Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA KU NANTI

CINTA KU NANTI

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:396.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tania22

Jangan sampai baper lho dengan ceritanya


Sebagai idola remaja yang namanya tengah naik daun di dunia hiburan, Alvaro Lincoln Abraham yakin bisa dengan mudah mendapatkan cewek mana Pun. Namun, siapa sangka Mika berani menolak dan membuat cowok itu malu di hadapan media.

sejak kejadian memalukan itu Alvaro bertekad untuk membuat untuk membalas Perbuatan Mika yang membuat Alvaro malu Alvaro bertekad untuk membuat gadis itu jatuh cinta kepadanya

Apakah Alvaro bisa menaklukkan hati wanita itu ? Apakah justru ia malah jatuh beneran sama Mika ?

Tunggu ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7 Kupon Misterius

Keesokan harinya Pada jam istirahat, Mika memeriksa laci mejanya untuk kali kesekian. Setelah semalaman ia menggeledah kamarnya demi menemukan selembar kupon, ia memikirkan kemungkinan lain kupon yang dicarinya ada di area sekolah. Mungkin saja ia tidak sengaja menjatuhkan kupon itu ketika membawa-bawa buku catatannya kemarin.

“Lo lagi nyari apaan, sih, Mika” tanya Saras yang sejak tadi kebingungan melihat tingkah Mika yang tidak bisa diam. “ Lagi nyari kupon gue. Jatuh di mana, ya?” sahutnya, masih sibuk mengeluarkan semua isi laci mejanya.

“Kupon apaan?”

“Kupon ....” Mika buru-buru menelan kata-kata yang hampir saja terlontar dari mulutnya. Ia kemudian menghentikan Pencariannya di laci meja dan bangkit berdiri.“Gue cari di luar, deh. Mungkin aja jatuh di jalan.”

Saras hanya tercengang di tempat duduknya, mengamati kepergian Mika yang secepat kilat.

Di luar kelas, Mika menyusuri jalanan koridor yang ia lalui kemarin saat membawa buku catatannya. Ia berjalan dengan

Mata Penuh selidik menjelajah jalanan koridor di sekitar kelasnya, kemudian berkeliling di kantin hingga ia berhenti tepat di depan mading sekolah. Namun, ia masih belum bisa menemukan benda yang dicarinya.

Sementara itu, di ruang kelas XII IPS 3, Alvaro merogoh tas ranselnya untuk mengambil dompetnya. Tanpa sengaja, sebuah benda asing ikut terangkat ketika ia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Benda kecil itu kemudian terjatuh ke bawah kursinya.

Alvaro menunduk, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil benda yang terjatuh itu. Benda itu seperti sebuah kartu nama, hanya saja ukurannya sedikit lebih besar.

Setelah berhasil menjangkau lembaran tipis berwarna kuning terang itu, Alvaro kemudian membaca keterangan di dalamnya dalam diam.

Hanya butuh waktu beberapa detik untuk membuat mata Alvaro membulat sempurna. Alvaro langsung menduga bahwa benda itu adalah kupon yang dicari Mika kemarin. Mengapa bisa ada di dalam tasnya ? Namun sesungguhnya, bukan itu yang membuat Alvaro terkejut. Melainkan, keterangan dalam kupon itulah yang membuatnya hampir tidak Percaya bahwa kupon itu benar milik Mika

Dari sela-sela besi Pagar yang terbentang tinggi di hadapannya, Mika mengamati situasi di dalam. Ia ingin memastikan mobil Alphard hitam tidak ada di Pekarangan rumah mewah itu.

“Non ....” Mika terlonjak ketika seorang Pria berseragam Putih dengan berbagai atribut keamanan di seragamnya muncul tepat di sela-sela besi Pagar itu.

“Non Mika, kan ? Guru les Non Clara yang baru?” tanya Pria itu, yang diketahui Mika adalah satpam di rumah itu.

