Indonesia
NovelToon NovelToon
My Soulmate

My Soulmate

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta Murni / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alwaysuga

Bagaimana rasanya menikah dengan guru matematika, sementara wanitanya adalah pembenci matematika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alwaysuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kediaman Prambudi

Ucapan akad adalah janji yang harus ditepati, ucapan akad adalah bukan sembarangan ucapan sebab akad diartikan perjanjian dan kesepakatan yang harus dijalankan sesuai perintah-Nya. Maka dari itu, pernikahan yang semestinya adalah yang memaknai nama 'akad' sesuai dengan hakikatnya bukan sembarangan mengartikan nama 'akad' itu sendiri.

Tidak semua orang memahami arti akad yang sebenarnya, sehingga kebanyakan dari mereka akad hanyalah sebatas ucapan padahal salah besar. Orang yang mengerti arti akad maka akan mengerti apa artinya menerima, memberi, menghargai, hingga mencintai pasangannya tanoa harus memandang fisik, status sosial, hingga jabatan bahkan harta pun sama.

Maka dari itu, hakikat pernikahan menurut Fahad sendiri adalah tentang memberi bukan menerim. Memberi dan menerima adalah dua hal yang berbeda, persis halnya lebih baik memberi daripada menerima. Maksud Fahad, memberi di sini diartikan memberikan cinta, kasih sayang, hingga materi untuk Kinan. Tidak semua menerima itu memberi, tetapi jika memberi sudah pasti menerima semua apa yang ada dalam diri Kinan itu sendiri.

Tujuan utamanya adalah kediaman Hasan yang jaraknya hanya beberapa jam saja, karena kediaman Hasan letaknya jauh dari sekolah Kinan. Lalu bagaimana Fahad mengajar di sana jika letaknya berjauhan? Sebenarnya, Fahad sendiri sudah memiliki rumah di sana bahkan sudah dijadikan hadiah untuk Kinan istrinya. Setelah dua jam menghabiskan waktu sorenya, kini kediaman Prambudi sampai di mata juga. Rumah dengan serba mewah dan bagasi yang cukup luas menghipnotis penglihatan Kinan, padahal rumah Kinan juga sama-sama mewahnya.

Pintu gerbang kediaman Prambudi dijaga oleh beberapa satpam, hingga taman depan rumah yang begitu rapih dan menawan. Fahad memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu, dua insan segera keluar dari mobil yang ia tumpangi.

Tak lupa juga, Fahad mengambil koper berisi pakaian Kinan yang diletakan di bagasi mobil. Fahad memegang tangan Kinan yang terasa dingin dan berair. "Tanganmu dingin, ayo masuk!" ajaknya.

Kinan menunduk, entah setan apa yang merasukinya sehingga Kinan merasakan betapa berdegupnya jantung tak karuan. Ditambah lagi dengan wajah yang kini berubah menjadi kepiting rebus.

"Kinan, Sayang. Silahkan istirahat dulu, nanti Ummah manggil lagi buat makan malam," papar Maryam dan tersenyum.

"Baik, Tante," ucap Kinan.

Mendengar Kinan memanggil dirinya bukan dengan panggilan Fahad, ia tersenyum. "Panggil tantte, ummah saja. Toh, kamu sudah jadi menantu ummah."

"Maaf, Tan, eh Ummah." Kinan senyum malu sembari menampilkan senyum dengan tampilan gigi bersihnya.

"Iya," kekeh Maryam.

Fahad segera mengajak Kinan untuk pergi kelantai atas, di mana kamar pribadi Fahad berada. Pintu berwarna putih polos pun ia buka, menampilkan kamar dengan nuasa damai bercatkan kuning dengan paduan abu muda menambahkan kesan tenang dan damai. Tapi, ada satu kekurangan tidak ada kolam renang, dan itu membuat Kinan sedikit cemberut tapi harus disembunyikan.

"Pak, apa tidak mau melepaskan tangan saya?" tanya Kinan berani.

