Kisah seorang gadis yatim piatu yang berusaha melarikan diri dari sang paman yang hendak menjualnya, hingga membuatnya bertemu dengan seorang lelaki asing yang akhirnya membuat wanita itu kehilangan mahkota paling berharganya.
Kejadian satu malam yang terjadi antara Kenzo dan Zahira meninggalkan bekas yang tak bisa dilupakan dalam kehidupan seorang gadis yang bernama Zahira.
Beberapa minggu setelah peristiwa itu Zahira dinyatakan hamil.
Kini Zahira harus kehilangan pekerjaan dan mengandung anak dari seseorang yang sama sekali tidak ia kenali.
Entah kemana harus mencari seorang yang hanya ia kenal dalam kisah satu malamnya itu.
Bagaimana nasib Zahira dan anak dalam kandungannya? dan akankah Zahira mempertahankan kehamilannya tanpa Kenzo?
~Yuk ikuti Kisah Zahira dan Kenzo~
~By A.dinart~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.dinart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Periksa ke Dokter Kandungan.
Pagi ini Zahira sedang membantu Oma Rima yang sedang menyiapkan makan siang untuk tamunya.
Meskipun Oma Rima melarangnya, namun Zahira tetap saja bersikeras untuk membantunya di dapur.
"Rara," seru Oma Rima pada Zahira.
Oma mengganti panggilan Zahira menjadi Rara, katanya supaya lebih mudah menutut oma.
Zahira pun menyetujui usulan dari Oma Rima, begitupun dengan yang lain, termasuk Gavin dan ART di rumah Oma Rima.
"Ya Oma," sahutnya seraya mendekat pada Oma Rima.
"Kamu gak mual bau bau masakan di dapur?"
"Alhamdulillah, tidak oma."
"Oh ya, berapa sih usia kandungan-mu itu? Hebat loh, dulu waktu oma hamil usia muda tu gak bisa mencium bau masakan apapun selalu saja muntah."
"Mungkin dede bayinya tahu oma, karna gak ada ayahnya jadi gak manja, hihi" ucapnya seraya terkekeh.
"Kata siapa gak ada ayahnya, aku juga bisa jadi ayahnya, bukan begitu oma?" sahut gavin tiba tiba dan membuat Zahira terkejut.
Dan Oma Rima hanya menanggapi dengan senyuman.
Sesaat suasana di dapur menjadi hening setelah kedatangan Gavin.
Dua bulan Zahira tinggal bersama oma dan Gavin, cukup membuat Gavin mengagumi sikap ramah dan kebaikan serta kelembutan seorang Zahira. Gavin jatuh hati pada wanita hamil itu.
"Kamu udah pulang Vin? Bagaimana kerjanya hari ini lancar?" tanya Oma Rima memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Alhamdulillah lancar Oma, Gavin sengaja pulang cepat, hari ini Gavin udah janji akan mengajak Rara ke dokter kandungan."
"Ya sudah kalian pergi saja sana, ini biar oma sama embak yang lanjutin , tinggal sedikit lagi." titah sang oma.
"Tapi oma, Masa Rara tinggalin, nanti aja la mas Gavin, perginya sebentar lagi, tunggu semua udah selesai ya."
"Gak bisa Rara, nanti dokter kandungannya keburu pulang loh, lagian aku udah janji di jam ini dengan dokter Fani."
"Udah sana Non Rara, biar saya sama Bu Rima aja yang selesaikan ini." Timpal sang ART .
"Baiklah, aku ganti baju dulu ya mas."
"Sepuluh menit Ra," ucap Gavin dengan sedikit berteriak karna wanita itu sudah semakin jauh meninggalkan dapur.
"Oma, bagaimana jika aku menikahi Rara, oma setuju kan?"
"Oma sih setuju saja Vin, tapi masalahnya apakah Rara mau kamu nikahi?"
"Ya nanti Gavin akan coba bicarakan dengan Rara, asalkan oma sudah memberi restu."
"Apapun keputusanmu oma ikut saja Gavin, yang akan jalani rumah tangga itu kan kamu bukan oma."
"Terimakasih oma." Gavin memeluk oma dengan sayang.
Zahira muncul dengan mengenakan dress khusus ibu hamil yang dipesankan oma secara online.
Dress setinggi lutut dengan motif bunga sakura membuat kecantikan Zahira terlihat semakin sempurna.
Gavin menganga dibuatnya.
Baginya wanita hamil satu ini, sangatlah cantik dimatanya. Gavin selalu berpikir siapakah sosok lelaki yang tidak mau bertanggung jawab pada wanita secantik Rara. Sungguh lelaki yang sangat bodoh menurut Gavin.
"Ayo mas, aku sudah siap!"
Ucapan Zahira membuyarkan lamunan Gavin.
Bahkan Oma Rima pun sampai tersenyum geli melihat sang cucu begitu terpesona dengan kecantikan Zahira.
"Eh, Ra. Ayo." Gavin menjadi gugup sendiri.
Lalu mereka segera pamit pada Oma Rima.
