Hidup memang tidaklah mudah, tapi bukan berarti mudah untuk menyerah juga bukan.
Karena ada beragam kisah.
Cinta itu ada di mana saja. by. Gracia.
———————————————
Gracia merupakan putri sulung dari klan Kelinci. Saat pertama kali terbebas dari istana yang menjadi sangkarnya, anak kecil itu hilang karena tersesat di taman.
Dirinya tidak sengaja bertemu dengan Lin dan An yang tinggal di hutan Aster. Bersama mereka, Gracia hidup dengan bebas.
Namun ada beberapa masalah yang membuatnya ragu untuk tetap tinggal. Pertemuannya dengan Raja Naga membawanya kepada tujuan hidupnya.
Gracia memilih pergi, berpetualang dari satu wilayah ke wilayah lain. Hanya untuk mencari ....
Kebenaran dari sebuah ‘Cinta’.
Bersama Gracia kita akan menemukan hal-hal sederhana dibalik keindahan jendela rumah. Kehidupan di luar sana keras, tetapi diselimuti kisah yang mendebarkan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VII. Tumpukan Salju
Apa itu harga diri?
Sampai cinta sejati begitu rendah di matanya.
~
Sudah tiga hari terhitung Gracia tinggal di rumah keluarga Veer. Bisa dibilang pemimpin klan Beruang Kutub sangat sederhana dibandingkan para pemimpin klan lainnya,
Biasanya pemimpin akan memiliki istana atau sebuah mansion megah, sedangkan Veer hanya memiliki rumah tiga tingkat dan halaman kecil.
Meskipun begitu, Gracia malah merasa rumah ini jauh lebih nyaman daripada istana besar. Mungkin akan lebih bagus lagi jika dalamnya juga harmonis.
Kali ini Gracia memikirkan rencana matang untuk mencari bukti kematian Snow White. Dia akan menamainya dengan ....
Pendekatan Hati!
🐇
Memikirkannya memang mudah, tapi apa bisa terlaksana mudah juga?
Keluarga ini lebih dingin daripada es, lebih kelam daripada gelapnya hutan, dan lebih ganas dibanding klan Singa.
Alasanku memilih rencana ini juga karena itu.
Aku ingin mengubahnya.
Sifat salju yang dingin bahkan mampu membawa kehangatan ketika anak-anak bermain bersamanya.
Harapanku adalah mereka juga bisa mengerti perasaan satu sama lain. Supaya penyesalan yang datang nantinya tidak terlalu membawa yang terburuk.
🐇
“Pagi, Bibi Alexa! Kau sedang membuat apa?"
Pekerjaan Alexa terhenti kala menemukan wajah Gracia yang tengah mengintip di balik pintu, bibirnya mengulas senyum dan menjawabnya hangat.
“Pagi, Gracia sayang. Bibi sedang merajut syal, topi dan kaus kaki. Ini baru saja mau mulai. Gracia mau membantu?”
“Ya!"
Kakinya berlari kecil dan melompat ke sofa lebar. Di sampingnya Alexandra memberikan hakpen kayu berwarna putih gading dan juga segulung benang wol berwarna merah tua.
Gracia mulai merajut sesuai arahannya, hati Gracia bersemangat karena ini adalah pertama kalinya untuknya. Dia sangat ingin membuat syal yang indah.
“Bibi, nanti ini akan diberikan kepada siapa saja?"
“Kepada semuanya,"
“Semua? Tapi Bibi kan sudah susah payah membuatnya .... Harusnya mereka juga ikut membantu,”
“Mereka tidak bisa, Sayang. Merajut itu membosankan,"
Gracia memanyunkan bibirnya dan membenarkan ucapan Alexa, memang terasa membosankan, tapi apa mereka benar-benar tidak bisa?
“Apa Tuan Veer juga termasuk?"
“Eh?”
Alexandra bingung harus menjawab apa, pria itu selalu bisa dalam segala bidang. Bahkan jika Alexa tidak ada, dia tetap mampu memasak dan merapikan rumah seorang diri. Namun wanita itu tidak pernah melihatnya merajut. Lagipula barang seperti ini banyak dijual.
“Siapa yang menyebut namaku?"
Suara berat itu membuat dua perempuan yang duduk berdampingan itu menoleh. Raut wajah Tuan Veer datar tanpa bisa ditebak.
Tubuh Gracia membeku, dia tidak pernah berpikir bahwa dengan menyebut namanya saja pria itu akan datang ke arahnya.