Fahad seketika sadar dengan wajah santainya tidak berdosa. "Tidak, toh apa salahnya,'kan kita sudah halal!" Ia menatap Kinan yang masih berpoleskan make up dengan beraninya ia men*ci*um pipi Kinan. "Aku keluar dulu, kamu boleh bereskan pakaianmu dan masukkan kedalam lemari itu," sambungnya dan segera keluar.

Kinan mematung saat menyadari bahwa Fahad men*ci*um pipinya, sontak wajah tadinya kesemula kini kembali lagi seperti beberapa menit saat Fahad memegang tangannya. 'Jangan mikir aneh-aneh, Kinan.' Batinnya dan segera mengambil koper mulai memasukkan pakaiannya kedalam lemari milik Fahad.

Setiap detik adalah masa lalu, karenanya masa lalu tidak pernah memandang waktu. Maka dari itu, setiap jam melewati detik pun sudah masuk kedalam masa lalu. Waktu di dunia terbagi menjadi tiga, hari ini, hari esok, dan kemarin semua tiga waktu itu memiliki makna yang berbeda untuk dijadikan pelajaran.

Dua jam Kinan menghabiskan waktunya untuk membereskan pakaian, ia segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lupa dirinya membawa baju salin. Guyuran air segar membasahi tubuh polos Kinan, setelah semuanya bersih Kinan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap menutupi seluruh tubuhnya.

Ia terkejut saat menyadari bahwa Fahad sedang merehatkan badan di sofa, mendengar suara pintu Fahad membuka mata dan membenarkan posisinya menjadj duduk. "Sudah selesai?"

Kinan mengangguk dan pergi dengan tangan kanannya memegang handuk basah dan berniat akan menhemurnya di balkon kamar. Akan tetapi, Fahad dengan sigapnya mencekal dan Kinan menoleh. "Kenapa?"

"Tunggu," tutur Fahad dan mengambil jilbab langsung dan memakaikannya kepada Kinan. "Kamu sudah menjadi milikku, maka aku yang harus melihatnya bukan orang lain."

"Apaan sih Pak, tapi makasih ah," sahut Kinan dan segera keluar untuk menjemur handuk sesuai niatnya.

"Kinan, bolehkan aku melihat catatan matematikamu?" tanya Fahad memecahkan hening.

Kinan menoleh dengan tatapan sedikit aneh. "Buat apa, Pak? Lagian buku matematika saya kosong!"

"Aku hanya ingin tahu saja, jadi bolehkan?"

"Silahkan saja ambil, tuh di lemari sudah aku simoan dengan rapih habis itu balikin jangan sampai merusak kerapihan saya," jawab Kinan dan segera masuk tak lupa juga menutup pintu balkon.

Fahad tersenyum, ia membuka lemari alangkah terkejutnya dia saat melihat isi lemari. Pakaian dirinya juga dirapihkan, begitupun dengan Kinan. "Apa kamu membereskan pakaian aku?"

"Iya! Lagian kerapihannya kayak kapal pecah, jadi sekalian Kinan bereskan! Apa ada sesuatu?" jelas Kinan tanpa menoleh, tatapannya fokus bermain gawai.

"Tidak!" singkatnya ia segera mengambil buku matematika Kinan dan membukanya, halaman demi halaman begitu bersih tidak ada satu tulisan pun Kinan coretkan. Sampul yang menutupi buku catatan itu masih seperti yang baru, tidak ada kelas hanya mata pelajaran yang tertera.

Fahad mengambil nafas dalam dan menghampiri Kinan yang tengan bermain gawai dengan asyiknya, mendudukkan pantat dengan tubuh saling berhadapan. Tangan kanan Fahad memegang buku matematika Kinan, tatapannya fokus sesekali ia memejamkan mata. "Kenapa kamu tidak menulis?"

"Sudah aku bilang, aku tidak suka matematika!" tegas Kinan.

Fahad menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan gusar. "Aku dengar ceritamu dari kakakmu, Alsaki. Bahwa kamu membenci matematika karena tidak dihargai, apa itu benar?"

