Bagaimana rasanya jatuh cinta dengan seseorang yang sudah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HuskyUsagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 09
“Mamataka di sini. Sekarang kami sedang berada di kediaman keluarga kaya Shirogane. Di mana hari ini adalah hari perayaan keberhasilan perusahaan yang dibangun Nyonya Shirogane.”
Jepretan-jepretan kamera, mobil-mobil yang terparkir di latar yang amat luas, suara gemuruh dari para reporter, dan kebisingan lainnya yang datang sekitar empat puluh menit yang lalu. Mereka sudah mengantri untuk meliput pesta perayaan Nyonya Shirogane, Shirogane Sally Watson.
Berbagai reporter dari beberapa stasiun televisi nasional maupun radio nasional, mereka sibuk dengan tanggapan para artis yang sengaja diundang untuk merayakan keberhasilan kedua perusahaan milik Nyonya Shirogane. Yang pertama adalah perusahaan makanan berkaleng. Untuk kedua ini adalah perusahaan pakaian yang laris selama tujuh bulan berturut-turut dan memenangkan penghargaan sebagai direktur tersukses tahun ini.
“Nyonya Shirogane, bisa beri komentar Anda tentang kesuksesan yang dicapai?”
“Hmm.. Tentu. Aku sangat senang dengan perusaan pakaianku ini. Berjalan mulus, walau terkadang terpeleset.”
“Apa ini merepotkan?”
“Cukup merepotkan. Tapi hasilnya bagus, kan?”
Seluruhnya mengangguk setuju dengan pernyataan Nyonya Shirogane. Memang tak dapat di ragukan lagi jika nantinya perusaan entah keberapa pun akan sukses di tangannya. Pasalnya dia sudah terkenal di penjuru pulau Jepang maupun negara tetangga—Korea Selatan—bahwa dia pengusaha sukses dua tahun belakangan ini.
Bukan hanya sebagai pengusaha saja, namun ia juga terkenal karena karya-karya tulisnya yang amat digemari banyak remaja, terutama remaja perempuan. Karena tulisan tangannya menggandung cerita romantis yang menyentuh, dan juga perjuangan mengenai perasaan seseorang terhadap gadis.
Hampir seluruh bukunya menjadi TOP BEST SELLER dan menempati kategori Novel Remaja Romantis. Tak jarang ia mendapatkan piala-piala awards dalam sekali acara khusus dibidang karya tulis.
Mari kita tinggalkan mengenai anak bangsawan terakhir keluarga Watson yang berasal dari Negara Paman Sam, yakni Inggris. Kita pindah ke anak tunggal Shirogane. Siapakah dia? Dia adalah Shirogane Shinji. Penerus keluarga Shirogane yang sekarang diuji kesabarannya dalam kerumunan menyebalkan.
Sejak pagi Shinji memilih tidak sekolah dengan alasan ingin membantu acara perayaan ibunya. Namun tidak sesuai dengan ucapannya, justru dia mengurung diri di kamar karena tak tahan dengan keramaian. Menurutnya itu tidak nyaman, tidak bisa bebas seperti anak-anak sekolah menengah pertama lainnya.
Dia remaja berumur tujuh belas ta—ah bukan, mulai hari ini adalah delapan belas tahun usianya. Di mana hari ini adalah hari perayaan kesuksesan ibunya sekaligus ulang tahunnya yang hanya hadir setahun sekali. Rasanya sakit di dalam hatinya, namun ia tidak bisa mengutarakannya, karena itu hanya sia-sia.
Genggaman tangannya pada gelas kaca berisi wine Jerman yang dipesan ayahnya membuat retakan kecil. Pelayan yang tak jauh darinya segera mendekatinya dan akan meraih gelas tersebut lalu menggantinya dengan gelas yang baru. Shinji menolak, ia menjauh dari keramaian.
Langkahnya terhenti saat wartawan mengerubunginya. Lagi-lagi seperti ini, keadaan yang tak disukainya. Keramaian yang membuatnya pusing tujuh keliling. Tak ada kebebasan di dalam sini. Hanya ocehan dan pertanyaan menggundang amarah bagi Shinji.
“Minggir! Aku ingin sendiri!” gertaknya kepada media yang menyiarkan perayaan ini secara langsung. Beberapa diantaranya meninggalkan anak tunggal Shirogane, ada pula yang masih diam di sana menunggu jawaban Shinji.
Percuma jika menunggu jawabannya, Shinji takkan memberikan jawaban yang memuaskan. Ia sedang dalam keadaan tak baik sekarang. Pasti tidak ada harapan untuk bisa berbicara dengannya walau hanya sepatah kata saja. Raut wajahnya tidak ada pancaran persahabatan.
Ia mendengus kesal saat sampainya di balkon rumah mewahnya. Pandangannya menatap ke bawah. Banyak mobil-mobil terparkir di depan rumah. Tak jarang ada limosin panjang sekitar hampir sepuluh meter hanya untuk diisi dua orang penumpang atau kurang dari lima orang—termasuk supirnya.
“Bahkan orang tuaku tidak menyadarinya, jika hari ini ulang tahunku. Menyebalkan, mereka hanya memikirkan karier, bukan keluarganya. Kenapa aku hidup di keluarga bodoh ini?!” gerutunya kepada hidupnya yang kelam, tak mendapat banyak kasih sayang yang banyak namun mendapat perhatian dari media.
