Apa itu Honey?" Suara Erica sontak mengejutkan Mahesa yang masih berada di ambang pintu apartemennya.
"Surat panggilan Honey, besok aku harus datang ke persidangan untuk sidang pertama perceraian aku sama Istriku" Jawab Mahesa pelan dan kini posisinya sudah saling berhadapan dengan Erica yang rupanya masih belum mengenakan bajunya, ia masih bertelanjang bulat dengan hanya menggunakan kain sprei untuk melilit tubuhnya.
"Are you ready honey?" Erica menjawab perkataan Mahesa dengan melontarkan satu buah pertanyaan kepadanya.
Mahesa menatap Erica sejenak ia merasa kalau kekasih gelapnya itu tampak meragukan keputusannya untuk menceraikan istrinya yang baru satu tahun baru dinikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iya Nuraidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Beri aku kesempatan
Malam itu hujan lebat tampak membasahi jalanan kota Jakarta. tepat di hadapan Bara Starla masih terdiam.
Tubuhnya seolah mematung ketika melihat sosok yang sudah tujuh tahun ini tidak pernah ditemuinya.
Perbincangan diantara mereka sontak terhenti ketika Starla memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
"Aku masih sangat mencintai kamu Starla, sangat!" Teriak Bara dengan suara keras
Ia sangat berharap kalau pernyataannya itu akan membuat langkah kakinya terhenti.
Namun pada kenyataannya wanita bertubuh mungil itu masih tetap meneruskan langkahnya hingga menjauh dari tempatnya berdiri.
Starla menutup pintu apartemennya rapat-rapat ia juga mengunci pintunya hingga beberapa kali untuk memastikan dirinya aman dari kejaran laki-laki yang sangat ia benci.
Dengan perlahan ia mendudukan dirinya di sofa kecil yang terletak tak jauh darinya.
Dengan perasaan yang masih kacau ia merebahkan dirinya di sana dan mengingat kembali pertemuan yang tak pernah ia harapkan tadi.
Waktu menunjukan pukul 19.30 WIB
Saat itu dirinya baru saja pulang dari kantor tempatnya bekerja, karena hujan dan taxi yang ia pesan tak kunjung tiba, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sedikit hingga ke ujung jalan.
Awalnya ia tidak merasakan keanehan apa-apa namun saat ia hendak menyebrangi jalan sebuah tangan dengan tiba-tiba menarik tangannya hingga membuatnya sangat kaget.
Bara Malik Rivendra CEO baru di tempatnya bekerja itu kini tengah menarik tangannya dan sukses menghentikan langkahnya.
Starla yang menyadari hal itu pun langsung menghentakkan tangan laki-laki itu dengan keras hingga terlepas dari tangannya.
"Tunggu beri aku kesempatan untuk bicara sama kamu" Ucap Bara menghiba
"Nggak, tolong jangan halangi aku dengan semua omong kosong yang akan kamu katakan padaku Bara"Tolak Starla
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya sama kamu,-"
"Sudah cukup, Aku sudah tidak Sudi untuk mendengar semua ocehan kamu.
Tolong jangan ganggu hidupku lagi anggap saja pertemuan ini tidak pernah terjadi, dan satu lagi anggap saja kalau kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain bisa kan?!" Pinta Starla
"Apa sebenci itu kamu sama aku Star?" Tanya Bara pelan, setelah itu Bara terdiam sejenak dan mengusap air mata yang tengah mencair dari dalam kelopak matanya.
"Maafkan aku kalau aku sudah menyakiti kamu Starla" sambung Bara
Starla terdiam ia tampak berat meskipun hanya untuk menelan salivanya, seraya terus memalingkan wajahnya dari Bara
"Bukan sakitnya yang membuatku menderita,
tapi bekas luka yang sudah kamu torehkan kepadaku dan membuatku terlalu sakit untuk mengingatnya." Setelah itu Starla pergi meninggalkan laki-laki yang sudah tak asing di dalam hidupnya
Entah itu takdir atau hanya suatu kebetulan, yang jelas saat ini Starla tengah berdiri berhadapan dengan mantan kekasihnya yang telah meninggalkannya tujuh tahun lalu.
Selama itu pula Starla mati-matian berusaha untuk melupakannya, membuang semua perasaan cinta yang pernah ia punya untuk laki-laki itu, hingga harus menggantinya dengan kebencian. Namun dengan seenaknya ia kembali hadir dalam kehidupannya, sedangkan untuk mengingatnya saja Starla sudah tidak mau lagi, apalagi untuk kembali memulai sungguh hal yang sangat tidak mungkin baginya.
Terkecuali takdir yang akan menjawab semuanya.
"TOK … TOK … TOK …!"
