Refiva Afive (Afive) seorang dokter yang terlalu cantik hingga dalam kesehariannya diwajibkan agar selalu berpenampilan tertutup terutama saat berada diluar ruangan. Tetapi situasi darurat membuatnya lengah dan aura cantiknya mengalir keluar dari dan bahkan sampai ke berbagai media sosial.
Jauh didalam pelosok negeri Zalileo (Leo) seorang penyandang tunanetra yang berprofesi sebagai musisi. Dalam keadaan gelap tinggal sendirian dirumah warisan peninggalan kakeknya seminggu terakhir ini ia merasakan hadirnya penghuni lain yang diam diam tinggal dirumahnya.
Bagaimana nasib ai yang kini menjadi sorotan dunia? Juga leo yang saat ini dihantui sosok yang belum jelas. Munkinkah sosok hantu itu adalah makhluk tercantik yang mencari tempat persembunyian? Jika memang benar ai yang bersembunyi dirumah leo lantas bagaimanakah kisah mereka berlanjut???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fnolzero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK MENOLAK, TAK MEMBERONTAK
Pagi buta Refiva Afive terbangunkan oleh [bunyi mesin mobil menyala] Kial berniat berpindah sebelum mobil mereka di tandai dalam memori warga setempat karena itu si polwan mengambil langkah tanpa meninggalkan jejak.
"tidur saja cantik, tidur yang cantik, aku sudah berusaha tapi kau ternyata sangat sensitif" perintah Kial yang tampak seperti menyembunyikan senyuman dari Afive.
"aku rasa sikap mu sedikit berbeda dari yang kemarin, apa sesuatu yang baik baru terjadi?" tanya Afive.
[suara Kial tertawa]
"sialnya aku,, memang tak salah lagi kau begitu peka menyadari detail kecil secepat ini, coba tebak hal baik apa yang aku maksud?" pinta Kial sembari terus menyetir.
belum menghabiskan 2 detik.
"aku harap kau benar-benar perempuan" ujar Afive kepada Kial.
[SUARA KIAL TERTAWA]
"kau takut aku jatuh cinta padamu?" tanya Kial.
"cinta tak masalah, yang masalah saat kau lepas kendali karena gila lalu menjual nama cinta" terang Afive dengan cukup serius.
"terlambat, [tertawa] aku sudah gila karena tak sanggup menerima keajaiban jam 3 pagi tadi, tapi tenang saja aku punya pikiran yang cukup kuat jadi kerusakan yang di sebabkan oleh cinta takkan mengalir keluar dari tubuh ini" omongan Kial mulai terasa seperti orang mabuk.
Menyaksikan keadaan Kial si polwan yang detik demi detiknya semakin tak waras Afive merayu Kial untuk membiarkannya mengemudi agar Kial sendiri bisa tidur agar menetralkan dosis cinta yang berlebih. Mereka berdua pun berhenti sejenak kemudian bertukar tempat.
Sepanjang malam terjaga hanya untuk menunggu momen Afive benar-benar tertidur pulas agar punya kesempatan mengintip wajah yang sanggup membius hampir seluruh dunia di tambah makanan semalam 3 porsi paket keluarga yang kini sudah mulai turun juga rasa penasaran yang telah tercapai menciptakan perasaan mengantuk alhasil Kial yang belum lama menyerahkan kendali pada Afive langsung tertidur sambil mengigau "tak masalah istri kedua".
"istri kedua? apa maksudmu?" tanya Afive yang belum menyadari bahwa Kial sudah tertidur.
Anehnya Kial justru menjawab dalam mengigaunya "suami sama agar serumah dan terus bersama" dan jawaban tersebut mampu membuat Afive terkejut sampai spontan menoleh dan seketika tertawa saat menyaksikan Kial tertidur.
Mentari mulai mengintip dan Afive sendiri tak tahu ke mana tujuan Kial agar bisa menyembunyikan dirinya jadi dari jam setengah enam tadi pagi sampai sekarang Afive hanya berkemudi dengan kecepatan yang begitu rendah dan tak jelas mau ke mana.
Berkisar dua jam tertidur kini Kial terbangun dan refleks menyapa Afive "halo kakak pertama, apa kabar pagi ini?".
"kita kemana ini? dua jam lebih di jalan gak tahu mau ke mana" cakap Afive.
"di persimpangan selanjutnya belok kiri, kita istirahat sebentar" pinta Kial terhadap Afive.
Mereka berdua pun singgah di sebuah rumah penginapan kecil tanpa tunjangan keamanan seperti tanpa penjagaan, tanpa CCTV, tanpa P3K, juga tanpa asuransi jiwa, bahkan tanpa parasut. Walau begitu jika di situasi Afive saat ini maka tempat seperti lebih aman daripada pergi ke tempat yang populer itu jelas sangat beresiko.
