Indonesia
NovelToon NovelToon
This Is My History

This Is My History

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blue Berry

Rayana putri cakradarma seorang wanita yang menjalani hari-hari kelam dan indah dalam hidupnya. Cinta yang meninggalkannya terus menerus membuatnya mati rasa secara berulang.

Raya banyak mengalami perombakan emosi yang drastis. Waktu berlalu satu persatu dengan cepat. Semua orang yang ia cintai menghilang dan meninggalkannya didunia yang penuh kesunyian dan derita. Dunia penuh lika-liku yang ia jalani menemukan sebuah hal baru tak terduga.

Akankah Raya menemukan cintanya kembali? Dan bisakah Raya keluar dari kesendirian yang selama ini telah menemani hari-harinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue Berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemaksaan

Devan yang ngotot untuk mengantar Raya pulang karena waktu sudah mau malam membuatnya dengan terpaksa mengangkat Raya dan memasukannya kedalam mobil dengan cara paksa.

“Kalau kamu punya masalah sama aku. Kita selesaiin sekarang” teriak Raya yang sudah tidak tahan dengan sikap Devan. 

Sikap Devan terhadap Raya membuat Raya semakin tidak meyukai Devan, sikap Devan membuktikan bahwa dia tidak pantas disebut sebagi Laki-laki baik, dia hanya beberapa dari banyaknya laki-laki brengsek didunia ini. 

“Masalahnya itu ada sama kamu” balas Devan. Devan menjalankan mobilnya dengan begitu cepat. 

Saat tiba didepan rumah Raya, Raya secepatnya turun dari mobil, menutup pintu mobil dengan emosi. Raya masuk dengan tampak emosi, bahkan dia tidak menyapa Devan saat masuk walau hanya dengan satu kata terimakasih. 

“Makasih udah anterin, Bye” ucap Jia sambil melambaikan tangannya kepada Raka yang segera pergi. 

Jia datang ke rumah Raya berniat untuk mengobrol masalah di Bioskop. Memang Raya bukan tipe yang pencemburu. Dia selalu bisa menerima keadaan apapun yang terjadi. Menghadapi Raya sama saja dengan berhadapan dengan beruang kutub. Tidak semua orang mengerti apa yang dia maksud, kata-katanya terlalu rumit untuk dipahami. 

Saat masuk Jia bertemu dengan Pak Asep di pintu depan. Dia dipersilahkan masuk oleh Pak Asep. 

“Eh, ada non Jia” sapa Bi Ita yang sedang masak didapur. 

“Iya Bi, Raya ada dikamarnya?” tanya Jia. 

“Ada, masuk aja non Jia” jawab Bi Ita. 

Jia kemudian pergi berlari-lari kecil menaiki tangga untuk pergi kekamar Raya yang berada di lantai dua. 

Jia berjalan melewati ruang baca, rumah bioskop, dan ruang belajar pribadi milik Raya. Di lantai dua hanya ada beberapa ruangan pribadi Raya, dan ruangan kerja serta kamar ayah Raya. 

“Tantekan tau dua hari lagi ulang tahun Papah. Pokoknya besok tante Tannia harus datang, kita siapin pestanya sama-sama” terdengar suara Raya dari dalam ruang belajar Raya. 

Karena menyadari itu suara Raya, Jia mengetuk pintu sambil memanggil nama Raya. 

“Tante Tannia, kita lanjut ngobrolnya nanti aja yah. Raya ada tamu” ucap Raya dari dalam Ruang belajar miliknya. 

Raya menyadari kedatangan Jia dan membukakan pintu untuk Jia. Raya mempersilahkan Jia untuk masuk. Dengan tatapan mata Raya yang mengherankan membuat Jia merasa bingung. Jia merasa bahwa ada hal yang tidak ia ketahui. 

“Kenapa ekspresi Raya biasa aja” ucap Jia didalam hatinya.

Sudah beberapa menit berlalu, tidak seorangpun dari mereka berdua memulai pembicaraan. Jia hanya duduk manis dan beberapa kali melirik ke arah Raya. Sedangkan Raya yang duduk diam sambil memainkan komputernya. 

“Raya” panggil Jia. 

“Iya” jawab Raya. 

Awalnya Jia sangat ingin menjelaskan tentang kejadian di bioskop tadi, tetapi melihat Raya yang berekspresi dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa membuat Jia kebingungan, apakah dia tetap menjelaskan hal itu atau tidak kepada Raya.  Karena begitu penasaran Jia langsung menanyakannya kepada Raya 

“Pertama, aku mau tanya. Kenapa ekspresi kamu seolah nggak pernah terjadi apa-apa”. 

“Hahahaha, oke. Maaf deh” Raya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jia yang kebingungan. 

