Semua terasa nyata di depan mata, dia kembali sebagai orang asing bertahun tahun aku mencarinya. Kini bukanlah soal menyakiti atau menyakitkan, tapi soal mempertahankan sebuah hubungan persahabatan yang telah lama menghilang. Dia bukan lagi gadis kecil cantik anggun melainkan cewek yang ditakuti semua orang yang banyak korban sebagai bahan buly nya.
Di bawah hujan yang deras di tepi pantai bergejolak angin yang kencang, hatinya yang sedang tak karuan semuanya menghilang dia tak tahu arah jalan pulang. Malam menutupi bumi yang cerah kini semuanya gelap gulita, aku ingin berteriak namun semuanya sia-sia, Badannya merasakan gemetaran yang hebat, pikirannya sempat hilang tak karuan ke mana, ternyata kunang-kunang kecil terbang dalam bayangan hingga akhirnya bayangan itu hilang. Namun dia tertangkap dalam pelukan tak sempat tergeletak dalam pasir, pelukan itu aku mengenalnya pelukan sahabatnya waktu kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaulhya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Sebuah Kecurigaan
...“Sebuah kecurigaan, yang semakin terlihat"...
...***...
Amel rasa satu hari sekolah sudah sangat lelah, Amel membaringkan badannya di tempat ruang TV, Amel mengambil Foto waktu kecilnya di dalam tas dan menatap foto Dewita, dan bergumam siapa Arlita sebenarnya, aku harus cari tahu siapa Arlita.
Amel memikirkan kejadian selama di sekolah, dan mengapa Amel merasa Arlita itu adalah Dewita.
“Amel kamu gak langsung mandi? Mandi dulu sana nanti keringat kamu nempel lagi,” Bunda Amel selalu saja mengingatkan untuk mandi, Amel pun segera pergi ke kamar untuk mandi. Setelah selesai semuanya Mandi, makan, dan sekarang pun telah menunjukan pukul 18.00 telah larut malam. Amel ingin pergi keluar ke Supermarket terdekat untuk mencari makanan dan meminta izin terlebih dahulu kepada Ayah Bundanya, dan akhirnya mereka mengizinkan Amel untuk pergi keluar sebentar di tengah malam seperti ini.
Amel berjalan menyusuri rumah-rumah dipinggir, menuju supermarket, Amel sedikit mencuri segarnya malam hari ini, meskipun angin malam tidak baik untuknya tapi Amel merasakan hatinya tenang seketika. Amel akhirnya sampai menuju Supermarket, Amel mencari sedikit cemilan yang Amel sukai termasuk coklat, ada beberapa yang Amel pilih untuk menjadi makanan cemilan nya, sekarang tinggal Amel untuk ke kasir membayarnya, Amel melihat siapa yang ada dihadapan nya namun dia tidak melihat Amel, Amel rasa Amel mengenalinya. Cowok itu pergi keluar setelah membayar yang ia beli, sekarang giliran Amel yang membayarnya.
Amel berlari menghampiri cowok yang Amel temui di Supermarket.
“Hey, Kamu, Anak siswa SMK Mutiara Bangsa kan?” Cowok itu menoleh dan menatap Amel, namun cowok itu tidak menjawabnya sama sekali, hanya saja mengangguk sebagai tanda menjawab pertanyaan nya.
“Kenalin Namaku Amelia Anjani,” Amel menjulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan Amel kepadanya, namun cowok itu langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa sedikit pun membalas perkenalan Amel.
Amel pulang dengan isi kepala yang selalu bertanya, siapa cowok itu, dia terlalu dingin. Berkenalan pun dia tidak mau.
Sebentar lagi menuju rumahnya, untuk menuju rumahnya Amel harus menyeberang terlebih dahulu. Amel menengok ke arah kiri ternyata ada sebuah mobil yang melajunya sangat cepat, Amel memejamkan matanya, berteriak sekencang kencangnya sambil memejamkan matanya, Amel pasrahkan diri mungkin tidak akan lagi selamat.
“Woy Lo bisa gak sih, nyebrang lihat-lihat dulu!” Teriakan cowok yang keluar dalam mobil, sedangkan Amel masih menutup matanya dan berteriak. Amel mulai membuka matanya dan ternyata dirinya masih selamat. Amel melihat cowok yang dihadapan nya yang akan menabrak Amel ternyata lagi-lagi cowok yang ngeselin.
“Lo lagi, Lo mau bunuh gue?” Nada Amel tidak lagi seperti biasanya.
“Siapa yang mau bunuh Lo, gak ada gunanya, Lo yang sembarangan nyebrang gak lihat-lihat kanan kiri, itu salah Lo,” Cetus cowok yang katanya bernama Alvin
“Jelas-jelas itu Lo main kebut-kebutan di jalanan,” Amel mengeluarkan matanya yang ingin keluar.
“Gue banyak urusan, buang-buang waktu debat sama Lo,” Alvin langsung saja menaiki mobilnya tanpa berkata maaf kepada Amel, sedangkan Amel terus saja berteriak mengatakan bahwa Alvin belum meminta maaf kepadanya.
Amel terus saja menggerutu setiap Amel bertemu dengan cowok yang ngeselin bernama Alvin, tapi Amel dalam hati kecilnya terlintas dengan cowok yang Amel temui di Supermarket tadi. Setelah sampai rumahnya, terus saja rasa penasaran Amel bercampur dengan rasa kesal Amel. Amel memutuskan untuk tidur yang tadinya berniat untuk makan coklat terlebih dahulu.