Mendengar itu, Kinan memberhentikan tangan yang sibuk dengan gawainya. Ia menatap Fahad dengan tatapan sulit diartikan. "Kalau iya kenapa?"

"Aku mengerti perasaanmu, orang cerdas juga tau bagaimana caranya menjadi bijak. Kalau kamu tidak dihargai maka kamu harus membalas perbuatan nereka dengan kecerdasan kamu bukan malas seperti ini. Memang benar, semua manusia juga benci belajar apalagi tentang matematika dan rumus. Tapi, andai saja matematika dan rumus itu tidak ada maka seorang ilmuwan tidak akan menemukan dan menciptakan gawai, dan sebagainya." Fahad mengomel panjang lebar, sangat heran dengan anak zaman sekarang bahkan ketika ada status lewat tentang matematika dan ilmu kerumusan mereka akan mengatakan kebenciannya.

Kinan memutar bola matanya malas dan sedikit memanyunkan bibirnya karena cemberut. "Saya melakukan itu demi kebaikan teman saya, lagian teman saya engga mau mempermalukan keluarganya. Makanya, saya sering bolos! Toh, kalau diingat-ingat waktu menegah pertama saja dia jadi juara umum di sekolahnya, padahal ujiannya banyak yang salah."

"Oh, jadi kamu tidak terima gitu? Kinan, oh Kinan kamu baru saja menjadi istri aku. Aku mengerti perasaanmu, tapi bisakah kamu mengubur orang itu dengan kehebatanmu?"

"Gimana mau ngebunuhnya, toh keluarganya paling berkuasa, Pak! Emang Bapak tidak tahu kepala sekolah yayasan? Kalau tau dia bapaknya!"

"Dia hanya kepala sedangna paman saya pemilik sekolah bahkan ketua yayasan," jelas Fahad.

"Sudah, sudah ah Pak jangan ngebahas dia. Pokonya, Bapak sabar dulu aja," tegas Kinan dan tersenyum. "Walaupun seperti itu, jangan khawatir! Intinya, saya akan mencoba lagi. Itu aja."

Fahad mengenggam tangan Kinan, dan mencium punggung tangan Kinan. "Kalau begitu, yah sudahlah!"

Tingkah Fahad yang diberikan kepada dirinya, entah kenapa jantung rasanya ingin meloncat keluar. Tingkah itu membuat Kinan merasakan degup jantung kencang hingga tiga kali lipat, mencoba menyembunyikan itu Kinan tersenyum. 'Sebenarnya, aku sudah lelah dengan semua itu. Bahkan, aku tidak sanggup menjalaninya. Aku mati-matian berjuang demi mendapatkan yang terbaik, tapi entah kenapa setiap kali aku akan sukses mereka mendorongku kedalam jurang, aku sudah lelah. Maka dari itu, ada alasan lain dibalik bencinya aku dalam pelajaran itu.' Batin Kinan.

*******************************

Waktu malam pun tiba, dua insan yang sudah selesai mengisi perut kosongnya. Kini, Kinan menghabiskan waktu malamnya dengan menyelesaikan tugas yang tertunda akibat izin selama tiga hari dan kerjaan itu menumpuk setelah mengetahui tugas dari salah satu temannya.

Fahad memperhatikan Kinan yang sedang mengerjakan tugas, ia mengalihkan gawai yang ia pegang dan melihat Kinan begitu telaten dalam mengerjakan tugas. Tulisan mungil indah menghipnotis pandangan Fahad, selain memiliki wajah cantik tulisan Kinan juga begitu cantik.

Kinan menyadari keberadaan Fahad, ia segera mengalihkan badannya yang tadi menghadap bangku kini dua insan saling berhadapan. Tatapan keduanya ia dapatkan dengan tulus, Kina tersenyum. "Kenapa, Pak?"

"Rajin banget kamu kerjain tugasmu," jawab Fahad dengan tatapannya fokus menatap wajah cantik Kinan. Ia mengelus rambut hitam Kinan dengan kasih sayang, tak lupa juga Fahad memberikan senyum semangag untuknya.

