nanti, karena aku lupa membawa payung lipatku akibat terkecoh dengan suara decit pintu kayu di rumah.
Setibanya di sekolah, John langsung menghampiriku.
“Adreanna!” sapanya sambil tersenyum lebar padaku.
“Hm,” dehemku singkat saat ia sudah berada di sampingku.
“Tunggu, kau tidak merindukanku?” tanya John saat aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Senyumnya mampu mengubah nuansa muram di hari yang mendung ini, tapi tidak akan mampu mengubah pendirianku.
“Tidak,” jawabku singkat.
“Huh, sikapmu itu masih saja sedingin es. Kira-kira bisa kucairkan, tidak, ya?” ucap John dengan nada jenaka, membuatku hanya memutar bola mataku. Ada-ada saja dia.
Aku jadi teringat ketika Ella berdansa dengan orang yang diduga Leon adalah John. Jika benar itu John, maka aku harus tertawa. Baik karena Ella tidak menyadarinya di awal dan karena aku pun tidak menyadarinya sampai Leon yang memberitahuku.
Uh ... berbicara soal Leon, aku jadi merasa bersalah karena menggantung jawabanku saat itu. Dan tepat saat aku berpikir begitu, aku melihat Leon yang keluar dari ruang guru.
Saat kami berpapasan, tatapan kami bertemu, langkah kami pun terhenti. Gawat! Aku harus mengatakan sesuatu sebelum situasi ini berubah jadi canggung!
“Um, ada Pak Thomas, Leon?” tanyaku biasa, mencoba bersikap alami. Leon mengangguk singkat sebelum akhirnya, ia berjalan melewatiku. Aduh, kenapa rasanya aku jadi tersinggung, ya?
“Kamu mau ke mana? Memangnya boleh langsung pulang?” tanyaku sambil menyipitkan mataku, menatapnya tak senang.
“Kenapa tidak boleh?” tanya Leon balik, dengan nada dingin.
“Hei! Aku, 'kan, hanya bertanya!” kesalku, tapi lelaki itu hanya mengangkat bahu acuh dan berjalan menuruni tangga.
Ah, kacau! Seharusnya tidak berakhir seperti ini! Apa gara-gara percakapan kami waktu pesta dansa itu, ya?
Perhatianku teralihkan pada Pak Thomas yang memanggilku ke ruang guru, membuatku bergegas menuju ke sana.
“Selamat, ya, Adreanna. Kamu peringkat kedua setelah John di angkatan ini. Kamu sudah berusaha yang terbaik,” puji Pak Thomas sembari menyodorkan padaku sebuah amplop besar berwarna biru tua, yang dihiasi ukiran dan tulisan berwarna emas. Oh, John peringkat pertama seangkatan? Pantas saja ia begitu semringah tadi.
Aku tersenyum sopan sambil menerima amplop besar berisi ijazah itu. “Terima kasih, Pak,” ucapku menunduk sekilas sebelum aku keluar dari ruang guru.
Saat aku sudah berada di lantai dasar, aku melihat murid-murid seangkatanku yang sedang berjalan menuju gerbang dan membawa amplop biru besar mereka masing-masing. Itu membuatku jadi berpikir, bahwa seharusnya aku tadi tidak mempermalukan diriku sendiri dengan melontarkan pertanyaan bodoh itu pada Leon.
Aku hendak menelpon taksi, ketika tiba-tiba ….
Prak!
“AAH!”
Aku refleks menjerit ketika seseorang menarikku kuat ke belakang, membuat ponselku terjatuh dengan suara yang cukup mengkhawatirkan. Ternyata, seorang siswa yang melajukan motornya keluar gerbang dengan kecepatan penuh nyaris saja menabrakku.
“Lain kali hati-hati. Kamu selalu saja tak memerhatikan sekitarmu.”
Suara dingin yang tidak asing itu membuatku menoleh ke belakang. Leon memegang bahuku erat dari belakang sambil menatapku datar. Napasku tercekat melihat tatapannya yang seolah-olah berusaha menyelami pikiranku.
“Oh … terima kasih,” ucapku sedikit kaku, dibalas senyuman tipis oleh Leon. Lelaki itu kemudian pergi, membuatku mengatur napas dan degup jantungku yang tak beraturan.
Gila. Aku masih tidak percaya bahwa aku nyaris celaka. Tetapi, Leon yang menyelamatkanku pun sungguh di luar dugaanku.