Indonesia
NovelToon NovelToon
My Little Girl - Hanya Denganmu Ku Bahagia -

My Little Girl - Hanya Denganmu Ku Bahagia -

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: edh_

Bagaimana bisa Ray jatuh hati pada seorang gadis yang hanya pernah dilihatnya sekali saja. Sudah lima tahun berlalu dan dia sama sekali tidak bisa melupakan sosoknya. It's My Little Girl.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edh_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MyLiGi - BAB 8

"Oh ya, Re, gue lupa bilang ya sama lo."

Zacky berkata pada Ray saat keduanya sudah keluar dari kantor di jam yang sudah menunjukkan hampir pukul empat sore untuk menuju ke resto. Keduanya kini berada di mobil milik Zacky. Sedangkan mobil milik Ray terpaksa harus dia tinggal di sana. Dan besoknya Ray harus berangkat bersama dengan papanya.

"Bilang apa?"

Ray yang kini sedang menyetir bertanya pada Zacky.

"Besok lusa Bang Jaja mau ke sini." Ujar Zacky.

"Besok lusa? Ngapain?"

"Gue nggak tahu ada urusan apaan. Tapi katanya ada urusan sama Om Barata. Harusnya sih udah dari minggu kemarin Om Barata minta Bang Jaja buat pulang. Tapi baru sempetnya minggu ini, dan itu besok lusa dia baru bisa pulangnya." Jelas Zacky.

"Tadi pagi sewaktu ketemu Om Barata, beliau nggak bilang apa-apa ya sama gue."

"Gue sendiri juga nggak tahu. Bang Jaja juga nggak bilang apa-apa selain bilang mau pulang karena di suruh Om Barata. Udah itu aja."

Ray mencoba berfikir untuk apa Om Barata memanggil Bang Jaja yang beberapa tahun ini memilih merantau di negeri orang. Dan pastinya papanya juga tahu akan hal itu, tapi kenapa papanya itu juga tidak mengatakan apapun padanya.

"Eh, Re, kok lo lewat sini?"

Zacky berkata saat menyadari jika mobil yang dikendarai oleh Ray melewati jalan lain. Jalan yang sebenarnya bisa juga untuk menuju ke arah resto. Tapi itu akan memakan waktu yang lebih lama daripada persimpangan jalan tadi yang seharusnya lurus saja.

"Gue pengen muter-muter dulu bentar." Sahut Ray dengan santainya.

"Kalo mau muter-muter dulu dari awal kita keluar dari kantor kek. Kita bisa ke pantai, mall, atau tempat lainnya. Ini udah mau sampai ke resto dan tinggal lurus di jalan yang tadi baru bilang mau muter-muter dulu." Gerutu Zacky.

"Nggak usah bawel deh. Siapa suruh gue yang nyetirin lo. Harusnya lo yang nyetirin gue. Gue itu lebih tua dari lo, dan lo nggak bisa bersikap manis sama abang lo yang satu ini."

"Hiii, ngapain harus bersikap manis sama lo."

Ray mendengus mendengar ocehannya.

Tak berapa lama tiba-tiba Ray mengerem mobilnya. Membuat Zacky kembali mengoceh dengan kesalnya.

"Busett dah—napa ngerem mendadak sih, Re?"

"Sorry, Je." Ujar Ray langsung meminta maaf pada pria itu sambil perlahan menepikan mobil yang sedang dikendarainya.

"Untung nggak ada mobil atau motor yang dekat di belakang kita."

Ray mengabaikan Zacky yang terus mengomel karena sikapnya barusan. Karena pandangan pria itu kini tertuju pada sosok gadis yang dikenalinya yang baru saja masuk ke dalam angkutan umum yang berada beberapa meter di belakang mobilnya.

"Oh ya, ini kan dekat sama tempat tinggal dia." Pikir Ray yang baru menyadari daerah yang sedang dilewatinya kini.

"Lo lagi ngelihat apa sih, Re?" Tanya Zacky yang penasaran apa yang sedang di lihat olehnya.

Zacky sampai menoleh ke belakang dan tak ada apapun yang menarik perhatiannya selain hanya kendaraan-kendaraan yang lewat di jalanan jalur satu arah ini.

"Bukan apa apa." Sahut Ray sekenanya.

Ray lalu kembali melajukan mobil yang dikendarainya mengikuti tepat di belakang angkutan umum yang sudah jalan lebih dulu itu. Pandangannya pun lurus menatap angkutan umum itu agar tidak kehilangan jejak darinya.

"Mau kemana dia?" Gumamnya.

Ray terus mengikuti angkutan umum itu sampai akhirnya berhenti tepat di seberang sebuah pasar tradisional dan beberapa penumpang mulai turun dari sana. Termasuk juga dengan gadis itu.