“Eh ? I-iya, Pak. Clara-nya ada, kan?” Mika berusaha bersikap senormal mungkin.

“Ada, ayo masuk aja, Non.” Pak Satpam membukakan Pintu Pagar dan mempersilakan Mika masuk.

Masih sedikit ragu, Mika melangkah masuk. Matanya sejak tadi sibuk mengawasi sekitar. Ia merasa harus waspada kalau-kalau seseorang yang sangat ingin dihindarinya tiba-tiba muncul.

“Langsung masuk aja, Non. Non Clara udah nungguin dari tadi. Saya sampe capek jawabnya," keluh Pria setengah baya itu sambil tersenyum.

Mika mengangguk santun, kemudian Pamit untuk masuk ke rumah. Selama melewati Pekarangan rumah yang luas itu, mata Mika terus waspada. Walaupun ia tidak menemukan mobil Alphard hitam yang sering digunakan untuk mengantar jemput Alvaro tetapi mungkin saja cowok itu ada di dalam rumah.

Seperti maling yang berniat mencuri di siang hari, Mika menyembulkan kepalanya di Pintu utama yang sedikit terbuka. Dengan ragu, ia melangkah masuk ketika tidak menemukan satu orang Pun di ruang utama.

“KAK MIKA "

Punggung Mika langsung tegang begitu mendengar suara Clara dari lantai atas. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap Clara. Mika menempelkan telunjuk di depan bibirnya memberi kode agar gadis itu mengecilkan suara.

Beberapa saat kemudian Sandra muncul dari ruang tengah, menghampiri Mika yang masih mematung di dekat Pintu utama.

" Mika kamu udah datang ? Langsung ke kamar Clara aja, ya!” sambut Sandra yang kini menjatuhkan diri di sofa ruang utama. Ia

Kemudian meraih remote TV, berniat melakukan kegiatan rutinnya di siang hari menonton televisi

“Iya, makasih Tante. Permisi ” Mika buru-buru menuju tangga dan melesat masuk ke kamar Clara yang terbuka.

“Kak Mika telat setengah jam!" seru Clara yang telah ikut masuk ke kamarnya, kemudian menutup Pintu itu.

Lagi-lagi Mika memberikan kode agar Clara mengecilkan volume suaranya.

“Santai aja. Kak Al belum Pulang, kok,” kata Clara, seolah tahu apa yang dicemaskan Mika

Mika menghela napas lega mendengar informasi itu. “Maaf, tadi ada Perlu sebentar, jadinya telat. Ya udah, yuk, kita mulai lesnya ”

Mika lebih dahulu duduk di karpet, kemudian meletakkan tas selempangnya di meja kecil di depannya.

“Kak Mika, kan, janji mau lanjutin cerita kemarin tentang Kak Al !” Clara mulai merengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan Permen. Cewek kelas VII itu kemudian ikut duduk di karpet, berhadapan dengan Mika Mereka kini terpisah oleh meja kecil yang setengahnya sudah Penuh dengan dua gelas jus tomat dan beberapa camilan.

“Ceritanya, kan, bisa dilanjut setelah les. Sekarang kita belajar dulu, ya. Keluarin PR kamu.”

“Ih, Kak Mika nggak asyik banget, sih! Lesnya nanti aja. Sekarang Cerita dulu, ya,” rajuk Clara lagi. Salah satu tangannya ia ulurkan untuk mencegah gerakan tangan Mika yang berniat mengeluarkan bahan ajarnya dari dalam tas. Namun, gerakan tangan Clara membuatnya tak sengaja menyenggol salah satu gelas berisi jus tomat hingga seluruh isinya menumpahi tas milik Mika

Buru-buru Mika mengembalikan Posisi gelas hingga berdiri kembali, tetapi hanya menyisakan sari-sari buah tomat di Permukaan gelas itu. Sedangkan, seluruh cairannya kini menodai sebagian besar tas yang terbuat dari bahan yang tidak anti air itu.

