Kang Hana selalu dihantui rasa bersalah akan kematian nenek tercintanya, ia menganggap dirinya lah penyebab kematian sang nenek. Percobaan pelecehan membuat Hana trauma berat dan tidak percaya cinta. Ia kemudian tumbuh menjadi sosok pekerja keras yang sukses di usia muda. 24 jam per harinya hampir ia dedikasikan untuk bekerja. Hana yang tidak percaya cinta dan gila kerja malah terikat cinta satu malam dengan Dylan Wang—pengusaha muda berdarah Korea-Amerika. Bagaimana Hana menyikapi malam panas itu?
Simak kisah Nona Hana dan Tuan Dylan. Hanya di Noveltoon :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Lita S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Perjanjian tinggal bersama
Setelah pertemuan S&Co yang dipimpin oleh Hana dengan pihak Big Sky yang dihadiri langsung oleh CEO mereka Dylan. Kedua belah pihak makan malam bersama untuk merayakan awal mula kerjasama mereka. Hana memanfaatkan hari itu untuk bernegosiasi dengan Dylan. Ia mengajak Dylan bertemu secara pribadi usai acara makan malam berakhir.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Nona? Waktuku tidak banyak, apa kau sudah menentukan jawabanmu?” Dylan menuntut jawaban Hana akan ajakan Dylan terakhir kali mereka bertemu yaitu menikah dengan pria itu.
“Itu, aku tidak bisa menikah denganmu, Tuan. Tapi, aku memiliki cara lain bertanggung jawab padamu.” Ucap Hana serius.
“Bagaimana caramu akan bertanggung jawab?” Dylan tidak bertanya alasan Hana tidak mau menjadi istrinya tapi bagaimana Hana akan bertanggung jawab padanya.
“Aku akan bekerja padamu selama satu tahun penuh tanpa digaji, bagaimana?” Tanya Hana menawarkan diri, “Aku bisa menjadi pembantu gratis di tempatmu.”
Entah dari mana Hana mendapatkan ide tersebut namun ia sangat percaya diri saat mengatakan penawarannya.
Dylan justru terkekeh mendengar apa yang Hana tawarkan padanya. “Apa kau pikir aku begitu miskin sampai tidak bisa menggaji seorang asisten rumahan?” tanya Dylan.
Buru-buru Hana menyangkal pertanyaan Dylan, “Tidak-tidak. Bukan itu maksudku, Tuan. Aku yakin Tuan memiliki banyak uang, tapi aku sungguh serius menawarkan diri secara gratis sebagai pembantumu.”
“Lupakan ide konyol mu. Aku sama sekali tidak membutuhkan pembantu.” Lalu tangan Dylan menengadah ke samping yang langsung mendapatkan map tebal di atasnya. Black memberikan map hitam yang sedari tadi dibawanya.
“Baca itu!” Kata Dylan melemparkan map tersebut ke atas meja.
“Apa ini?” Hana menjulurkan tangan mengambilnya dan memeriksanya, “Surat perjanjian?” Lalu mengerutkan dahi usai membaca satu persatu poin yang tertulis dalam lembaran kertas tersebut.
“Aku mau kau menjadi tunanganku selama satu tahun. Setelah satu tahun kau bisa bebas.” Ucap Dylan.
Hana selesai membaca surat perjanjian tersebut dan mendongak, “Kau mau aku menjadi tunanganmu, Tuan?”
“Hem. Anggap saja itu caramu bertanggung jawab karena sudah berani menggodaku malam itu.”
Tapi, bukan itu rencana Hana. Ini tidak sesuai dalam rencana Hana. Bertunangan dengan menikah apa bedanya? Hana tidak bisa menyetujuinya.
‘Tidak bisa. Aku tidak mau terlibat dengannya dalam hubungan yang seperti itu.’ Batin Hana menolak.
Namun, mulutnya berkata lain. “Jika aku menjadi tunanganmu, apa kau tidak akan menyebarkan foto-foto kebersamaan kita malam itu?”
Dylan mengangguk kecil, “Aku bisa menghapusnya di depanmu.” Ucap Dylan.