Didalam perjalanan hanya hening. Tak ada obrolan apapun diantara Gavin dan Zahira.
"Ra, boleh aku tanya sesuatu?" Gavin mencoba memecah keheningan didalam mobil.
"Ya, mas."
"Apa kamu tidak ada rencana untuk mencarikan ayah untuk anakmu?"
"Tidak mas, aku hanya ingin hidup berdua dengan anakku kelak," sahut Zahira dengan begitu mantap dan yakin.
"Kamu yakin, bagaimana jika suatu saat anakmu bertanya tentang ayahnya?"
Sungguh Zahira tidak pernah terpikir ke arah sana.
Pertanyaan itu membuat Zahira terdiam seketika, wanita itu tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Aku sedang tidak mau membahas itu mas,"
"Mau tak mau kamu harus mau ra, pikirkan tentang masa depan anakmu," ucap Gavin mencoba memberi Zahira pengertian.
"Entahlah mas, aku sama sekali tidak pernah berpikir sampai ke posisi itu."
"Saat masih bayi mungkin anakmu tidak akan bertanya hal itu, tapi saat dia beranjak BALITA kamu harus siapkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaannya tentang siapa ayahnya jika tidak ada sosok ayah disampingnya."
Zahira kini menundukkan wajahnya. Ia pun membenarkan semua perkataan Gavin.
Namun sama sekali tidak berniat untuk menggantikan Kenzo dalam hatinya.
Meskipun percintaan itu hanya satu malam tapi bagi Zahira itulah yang pertama dan terakhir membiarkan lelaki menyentuhnya selain Kenzo.
Sampai takdir mempertemukan mereka kembali Zahira telah berjanji untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun.
Namun perkataan Gavin yang menurutnya juga benar itu membuat pendiriannya sedikit goyah. Zahira mulai terpikir bagaimana ketika sang anak bertanya tentang ayahnya, apa yang akan Zahira katakan pada sang anak mengenai Kenzo yang kini entah dimana.
Tanpa terasa mobil yang Gavin kendarai telah memasuki area rumah sakit.
Gavin menghentikan laju mobilnya. Saat telah tiba didepan salah satu ruangan seorang dokter kandungan.
Gavin mengajak Zahira masuk kedalam ruangan.
"Siang pak GaVin," sapa sang dokter cantik.
"Siang juga dokter Fani, ini istriku namanya Rara, segera periksa kondisi kandungannya."
"Baiklah, silahkan Bu Rara, anda bisa berbaring disini," ucap dokter tersebut seraya menunjuk tempat baring pasien yang berada didepannya.
Sementara Zahira hanya bengong, sama sekali tidak menyangka jika Gavin akan mengakui dirinya sebagai istrinya.
Entah kenapa diperlakukan seperti itu oleh Gavin membuat Zahira sedikit Risih. Dalam hati terus bertanya kenapa Gavin mengakui Zahira adalah istrinya kepada dokter Fani itu. Apa maksud Gavin dengan semua itu.
Semua pertanyaan itu terus menari di atas kepala Zahira.
"Baiklah kandungan istri anda sangat sehat Pak Gavin, dan jenis kelaminnya sudah bisa kita lihat ya dan ternyata seorang jagoan." dokter tersebut terus menjelaskan mengenai perkembangan bayi yang berada didalam perut Zahira.
Mendengar semua itu membuat Gavin begitu antusias. Tanpa sadar tangan Gavin mengelus lembut puncak kepala Zahira.
Zahira menyadari Gavin sangat bahagia saat mendengar penjelasan dari dokter Fani mengenai pertumbuhan anak yang ada di dalam perutnya.
Matanya tak berkedip dan terus menatap Gavin yang sedang mengajukan beberapa pertanyaan tentang bayi yang berada didalam perut Zahira.
Andaikan lelaki itu adalah ayah yang sesungguhnya dari anak yang saat ini Zahira kandung, mungkin semua itu akan membuat Zahira begitu bahagia mendapat perhatian seperti itu.
Namun nyatanya semua itu hanyalah keinginan yang tidak akan pernah terwujud. Kenzo sama sekali tak mencari keberadaannya pikirnya.
Sudahlah Zahira jangan pernah berharap lebih dari hubungan yang hanya terjadi satu malam itu. Jika lelaki itu akan bertanggung seperti janjinya pasti dia akan mencarimu . Tapi nyatanya tak sama sekali.
"Baiklah Dokter Fani, terima kasih untuk semua penjelasannya," ucap Gavin pada sang dokter seraya beranjak dari kursi yang berada dihadapan dokter Fani.
"Sama-sama Pak Gavin. Dan satu lagi Pak Gavin, jangan terlalu sering melalukan hubungan intim karena istri anda masih hamil muda."
Uhuk uhuk...
Zahira terkejut hingga tersedak ludahnya sendiri mendengar saran terakhir dari dokter.
Berbeda dengan Gavin yang terlihat biasa saja mendengar ucapan dokter tersebut.
"Ra, kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin yang hanya mendapat gelengan kepala dari Zahira.
"Baiklah dok, kalau begitu saya permisi," pamit Gavin akhirnya.