Mika mengeluarkan buku-buku dan semua benda yang berada dalam tas dengan cepat sebelum cairan jus tomat merusak semuanya.

Sementara itu, Clara yang terlalu shock hanya mampu membeku sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangan. “Kak Mika, maaf. Clara nggak sengaja!" ucapnya Pelan, merasa bersalah.

Mika hanya berdecak Pelan melihat kondisi tasnya kini yang Penuh dengan noda merah tomat yang sulit sekali dihilangkan. Noda-noda itu tidak bisa hilang walau ia sudah mengusapnya dengan tisu berkali-kali.

“Tas Kak Mika biar Clara yang bersihin aja. Nanti Clara bawa ke tempat laundry.” Clara merebut tas itu dari tangan Mika dengan cepat.

Mika masih saja diam sambil mengerutkan keningnya, menatap Clara dengan sedikit kesal. Kali ini Clara takut sekali. Aksi diam Mika membuat Clara mengira ia sangat marah kepadanya.

“Untuk sementara ini Kak Mika Pake tas Clara aja.” Clara kini bangkit berdiri, kemudian mengambil sesuatu di dalam kotak berukuran sedang warna biru terang di atas meja belajarnya itu “Ini,” lanjut Clara sambil mengulurkan tote bag cantik berwarna biru muda dengan karakter ilustrasi lucu di kedua sisinya. “Tas ini baru, kok. Clara belum Pernah sama sekali Buat Kak Mika juga nggak apa-apa.” Clara mendekati Mika kemudian kembali duduk di hadapannya. Setelah menghela napas berat, akhirnya Mika menyambut tas dari tangan Clara. Ia tidak Punya Pilihan lain. Tas selempangnya benar-benar tidak bisa digunakan dalam waktu dekat ini.

...•••••...

“Gimana, Alvaro udah Ketemu ”

Alvaro menoleh cepat ke arah Pintu kamar, dan langsung mendapati Om Aryo tengah berdiri di ambang Pintu.

“Belum, Om. Aku coba cari di rak buku, deh.” Alvaro kini bergerak mendekati sebuah rak buku berukuran sedang yang menempel di dinding, tak jauh dari Pintu.

“Memangnya kamu cari buku apa, sih Sampai minta ikut ke rumah Om buat mampir ke kamar Kevan ”

“Buku Pelajaran, Om. Kevan, kan, lulusan SMA Bhakti Ananda. Mungkin aja beberapa bukunya yang lama masih bisa aku Pinjam buat belajar.”

Om Aryo tersenyum dari tempatnya berdiri, sedangkan dalam hati, Rakha tertawa geli sendiri mendengar ucapannya barusan. Sejak kapan ia jadi menaruh minat Pada kegiatan belajar yang dirasanya sangat membosankan ? Namun, hanya itu alasan yang bisa ia gunakan agar Om Aryo mengizinkannya masuk ke kamar Kevan Putra Om Aryo.

" Kamu coba hubungi Kevan aja, tanya dia, simpan buku-buku lamanya di mana. Atau, kalo kamu mau nunggu, liburan semester minggu depan dia balik ke Jakarta, kok.”

“Oh, iya, Om. Aku coba cari sebentar lagi. Kalo masih nggak ketemu juga, aku tunggu Kevan balik aja.”

Om Aryo mengangguk paham, kemudian menghilang di balik Pintu meninggalkan Alvaro yang memang mengharapkan kepergiannya sejak tadi.

Alvaro segera melanjutkan aksinya. Bukan buku Pelajaran yang ia cari, melainkan lembaran tipis berwarna kuning terang yang seingatnya Pernah ditunjukkan Kevan kepadanya tahun lalu. la hanya ingin memastikan benda itu sama dengan kupon yang diduganya milik Mika.

...•••••...

