Berliana Arumi adalah seorang gadis yang sudah diikat dengan tali perjodohan dengan kakak angkatnya yang bernama Satrio Permana. Rasa kasih sayang yang besar membuat kedua orang tua Arumi takut akan kehilangan sosok Satrio. Sehingga mereka menjodohkan Arumi anak kandung mereka dengan Satrio yang sudah diasuh dari kecil. Setelah Satrio dewasa,Satrio menjadi ragu akan perasaannya kepada Arumi. Ditambah dengan kehadiran sosok Niken Saputri. Satrio menjalin hubungan dengan Niken, tujuannya untuk meyakinkan perasaannya kepada Arumi Apakah Satrio mencintai Arumi atau hanya menyayanginya sebagai adik. Arumi tidak menerima alasan apapun setelah mengetahui hubungan Satrio dengan Niken. Perasaan Arumi sangat hancur. Arumi sudah bertekad akan menganggap Satrio hanya sebagai kakak tidak lebih. Akankah Arumi melupakan perasaannya kepada Satrio? Sedangkan Satrio selalu ada di sampingnya walaupun hanya sebagai seorang kakak. Ikuti kisahnya di Jejak Arumi yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juju Juhartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. MIMPI BURUK MEMBUAT PERJUANGAN USAI
Cinta Arumi semakin melemah. Akan tetapi cinta Satrio semakin bertambah. Arumi ingin melepaskan. Akan tetapi Satrio tidak mau kehilangan. Arumi yang egois. Satrio yang menangis. Arumi ingin melupakan mimpi. Akan tetapi Satrio ingin mewujudkan mimpi.
Arumi yang menangis sangat menyayangkan hubungannya dengan Satrio. Pernikahan yang direncanakan sejak dari kecil terancam gagal. Hari bahagia yang dinantikan tidak akan pernah terjadi. Arumi mencoba untuk menenangkan diri serta pikirannya. Arumi mengusap air matanya dan kembali memandang rambut Satrio.
"Kak, bangun Kak. Kakak, bangun Kak. "
Dengan perlahan Arumi menepuk-nepuk punggung jari jemari Satrio. Arumi memberanikan diri membangunkan Satrio. Dengan perlahan Satrio Pun bangun dan beralih memandang Arumi.
" Rumi Butuh sesuatu. Rumi lapar atau haus mau minum? "
Satrio yang mengira jika Arumi membangunkannya karena butuh sesuatu, Satrio pun bertanya apa yang diinginkan Arumi. Sedangkan Arumi menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Kakak jangan tidur di kursi, nanti badan kakak pegal-pegal. Keadaanku sudah membaik. Kakak tidur di sofa saja supaya nyaman. "
Arumi tidak tega, jika harus melihat Satrio tidur dengan posisi tersebut.
" Kakak tahu. Itu hanya alasan Rumi. Rumi ingin menjauh dan menghindari kakak. Semarah dan sebenci itukah Rumi pada Kakak. Sehingga kakak tidak boleh menampakan diri kakak di depan Rumi. Haruskah Kakak pergi jauh dan menghilang. Apakah itu yang kamu inginkan Rumi? "
"Tidak Kak. Jangan bicara seperti itu. "
Arumi menetaskan air matanya setelah mendengar penuturan Satrio. Satrio yang melihatnya langsung menghampiri dan mengusap air mata Arumi. Satrio tidak bermaksud untuk membuat Arumi bersedih ataupun menangis.
"Maafin Kakak, Rumi jangan menangis. kakak tidak sanggup untuk melihatnya. Sekarang Rumi istirahat, jangan banyak pikiran biar cepat sembuh. "
Satrio membetulkan selimut yang dipakai Arumi dan mengusap-usap tangan Arumi. Satrio melakukannya agar Arumi terlelap dan melupakan percakapan barusan. Arumi pun menurut dan memejamkan matanya. Setelah melihat Arumi tidur dengan nyenyak, Satrio pun ikut tidur dengan posisi seperti semula. Satrio tidak akan beranjak sedikitpun dari Arumi.
Arumi sedang berjalan diantara gundukan sampah yang menggunung. Arumi merasa heran, kenapa dirinya berada di tempat seperti itu? sampah-sampah yang terdiri dari plastik-plastik baik yang berwarna hitam, putih dan merah. Sampah-sampah tersebut tertumpuk menjadi satu. Arumi terus berjalan dengan menginjak-nginjak sampah tersebut. Langkahnya terhenti tatkala Arumi mengenali benda-benda yang tergeletak di hadapannya. Arumi memperhatikan benda-benda tersebut satu persatu. Benda-benda tersebut terdiri dari sepatu tas pakaian buku jam tangan dan sebuah bingkai foto. Benda-benda tersebut adalah benda yang Arumi hadiahkan pada saat Satrio berulang tahun. Arumi berjongkok dan mengambil bingkai foto tersebut. Bingkai yang Arumi rangkai dengan menggunakan cangkang kerang. Dimana di dalam bingkai tersebut terdapat potret dirinya yang sedang digendong oleh Satrio di bagian punggung. Tawa ceria menghiasi potret keduanya. Arumi pun ikut tersenyum setelah melihat potret tersebut. Senyuman Arumi langsung menghilang setelah merasa ada yang janggal. Arumi bangkit dan memperhatikan benda-benda itu kembali. Sedangkan bingkai foto tetap berada di tangannya. Kenapa hadiah-hadiah ini ada di tempat pembuangan sampah? Apakah Satrio yang membuangnya? Tapi kenapa?
