Diandra kembali bertemu dengan Arkan--pemuda yang meninggalkannya beberapa tahun lalu dan meninggalkan kehancuran. Luka yang ia obati dengan susah payah kembali menganga.
Diandra mencoba untuk menjauh dari Arkan, tetapi pemuda tersebut berhasil menarik Diandra kembali ke dalam pelukannya. Namun, tanpa gadis itu ketahui Arkan yang sangat ia cintai sudah memiliki istri. Akankah cinta mereka akan terus bersatu atau Diandra akan kembali mendapat luka dari orang yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofi Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hubungan Diandra dan Arkan semakin erat dan hangat. Sejak Diandra kembali mengisi hari-harinya, Arkan merasa semakin bersemangat menjalani hidup. Gadis manis berambut hitam tersebut sangat telaten dalam bekerja. Sejak ia menjadi sekertaris Arkan, banyak proyek yang berhasil mereka dapatkan. Karyawan-karyawan semakin sejahtera karena Arkan selalu memberikan bonus tambahan setiap ia berhasil menyelesaikan pekerjaan.
Diandra sebenarnya ingin sekali menanyakan kapan Arkan akan menghalalkannya. Namun, gadis itu terlalu sungkan untuk bertanya karena Arkan sama sekali tidak pernah menyinggung soal itu. Kadang timbul rasa khawatir, Arkan akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Namun, kekhawatirannya selalu terpatahkan melihat cara Arkan memperlakukannya.
"Sayang, besok Abang sudah buat janji dengan notaris untuk balik nama rumah yang di Nirvana Residence," ujar Arkan saat mereka sedang makan siang berdua di kantin kantor.
Ia ingin sebelum mengurus perceraiannya dengan Friska, rumah tersebut sudah menjadi milik Diandra. Ia tidak ingin rumah yang saat ini ditempati Diandra dan Prita masuk ke dalam harta gono gini.
"Maksudnya, Sayang?" tanya Diandra heran. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh lelaki yang kembali mengisi hatinya beberapa bulan belakangan ini.
"Abang mau menghadiahkan rumah yang saat ini kamu tempati untuk kekasih yang sangat Abang cintai ini," ujarnya sambil menjawil hidung mancung Diandra.
"Nggak harus seperti ini, Bang. Rumah itu milik Abang, nanti setelah kita menikah, otomatis menjadi milik aku juga." Diandra mencoba memancing Arkan untuk membicarakan pernikahan mereka.
"Iya, Sayang! Namun, sebelum kita menikah, Abang ingin memberi Diandra hadiah. Pokoknya Besok kita ke notaris untuk mengatur semuanya," perintahnya.
Walaupun diliputi kebingungan, Diandra mengangguk tanda mengiyakan ucapan Arkan, dan berharap ini merupakan awal dari rencana pernikahan mereka. Memberikan rumah mewah sebagai hadiah, tidak akan dilakukan seseorang yang tidak serius dalam menjalin sebuah hubungan.
--
Diandra sedang duduk di teras depan rumah sambil menunggu Prita pulang dari tempat kerjanya. Hari ini, ia pulang lebih cepat karena setelah makan siang tadi, Arkan lagi-lagi mendapat panggilan telepon dari asisten Ardianto--partner perusahaan milik Arkan.
Pria yang kembali menemani hari-harinya selama beberapa bulan belakangan ini, langsung mengantarnya pulang ke rumah. Padahal Diandra tadi ingin balik ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum selesai. Namun, Arkan tidak membiarkannya karena ia beralasan belum tentu bisa menjemput Diandra saat pulang kerja nanti.
"Aku bisa pulang naik taksi online, Sayang," ujar Diandra. Ia tidak ingin dianggap tidak profesional. Pulang kerja seenaknya, tanpa ikut peraturan kantor. Namun, Arkan berkeras untuk mengantarnya pulang karena ia tidak mau Diandra pulang menggunakan taksi online.
"Abang tidak mau kamu pulang naik taksi online. Nanti kalau kenapa-kenapa, siapa yang mau tanggung jawab?" tanya Arkan.
"Abang Arkan yang sangat Diandra cintai dan sayangi, sebelum kita kembali bertemu, aku sudah biasa sendiri kemana-mana. Aku sudah biasa hidup susah, Abang sayang. Sejak bertemu Abang lagi, Aku baru kembali menjadi ratu. Jadi nggak apa-apa kalau aku pulang sendiri, Bang. Diandra mencoba meyakinkan Arkan.
Sejak mereka kembali bersama, Arkan tidak pernah membiarkan Diandra untuk jalan sendiri. Ia rela menjadi supir, jika tidak ada Prita yang menemani kekasihnya itu, walaupun hanya untuk belanja bulanan di supermarket.