“Amel sayang bangun,” Bundanya terus saja mengetuk pintu Amel, membangunkan Amel yang terus saja tidur sedangkan ini sudah siang.
“Amel bangun, mau sekolah kan Mel, ini sudah mau jam tujuh,” Mata Amel langsung terbuka dan melotot, Amel bakalan kesiangan masuk sekolah. Amel langsung buru-buru mandi siap-siap untuk pergi ke sekolah tanpa sarapan pagi terlebih dahulu.
Benar saja gerbang sekolah sudah di tutup, Amel tak bisa lagi masuk sekolah karena Amel terlambat begitu lama. Amel memutuskan untuk pergi ke warung yang ada di belakang sekolahnya untuk makan pagi, karena Amel merasa perutnya terus saja berbunyi, Amel berjalan menghampiri warungnya, sudah sampai di warung Amel langsung saja memesan makanannya.
“Bi, Ayam panggang nya satu,” Amel memesan makanan bersamaan dengan cowok yang bernama Alvin.
“Lho Lo ngapain disini,” Amel menanyakan keberadaan Alvin yang kenapa tiba-tiba Alvin disini juga sama seperti Amel.
“Gue yang harusnya tanya sama Lo, Lo ngapain tumben datang kesini, gue si ya sering,” Amel terdiam ternyata Alvin sering mengunjungi warung di belakang sekolahnya.
Amel dan Alvin duduk berdua karena pesanan mereka berdua sudah ada.
“Gue kesiangan, mangkanya gue gak bisa masuk sekolah, gue belum makan, mangkanya gue ke sini, dan Lo, Lo sering ya masuk kesiangan,”
“Ya begitulah, sudah biasa buat gue,”
“Oh, iya kan Lo anak nakal, pantas saja sih buat Lo yang kebiasaan nya kaya gini,” Amel sedikit meledek Alvin.
Mereka berdua selesai makan, Amel yang ingin membayarnya ternyata lebih dulu dengan Alvin.
“Bi, nih uangnya sekalian sama dia ya Bi,” Alvin menatap Amel, sedangkan Amel menggerutu kepada Alvin karena makanan nya yang dibayar oleh Alvin, Amel mengasih kan uangnya kepada Alvin sebagai tanda membayar makanannya Amel.
“Lo mau bayar hutang Lo kan ke gue, Ayo ikut gue,” Alvin menarik Amel, untuk ikut naik motor bersama Alvin.
“Lepas, gue gak mau ikut Lo,” tangan Alvin di tepis Amel, Amel takut untuk di apa-apa kan oleh Alvin, namun Alvin tetap saja mencengkam tangan Amel untuk ikut bersama Alvin, namun pada akhirnya Amel ikut bersama Alvin naik motor, Amel tidak tahu akan di ajak ke mana oleh Alvin, Amel sangat ketakutan dalam hatinya.
“Turunin gue, mau di bawa ke mana gue, Lo jangan macam-macam ya sama gue,” Amel terus saja memukul punggung Alvin, namun Alvin malah tertawa melihat Amel ketakutan.
“Gue gak akan macam-macam sama Lo, tenang saja,” Amel memang sedikit lega setalah mendengarnya, namun tetap saja Amel harus waspada kepada Alvin, karena Amel belum tahu siapa Alvin, apakah orang baik atau tidak.
Seketika mata Amel melotot, Amel ternyata di bawa ke sebuah puncak yang memang pemandangan nya sangat indah. Amel dan Alvin turun untuk menikmati pemandangan di sekitarnya, Amel menoleh kepada Alvin sehingga Alvin pun menoleh kepada Amel.
“Kenapa, Lo kaget kenapa gue bawa Lo kesini,”
“Iya, kenapa Lo bawa gue kesini,”
“Ya, kali saja Lo suka dengan pemandangan nya, ini tempat gue untuk menenangkan perasaan gue kalau gue resah ataupun banyak masalah,” Alvin menghembuskan nafasnya sehingga terdengar sekali oleh Amel, karena udara nya sangat kencang. Alvin berteriak sekencang mungkin dan ternyata bersamaan dengan Amel yang berteriak kencang, meluapkan semua beban yang ada dalam dirinya masing-masing. Amel dan Alvin tertawa bersama karena mereka baru saja menyadarinya berteriak secara bersamaan.
“Lo lagi punya masalah ya,” cetus Amel
Alvin hanya tersenyum kepada Amel dan menggelengkan kepalanya, namun Amel bisa menebaknya kalau Alvin sedang mempunyai masalah.
“Yuk kita ke sana, Lo mau?” Alvin memecahkan keheningannya, sedangkan Amel hanya mengangguk tanpa menjawab. Mereka berdua kali-kali tertawa bersama tanpa merasa bahwa mereka sudah lama di puncak, bentar lagi sore sedangkan anak sekolah pasti sudah pulang, sedangkan Amel masih menikmati pemandangannya. Amel mengajak Alvin untuk pulang, karena takut Ayah Bunda Amel khawatir, lalu Amel di antarkan pulang oleh Alvin ke rumahnya.
“Mel Makasih, dan maaf soal semalam gue mau nabrak Lo,” Alvin yang tadinya so gengsi mengatakan maaf atau cowok yang ngeselin, ternyata sekarang melontarkan kata maaf nya untuk Amel.
“Iya, So gue sudah lupain itu,” jawabnya Amel.
Alvin tersenyum kepada Amel, dan Amel masuk ke rumahnya, dilanjut Alvin yang pulang ke rumahnya, dan tak lupa Amel yang melambaikan tangannya.
mampir ya ke novel perdana saya===>>semangat sLL untk berkarya