Indri Maharani tidak menyangka hidupnya akan berada dalam kuasa Putra Kedua Garadha, Mark Garadha.
Sebuah pernikahan yang berisi kesepakan menyebabkan ia hidup sebagai pelayan di luar dan menjadi wanita milik Mark Garadha saat di dalam rumah.
Mark Garadha, karena obsesi dan rasa kecewanya akan takdir yang tidak menyatukan ia dengan cinta pertamanya. Membuat pria itu menciptakan ide gila dari sebuah skenario pernikahan yang akan mengikat sahabat dari cinta pertamanya, Indri Maharani sebagai aksi kekecewaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Ya ampun, apa semalam kita tidur dalam posisi seperti ini?"gumam Indri dengan mata membulat sempurna.
Dipagi hari yang masih gelap dengan dinginnya kota Paris, Mark tampak nyaman memeluk pinggang Indri. Bahkan pria itu menenggelamkan wajahnya pada dada Indri.
Tidak ingin paginya terancam buruk karena omelan pedas Mark, Indri menyingkirkan tangan yang membelit pinggangnya itu. Tapi tangan kekar itu justru semakin erat saja memeluk pinggang kecil Indri.
"Aduh ini Tuan Mark, kok tambah erat meluknya,"gumam bibir tipis Indri.
Gadis itu kembali melakukan usahnya melepaskan tangan kekar Mark, dan usaha itu membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Mark terlentang karena tadi Indri cukup keras menyingkirkan tangan pria itu.
Lalu dengan sangat hati-hati Indri menarik tubuhnya menuruni kasur. Indri yang ceroboh memang selalu saja terlibat masalah karena dirinya sendiri.
Gubrak.
Gadis itu terjatuh dengan posisi kaki tersangkut pada selimut sedangkan tubuh dan kepalanya ada di lantai.
"Aw, sakit,"ringisnya menyentuh kepala yang bisa saja benjol karena kecerobohannya.
Indri mencoba menggoyangkan kakinya yang tersangkut itu agar lepas dari selimut tebal tersebut.
"Mau dibantu?"ucap Mark dengan suara dalamnya.
"T-Tuan Muda Kedua...Sudah bangun?"gagap gadis itu menatap Mark yang telah duduk dengan rambut acak-acakannya dan menatap Indri dengan senyuman smirknya.
"Kamu kira apa?"ujarnya lalu meraih kaki Indri membuat gadis itu memekik tak ingin disentuh.
"Jangan! Tidak perlu Tuan,"serunya.
Bisa tambah masalah jika Mark membantunya. Dengan tabiat Mark yang selalu perhitungan bisa saja pria itu akan menghitung bantuannya dengan nominal uang.
"Sayangnya sudah,"balas Mark tersenyum iblis lalu melepaskan kaki Indri ke lantai begitu saja.
Indri terduduk lemas menatap kakinya yang baru saja ditolong oleh Mark. Sampai ia tidak menyadari posisi Mark yang telah bangun dari kasur dan tengah jongkok di depannya.
"Tiga puluh Euro,"ujarnya mengagetkan Indri.
"Hah?"
"Bantuan tadi, nilainya tiga puluh Euro, jadi jika ditotal dengan seluruh hutang Kamu menjadi..."
"Sudah cukup Tuan, cukup! Sepertinya Saya memang harus membayar dengan seumur hidup menjadi pelayan Anda. Saya mohon dengan sangat, lain kali tidak perlu menolong jika akhirnya ada tiga puluh Euro,"utas Indri dengan tatapan kesalnya.
Tiga pulu Euro setara dengan lima ratus ribu. Bagaimana bisa Indri terbebas dari Mark jika hampir setiap harinya Mark menambahkan nominal hutangnya.
Tawa Mark pecah dan justru terdengar merdu di telinga Indri. Sial sekali gadis itu, ditengah kekesalannya pada Mark dia justru terpesona dengan tawa renyah Mark.
'Sadar Indri, dia suami yang sangat kejam dan perhitungan. Jangan terpesona akan ketampananya,"rutuknya dalam hati.
"Jika Saya tidak mau bagaimana?"ucapnya dengan senyuman yang sangat menyebalkan.
"Ck, terserah Anda Tuan, Anda yang berkuasa,"ujar Indri kesal, lalu bangkit dari posisinya dan meninggalkan Mark menuju kamarnya.
Sementara Mark tersenyum miring, di pagi hari hatinya sudah dibuat senang karena telah membuat kesal Indri yang terlihat menyenangkan di mata pria itu.
Dengan hati riang, Mark melangkah mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi
Hari ini sekitar pukul sembilan pagi dia akan mendatangi galeri karena ada pameran lukisannya yang sudah terjadwal.
