Nabila adalah sosok wanita yang lugu dan pemalu dimasa remajanya. Namun seperti kebanyakan remaja, Dia juga merasakan dengan apa yang dinamakan cinta. Dari cinta monyet, hingga akhirnya Dia benar-benar merasakan jatuh cinta. Dan Nabila yang merasakan cinta, diam-diam pun mengagumi dan memperhatikannya dari jauh. Akankah cinta Nabila adalah cinta sesungguhnya atau masih hanya sebuah cinta monyet, yang akan menjadi sebuah cerita kenangan yang tersimpan dalam memorinya. Baca ceritanya di Cinta Dalam Diam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arti Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seragam
Beberapa hari kemudian, Disaat Nabila sedang mau berangkat sekolah. Lagi-lagi Bu Rima datang kerumahnya.
" Maaf ya Nak Nabila. Hasan ada acara dikota kemarin. Karena kemalaman, jadinya menginap dikos-kosan temannya. Minta tolong titip seragam Hasan ya Nab." Ujar Bu Rima.Kali ini bukan modul yang dititipkan Bu Rima, Namun sebuah seragam Hasan.
' Kos-kosan cowok? Mengantar seragm!Gila! Dia pikir Aku siapa? Kurir kali yah.' Gerutu Nabila dalam hati.
" Baik Bu." Sahut Nabila. Mau tidak mau, Nabila tidak bisa menolaknya. Secara Bu Rima sahabat Ibunya.
" Terima kasih sebelumnya ya Nab. Kamu tahu kos-kosan dekat sekolah kan? Sebelah kanan sekolah. Disitu katanya Hasan menginap. " Jelas Bu Rima.
" Sama-sama Bu. Nanti Saya cari Ibu." Jawab Nabila. Secara Dia juga belum mengetahui letak kos-kosan disekitar sekolahan.
Sepanjang perjalanan, Nabila terlihat ngedumel dalam hati. Bagaimana tidak, Nabila masuk kekelas Hasan saja, Dia tidak berani. Sekarang malah kos-kosan cowok. Nabila jadi bertanya-tanya dimana otak Hasan berada. Sesekali Nabila membenarkan rambutnya yang sependek bahu itu.
" Kamu kenapa Nab?" Tanya Riani. Secara Nabila terlihat memikirkan sesuatu.
" Tidak ada apa-apa Ri. Oya nanti Kamu duluan saja yah. Aku ada perlu."
" Kemana?" Riani penasaran.
" Kos-kosan sebelah kanan sekolah."
" Bukankah itu kos-kosan cowok?"
" Iya Ri. Seragam Hasan. Bisa-bisanya Dia minta tolong sama Ibunya titip sama Aku. Padahal rumah Kurnia kan lebih dekat." Celoteh Nabila. Secara walaupun Nabila sosok pemalu dan pendiam. Namun aslinya kalau sudah mengenalnya, Nabila termasuk sosok yang cerewet juga.
" Apa! Hasan?" Riani terkejut.
Nabila pun sadar kalau Riani tidak mengetahui bahwa Hasan adalah tetangganya.
" Iya Ri. Kami tetanggaan. Tetangga jauh maksudnya." Jelas Nabila.
Riani pun manggut-manggut mengerti.
" Hampir Aku salah paham." Celetuk Riani.
Nabila mengerutkan keningnya.
" Aku kira Kalian diam-diam berpacaran." Jelas Riani.
" Tidak mungkin! Itu tidak akan mungkin terjadi." Sahut Nabila.
" Benarkah? " Goda Riani.
" Iya benar lah." Sahut Nabila kesal.
Dan saat itu angkutan umum berhenti tepat didepan sekolahan Mereka.
" Sampai jumpa nanti. " Ucap Riani melambaikan tangannya dan masuk ke gerbang sekolahan. Sedangkan Nabila membelokkan langkah kakinya ke kanan. Dia menuju kos-kosan yang dimaksud.
Karena kesal, Nabila pun memberanikan diri mengetuk kos-kosan tersebut. Dan selang tidak lama pintu terbuka. Seorang murid cowok jurusan IPA keluar. Nabila tidak mengetahui siapa namanya. Namun wajahnya tidak asing. Dia sepertinya teman sekelasnya Hasan.
" Eeee..." Nabila bingung.
" Iya. Cari siapa?"
" Hasan." Sahut Nabila to the point.
Cowok tersebut terlihat terkejut.
" Sebentar." Jawabnya lalu masuk kembali.
Tidak selang lama Hasan terlihat keluar. Namun wajahnya sudah segar. Sepertinya baru selesai mandi. Dia tersenyum melihat Nabila. Senyuman yang menjadi ciri khasnya saat bersama Ibunya. Hingga membuat Nabila salah tingkah dan menundukkan kepalanya.
" Titipan dari Bu Rima." Ucap Nabila menyerahkan bingkisan titipan tersebut tanpa memandang wajah Hasan.
" Terima kasih." Ucap Hasan.
" Sama-sama." Sahut Nabila. Nabila pun buru-buru meninggalkan tempat tersebut. Dia sangat malu.
Nabila langsung melangkahkan kakinya menuju sekolahan. Siswa siswi lainnya juga baru terlihat berdatangan. Nabila terlihat buru-buru menyelusuri koridor kelas menuju ke kelasnya.