Alexa yang melihat Gracia seperti itu dengan cepat menjawab, “Ah, aku lupa memberitahu Gracia untuk tidak menyebut namamu,”
“Begitu saja lupa. Dasar tidak berguna!"
Gracia mengepalkan tangannya mendengar penghinaan itu, mata merah mudanya menangkap raut Alexa yang nampak murung. Dengan itu Gracia mendengkus kasar dan berteriak tepat di depan Veer.
“TUAN VEER, PERKATAANMU ITU KETERLALUAN!"
Alexa dan Veer tercengang bersamaan. Gracia sendiri hanya bisa menggembungkan pipinya lantaran malu. Cairan bening turun setetes demi setetes.
“Padahal Bibi Alexa bisa mengurus rumah ini dengan sangat baik. Kalau Bibi Alexa dikatakan tidak berguna lalu Tuan Veer itu apa? Sampah?"
Alexa terkejut melihat Gracia menangis tiba-tiba. Dia dengan cepat menghampiri dan memeluknya erat.
“Gracia tidak perlu menangis, aku tidak apa-apa,"
Meskipun begitu Gracia tetap menangis dalam dekapan wanita itu.
Veer menatap mereka bingung, dia tidak tahu harus marah atau pergi. Kata-kata Gracia barusan itu sangat menyakiti harga dirinya.
“Kenapa kau menangis setelah membentakku seperti itu? Sampah apa maksudnya? Aku ini bisa melakukan apa saja!"
“Apa saja?" tanya Gracia yang masih berada dalam pelukan.
“Apa saja," jawabnya tegas.
“Termasuk merajut?”
“Ya, termasuk mera–”
“Kalau begitu cobalah.”
Gracia dengan cepat menyerahkan rajutan yang belum kelar kepada Veer. Pria itu menatapnya kosong, lalu setelah sadar dengan perkataannya, dia mengelak dengan cepat.
“Buat apa aku merajut?”
“Untuk keluargamu,”
“Aku bisa saja membelinya,"
“Memangnya cinta itu bisa dibeli?”
Kini Gracia sudah berhenti menangis dan melirik Veer. Mata pink-nya bersinar bagai permata. Bibir merah tipis itu tersenyum karena sudah memenangkan pertandingan.
“Merajut itu memiliki arti merangkai kehidupan secara satu per satu dengan sabar. Memang membosankan, tetapi bukankah setelah selesai akan ada perasaan bahagia? Dari yang awalnya benang kusut berubah menjadi syal yang dapat menghalau dinginnya udara. Itu adalah tanda kasih sayang, Tuan Veer."
Veer termenung mendengarnya, Alexa sendiri mengelus rambut putih Gracia lembut. Kemudian Veer duduk di sofa yang sebelumnya diduduki Gracia, lalu tangannya memulai merajut dengan perlahan.
“Aku hanya tahu sedikit, kalau kau memang berguna ajarkan aku caranya."
Alexandra berbinar senang dia melupakan Gracia dan memilih duduk di samping Veer.
Gracia pergi saat melihat mereka sama-sama merajut wol untuk anak-anaknya. Dia kembali ke kamar dan melompat ke ranjang, Gracia meminta bukunya dan itu muncul. Tangan mungilnya mencentang nomor pertama.
Mendekatkan Bibi Alexa dengan Tuan Veer ✔️
Mendekatkan Naomi, Alex dan Andro.
🐇
Terkadang untuk mengalahkan sesuatu yang mengerikan, kita harus menjadikan diri kita lebih mengerikan daripada hal itu.
Aku bisa melihat alasan Tuan Veer tetap bertahan melawanku meskipun aku menangis.
Dia takut kehilangan harga diri.
Dia tidak suka ada yang merendahkannya.
Karena itu aku memaksanya melakukan hal itu.
Aku heran padanya yang menyerah setelah dipaksa begitu keras.
Apa itu harga diri?
Sampai cinta sejati begitu rendah di matanya.
🐇
Gracia menepuk-nepuk rok tebalnya dari salju. Di depannya terbentang istana salju yang amat besar. Dia akan memakainya untuk rencana kedua.
Sebenarnya Gracia masih ingin melanjutkan permainan yang kemarin terhenti.
Niatnya Gracia ingin pergi memanggil Naomi terlebih dahulu, tetapi mengingat kemarin kamarnya berantakan dan tangisan itu, sangat tidak mungkin bagi Gracia menemuinya.
