Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband Is (Not) My Idol

My Husband Is (Not) My Idol

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:34.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dyas Haneen

⚠️ DILARANG BOOM LIKE🙂

Alana Mentari terpaksa menerima perintah dari atasannya untuk menjadi asisten pribadi dari seorang idola terkenal, Damian Abiyasa Abraham. Idola yang ternyata memiliki kebiasaan buruk dan membuat siapapun enggan bekerja bersama. Hal itu tentu membuat kehidupan Alana yang semula damai dan tentram menjadi penuh tantangan.

Kehidupan Alana semakin rumit tatkala sang ibu menjodohkannya dengan seseorang yang ternyata adalah Damian juga. Karena tak berani melawan orang tua akhirnya Alana dan Damian setuju untuk menikah, hanya saja dengan sebuah syarat, Damian tak mau berita pernikahannya itu tersebar ke media dan membuat fans kecewa. Apalagi semua orang tahu jika Damian akan bertunangan dengan kekasihnya.

Akankah kehidupan pernikahan Alana membaik seiring berjalannya waktu? Atau hancur di tengah jalan?

Baca kisah selengkapnya hanya di "My Husband is (not) My Idol".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyas Haneen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Mimpi Alana Hancur

"Tan, kok bisa ya saya baru tahu ada agenda acara di sini dua jam sebelum acara mulai?" Jeda tiga detik, kemudian Damian melanjutkan, "Nggak mungkin kan kalo pihak program acara menghubungi dadakan, minimal seminggu sebelum hari H. Berarti kejadian ini masalahnya ada di Tante, kan?"

Wanita itu mengusap tengkuknya yang tak gatal. Damian pasti sangat marah pada Belly sampai-sampai menyebut dirinya saya, tak seperti biasa yang menyebut dengan nama saat bicara dengannya.

"Maaf atas keteledoran Tante ini, Abi," ucap Belly setulus hati. Wanita itu memang merasa sangat bersalah. Pekerjaannya menjadi seorang manager artis tentu sangat banyak. Selain jadwal Damian, Belly pun perlu mengatur jadwal artis-artis lain yang bekerja di bawah naungannya. Belum lagi dirinya juga perlu menghadiri rapat-rapat penting yang setiap harinya pasti ada.

"Tante sibuk banget ya sampe lupa buat ngabarin lebih cepat?" tanya Damian. Laki-laki itu sangat membenci sesuatu yang mendadak. Apalagi jika soal pekerjaan. Damian perlu beberapa persiapan dan semua itu tak cukup dengan waktu yang singkat.

"Maaf, Abi... maaf," ucap Belly sekali lagi. "Please."

Damian yang merupakan sosok yang jarang marah kepadanya, tentu membuat Belly sangat takut dan khawatir. Apalagi sepengetahuannya, jika Damian sudah marah akan lama untuk mereda. Di sisi lain, penerimaan maaf Damian sangat berharga untuknya. Selain karena laki-laki itu aset perusahaan yang berharga, Damian juga keponakannya yang paling tercinta.

"Untung aja staf yang lain langsung gerak cepat. Seenggaknya nggak malu-maluin pihak yang punya acara," ujar Damian tak habis pikir pada Belly, bahkan para staf pun sama-sama baru tahu.

Setelah itu, Damian menyeringai singkat. "Tapi karena ini, jadwal date sama Devanie jadi batal. Padahal susah banget buat dapet momen yang pas. Kita sama-sama sibuk."

Belly menghapus cairan di ujung matanya. "Tante janji... ini nggak akan terjadi lagi."

Damian tersenyum mendengarnya. Namun mengingat posisi Belly yang jarang sekali ada di sampingnya, Damian merasa jika kejadian tersebut akan terulang. Entah itu dalam waktu dekat atau lama.

"Gini aja deh, Tan," ujar Damian kemudian, tentu langsung mendapat perhatian dari Belly. "Saya ingin punya asisten pribadi lagi."

Belly cukup terkejut mendengar permintaan laki-laki itu. Apalagi selama ini sudah ada sekitar sebelas orang yang tak tahan menjadi asisten pribadi Damian. Baik pria atau wanita, baik mereka lulusan universitas ternama sekalipun, semuanya menyerah saat belum genap sebulan bekerja. Kebanyakan dari mereka meminta posisi yang lain. Ada juga beberapa yang undur diri dari perusahaan.

"Seenggaknya bisa ngurangin salah satu pekerjaan Tante, biar Tante juga bisa lebih fokus ke kerjaan yang lain. Nggak perlu nge-handle kerjaan saya lagi. Nggak perlu juga ngikutin saya shooting sana sini. Jadi nanti lebih sering diurus sama asisten pribadi. Saya juga jadi lebih leluasa karena pergi-pergi ditemenin asisten sendiri dan nggak perlu telepon Tante setiap hari buat nanyain jadwal," jelas Damian panjang lebar. Berusaha pula meyakinkan Belly jika kejadian lama tak akan terulang. Kali ini dirinya akan bersikap sewajarnya dan membuat asisten pribadinya betah.

