Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
BAB 7: Izin Resmi untuk Berdosa
[Sudut Pandang: SURA]
Bekas kasino Gareth—yang kini menjadi milik mereka—sedang mengalami "renovasi paksa".
Sura berdiri di tengah ruangan bawah tanah itu, mengawasi Lila yang sedang sibuk mengelap meja judi dengan semangat berapi-api. Lila bersikeras ingin membantu sebagai bentuk pembayaran utang budi.
"Kita buang karpet merah norak ini," perintah Sura. "Baunya seperti alkohol murah dan penyesalan. Ganti dengan permadani biru tua. Dan buang semua asbak itu. Kita bukan warung kopi."
"Baik, Bos!" seru Lila ceria. Gadis itu ternyata sangat cekatan dalam hal inventaris. Sifat pedagangnya mulai keluar. "Aku juga menemukan buku catatan rahasia Gareth di bawah lantai. Isinya daftar mahasiswa yang berutang."
Sura mengambil buku itu. "Simpan. Itu amunisi."
Tiba-tiba, pintu kayu ek di ujung tangga terbuka. Kian masuk. Wajahnya tidak santai seperti biasa. Dia membawa gulungan kertas perkamen dengan segel resmi Dewan Siswa.
"Kita punya masalah," kata Kian, melempar gulungan itu ke meja.
Sura membukanya. Itu surat Perintah Inspeksi Disiplin.
"Gareth mengadu?" tanya Sura.
"Gareth terlalu pengecut untuk mengadu," jawab Kian, menuangkan air dari teko ke gelas. "Tapi kekacauan semalam menarik perhatian Valius. Ketua Disiplin. Anjing penjaga Faksi Iron Wall."
Sura pernah mendengar nama itu. Valius. Mahasiswa tahun keempat yang rumornya tidak pernah tersenyum sejak lahir. Dia memegang otoritas untuk membubarkan klub ilegal dan mengeluarkan anggotanya.
"Kapan dia datang?" tanya Sura.
TOK! TOK! TOK!
Gedoran keras di pintu utama menjawab pertanyaan itu. Suara gedorannya begitu kuat hingga debu berjatuhan dari langit-langit.
"Buka atas nama Dewan Disiplin!" suara berat menggema dari luar.
Kian menatap Sura. "Tiga puluh detik. Bersihkan meja judi. Sembunyikan kartu."
Sura tidak perlu diperintah dua kali. "Lila! Gulung taplak meja hijaunya! Ganti dengan taplak renda putih! Taruh buku-buku tebal di atas meja! Sekarang!"
Kepanikan yang terorganisir terjadi. Dalam dua puluh detik, kartu-kartu Triad lenyap ke dalam tong anggur kosong. Botol-botol minuman keras disembunyikan di balik rak buku palsu. Meja judi diubah menjadi meja diskusi dengan tumpukan buku ensiklopedia.
Sura menyambar kacamata baca (properti menyamar) dan memakainya. Dia duduk di ujung meja, membuka buku acak.
Kian berjalan tenang menuju pintu dan membukanya.
Berdiri di ambang pintu adalah Valius. Dia raksasa. Tingginya hampir dua meter, dengan bahu selebar lemari. Seragamnya dikancingkan sampai leher, tanpa satu kerutan pun. Di belakangnya, dua anggota disiplin membawa tongkat pemukul.
"Minggir, Arselio," geram Valius.
"Selamat siang, Ketua Valius," sapa Kian ramah, menghalangi jalan. "Ada perlu apa Anda mengunjungi klub belajar kami yang sederhana ini?"
"Klub belajar?" Valius mendengus. "Jangan menghinaku. Gareth melapor bahwa tempat ini adalah sarang judi ilegal. Dan kau baru saja merebutnya."
Valius mendorong Kian minggir dan menerobos masuk. Matanya yang tajam menyapu ruangan. Dia mencari botol minuman, kartu, atau uang di atas meja.
Tapi yang dia temukan hanyalah Sura dan Lila yang sedang duduk manis, membaca buku Filsafat Etika Moral.
Valius mengerutkan kening. Dia berjalan mendekati meja Sura. Dia mengambil buku yang dibaca Sura.
"Nona Valerine," kata Valius dingin. "Kau membaca buku ini terbalik."
Sura menatap Valius dari balik kacamatanya. Jantungnya berdegup kencang, tapi wajahnya sedingin es. Dia perlahan memutar buku itu.
"Ini teknik membaca cepat kuno dari Selatan, Ketua," jawab Sura datar. "Membaca terbalik melatih otak kanan untuk mengenali pola kata lebih cepat. Anda harus mencobanya. Mungkin itu bisa membantu Anda rileks sedikit."