Mentari telah keluar sepenuhnya dari persembunyiannya. Mark telah siap dengan pakaian formalnya yang menambah kesan tampan pada wajah pria tersebut.
Pria itu duduk di meja makan sembari menatap Indri yang tengah menata makanannya di atas meja. Mark meleyalkan kepalanya pada tangan yang ia jadikan tumpuhan di atas meja tersebut.
Entah tengah kerasukan setan dari mana, Mark terus menerus menatap Indri dengan tatapan yang membuat Indri merasa tidak nyaman dengannya.
"Silahkan di makan,"ucap Indri mempersilahkan Mark. Gadis itu berbalik hendak meninggalkan meja makan.
"Kamu ingin melunasi hutangmu,"celetuk Mark sukses membuat Indri kembali berbalik menatap pria itu.
"Iya Tuan Muda Kedua,"ucap Indri dengan semangat.
Jika ia bisa melunasi hutang pada Mark atas kerusakan kursi yang katanya bernilai ratusan juta itu ditambah setiap harinya Mark menambah nilai hutangnya dengan segala hal yang ada saja. Setidaknya ia ingin lekas terbebas dari Mark, toh Kanaya juga sudah bahagia bersama Jacob lalu Bapaknya tidak lagi dipenjara.
Mark tersenyum lebar, dia memiliki banyak cara untuk mengerjai istri kecilnya itu. Dan sepertinya ide-ide yang berputar pada otaknya satu persatu akan ia wujudkan dengan dalih agar Indri bisa bebas dari hutangnya.
"Kemarilah,"ucap Mark.
Indri berderap mendekati pria itu lalu berdiri disampingnya.
"Suapi Saya,"ucap pria itu membuat kedua mata Indri membola sempurna.
"Anda sedang mengerjai Saya, Tuan,"desis Indri.
"Tidak, Saya akan menjelaskan caranya setelah sarapan. Tetapi saat ini Saya sedang tak bertenaga untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut,"ujar Mark seraya membuka mulutnya.
Demi melunasi hutang, pada akhirnya Indri rela melakukan kemauan pria itu. Ia menarik kursi untuk ia duduki lalu mulai menyuapi Mark. Awalnya wajah gadis itu tampak masam setiap kali menyuapi Mark namun teguran Mark membuat Indr terpaksa tersenyum panas padanya.
"Jika kamu menampilkan wajah masam seperti itu, Aku tidak akan mau memberimu cara melunasi hutangnya bahkan aku akan menambah dua persen,"ancam pria itu.
"Jangan Tuan, ini saya tersenyum. Hi..."
"Satu lagi, gunakan tangan Kamu. Aku rindu Indonsesia,"ucap Mark lagi.
Demi apa, Indri benar-benar harus menyiapkan kesabaran yang ekstra tebal menghadapi pria macam Mark ini. Tetapi demi hutang dan ya kesepakatan awal pernikahan pafa akhirnya Indri harus menurut untuk menyuapi Mark dengan tangan dan memberikan senyuman lebarnya meski hati gadis itu dongkol.
Mark tersenyum puas karena lagi dan lagi bisa membuat istri kecilnya itu menurut dan tunduk dalam tekanannya. Pria itu melakukan sarapan paginya dengan begitu lahap bahkan ia meminta satu porsi lagi.
"Akhirnya,"gumam Mark dengan mengelus perutnya yang sudah kenyang.
"Sekarang katakan, Tuan. Apa yang bisa Saya lakukan untuk melunasi hutang itu, apakah Anda akan memberi pekerjaan baru?"tanya Indri menggebu.
Mark melirik sekilas Indri dengan ekor matanya, raut antusias itu begitu menggemaskan di matanya dan rasanya Mark ingin mengunyel-unyel pipi cuby Indri.
"Sebentar, tunggu disini!"titahnya.
Mark berjalan meninggalkan Indri di meja makan, ia pergi ke dalam kamarnya selama beberapa saat lalu kembali dengan sebuah berkas di tangannya. Kemarin saat ia menunggu Indri yang pergi bersama Nancy, Mark memikirkan banyak ide untuk mengerjai seorang Indri dan membuat gadis itu kesal.
"Baca ini,"ucapnya menyerahkan berkas tersebut kepada Indri.
Indri mulai membaca berkas dengan halaman bertuliskan besar nan tebal dengan keterangan "Pelunasan Hutang" itu.
Baru saja Indri membuka halaman pertama, gadis itu sudah dibuat terkejut lalu menutupnya dan menatap tak percaya Mark.
"Anda serius Tuan? Ini..."
***
anak siapa itu?