Belly turut senang mendengar penuturan Damian. Tanpa pikir panjang lagi, Belly pun dapat memutuskan. Ia harap keputusannya merupakan pilihan yang terbaik. Lagipula untuk penyanyi sekelas Damian, memang seharusnya menggunakan jasa asisten untuk membantu kesehariannya.

"Oke, Tante cariin dari sekarang," ujar Belly dengan senyuman manis tentunya.

"Oh, nggak perlu, Tante. Abi udah punya kandidatnya. Kebetulan dia juga salah satu staf yang kerja di Sirius Entertainment," elak Damian cepat.

Detik berikutnya, Damian memutus kontak mata dengan Belly. Diam-diam laki-laki itu pun memasang senyuman licik.

...***...

Pagi ini, semangat Alana kembali seratus persen. Apalagi setelah mendengar direktur utama memanggilnya.

Sepanjang perjalanan menuju lantai tujuh alias lantai para petinggi perusahaan, Alana tak berhenti berpikir. Alana sangat penasaran. Apakah gaji bulanannya akan naik atau justru jabatannya yang akan naik? Semoga saja keduanya, Alana sangat berharap. Namun tak lama kemudian, Alana langsung membuang pemikiran tersebut. Sangat tak mungkin.

Tiba di depan sebuah pintu yang tertera nama seseorang dengan dua gelar, seketika Alana menjadi tak bisa mengatur detak jantungnya. Tubuhnya gemetaran dan telapak tangan terasa sangat dingin. Yang hanya bisa Alana lakukan untuk lebih tenang hanya menarik napas sebanyak mungkin serta tak lupa berdoa meminta perlindungan.

Alana maju selangkah dan siap untuk mengetuk pintu, namun tiba-tiba nyalinya menciut. Alana gugup, takut jika nanti dirinya menunjukkan sikap buruk.

"Kamu ngapain berdiri di depan pintu? Kalau mau masuk, masuk aja," ujar seseorang tiba-tiba.

Suara bariton tersebut membuat Alana terperanjat melangkah ke samping. Alana mengelus dada. Jantungnya terasa semakin berdegup kencang.

Melihat respon Alana yang tak seperti biasa, tentu sangat aneh bagi Damian. Bahkan Alana terkesan seperti tak mengenalnya. Apakah perempuan itu salah memakan sarapan? Alana terlihat sangat damai. Tak seperti biasanya yang selalu menyebalkan hingga membuat Damian selalu menarik napas dalam.

Damian pun membuka pintu. Baru selangkah memasuki ruangan, Damian lantas berhenti dan menoleh pada Alana yang mematung sembari melihat ke arahnya.

"Kamu nggak ikut masuk?" tanya Damian terdengar sangat dingin. Wajahnya pun sama sekali tak berekspresi.

Tanpa sadar Damian merasa gemas pada wajah lucu Alana yang tampak kebingungan. Perempuan itu juga memainkan jari-jemarinya tepat di depan dada. Seketika Damian pun menarik pipi dan membuat lengkungan manis di bibir dalam beberapa detik. Ternyata perempuan seperti Alana bisa menunjukkan wajah seperti itu. Apalagi dengan tingginya yang mungil serta kaos putih kebesaran yang dipakai, membuat Alana semakin menarik di mata Damian.

Sadar akan tingkah lakunya yang aneh, Damian langsung membuang pemikirannya jauh-jauh. Laki-laki itu pun langsung menarik tangan kanan Alana untuk masuk ke ruangan tersebut bersamaan. Keduanya sempat saling bertatapan, namun semua pecah tatkala sebuah suara terdengar.

"Kamu yang namanya Alana?" tanya sang pemilik ruangan.

Alana terjaga dari lamunan. Menarik tangannya dari genggaman Damian.

"Iya, Bu." Alana mengangguk semangat sembari memamerkan sederet giginya.

Entah mengapa Alana mendadak baik-baik saja. Rasa gugup hilang seketika tanpa aba-aba. Namun, senyuman di wajahnya kembali menyusut tatkala Alana melihat raut wajah Belly yang sangat judes. Alana heran, padahal dari kejauhan seringkali melihat wajah atasannya itu sangat ramah dan murah senyum. Jika dibandingkan, rasanya seperti dua orang yang berbeda.

"Saya ingin memberi sebuah kabar. Entah ini baik atau buruk buat kamu, yang jelas kamu harus bisa menerima," ujar Belly sembari menatap Alana intens.

Alana meneguk liur dengan berat. Tangannya kembali dingin. Alana seketika takut mendengar kabar yang akan disampaikan mengingat Belly berbicara sangat serius.

Belly mengambil napas panjang dan dibuangnya perlahan. Hal tersebut dilakukannya secara berulang, sebelum akhirnya suara mulai terdengar. "Mulai hari ini kamu akan kerja sebagai asisten dari penyanyi terkenal kita, Abiyasa Abraham, orang yang ada di samping kamu."

Deg!

Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Baginya posisi tersebut adalah sebuah neraka. Berurusan dengan Damian beberapa menit saja sangat membuatnya tersiksa, apalagi nanti. Alana sama sekali tak bisa membayangkannya. Jika memang dirinya dipindahkan posisi, tak bisakah saja Alana mendapat posisi yang lain?