“Bagaimana aku bisa tahu kau tidak menyimpan salinan di tempat lain?” Selidik Hana.
“Aku selalu menepati janjiku. Pantang bagiku untuk mengikari janji.”
Hanya dengan kalimat singkat itu saja, Hana langsung mempercayai ucapan Dylan. Mungkin juga langsung mempertimbangkan setuju untuk menjadi tunangan Dylan.
“Mengapa kau mau aku menjadi tunanganmu?” Sebelum menyetujuinya, Hana setidaknya harus tahu apa alasan Dylan menginginkan dirinya menjadi tunangan pria itu.
“Karena aku membutuhkan tunangan, yah lebih baik jika kau mau jadi istriku. Tepatnya aku membutuhkan seorang pendamping di depan keluargaku.” Jawab Dylan jujur.
“Kenapa aku? Kau bisa memilih wanita lain, aku pikir dengan reputasimu tidak sulit mendapatkan gadis yang kau inginkan, Tuan Dylan.”
Ya, semua orang tahu jika mau Dylan bisa mendapatkan wanita manapun yang ia inginkan. Mengingat reputasi Dylan yang berasal dari keluarga konglomerat dan parasnya yang tampan.
“Karena tubuhmu cukup lumayan.” Dylan melirik bagian dada Hana dan menyeringai tipis.
“Apa?” Hana reflek menutup bagian dadanya dengan dua tangan menyilang, “Kau sungguh m*sum.” Pekik Hana was-was.
“Hahaha, untuk apa menutupinya? Aku bahkan sudah melihat semuanya dengan jelas.” pria itu sungguh tidak memiliki tutur kata sopan lebih tercermin jiwa m*sumnya saat ini daripada sikap elegannya.
“Kau..” Merah merona pipi Hana merasa malu. Harusnya sikap Dylan bisa dikategorikan pelecehan verbal bukan?
“Tanda tangani saja, dan kau resmi menjadi tunanganku untuk satu tahun kedepan. Aku tidak akan ikut campur dalam kehidupan pribadimu selama kita terikat perjanjian, kau hanya perlu menjadi tunangan yang menurut saja. Dan, bersikap manis di depan keluargaku.”
‘Karena aku memang hanya membutuhkanmu sebagai boneka cantik di depan keluargaku.’ Batin hati Dylan menyeringai licik.
“Bagaimana dengan sentuhan?” Hana sempat membaca bebas melakukan sentuhan fisik selama perjanjian berlangsung, tentu itu merugikan Hana.
“Hanya jika kedua belah pihak setuju, untuk sentuhan intim. Untuk sentuhan biasa seperti pegangan tangan, ciuman, aku bebas melakukannya.” Ucap Dylan santai.
“Ciuman pipi.” Ralat Hana, “Kau tidak bisa mencium bibirku tanpa seizinku.”
“Baiklah.” Dylan setuju. Ia sama sekali tidak keberatan akan syarat Hana karena jika Dylan menginginkan ciuman bibir, ia punya seribu cara agar Hana menyetujuinya tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Lagipula siapa yang bisa tahan godaan Dylan ?
“Satu lagi, kau harus merahasiakan hubungan kita di tempat kerjaku dan di publik. Kita hanya akan menjadi pasangan di depan keluargamu saja.”
Syarat itu juga Dylan setujui. “Tidak masalah, asal kau tidak cemburu jika aku terlibat skandal dengan perempuan lain. Karena mereka tidak tahu hubungan kita.”
“Cemburu dalam mimpimu,” gumam Hana, “Aku bahkan tidak peduli jika kau tidur dengan wanita lain.” Hana menandatangani surat perjanjian itu usai menambahkan syarat yang ia ajukan. Lalu memberikannya pada Dylan.
Dylan menerimanya dan memberikan surat perjanjian itu pada Black untuk disimpan. “Pulang dan kemasi barangmu lalu pindah ke apartemenku!” Seru Dylan memerintah.
“Apa?” Hana melotot, “Untuk apa aku pindah ke apartemenmu?”
“Kau tidak membaca poin 6? Sebagai tunanganku selama satu tahun ke depan kita akan tinggal bersama!”
tbc..