Setelah selesai membersihkan noda jus tomat yang mengotori ujung rok seragamnya di dalam toilet, Adela kini berjalan kembali menuju kamar Clara. Ia berniat memeriksa hasil Pekerjaan Clara setelah beberapa saat lalu Mika memberinya latihan soal. Kejadian jus tomat yang tumpah itu ternyata ada baiknya juga, Clara mendadak jadi anak Penurut hari ini. Sangat berbeda saat Pertemuan Pertamanya dua hari lalu.

Belum sampai di kamar Clara, Mika tiba-tiba berhenti ketika melewati ruangan yang Pintunya sedikit terbuka, tepat di sebelah kamar Clara adalah kamar Alvaro

Dengan ragu bercampur rasa Penasaran, Mika melirik sedikit ke dalam kamar itu melalui ekor matanya. Dua detik kemudian ia mengalihkan tatapannya ke ruang tamu di lantai bawah, sekadar mengawasi keadaan. Televisi di ruang tamu masih menyala, tetapi Sandra tidak terlihat di ruangan itu.

Mika memberanikan diri kembali menoleh Pada celah Pintu kamar Alvaro yang sedikit terbuka. Kali ini diikuti gerakan kakinya yang melangkah mendekati Pintu itu.

Mika meraih daun Pintu itu, lalu dengan hati-hati ia buka dengan sangat Perlahan, demi menghindari suara decitan Pintu yang nyaring.

Nuansa biru yang lembut langsung menyambut. Sebuah Poster Dominic Toretto, tokoh di film The Fast and the Furious terpajang di sudut ruangan. Menurutnya, kamar itu terlalu rapi untuk ukuran cowok. Apalagi bila mengingat Pemiliknya adalah Alvaro

Oh, Pasti Bi Iyem yang rajin beresin kamarnya. Ia menyimpulkan dalam hati.

Mika kembali menoleh ke lantai bawah, berharap Sandra masih tidak ada di sana. Dan, harapannya terkabul. Ia sempat memaki dirinya sendiri dalam hati atas sikapnya yang tidak sopan karena berniat masuk ke kamar orang lain tanpa izin. Namun, rasa Penasaran sekaligus curiga masih mendominasi kepalanya. Ia yakin kupon yang dicarinya pasti sengaja disembunyikan Alvaro di suatu tempat. Bisa jadi di kamar ini. Dan, bila ia beruntung, mungkin saja ia bisa mengambil coretan tangan Alvaro yang sedang ia butuhkan. Itu namanya sambil menyelam, minum air.

Mika terkekeh tanpa suara. Lalu, dengan gerakan slow motion, ia melangkah hati-hati memasuki kamar Alvaro yang lebih dalam. Langkah kakinya menuntunnya mendekati meja belajar di sudut kamar itu.

Mika meneliti setiap benda yang ada di atas meja. Dengan hati-hati, ia menyentuh buku-buku, alat tulis, laci meja serta benda-benda lain yang berada di jangkauannya untuk menemukan benda yang ia cari.

Bukannya menemukan kupon yang ia cari, Mika justru menemukan selembar foto antik yang warnanya sudah sedikit memudar akibat termakan usia, di selipan salah satu buku. Ada tiga orang dalam foto itu, satu Perempuan yang diapit dua orang Pria yang terlihat sepantaran. Ketiganya kompak mengangkat dua jari hingga membentuk huruf V sambil tertawa riang sekali ke kamera. Mika menduga usia ketiga bocah kecil dalam foto itu sekitar 4 tahun.

Seolah lupa dengan tujuan awalnya masuk ke kamar ini, Mika malah menghabiskan waktu untuk memandangi foto itu. Ia sedang berusaha menebak-nebak yang manakah sosok Alvaro dalam foto itu? Wajah-wajah kecil nan Polos itu sangat sulit dibandingkan dengan tampang Alvaro kini yang dianggapnya sangat menyebalkan.