"Ngapain lo berhenti di sini? Lo mau belanja di pasar? Lo mau beli apaan?" Tanya Zacky yang melihat sikap aneh Ray yang menatap ke arah pasar tradisional itu.

"Gue pergi dulu bentar."

Ray berucap sambil keluar dari mobil. Membuat Zacky terkejut dengan sikap darinya.

"Busett dah, lo main tinggalin gue gitu aja."

Zacky menggerutu yang tak di dengar oleh Ray karena dia yang sudah berlari menjauh dari mobilnya. Zacky mendengus kesal dan terpaksa harus mengambil alih posisi duduk Ray untuk mencari tempat parkir sebelum menyusul saudaranya itu masuk ke area pasar.

Ray terus mengikuti gadis itu dengan tetap menjaga jarak antara posisinya saat ini dengannya. Dia tidak ingin sampai gadis itu menyadari keberadaannya yang sedang mengikutinya sampai ke pasar tradisional ini.

Ray dapat melihat gadis itu kini berhenti di dekat sebuah mobil pick up yang berisi dua keranjang sayur dan juga ada satu keranjang kecil berisi buah strawberry di bagian belakang mobil itu. Ray juga melihat dia sedang menyapa pada seorang pria dewasa yang datang menghampirinya. Mungkin dia pemilik mobil pick up itu.

Tapi yang membuat Ray ada perasaan sakit di hati adalah saat kedua matanya juga melihat ada sosok pria lain—yang seusia dengannya—yang berjalan menghampiri gadis itu. Dia yang tersenyum ramah padanya dan juga pria itu yang membalasnya.

"Siapa orang itu?"

***

"Mau kemana, Na? Bukannya lagi libur ya?"

Bu Susan yang sedang berada di warung kecilnya yang ada di depan rumah yang di sewanya itu terlihat bingung dengan penampilan dari Yumna yang sudah sangat rapi itu. Yumna juga sudah menenteng tas selempangnya.

Wanita dewasa yang merupakan ibu dari Jihan itupun merasa bingung pada Yumna karena hari ini adalah jadwal libur dia untuk bekerja. Jika pun ada pergantian shift dengan temannya yang lain, ini sudah di luar jadwal untuk Yumna bisa berangkat kerja di shift siang hari.

"Aku mau pergi ke pasar, Bu." Sahut Yumna pada wanita itu.

"Pasar?"

"Iya. Mau samperin Paman di sana, Bu."

"Ngapain samperin ke sana sih? Kan biasanya juga diantarkan ke sini langsung."

Yumna tersenyum.

"Nggak apa, Bu. Aku juga lagi kepengen jalan-jalan sebentar."

"Sendirian?"

"Iya, Bu."

"Terus kamu ninggalin Sena begitu aja?"

"Sena lagi tidur kok, Bu. Baru aja tuh anak meremnya. Kecapean dari tadi minta main mulu. Ada Arin juga yang nemenin dia tidur. Paling juga sebentar lagi Arin ikutan tidur."

"Kamu ke pasarnya ditemenin sama Ardan aja ya?"

"Nggak usah, Bu. Ardan juga baru pulang kuliah. Pasti lagi capek."

"Ibu cuma nggak mau kamu kenapa-napa."

Yumna tersenyum mendengar nada kekhawatiran dari wanita itu. Dia kini menggenggam tangan wanita itu.

"Aku nggak apa Bu buat pergi sendirian. Aku janji akan berhati-hati di sini." Ujar Yumna. "Aku juga udah sedikit tahu kok beberapa daerah di kota ini. Aku udah hafal."

Bu Susan menghela nafas.

"Ya sudah. Tapi—kamu beneran hati-hati ya. Kalo perlu suruh dia buat antar balik kamu ke sini. Anak-anak juga pasti seneng kalo di kunjungi sama dia."

"Iya, Bu." Ujar Yumna mengiyakan perintah dari wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. "Aku pergi dulu ya, Bu." Pamitnya.

"Hati-hati ya."

Yumna hanya mengangguk sebelum melangkah menjauh dari rumah yang di sewanya bersama dengan keluarga Jihan di kota ini. Rumah sederhana tapi masih cukup luas untuk mereka huni bersama.

Yumna berjalan menuju ke jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang nantinya melewati jalur pasar yang kebetulan juga sejalan jika dia ingin pergi ke resto tempatnya bekerja.

Hanya butuh waktu dua puluh menitan, Yumna sudah sampai di pasar. Dia langsung mencari posisi dimana mobil pick up milik pamannya itu berada, berdasarkan informasi yang sudah Yumna dapatkan ketika memberitahukan pada pamannya jika dirinya ingin menemuinya langsung di sana.