Saat sudah didalam kelas. Nabila terlihat lega. Bagaimanapun amanah sudah terselesaikan. Nabila terlihat fokus kembali.
Tidak selang lama Gina terlihat datang. Namun wajahnya terlihat badmood dan kurang bersahabat.
Gina langsung duduk dan mengeluarkan bukunya. Tanpa menyapa Nabila dulu seperti biasanya. Nabila pun menjadi bingung. Dan bertanya-tanya sendiri. Mungkinkah Dia telah membuat kesalahan terhadap Gina. Akhirnya Nabila memberanikan diri bertanya pada teman sebangkunya tersebut.
" Apa Aku telah membuat kesalahan?" Tanya Nabila.
" Hmmm. Aku rasa Kamu telah membohongiku. Kamu dan Hasan berpacaran kan?" Tanya Gina membuat Nabila langsung menelan ludah karena syok.
" Tidak. Kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa." Jelas Nabila. Namun Gina masih terlihat tidak percaya.
" Lalu bagaimana bisa Kamu mencarinya tadi pagi di kos-kosan Eki." Ujar Gina. Dan Nabila baru sadar, siapa Eki. Teman sekelas Hasan yang tadi pagi membukakan pintu untuknya.
" Eki?"
" Iya, Eki teman sekelas waktu kelas sepuluh. Tadi tanpa sengaja Dia keceplosan saat Kita bertemu didepan pintu gerbang." Jelas Gina.
" Sepertinya Kamu salah paham Gin. Aku bertemu dengan Hasan, untuk mengasihkan titipan seragam dari Ibunya. Secara kemarin Hasan ada acara dikota dan kemalaman kata Ibunya." Jelas Nabila membuat Gina terlihat mengerti.
" Jadi Kalian benar-benar tidak ada hubungan apa-apa?" Tanya Gina masih memastikan.
Nabila tertawa.
" Jelas tidak lah Gin. Hasan bukan tipeku banget. Dia publik speakingnya bagus banget. Sedangkan Aku? Sama sekali tidak cocok Gin. " Ujar Nabila berharap Gina tidak lagi salah paham padanya.
" Baiklah. Maafkan Aku. Aku kira Kamu telah membohongiku gara-gara Kamu tahu Aku menyukainya." Gina meminta maaf pada Nabila.
" Tidak Gin. Buat apa Aku membohongimu."
Nabila dan Gina terlihat akrab kembali. Hingga akhirnya jam istirahat berbunyi. Namun Nabila memilih tidak mengambil jam istirahat tersebut. Secara hari ini hari Sabtu. Satu mata pelajaran lagi Mereka pulang.
Nabila dan Gina memilih belajar pianika untuk mata pelajaran selanjutnya. Hingga sebuah suara keras dan terdengar sebuah kemarahan terdengar olehnya.
" Br*ngs*k!" Ucap Intan langsung terduduk.
Nabila dan Gina yang sedang latihan pianika untuk pelajaran selanjutnya. Pelajaran musik yang paling menakutkan bagi Nabila dan teman-temannya.
" Sabar Tan." Ucap Vina teman satu bangkunya mencoba menenangkannya.
" Ada apa?" Tanya Gina penasaran. Intan masih tertunduk dengan kemarahannya. Dan Sani menoleh ke arah Gina.
" Hasan menolaknya." Jelas Vina.
Nabila langsung terhenti dari membaca not baloknya. Begitu juga Gina. Dan Mereka langsung saling berpandangan.
" Alasannya apa?" Tanya Gina penasaran. Secara Gina menyukai Hasan.
" Katanya Dia sudah punya kekasih." Jelas Vina.
" What!!!" Gina terlihat terkejut.
" Bukankah di sekolah ini belum ada yang berstatus sebagai kekasihnya? Mungkinkah berbeda sekolah? Apa Kamu pernah melihatnya Nab?" Gina menoleh ke arah Nabila, Secara Gina mengetahui bahwa Nabila tetangga Hasan.
Nabila menggelengkan kepalanya dan seingat Nabila, Hasan selalu bersama Ibunya. Tidak pernah Nabila melihat Hasan membonceng seorang cewek. Walaupun sepertinya sekarang Hasan sudah difasilitasi dengan sepeda motor oleh orang tuanya.
" Mungkin mereka LDR." Ucap Nabila tiba-tiba asal tebak dan jelas ngawur.
" Bisa jadi." Jawab Gina terlihat kecewa dengan prediksi Nabila.
" Sudahlah Tan. Kamu kan cantik. Banyak juga yang menyukaimu. Lihatlah Iwan, Leo dan Febrian. Mereka tak jauh kalah tampan dan menarik dari Hasan." Jelas Vina sedikit menghibur sahabatnya tersebut. Sedangkan Gina langsung menahan ketawanya.
" Masih mending Kak Lutfi daripada Mereka semua." Bisik Gina ke Nabila. Dan Nabila langsung terkejut. Secara Lutfi adalah salah satu orang yang pernah Nabila tolak.
" Eh, Bagaimana ini? Ketukan setengah berurutan buat pusing kepala saja." Gerutu Nabila tidak ingin mendengarkan cerita roman sedang terjadi.
Nabila kembali fokus membaca not balok yang tersusun rapi. Sambil memainkan pianika.
To be continued