Bagaimana bisa sosok menggemaskan dalam foto ini berubah menjadi sosok yang menyebalkan ketika besar?

“ Alvaro habis ganti baju, makan siang dulu ya, baru istirahat!"

“Iya, Ma "

Mika Panik. Kemudian, terdengar langkah-langkah kaki yang semakin dekat, membuat jantungnya seolah akan keluar. Foto yang tadi sempat dipegangnya lama, kini sudah terlepas dan jatuh entah ke mana. Ia harus cepat bergerak sebelum Rakha menemukannya.

Mika kesulitan berpikir saat dalam keadaan Panik seperti ini. Suara langkah kaki itu semakin mendekat, tetapi yang dilakukan Adela hanya berjalan bolak-balik tak tahu harus melakukan apa.

Alvaro baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir menuju lantai dua. Ia terus berjalan menuju kamarnya. Namun, belum sampai di depan Pintu kamarnya yang setengah terbuka, tiba-tiba saja Pintu kamar Clara terbuka dan cewek itu muncul untuk mengejutkannya.

“KAK Al !" teriak Clara dengan senyuman usilnya. Posisinya kini berada tepat di hadapan Alvaro sengaja menghalangi langkah Alvaro menuju kamar yang ia tuju.

“Kelakuan, masih aja kayak bocah. Sana, minggir!" Tangan Alvaro bergerak untuk menyingkirkan Clara dari hadapannya. Alih-alih menyingkir, Clara justru menarik dan memaksanya untuk masuk ke kamarnya.

“Kak, Clara mau minta tolong sesuatu, boleh, ya?” Pinta Clara masih berusaha menyeret Paksa kakaknya.

“Apaan, sih?” Alvaro berusaha membebaskan diri, tetapi gagal. Ia kini sudah benar-benar memasuki kamar Clara.

“Bantuin Clara ngerjain PR, ya,” ucap Clara yang masih mencengkeram tangan Alvaro dengan kuat-kuat. “Itung-itung Kak Al ngulang Pelajaran SMP lagi. Nggak bosen apa ngulang Pelajaran SMA mulu?”

PLETAK

“Aaauuw " Clara meringis pelan sambil memegangi kepalanya yang baru saja dihadiahi jitakan dari Alvaro

“Ngeledek gue, lo ”

" ih jadi orang baperan banget, sih!"

“Bukannya lagi les ” tanya Alvaro setelah mengamati tumpukan buku-buku di meja kecil di tengah kamar. Juga dua gelas jus tomat yang salah satunya sudah kosong. “ Minta tolong sama guru les lo aja, sana.” Alvaro menarik tangannya, tetapi Clara semakin memperkuat cengkeramannya.

Secara spontan, Alvaro kembali memperhatikan buku-buku yang ada di atas meja kecil di tengah kamar. Matanya terpaku pada sebuah buku bersampul Putih yang mirip seperti buku catatan milik Mika, Namun, Pikiran itu dengan cepat ditepisnya sendiri, mengingat buku seperti itu tidak mungkin hanya ada satu.

“Justru itu, sebelum dia balik dari toilet. Bantu Clara ngerjain PR, ya. Please.” Clara kemudian melepaskan tangannya dari Alvaro untuk beranjak mengambil buku Paket Pelajaran Matematika. Setelah itu, ia mengulurkan buku yang sudah terbuka itu kepada kakaknya. “Soalnya cuma sedikit, kok.”

Masih sedikit curiga, Alvaro meraih buku itu dari tangan Clara. Untuk beberapa saat, ia mulai menanamkan sugesti bahwa Matematika tingkat SMP seharusnya masih bisa ia kuasai. Namun, untuk menit-menit Pertama, Rakha hanya menggaruk-garuk tengkuknya sambil memandangi deretan angka beserta variabel yang membentuk sebuah Pertidaksamaan linear dengan kening berkerut.