Lagian dari mana dirinya tahu letak kamar Naomi tiba-tiba?
Satu-satunya kamar yang diketahui Gracia hanyalah Andro.
Dengan tidak yakin dia melaju ke sana. Tangan kecilnya mengetuk pintu kayu tiga kali sampai pemilik kamar menampakkan diri.
“Kakak, ayo main di luar. Aku sudah membuat istana salju,"
“Tidak, terimakasih.”
Tanpa pikir panjang Andro menutup pintu, tetapi dengan cepat Gracia menahannya.
“Hei, bagaimana jika tanganmu terjepit!?” bentaknya kesal.
“Kakak tidak mau menemaniku?" tanya Gracia dengan mata berbinar.
“Aku bukan kakakmu," jawabnya datar.
“Kalau begitu main bersamaku sebagai teman, ya .... Andro”
“Aku tidak mau bermain dengan anak-anak,"
“Tidak! Aku ini remaja, umurku sudah 14 tahun!”
“Dan umurku 19 tahun!”
Gracia merasa bersalah melihat wajah murka Andro, manik ungunya seperti petir yang menakutkan. Gracia tidak berkata-kata lagi dan berbalik pergi, saat mencapai tangga kepalanya menoleh ke belakang untuk yang terakhir kali.
Andro mengacak-acak rambut peraknya kesal. Gigi tajamnya saling bertabrakan kasar.
“Baik-baik. Aku ikut!”
Gracia sumringah bukan main dia melompat kegirangan dibuatnya. Spontan kakinya terpeleset, tubuhnya akan jatuh ke tangga jika saja Andro tidak menahan tubuh Gracia.
“Sepertinya kau sangat ingin mati, ya!"
Gracia tidak bisa membalas kata-kata itu karena ini memang kesalahannya dan lagi .... Andro sudah menyelamatkannya dua kali.
“Maaf,” gumamnya kecil. “Tolong panggilkan Alex dan Naomi, ya.”
Pemuda itu tidak menjawab dan memilih pergi menuruti permintaan itu sedangkan Gracia sendiri pergi lebih dahulu ke halaman.
“Wah, ini besar sekali! Kau membuatnya sendirian?"
“I-iya .... Hahaha!”
Informasi yang sebenarnya, Gracia menggunakan tas ajaib untuk membuat istana salju.
“Pasti sulit, apa tanganmu baik-baik saja?” tanya Alex melirik tangan Gracia.
“Baik, aku kan menggunakan sarung tangan!"
“Sudah selesai basa-basinya?” tanya Andro kesal. “Kalau sudah kita mulai permainannya.” lanjutnya seraya memasuki pintu salju.
Semuanya serempak memainkan bola salju dalam istana. Di sana masa kanak-kanak serasa kembali, tak ada yang memandang umur ketika bermain saat itu. Senyum cerah terbentuk di masing-masing wajah. Mata yang hangat seolah membawa kembali musim semi di kehidupan Gracia.
Dia yang selalu pergi menjelajah kini tak lagi merasakan kesendirian. Ada mereka yang bersamanya untuk saat ini.
“Andro, Alex, Naomi, Gracia. Ayo masuk ke dalam!"
Panggilan Alexandra menghentikan permainan, ada sedikit perasaan yang terbentuk dari waktu itu, mereka masuk secara bersamaan dengan berpegangan tangan satu sama lain.
Kini semuanya berkumpul di ruang keluarga. Alexa memberikan rajutan-rajutan yang sudah dibuat.
“Wah, syal baru. Terima kasih.” ujar mereka serempak saat menerimanya.
Kebahagiaan yang ada hilang ketika ucapan Alexa datang selanjutnya.
“Berterima kasih jugalah pada Ayah. Dia membantu Ibu membuat ini,”
Gracia menoleh perlahan untuk menangkap ekspresi mereka. Alexandra tersenyum, tetapi berbeda dengan wajah anak-anaknya.
Andro berwajah datar sekaligus dingin.
Alex terkejut.
Sedangkan Naomi ....
Dia lebih ke arah takut, sampai-sampai kuku tajamnya menacap syal baru dan merusaknya.
🐇
Kekhawatiranku berubah menjadi ketakutan ketika melihat wajah itu.
Cinta yang aneh.
Aku pikir Naomi akan menangis mendapatkannya.
Tapi dugaanku keliru.
Tangisan kemarin adalah yang terakhir untuknya.