Suara ketukan pintu itu membuat dirinya terperangah kaget, ia mengusap air matanya yang sejak tadi terus membasahi pipinya.
Lalu dengan malas ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu untuk mengintip siapa yang datang.
"Star Lo di dalam kan?"Belum sampai dirinya ke pintu, suara teriakan itu terdengar dari arah luar.
Perasaan lega pun menghampiri dirinya ketika ia mengetahui bahwa yang mengetuk pintunya itu adalah Raya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, tak lama setelah itu ia lantas membuka pintunya dan langsung memeluk erat tubuh sahabatnya itu dengan erat.
Starla menangis di dalam pelukan Raya ia menumpahkan semua perasaan yang tengah ia rasakan di dalam hatinya.
Raya pun kebingungan melihat kondisi yang tengah menimpa sahabatnya itu.
"Lo kenapa?" Tanya Raya pelan seraya mengelus pundak Starla yang masih bergetar karena suara tangisannya.
"Gue gak mau lagi kerja disana Raya." Jawab Starla lirih
Raya tampak mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Dan setelah itu ia baru menyadari Alasan kenapa Starla menangis.
"Mungkin ini sudah menjadi takdir tuhan Star kalau kalian,-"
"Nggak Ray, nggak, kamu tau kan sehancur apa aku dulu saat dia ninggalin aku gitu aja, dia ninggalin aku tanpa sebab Ray, 5 tahun kita berpacaran dan berjanji kalau dia tidak akan pernah ninggalin aku meskipun dalam keadaan apapun tapi nyatanya mana, saat aku buta karena kecelakaan itu dia justru malah pergi dan menghilang dari dalam hidup aku gitu aja."terang Starla
Kenangan pahit itu seolah sudah mendarah daging dalam hidupnya, ia sudah tidak bisa lagi mentolerir sikap dari CEO baru itu.
Raya tampak menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia menuntun sahabatnya itu untuk duduk dan memberinya air minum agar membuatnya sedikit lebih tenang.
"Besok kalau Lo emang gak mau kerja Lo mending ambil cuti aja dulu, sambil menenangkan diri Lo dari semuanya,
Jujur kalau untuk berhenti gue sangat tidak mendukung, apa Lo lupa kalau saat ini Lo sedang berada dalam masalah dengan Mahesa, ingat rumah dan aset perusahaan Lo masih ada di tangan laki-laki brengsek itu, Lo masih butuh banyak uang untuk merebut itu semua dari tangannya Star,"Ucapan Raya seolah mengingatkan dirinya pada semua permasalahan yang tengah dialaminya bersama suami brengseknya itu.
Sesaat Starla mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, wajahnya tampak kacau mengingat beban hidupnya, tak hanya untuk memikirkan masa lalunya yang tak pernah selesai itu.
Jangankan untuk memikirkan masa depan kehidupannya saat ini saja sudah terasa sangat sulit baginya.
Seandainya saja dulu ia tidak menerima perjodohan yang dilakukan oleh pamannya mungkin saja keadaannya saat ini akan baik-baik saja.
Ada sebentuk penyesalan dalam dirinya, mengingat dulu ia menerima perjodohan itu hanya karena ingin bisa melupakan Bara dalam hidupnya. Dan bukan itu saja kala itu Mahesa tampil dengan wajah palsunya karena kecerdikannya ia mampu membuat dirinya dan Ayahnya percaya akan kebusukannya.
Dia memang seorang public figur terkenal bahkan papan atas nama dan wajahnya selalu terpampang dimana-mana namun kepopulerannya itu tak cukup untuk membuatnya tidak menjadi laki-laki matre dan licik.
"Lo gak mau kan kalau semua aset peninggalan orang tua elo itu jatuh ke tangan orang seperti Mahesa Star?" Pertanyaan Raya membuat Starla sedikit tersadar akan hal yang tengah menjadi skandal dalam hidupnya.
"Terus Gue harus gimana Ray, kalau gue tetap kerja disana setiap hari pasti gue akan bertemu dengan orang yang sudah menyakiti gue selama ini. Rasanya gue lebih baik mati daripada harus bertemu dengannya" keluh Starla.
"Iya gue paham kok apa yang elo rasain sekarang, makannya mending besok elo ambil cuti ajah beberapa hari sambil pikiran langkah apa yang harus Lo ambil"
Ujar Raya seraya menenangkan hati sahabatnya itu.
Starla yang sudah mulai tenang pun terdiam ia tampak memikirkan apa yang Raya sarankan untuknya.
***
makasih ya sudah mengikuti story aku sampe sini./Drool/
udah bara jangan dilama lamain lagi kali masih cinta mending lagsung lamar ajah itu starla
semangat untuk autornya