Yumna sebenarnya sudah cukup hafal daerah pasar sini. Karena dulu dia sering kali ikut ayahnya ketika akan mengantarkan pesanan dari hasil pertanian di daerahnya. Meski hanya pasar tradisional, tapi kondisi pasar ini cukup bisa dikatakan bersih dan juga rapi. Bahkan barang-barang yang di jual di sini, dari sayuran hingga buah-buahan pun selalu masih segar.

Yumna sudah menemukan mobil pick up milik pamannya. Dia pun tersenyum riang saat melihat sosok yang dicarinya baru saja kembali setelah mengantarkan barang masuk ke dalam pasar.

"Paman."

Yumna menyapa seorang pria seusia ibunya yang sudah berpeluh keringat itu.

"Sudah sampai?" Tanyanya sambil tersenyum pada Yumna.

Yumna mengangguk tersenyum.

"Paman sendirian kesininya?" Tanya Yumna yang melihat pamannya itu hanya sendirian di sini. Dia tidak melihat batang hidung dari orang itu.

"Nggak. Sama anak itu. Mungkin lagi antarkan barang yang lain. Ini juga tinggal dua keranjang aja yang belum diantarkan."

Yumna mengangguk-angguk mendengarnya.

"Ah, itu dia anaknya." Ujar paman saat melihat ada seseorang pria muda yang berjalan setengah berlari menghampiri keduanya.

Pria muda itu perlahan tersenyum saat melihat sosok Yumna yang sudah berada di sini. Sedangkan paman hendak kembali mengangkat keranjangnya yang lain yang kini berisi sayuran hijau untuk diantarkan lagi ke dalam pasar. Paman juga berpesan pada pria muda itu untuk menemani Yumna.

"Hai." Sapanya.

"Hai, Juna."

"Baru sampai atau sudah dari tadi?" Tanya Juna pada Yumna.

"Baru aja kok." Sahut Yumna.

Juna mengambil botol air mineral miliknya dan sebotol air yang masih utuh dari dalam mobil, lalu mengajak Yumna untuk mencari tempat duduk yang tidak jauh dari mobil pick up-nya itu berada.

"Sekarang udah berani ke sini sendiri ya?" Ujar Juna dengan nadanya yang bercanda.

"Kenapa nggak bisa berani? Jihan aja biasa pulang pergi sendiri kalo kerja. Ardan apalagi."

"Mereka sih beda. Udah biasa keluyuran sendirian di sini. Sedangkan kamu—"

"Ya, Aku paham, Jun."

Yumna tersenyum masam. Dan Juna memahami itu.

"Padahal setelah dari sini Aku sama Ayah ada rencana mau mampir buat antar buah strawberry-nya, tapi kamu ingin samperin ke sini langsung." Ujar Juna sambil mengacak-acak rambut Yumna. "Dan—kamu seharusnya nggak usah merasa seperti itu. Kita semua hanya merasa khawatir sama kamu. Apalagi sejak saat itu."

"Iya. Aku tahu. Dan—Aku hanya bisa bersyukur karena masih ada kalian di saat mereka semua pergi."

Juna memberikan sebotol air mineral itu pada Yumna. Dia membiarkan Yumna untuk meminumnya terlebih dahulu agar bisa membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa tercekat itu.

"Lalu—apa sudah ada info baru lagi?" Tanya Juna.

Yumna menggeleng.

"Masih sama saja. Terakhir hanya tempat itu yang masih ku ingat dan langsung Aku kunjungi. Tapi sayangnya—Aku nggak ketemu sama orang yang Aku cari itu. Kata penjaga barunya yang ada di sana, dia udah ikut suaminya ke kota asal dari suaminya itu. Dan penjaga itu nggak begitu mengenal dengan orang yang Aku maksud."

"Apa kamu tidak punya kontak dari orang itu yang bisa kamu hubungi?"

"Sayangnya—nggak, Jun. Dulu kita juga hanya bertemu dua hari aja. Dan Aku nggak ada pikiran untuk punya kontak darinya. Karena saat itu Aku dan Jihan hanya sebatas menginap saja di sana."

Juna menghela nafasnya mendengar penjelasan dari Yumna.

"Ya sudah, nggak apa. Memang akan susah buat mencari sesuatu yang kita sendiri hanya punya sedikit informasi tentangnya. Tapi—Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan bertemu dengannya. Kamu juga di sini baru beberapa bulan."

Yumna mengangguk mengiyakan ucapan dari Juna.

"Ya. Kamu benar, Jun."

1
🍉 Chin-mae 😕
lanjutkan thor
20-042Indahsebayang Sebayang
kak up nya lama sekali hehehe
edh_: iyaa, maaf ya 😁🙏
total 1 replies
❤little girl♥
semangat kk
❤little girl♥
like a mirror
20-042Indahsebayang Sebayang
gk suka lihat jihan terlalu kepoo
20-042Indahsebayang Sebayang
up lagi kak cerita nya.seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!