"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 07
"Kirana! S-sayang ... sejak kapan kamu di luar? Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Arga dengan suara terbata-bata.
Wajahnya begitu panik saat Kirana tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan, dan bertanya seperti itu.
'Bu Kirana! Apa dia mendengar percakapan ku sama pak Arga?' batin Dokter Alibie panik.
"Sayang! Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu." Arga berjalan mendekati istrinya dengan senyum jahat di bibirnya.
"Sayang! Apa yang tadi kamu bicarakan dengan dokter Alibie? Rencana apa?" tanya Kirana.
Tangannya yang memegang tongkat meraba-raba jalan. Sampai akhirnya suaminya berada tepat dihadapannya.
"I-itu Bu Kirana! Kami sedang merencanakan operasi mata ibu, supaya Bu Kirana bisa secepatnya melihat," jawab dokter Alibie dengan suara gemetar.
"Benarkah apa yang dikatakan dokter Alibie, suamiku?" tanya Kirana kepada suaminya.
"Iya, Sayang," jawab Arga.
Arga menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat kepada dokter Alibie.
'Segera lakukan apa yang aku katakan. Jangan sampai kamu gagal.'
Senyum licik tersirat di wajahnya. Arga kemudian membawa pulang istrinya.
*
*
Di depan rumah.
Tasya sahabat dari kecil Kirana duduk kursi depan rumah Kirana menunggu mereka datang.
"Kemana perginya mereka? Sampai sekarang belum pulang juga! Kirana juga tidak bisa aku hubungi," ujarnya kesal.
SRET!
Mobil Arga sampai dan berhenti di depan rumah.
"Kirana," panggil Tasya.
Arga menurunkan kaca mobilnya. 'Tasya untuk apa dia datang kesini?' batin Arga, tidak suka dengan kehadiran Tasya.
"Sayang! Siapa yang memanggil ku?" tanya Kirana.
"Tasya," jawab Arga singkat.
Tasya segera berjalan, menghampiri mobil. Kirana juga turun dan langsung dipapah oleh Tasya. Ia meraih tangan sahabatnya dan menuntunnya masuk kedalam rumah.
"Sini, aku bantu." Tasya mengandeng tangan Kirana.
"Terima kasih Tasya," lirih Kirana.
Mereka masuk ke dalam rumah. Arga mengikuti dari belakang.
"Tasya! Kamu duduk dulu," ucap Kirana.
Tasya duduk di sebelahnya, ia merasa heran kenapa sejak sahabatnya tidak bisa melihat, ia sulit berkomunikasi atau bertemu dengannya.
"Kirana! Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini kamu sangat sulit untuk di hubungi?" tanya Tasya. Wajahnya sedikit mengkerut melihat Kirana.
"Tasya! Maaf, ya ... Aku akhir-akhir sibuk banget," jawab Kirana.
"Kamu sibuk mulu, aku penasaran kenapa semalam kamu enggak angkat telpon dari, aku?" Tasya meraih tangan Kirana.
"Semalam? Emang semalam kamu telpon aku? Tapi suamiku bilang itu nomor tidak dikenal?"
Sekilas Kirana teringat dengan panggilan semalam yang diangkat oleh suaminya.
'Apa telepon semalam itu dari Tasya? Tapi kenapa suamiku bilang itu telpon dari nomor yang tidak di kenal?" batin Kirana ragu.
"Iya, kenapa kamu enggak angkat?" tanya Tasya.
Dari arah pintu Arga masuk ke dalam rumah. Wajahnya tampak tidak senang dengan kedatangan Tasya saat ini.
"Maaf, Tasya! Sepertinya semalam aku tidak melihat nama mu, di layar ponselnya. Aku kira itu bukan kamu, jadi aku tidak angkat." seru Arga, sambil berjalan mendekati mereka.
"Arga! Rupanya kamu!" seru Tasya.
"Maaf! Semalam istriku sedang tidak baik-baik saja." Arga duduk di samping Kirana. "Benarkan sayang!"
Kirana mengangguk, "Iya," ujar Kirana.
"Arga! Ramuan apa yang kamu berikan sama Kirana? Sehingga dia begitu menempel dan tidak bisa lepas dari kamu! Aku saja sahabatnya dari kecil, susah untuk ketemu sama dia semenjak kalian berdua nikah," ucapnya penasaran.
"Kamu ngomong apa sih?" Kirana tersipu, "Suamiku tidak memberikan apa-apa!"
"Ramuan? Tidak! Aku hanya memberikan cinta ku yang tulus kepada istriku, yang cantik ini."
"Ya ... Ya ... Stop! Aku tidak mau mendengar perkataan mu yang membuat ku mual. Kirana, kamu beruntung memiliki suami seperti ini," kata Tasya, terkesan seperti menyinggung.