"apa ada kamar yang terisolasi atau kamar sedikit terpisah jauh?" tanya Afive.
"kami hanya punya kamar di satu gedung ini tapi ada kamar yang tak pernah di pesan hanya karena ada yang pernah mati di situ, eh tunggu sebentar pertanyaan begitu,, apa kalian orang baru?" balas tanya si pegawai penginapan.
"iya dia orang baru, maaf ku kira kau sudah menyadari postur tubuhku" jawab Kial yang memotong sambil membuka topi menunjukkan wajahnya(ID) pada si pegawai.
Wajah Kial langsung di konfirmasi "oh kau 31" si pegawai mengeluarkan kunci lalu meletakkan di sisi meja dekat Afive menyenderkan tubuhnya. Tangan Afive langsung menyapu kunci yang di berikan kemudian menyusul Kial yang sedetik lalu berkata "ambil kuncinya dan ikut aku!!".
Mereka melewati terowongan yang minim cahaya lalu tepat di ujung terowongan Kial memberikan isyarat bahwa kuncinya untuk pintu ini pada Afive. Ruangan 31 pun terbuka dan Afive langsung berkeliling mengecek memastikan beberapa sudut mencurigakan yang kemungkinan di manfaatkan para stalker.
"sudah ku pastikan belum ada yang masuk sejak terakhir kali aku kemari" jelas Kial untuk menenangkan Afive.
"aku berasa semua yang terjadi akhir-akhir ini seperti adegan di film film dan kurasa akan ada stalker di penginapan tanpa keamanan ini" terang Afive.
"tenang saja dan kita di sini hanya singgah mandi jadi cepat sini lebih cepat kalau sama-sama" seruan Kial yang hendak buka baju namun terhentikan saat mendengar jawaban Afive.
"mandi saja aku mandi tak lama jadi kau tak akan menunggu lama" penolakan Afive.
"kalau begitu kau duluan" desak Kial.
Desakan Kial pun di terima oleh dan di saat Afive mandi hp Kial berdering di deringkan akibat panggilan pusat di mana panggilan tersebut di dasari oleh kedatangan mama Afive yang ingin secara lagsung berbicara dengan anaknya. Penantian Kial dan Mama Afive tak berlangsung lama padahal Kial baru saja berkata "Afive baru saja ke kamar mandi tunggu sebentar, astaga apa kau tak menggunakan sabun?, shampo? ini terlalu cepat" respon kaget Kial.
Perbincangan antara Afive dan mamanya tertindih oleh [suara Kial bernyanyi kencang dari arah kamar mandi]. Setelah mandi lalu keluar dari kamar mandi senyuman riang gembira Kial lenyap ketika menatap Afive mengusap kelopak matanya yang lembab.
"apa ruangan ini berdebu? apa kita harus ganti kamar?" tanya Kial dengan gerak perlahan mendekati Afive kemudian duduk di sampingnya.
Afive sendiri duduk di lantai Afive dan bersandar di sisi samping kursi sofa mencoba menyembunyikan matanya dengan kedua tangannya tapi terlambat.
Kial mencoba memeluk Afive dengan maksud menguatkannya memakai energi kehangatan agar air mata bisa menguap sampai lenyap.
...
Atas keinginan mama Afive Kial membawa Afive kembali ke studio TV untuk mengambil debut pertamanya sesegera mungkin. Mereka berdua pun meluncur walau Afive sudah jelas sampai mengalirkan mata air kesedihan sampai dua kali dan jelas itu disaksikan langsung oleh Kial sendiri.
Acara tersebut kini siap mengudara jam 09:30 am pada hitungan 3 2 1 [musik dan nyanyian di sertakan penari opening yang berlangsung 3 menitan] kemudian sepasang pembawa laki-laki dan perempuan acara masuk dari arah yang berlawanan.
"selamat pagi indonesia" sambutan kedua host TV yang di sengajakan kurang serentak.
"halo Nerlina, apa kabarnya? sudah lama tak jumpa" sapaan Zelfian.
"hai juga Zelfian, baik kamu sendiri bagaimana kabarnya?" balasan Nerlina.
"penuh syukur masih sehat Nerlina, kami berharap kalian semua juga selalu diberikan kesehatan terutama yang sedang menyaksikan acara spesial ini" harapan Zelfian.
"acara spesial?, memangnya ini acara apa Zelfian?" gimmick Nerlina.
"acara spesial ini jelas untuk yang spesial juga Nerlina, di sini kita berperan sebagai mak comblang yang akan mencarikan jodoh spesial untuk sosok spesial" tanggap Zelfian.
"hah? memangnya siapa si spesial ini?" umpan Nerlina.
"Kita panggil saja sosok spesial Afiyah Intan!!" teriak Zelfian.