"Kalau Abang bilang tidak boleh, itu artinya kamu harus pulang sekarang," ujar Arkan tegas.
"Baiklah!" ujar Diandra patuh. Ia tidak mau berdebat. Gadis manis yang memiliki senyum manis tersebut, menganggap kalau ini adalah salah satu cara Arkan mencintainya.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan ia melakukan ini semua. Ia takut, Diandra dijahati oleh Friska. Beberapa bulan yang lalu, saat ia menyatakan keinginannya untuk bercerai dengan wanita tersebut. Friska kembali mengamuk.
Wanita bertubuh sintal tersebut, tidak mau bercerai karena sejak menikah dengan Arkan, Arianto--papinya mulai mempercayainya untuk kembali mengelola dan memegang keuangan butik dan salon milik almarhumah maminya yang sangat terkenal di kalangan sosialita di kota Pekanbaru ini. Namun, Ardianto memberikan syarat, kalau sampai ia dan Arkan bercerai, maka seluruh fasilitas yang dimilikinya akan dicabut. Ardianto benar-benar sangat paham dengan sifat putrinya yang tidak bertanggung jawab ini.
"Untuk apa bercerai? Aku tidak pernah menghalangi kamu untuk melakukan apa pun juga. Aku juga tidak peduli kamu mengakui aku sebagai istri atau tidak. Bagiku yang penting kamu sah sebagai suamiku di mata hukum dan keluargaku! Tidak ada yang dirugikan di sini. Kamu dapat kemewahan. Perusahaanmu jadi semakin besar. Kamu bahkan semakin terkenal dikalangan pengusaha. Semua itu karena kamu menjadi suamiku." Wanita tersebut berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk Arkan dengan tangan kiri.
"Untuk apa kamu mau bertahan menjadi istriku? Untuk menguasai keuangan butik dan salon? Aku tidak akan pernah peduli pada semua harta keluargamu yang berlimpah itu. Aku lebih baik, hidup seperti dulu dan terbebas dari wanita tidak tahu diri seperti kamu," ujar Arkan. Ia mulai terpancing untuk berdebar dengan Friska.
Sejak tragedi pelemparan vas bunga, di awal pernikahan mereka. Arkan tidak pernah meladeni Friska lagi. Walaupun wanita berteriak dan memaki, Arkan memilih tidak memedulikannya dan mengunci diri di kamarnya. Namun, saat itu ia sengaja mengajak Friska bicara baik-baik karena ingin mengatakan niatnya untuk menceraikan wanita tersebut. Bukannya kesepakatan yang didapat, mereka justru bertengkar hebat.
"Aku akan cari penyebab kamu menceraikan aku. Kalau memang karena perempuan lain, aku akan habisi dia," ujar Friska lagi.
"Gila kamu!" teriak Arkan. Pria tersebut pergi meninggalkan rumah dan membanting pintu. Sejak saat itu, ia benar-benar khawatir dengan keselamatan Diandra. Friska adalah seorang yang nekad dan banyak berteman dengan orang-orang jahat. Ia takut Diandra celaka karena ulah Friska. Menjadikan Diandra sebagai sekertaris pribadi adalah salah satu strateginya agar tidak ada yang curiga saat mereka jalan berdua di luar kantor, termasuk Friska.
Diandra melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat jam enam, tetapi Prita masih belum pulang juga. Biasanya paling lama jam enam, sahabatnya itu sudah berada di rumah. Diandra mulai gelisah. Ia coba menghubungi Prita, tetapi gadis tersebut tidak mengangkat panggilannya.
Di tengah kegelisahannya, sebuah mobil Lexus Rx 300 berwarna putih, berhenti di depan rumahnya. Tidak lama kemudian, terlihat Prita keluar dari mobil tersebut dan melambaikan tangan pada pria yang mengendarai mobil mewah tersebut.
"Cie ... udah ada yang ngantarin sekarang. Siapa, sih, pria beruntung yang bisa menaklukan hati Kakak aku?" ledek Dindra.
"Bukan siapa-siapa, kok, Di. Motor kakak tadi mogok, udah di bantu sekuriti mengengkol, tetap tidak bisa hidup. Lalu, lewat Pak Adhi itu. Dia, kan, tahu Kakak tinggal di sini, makanya ditawari buat pulang bareng," jelas Prita.
"Ooo ... yang tadi itu Pak Adhi. Ganteng, ya? Nggak nyebalin seperti cerita Kakak. Jangan-jangan ...."
"Apaan, sih, Di?" potong Prita. Wajah gadis tersebut memerah karena salah tingkah mendengar ucapan Diandra.
Melihat kakak angkatnya itu salah tingkah, Diandra tertawa dan menggandeng tangan Prita masuk ke rumah.