“Jia, kayaknya semenjak kamu dekat sama Raka kadar kepintaran kamu menurun” lanjut Raya. 

“Intinya, Raya udah ganggu kencan Jia sama Raka” ucap Jia. 

“Manggil pakai nama, kayaknya marah banget nih” balas Raya. 

Karena melihat Jia yang begitu kesal kepadanya, Raya menjelaskan alasannya kepada Jia. Seharusnya Jia peka terhadap tindakan Raya. Tetapi mungkin karena terlalu fokus dengan Raka membuat Jia tidak mengerti maksud dari tindakan yang dilakukan oleh Raya. 

“Aku lakuin semua itu karena untuk menghindari kalian aja. 

“Masalahnya itu aku malas jalan sama pasangan yang lagi mesra-mesraan, mana ada Devan, nggak enak banget kalau dikira lagi double date” jelas Raya. 

Raya dan Jia mengobrol sangat lama. Mereka hampir lupa waktu. pembicaraan yang mereka lakukan sangat lama karena sering berbeda pendapat. Membuat mereka debat, tetapi anehnya debat mereka tidak seperti debat pada umumnya. Mereka berdebat sama seperti sedang mengobrol biasa, tanpa ada nada yang ditekan pertanda marah atau suara yang tinggi. 

Saat sedang mengobrol terdengar suara Ayah Raya yang memanggil dari lantai bawah. 

“Kalian berdua sini dulu” panggil Ayah Raya, Raya dan Jia kemudian duduk manis di sofa ruang tamu. 

“Tadi Om dengar dari Devan kalian habis jalan-jalan, kalian kemana aja?” tanya Ayah Raya. 

“Kita berempat Cuma nonton bioskop aja kok, Om” jawab Jia. 

“Kenapa Cuma nonton bioskop? Pasti karena ada seseorang yang buat ulah” ucap Ayah Raya sembari melirik ke arah Raya yang terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. 

“Raya udah ada janji sama tante Tannia, ada hal penting yang harus kita bahas” jelas Raya. 

“Sampai Jia dan teman-teman yang lain batalin acara mereka juga?” lanjut Ayah Raya. 

“Tapi kan bukan gitu maksud Raya. Tau ah” jawab Raya kesal. 

Raya berpikir pasti Devan yang bilang kepada Ayahnya tentang kejadian itu. Raya sungguh kesal dengan prilaku Devan kepadanya. Raya terus berpikir apa tujuan Devan melakukan semua hal ini. Apakah Devan sungguh membenci Raya karena masalah sewaktu di pertandingan seleksi anggota basket karena prilaku Raya terhadapnya, atau karena prilaku Raya yang semena-mena tadi pagi saat sedang joging. Apakah Devan orang yang sepert itu, sungguh sensitif padahal dia bersikap manis kepada semua wanita. 

Sudah larut malam, Jia kemudian berpamitan kepada Om Aditya. Raya berniat mengantar Jia pulang tetapi Jia menolak. Jia lebih memilih tawaran Om Aditya untuk diantar pulang oleh Pak Asep. Setelah Jia pulang Raya pergi kekamarnya. 

“Sudah mau tidur?” tanya Ayah Raya. 

“Iya. Good Night, Papah” jawab Raya. 

Pikiran Raya begitu kosong saat itu. Pertamakali dalam sejarah saat Raya sekolah ada seseorang yang tahan terhadap sikapnya selain Jia. Jia memang tau sikap asli Raya sehingga dia menanggapinya dengan biasa saja. Jia juga tau bahwa Raya sengaja melakukan hal itu. Sedangkan untuk Raka, Raya tidak berprilaku kasar terhadapnya semenjak tau kalau Raya menyukai Jia. Raya tidak mungkin bersikap kasar kepada pria yang disukai oleh sahabatnya sendiri, walaupun Jia tidak pernah cerita bahwa dia menyukai Raka dan bagaimana hubungan mereka. Tetapi Raya mengerti, Raka adalah cinta pertama Jia. Raya berpikir apa dia juga akan mendapatkan cinta pertamanya, apakah trauma yang dia rasakan dimasa lalu dapat hilang termakan waktu atau karena seseorang yang begitu mengerti dan memahaminya akan menghapus semua memori gelap itu. Devan adalah orang pertama yang tahan terhadap sikap Raya. Walaupun sudah dicuekin, dimaki, ataupun dihina dia masih bersikap biasa saja.

Devan itu sebenarnya kenapa sih. Masa dia nggak sakit hati setelah dimaki-maki begitu. Dia malah bersikap biasa saja. Padahal selama ini belum pernah ada yang tidak sakit terhadap sikap dan kata-kata Raya. Semua hal itu mengusik pikiran Raya. Dia tidak tenang malam itu, sehal yang mengusik pikirannya membuatnya tidak bisa tidur. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!