Salah satu anak buah Valius menahan tawa, tapi langsung diam saat Valius melirik tajam.
"Geledah tempat ini," perintah Valius.
Anak buahnya mengobrak-abrik ruangan. Mereka membuka lemari, memeriksa bawah meja. Tidak ada kartu. Tidak ada uang.
Valius tampak kecewa. Dia berjalan ke arah Kian.
"Aku tahu kau main kotor, Arselio. Aku bisa mencium bau uang haram di ruangan ini."
"Penciuman Anda mungkin terganggu oleh bau buku-buku tua ini, Ketua," balas Kian tenang. "Seperti yang Anda lihat, kami sedang mengajukan proposal untuk melegalkan tempat ini sebagai Klub Riset Probabilitas & Statistik."
Kian menyodorkan selembar formulir pendaftaran klub yang baru saja dia tandatangani tintanya masih basah.
Valius membaca formulir itu dengan jijik. "Riset Probabilitas? Kedok untuk judi?"
"Studi akademis tentang teori peluang, Ketua," koreksi Sura, berdiri di samping Kian. "Kami menganalisis kemungkinan matematis dalam pengambilan keputusan. Apakah itu dosa?"
Valius menatap Sura dan Kian bergantian. Dia tahu dia sedang dibohongi. Tapi dia adalah orang yang taat aturan. Tanpa bukti fisik (kartu atau uang), dia tidak bisa menutup tempat ini.
Valius meremas formulir itu dan melemparkannya kembali ke dada Kian.
"Dengar baik-baik," desis Valius, mendekatkan wajahnya ke wajah Kian. "Aku tidak peduli siapa ayahmu. Aku tidak peduli seberapa banyak uangmu. Di Akademi ini, Peraturan adalah Tuhan. Sekali saja aku menemukan satu keping koin taruhan di sini... aku akan menyeret kalian berdua ke tiang gantungan di alun-alun sekolah."
Valius berbalik, jubahnya berkibar dramatis. "Ayo pergi. Di sini buang-buang waktu."
Pasukan disiplin itu berderap keluar. Pintu terbanting menutup.
Sura merosot kembali ke kursinya, menghembuskan napas panjang. Kakinya gemetar hebat. Berhadapan dengan Valius rasanya seperti berdiri di depan kereta api yang sedang melaju.
"Dia berbahaya," gumam Sura. "Dia bukan seperti Gareth yang serakah. Valius itu fanatik. Dia tidak bisa disogok."
"Benar," Kian tersenyum, tapi kali ini senyumnya terlihat lebih serius. Dia memungut formulir yang diremas Valius dan meratakannya di meja.
"Musuh yang punya prinsip adalah musuh yang paling merepotkan, Sura."
"Jadi apa rencana kita?" tanya Lila cemas. "Kita berhenti main judi?"
"Tentu saja tidak," jawab Kian dan Sura bersamaan.
Mereka saling pandang dan menyeringai.
"Kita hanya perlu mengubah kemasannya," kata Kian. Dia mengambil sebuah koin emas dari saku rahasianya.
"Mulai sekarang, kita tidak bertaruh menggunakan uang emas di meja," jelas Kian. "Kita akan menggunakan Token Akademik. Lila, tugasmu adalah menjual token ini di luar ruangan. Di dalam sini, secara teknis, kita hanya bermain menggunakan 'poin plastik' yang tidak bernilai uang."
"Celah hukum," Sura mengangguk kagum. "Jika Valius menggerebek lagi, dia hanya akan menemukan kita bermain dengan plastik. Transaksi uangnya terjadi di luar pengawasannya."
"Tepat," Kian menatap sekeliling ruangan bawah tanah itu. "Dan tempat ini... mulai hari ini resmi bernama The Sanctum."
Kian berjalan ke arah papan tulis kapur di dinding. Dia menulis satu kalimat besar di sana:
ATURAN NO. 1: JANGAN PERNAH TERTANGKAP.
"Selamat datang di era baru Faksi Golden Key," kata Kian, mengangkat gelasnya ke arah Sura dan Lila.
Sura mengangkat gelas jus delimanya. Dia melihat sekeliling. Ruangan ini, teman-teman ini, bahaya ini... untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sura merasa dia berada di tempat di mana dia seharusnya berada.
"Untuk aturan yang dilanggar," Sura mendentingkan gelasnya.
Mereka minum.
Namun, di luar sana, Sura tahu Valius sedang mengasah pedangnya. Perang dingin baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar uang saku, tapi eksistensi mereka di Akademi.