Seketika Tasya menyadari ada sesuatu yang berubah di rumah ini, tampak orang-orang yang dulunya berkerja di rumah itu, sekarang mereka berbeda.
"Oh, iya! Aku mau tanya?"
"Kamu mau tanya apa?" lirih Kirana.
"Kemana orang-orang yang dulu berkerja di sini? Kenapa mereka tidak ada?" tanya Tasya.
Rahang Arga mengeras. Jemarinya mengepal di balik paha, sementara tatapannya berubah tajam ke arah Tasya. Terlihat wajahnya yang begitu manipulatif tidak terdeteksi oleh siapapun.
"Tasya ak—"
"Tasya! Apa kamu datang kesini hanya untuk menanyakan itu?" Arga memotong perkataan istrinya.
Dirinya tidak ingin Kirana curiga dengannya, sampai semua rencana dan tujuannya tercapai dengan sempurna tanpa penghalang sedikitpun.
"Arga! Kenapa kamu terlihat tidak senang saat aku menanyakan hal seperti ini? Apa aku salah?" Tasya curiga dengan gerak-gerik suami dari sahabatnya itu. Tampak setelah kecelakaan Arga mengatur semuanya tanpa di lihat oleh Kirana.
"Tasya! Sudah! Sayang kamu juga, kalian jangan ribut." Kirana melerai percakapan yang sedikit menegang.
Kirana menggenggam tangan Tasya, "Tasya, jangan khawatir, aku percaya kok, sama suamiku," ucapnya pelan dan penuh kepercayaan teguh terhadap suaminya.
"Ya, sudah! Aku sebenarnya hanya ingin melihat keadaan mu, aku pulang dulu ya, nanti kalo ada apa-apa kamu hubungi aku, ya," ucap Tasya.
Tasya menatap tajam dan penuh curiga terhadap Arga, dari awal dia tidak suka terhadapnya, tapi entah kenapa Kirana, justru menikah dengannya.
"Arga! Kamu jaga baik-baik sahabatku, kalo ada sesuatu, kamu yang akan aku cari terlebih dahulu, kamu ingat itu?" Suaranya terdengar mengancam, jari telunjuknya menunjuk tepat ke manik mata suami sahabatnya.
"Kirana aku pulang dulu, bye,"
"Bye."
Setelah Tasya keluar dari rumah, Kirana bertanya sesuatu kepada suaminya.
"Sayang," seru Kirana.
Arga menoleh, senyuman tipis dan penuh siasat terlihat jelas tanpa di lihat oleh Kirana.
"Iya, sayang, ada apa?" ucapnya lirih.
"Kamu jangan dengarkan ucap Tasya barusan. Kamu tahu Tasya memang seperti itu," pinta Kirana.
Arga merapikan rambut istrinya, tangannya membelai rambut Kirana kebelakang, kemudian memeluk istrinya.
"Kamu tenang saja, aku tidak peduli apa yang mereka katakan terhadap ku. Yang pasti aku tetap mencintaimu sampai kapanpun, tidak peduli dengan kondisi mu sekarang, atau nanti, aku akan tetap bersama dengan mu."
*
*
Besoknya.
Ting! Tung!
Bel pintu berbunyi, di luar Bi Titin kembali ke rumah Kirana, atas permintaan Tasya. Ternyata setelah pergi dari rumah Kirana Tasya sempat mencari Bi Titin dan memintanya untuk tetap berkerja dan menjaga Kirana.
"Non! Non Kirana, ini Bi Titin," panggilannya dari luar.
Kirana mendengar suara Bi Titin dari luar, ia segera membuka pintu.
Ceklek
"Bi Titin!" seru Kirana dengan suara senang dengan kedatangan Bi Titin. Ia kemudian meraba-raba udara mencari keberadaan Bi Titin.
Bi Titin langsung memeluknya erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Non Kirana!" Bi Titin memeluk erat Kirana, "Nona Kirana, apa Nona baik-baik saja? Maaf Bi Titin baru bisa kembali kesini," lirihnya pelan dan begitu senang.
Arga dari dalam melihat istrinya keluar, dari kejauhan terlihat seperti Kirana sedang berbicara dengan seseorang.
Ia kemudian menghampirinya.
"Sayang! Sedang apa kamu di luar?" tanya Arga.
Bi Titin perlahan mengangkat wajah. Saat pandangannya bertemu dengan Arga ... Seketika wajahnya berubah pucat pasi.
Matanya membulat. Bibirnya bergetar, seolah baru saja melihat sesuatu yang membuatnya ketakutan.
"Pak ... Arga!"
Suaranya bergetar, seolah baru saja melihat seseorang yang seharusnya tidak berada di rumah itu.
Sementara itu, sudut bibir Arga perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang membuat bulu kuduk Bi Titin berdiri.
"Bi Titin ...!"
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,