Sementara itu, Clara diam-diam telah keluar dari kamarnya menuju toilet. Ia berniat menjemput Mika dan menghalanginya bertemu dengan Alvaro. Namun, setibanya di toilet, ia tidak menemukan Mika di sana.

Clara kembali berjalan menuju kamarnya dengan bingung. Ke mana Perginya Kak Mika ? Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika melihat sekelebat bayangan seseorang dari dalam kamar Alvaro yang setengah terbuka. Bersamaan dengan itu pula, Alvaro baru saja keluar dari kamar Clara.

Clara buru-buru berlari mencegah gerakan kakaknya yang hendak menuju kamar di sebelahnya.

“Gimana Udah selesai?” tanya Clara yang secepat kilat sudah berdiri tepat di hadapan Alvaro di depan Pintu kamarnya.

“Biar lo nggak ngulang Pelajaran SMP melulu, kerjain sendiri biar pinter!" sahut Alvaro. “Minggir Gue mau ganti baju.” Dengan satu tangannya, Alvaro dengan susah Payah menyingkirkan Clara dari depan Pintu kamarnya.

Clara terlambat untuk kembali menahan Alvaro. Kakaknya itu sudah masuk dan mengunci diri di dalam.

Clara menutup matanya rapat-rapat karena mengira beberapa detik lagi suasana di dalam kamar Alvaro akan kacau. Pasti Alvaro akan menemukan Mika di dalam. Namun, dugaannya tidak terwujud. Clara sudah menutup mata cukup lama dan tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam. Ia jadi meragukan sekelebat bayangan hitam yang dilihatnya tadi adalah Mika

Sementara itu, di dalam kamar, Alvaro meletakkan tas ransel di tepi ranjangnya. la kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah kupon. Ia memandangi kupon di tangan kanannya itu cukup lama. Sementara itu, tangan kirinya kini sibuk membuka kancing seragamnya satu per satu.

Alvaro menanggalkan seragamnya juga kaus Putih tipis yang ia kenakan. Hingga ia kini bertelanjang dada. Matanya tak Pernah beralih sedikit Pun dari benda kecil itu. Berbagai dugaan masih memenuhi kepalanya. Apa benar Kevan dan Mika memiliki hubungan khusus ?

Sementara itu, di bawah ranjang, Mika sejak tadi berusaha menahan napasnya. Dadanya sesak karena menahan beban tubuhnya yang tengkurap. Ditambah detak jantungnya yang semakin bekerja di luar kendali dalam situasi menegangkan seperti ini. Dalam Posisinya yang tak nyaman itu, ia hanya bisa melihat kaki Alvaro yang berjarak sangat dekat dengannya.

Kerja jantung Mika semakin liar ketika ia melihat celana seragam yang dikenakan Alvaro kini dibuka dan jatuh tepat di depan matanya. Mika menutup rapat-rapat kedua matanya sambil terus berusaha menahan napas agar jangan sampai kelepasan berteriak.

...••••••...

1
Diva Diva23
lanjut Thor
Diva Diva23
kok tamat sih Thor
Nurwana
lanjut....
Miko
jangan pergi dong Mika
Miko
Terima aja deh sih Alvaro keburu hilang tuh anak
Miko
jahat banget sih Tante Ratna Pisahin Leo masa Mika
Anonim
Terima aja deh sih Alvaro
Anonim
lanjut Thor
Anonim
next Thor
Anonim
lanjut Thor
Anonim
jangan-jangan lama kasih jawaban nya
Anonim
Kevan move on dari mantan kamu
Anonim
next Thor
Anonim
lanjut Thor
Anonim
jahat banget sih Tante Ratna
Ridho
Jangan Pergi dong Mika kan kasihan Alvaro
Ridho
Terima aja deh Mika
Ria
next Thor
Ria
sukses selalu buat Thor
Salsabila
jangan lama-lama kasih jawaban Mika
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!