"Terima kasih, kalau begitu, saya lanjut kerja yah!" Kinan buru-buru membalikan badan, bohong kalau tidak deg-degan. Sebenarnya Kinan membalikkan badan untuk menyembunyikan wajah merahnya.

Satu jam Kinan menghabiskan waktu malamnya untuk mengerjakan tugas, melirik jam dinding dan menunjukan pukul 22.02 malam. Merengangkan badan sampai berbunyi kretek dari jari jemarinya. Melirik Fahad yang masih betah dengan layar laptopnya, wajah tampan berblasteran itu menghipnotis penglihatan Kinan, semenjak menikah Kinan merasakan sesuatu yang tumbuh entah apa itu.

Memandangi wajah itu sampai puas, dan disadari oleh uapan mengantuk. Akhirnya, Kinan lebih menyerah dan berdiri. Berjalan menuju lemari dan membuka mengambil selimut dan juga bantal, ia mulai merebahkan badan di sofa, Fahad tentu saja melihat demikian ia melirik Kinan yang hendak memejamkan mata.

"Kamu mau tidur di sana?" Lontarnya sembari menutup laptop.

Kinan seketika membuka kembali mata, dan menoleh. "Iya."

"Tidak, tidak kamu harus tidur di sini!"

"Enggak, takut Bapak macam-macam kayak kemarin! Jadi, mending tidur pisah saja!" tolak Kinan dengan pikirannya teringat akan kelakuan Fahad yabg membuat jantungnya terus berdetok.

Mendengar itu Fahad mengambil nafas panjang, ia segera menghampiri Kinan. "Engga boleh nolak, kalau kata suami diajak yah ikuti dong selama engga melanggar syar'i."

"Bapak mau ngapain!" Protes Kinan membenarkan posisinya menjadi duduk, sampai akhirnya tatapan keduanya saling bertemu.

Fahad tidak menjawab bahkan mengabaikan keprotesan Kinan, ia mendudukan oantatnya di samping Kinan dan menoleh dengan tatapan tajam dan mengeluarkan nafas gusar dan sebalnya. "Aku engga bakalan ngelakuin apapun, aku serius!"

Kinan menarik satu halisnya. "Benarkah? Kalau begitu saya akan tidur sama Bapak asal dengan syarat!"

"Apa?"

Kinan kemudian berdiri, pergi ke kasur membuat garis dengan menggunakan bantal dan guling sebagai penghalang. "Nah, Bapak tidur di situ saya di sini. Kalau Bapak melewati garis ini berarti Bapak harus menuruti semua keinginan saya!"

Mendengar syarat itu, bagi Fahad itu terlalu mudah. "Halah gampang, saya terima itu. Tapi, apa dulu keinginanmu?"

"Bolos pelajaran Bapak," jawabnya santai.

"Baiklah, tapi bagaimana denganmu? Jika kamu menghalangi, apa hukumannya?" tanya Fahad kedua halisnya.

"Kalau saya melewati garis ini, tentu saja saya akan menuruti keinginan Bapak dong!" jawab Kinan tanpa mempertimbangkan ucapannya.

Fahad tersenyum sumringah mendengar itu. "Benarkah?"

"Benar, Pak. Saya akan menuruti semua keingina Bapak." Kinan menerima itu dengan pikiran yang semestinya tanpa mempertanggungkan resiko yang akan terjadi.

"Baiklah, aku deal!" terima Fahad.

Kinan tersenyum. "Baik! Ayo, kita tidur!"

Akhirnya setelah permainan persyaratan, dua insan merebahkan badan lelahnya dan mulai memejamkan mata. Kinan lebih dulu pergi ke alam mimpi, Fahad menoleh dan memperhatikan wajah bersih Kinan saat tidur dan tersenyum.

"Selamat malam, Kinan," ucapnya dan segera menyusul Kinan ke alam mimpi.

1
Zhfd
Cerita sekeren ini masih sepi pembaca...

Semangatt thor
Zhfd
Cerita seseru ini masih sepi, semangat yah Thor🥰🥰
alwaysuga
Ceritanya keren gaess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!