Arumi mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok Satrio dan ingin meminta penjelasan. Akan tetapi Arumi tidak menemukannya. Arumi pun berpikir jika Satrio berada di rumah. Arumi mempercepat langkahnya dengan bingkai foto di tangannya. Tiba-tiba Arumi sudah berada di dalam rumahnya. Tidak terlihat keberadaan kedua orang tuanya. Rumah itu terlihat sepi. Arumi pun tersadar akan tujuannya yaitu mencari sosok Satrio.
"Kakak. "
Setelah melihat Satrio berada di depan pintu kamar milik Satrio, Arumi pun menyapanya. Satrio yang memunggunginya berbalik menghadap Arumi dengan satu kotak kardus ditopang kedua tangannya.
"Ini, kakak kembalikan. "
Satrio menyerahkan satu kotak kardus tersebut. Arumi yang tertegun pun menerimanya dan menaruh bingkai foto tersebut di atas kotak kardus. Satrio langsung berbalik dan membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah pintu tertutup, Arumi langsung tersadar dan mengejar Satrio. Arumi susah payah membuka pintu karena keberadaan kardus tersebut. Arumi menggerakkan gagang pintu dan membuka pintu tersebut dengan punggungnya. Alangkah terkejutnya setelah Arumi melihat kamar Satrio. Bingkai foto serta satu kotak kardus itu pun jatuh berserakan. Terkejutnya Arumi membangunkan Arumi dari alam mimpi. Arumi terduduk dengan nafas yang memburu. Karena pergerakan Arumi Satrio pun menjadi terbangun.
" Rumi Kenapa? Apa Rumi mimpi buruk? "
Satrio langsung menghampiri dan duduk di atas tempat tidur menghadap Arumi. Satrio memegang kedua pundak Arumi untuk memastikan keadaannya. Satrio melihat Arumi yang kacau dengan tatapan kosong dan nafas yang tidak beraturan. Seketika Arumi pun langsung tersadar dan memeluk Satrio dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya tidak leluasa Arumi gerakan karena terpasang selang infus.
"Ka-kak ja-ngan per-gi. Ka-kak ja-ngan ma -ti. "
Arumi menangis sesegukan Sehingga terbata-bata dalam berbicara.
" Tenanglah Rumi. Itu hanya sebuah mimpi. "
Satrio melepaskan pelukan dan mengambil botol air minum dan membukanya. Lalu duduk kembali dan memberikannya kepada Arumi.
" Ini minumlah, supaya Rumi tenang. "
Arumi pun menerimanya dan meminumnya. Setelah itu botol tersebut ia kembalikan kepada Satrio. Satrio pun bangkit untuk meletakkan botol tersebut dan duduk kembali di atas tempat tidur.
"Coba cerita sama kakak. Mimpi apa yang Rumi alami? "
Satriao bertanya kepada Arumi. Satrio ingin menjadi pendengar yang baik. Setelah mendengar cerita tentang mimpi yang Arumi alami. Satrio berharap dapat berbuat sesuatu atau memberi nasihat untuk menenangkan Arumi.
"Rumi bermimpi. Kakak membuang semua hadiah dari Rumi. Ada sepatu pakaian buku jam tangan dan bingkai foto kita Kak. Rumi digendong di punggung kakak di foto itu. Rumi mencari-cari kakak untuk minta penjelasan. Waktu ketemu Kakak, Kakak memberi Rumi satu kotak kardus. Lalu kakak masuk ke dalam kamar kakak. Rumi pun menyusul. Akan tetapi, setelah Rumi Buka pintu yang Rumi lihat area pemakaman. Huhuhu... Ka-kak ja-ngan ma-ti. Huhuhu...Ru-mi ter-ke-jut dan lang-sung ba-ngun Huhuhu...."
Setelah Arumi bercerita tentang mimpinya. Arumi pun menumpahkan kembali air matanya. Satrio pun memeluk Arumi untuk menenangkannya.
"Tenang Rumi, itu hanya mimpi. Lihat Kakak baik-baik saja. Kakak akan selalu berada di samping Rumi. "
Dalam pelukan tersebut, Satrio mengusap-usap dengan lembut punggung Arumi. Arumi mengusap air matanya dan melonggarkan pelukannya. Lalu Arumi menggenggam jari jemari Satrio.
"Rumi ingin Kakak berjanji. Kakak tidak boleh pergi atau berbuat hal nekat hanya karena Perubahan status kita. Rumi berjanji akan menjadi adik yang baik untuk kakak. Panggilan Kakak Cansu akan Rumi ubah menjadi Kakak TBK. Kakak ingin tahu tidak kepanjangan dari TBK itu apa? TBK itu terbaik. Jadi, Kakak TBK adalah Kakak terbaik. Bagaimana Kak? "
Arumi dengan ceria, meminta kesediaan Satrio untuk menyepakati perjanjian yang dibuat Arumi. Satrio terpaku dan tidak merespon. Sungguh berat perjanjian tersebut. Perjuangan untuk mendapatkan Arumi kembali harus berakhir.
" Rumi Kakak ke toilet dulu. Kakak sudah tidak tahan. "
Satrio bergegas ke toilet. Di dalam toilet tubuhnya lemas dan bersandar pada pintu. Satrio morosot dan duduk di lantai. Satrio menjambak rambutnya berkali-kali dan meneteskan air matanya. Satrio ingin menumpahkan kesedihannya di dalam toilet tersebut.
BERSAMBUNG