"Saya?" Tunjuk Alana pada dirinya sendiri.

"Iya," balas Belly dengan tatapan yang semakin menajam. "Saya kan lagi bicara sama kamu."

"Tapi Bu, saya sama sekali nggak punya pengalaman bekerja di posisi tersebut. Minat dan bakat saya juga hanya di fashion design, Bu." Alana berusaha untuk menolak. Di sisi lain, Alana pun merasa ada banyak orang lain yang jauh lebih pantas menerima posisi tersebut dibanding dirinya.

"Saya juga awalnya mau cari orang yang memang punya bakat. Hanya saja Abiyasa ingin kamu yang jadi sekretarisnya," jawab Belly dengan lantang.

Alana lantas menoleh pada Damian dengan sejuta rasa tak percaya. Namun lihat, laki-laki itu justru menjulurkan lidah. Wajah pun terlihat sangat senang, seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan mainannya.

Sementara Belly, melihat reaksi Alana membuatnya menyeringai sembari memutar bola mata malas. Dilihat dari riwayat pendidikan saja sosok Alana ini sudah sangat jauh dari syarat. Tetapi Belly berusaha berpikir positif jika orang yang diinginkan Damian ini mungkin memiliki daya tarik. Namun, ternyata ekspektasinya terlalu tinggi. Alana sama sekali tak membuatnya tertarik. Belum lagi penampilannya yang sangat kucel sehingga tak enak dipandang. Rambut berantakan, tak memakai make up, serta pakaian ala kadarnya. Ditambah kaca mata yang tak henti merosot membuat Belly selalu salah fokus. Mari lihat saja apakah Alana mampu bertahan?

Bangkit dari duduk, Belly kemudian mengambil sekumpulan berkas di lemari. Memberikannya pada Alana sembari mengatakan apa saja yang harus dilakukan perempuan itu secara lengkap.

Mendengar pekerjaan barunya yang cukup banyak, Alana hanya bisa meneguk saliva dan tersenyum pahit. Berusaha mengangguk paham walau sebenarnya kurang paham apa yang tengah diucapkan. Ada beberapa kata pula yang tak dipahaminya.

"Baiklah. Jika kamu sudah mengerti. Kamu mulai kerja minggu depan. Untuk minggu ini, kamu silakan pelajari dulu tentang pekerjaan asisten." Belly kembali duduk. "Oh iya, jangan lupa segera back up kerjaan kamu di posisi sebelumnya ke teman satu divisi. Jangan sampai kerjaannya telat deadline," titahnya. Belly menjulurkan tangan ke arah pintu, bermaksud agar Alana meninggalkan ruangan.

Alana langsung mengikuti perintah. Sembari menunggu Damian selesai bicara dengan Belly, Alana memilih untuk pergi ke ruang kerja sebelumnya. Mengambil tas dan beberapa barang serta sejumlah dokumen miliknya.

Tak lupa pula Alana menuruti apa kata Belly, menyerahkan semua pekerjaan yang tengah dikerjakannya. Beberapa orang tampak mengeluh akibat kerjaan Alana yang cukup banyak. Walau begitu, Alana tetap menjelaskan detail tugas dan kapan waktu pengumpulan secara saksama.

Selesai, Alana pun pamit meninggalkan ruangan. Kepergiannya sama sekali tak diantar dengan sebuah perpisahan hangat. Seisi ruang tampak tak peduli bahkan ada beberapa yang memasang raut senang. Mereka memang merasa Alana tak pantas untuk ada di sana, apalagi mengingat bagaimana latar pendidikannya. Alana hanya menanggapi dengan senyuman. Meskipun terasa sesak, tetap berusaha untuk tegar.

Di sisi lain, Alana juga merasa berat meninggalkan meja kerja serta ruangan yang sudah menemaninya cukup lama itu. Benda mati yang menjadi saksi bagaimana Alana berjuang dari titik nol hingga sekarang. Namun perintah tetaplah perintah. Bagaimanapun Alana harus melakukannya. Semoga saja dengan pekerjaannya sebagai seorang asisten bisa membuatnya menjadi seseorang yang semakin hebat.

...Bersambung!...

...Hai, jangan lupa tinggalin jejak yaaa🤗...

1
Yumie Ayumia Atashi
ngakak sm karakter damian/Facepalm/
Yumie Ayumia Atashi
ceritanya cukup menarik. semangat ya kak/Smile/
dah suka² si dam dam aja dah🤣
uhuk²🤣🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀
🤣🤣🤣🤣🤣
seperti nya akan pecah itu record🤣
eitsss maen kampungan aja🙄
uluh uluh🤧🤧🤧
serba sensi yak si dam dam🤭
yalloh parah🤣
gampang drop si dam
🤣🤦‍♀
si tukang nyusahin🤣
laper begete pasti🤧
si dam dam ternyata somplak🤣
alana gak butuh pedang kan buat ngadepin si dam dam?😂
yalloh🤣🤣🤣🤣
dudududuhhh💃💃💃🤭
alana yg di tabrak😱
kendaraan dulu yg di pikirin🤣🤦‍♀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!