Namun, entah apa yang merasuki otaknya. Tiba-tiba ia berpikir hal aneh pada dirinya. Rencana untuk besok pagi, di mana besok keputusan untuk dirinya harus tiada atau tetap tinggal di dunia ini. Hanya itu, kalian pasti tahu apa yang dimaksud. Yap, bunuh diri..
...* * *...
Breeeem.. Brem Brem..
Suara mesin mobil pribadi milik Shinji menggema sampai dalam rumahnya yang mewah. Seperti menggreram tak terima, Shinji terus menginjak gasnya serta rem mobil berulang kali, menghasilkan kebisingan yang menjengkelkan. Kedua orang tuanya keluar dari rumah dengan pakaian santai dihari Minggu.
“Shinji! Apa yang kamu lakukan?! Jangan berisik!” protes ibunya lalu kembali masuk ke dalam rumah. Dress biru laut seperti mata anaknya terbalut rapi di badannya. Suaminya berdiri di pintu mobil Shinji dengan wajah suramnya. Dahinya mengrenyit kesal.
“Shinji, matikan mobilnya!” perintah Tuan Shirogane sembari menggedor-gedor kaca mobil warna gelap milik anaknya. Tidak menjawab, Shinji membuka kaca mobil dan memunculkan kepalanya dari sana. Ia menatap ayahnya heran. “Tapi aku ingin main,” tolak Shinji bernada murung.
Ayahnya tidak terima, ia memaksa anaknya untuk keluar. Cukup lama Shinji tak mau keluar dari kendaraan pribadinya. Dengan bantuan pelayan lainnya, Shinji pun mengalah dan keluar dari sana. Menggerutu tak jelas saat ayahnya mulai menyemprotkan banyak omelan padanya.
Sudah biasa jika Shinji mendapatkan ocehan panjang kali lebar dari kedua orang tuanya. Jelas, karena dialah penerus satu-satunya keluarga kaya ini. Kalau dia tidak disiplin dan diajarkan tata krama, Shirogane tidak akan bertahan selama empat tahun setelah Shinji menerima jabatan sebagai pemilik kedua perusahaan keluarga.
Ia dibawa ke ruang sidang, yaitu di lantai dua rumahnya. Di sanalah ayah dan ibunya berada, menunggu alasan tentang perbuatan Shinji yang tak enak dipandang mata. “Jelaskan apa maksudmu mengganggu kami. Kamu tahu, kan, hari ini hari Minggu,” ujar Nyonya Shirogane duduk bersilang kakinya.
“Maafkan aku. Tapi sungguh, aku hanya ingin bermain saja. Kalian bahkan tidak tahu, kemarin malam saat perayaan adalah hari ulang tahunku. Kemana kasih sayang kalian padaku dulu? Apa aku harus memakan uang kalian? Uang penghasilan kalian? Enak saja, aku hidup perlu kasih sayang, bukan hanya uang,” ketus Shinji tak mau kalah dengan orang tuanya yang sudah membesarkannya sejak bayi sampai berumur genap delapan belas tahun.
Tuan Shirogane tak habis pikir. Anak yang sangat ia percayai dapat mengurus perusahaan keluarganya, berani berkata seperti itu dengan wajah datar. Namun ini bukan hanya salah Shinji, tapi salah mereka juga. Perayaan yang bisa dirayakan beberapa kali dalam setahun dapat melupakan hari besar anaknya sendiri, ulang tahun Shinji.
Nyonya Shirogane terdiam. Ia menatap anaknya dengan tatapan sayu, mengisyaratkan bahwa dirinya menyesal dengan perayaan aneh dan tidak penting untuk keluarganya. Kalaupun Nyonya Watson ini mau menjadi terkenal, tak perlulah merayakan hal biasa seperti itu, karena beberapa tahun yang lalu dia pernah merasakan hal yang sama, yaitu merayakan keberhasilan perusahaan pertamanya yang sukses besar.
Shinji tidak mau mendengar apapun yang dikatakan kedua orang tuanya. Permintaan maaf memang masuk ke telinga kirinya, namun ia buang dari telinga kanan. Mendengus tak suka, Tuan Shirogane menggebrakkan mejanya karena tidak mau mendapat respon jelek dari anaknya sendiri. Dia harus di hormati!
Sang Raja Shirogane penggila hormat itu mendekati Shinji dan mencengkram kerah pakaian kotak-kotak Shinji. Ia menggenggam erat kerah tersebut seraya menatap kedua mata anaknya tajam. “Apa-apaan kamu ini? Aku tak pernah mengajarimu seperti ini! Sopan sedikit padaku!”
“Apa yang perlu sopan pada seorang ayah yang lupa dengan ulang tahun anaknya sendiri, penggila hormat, dan penggila harta? Dasar rakus!”
“Apa?! Sialan! Berani-beraninya kamu menjelek-jelekkan ayahmu sendiri!” teriak Tuan Shirogane tepat di wajah Shinji. Tak ada rasa takut yang terpancar di wajah anaknya itu. Hanya senyuman seringai dan tawa cekikikan. Shinji sudah merendahkan derajatnya, bahkan lebih rendah dari pelayan semut.
Ibunya segera merelai pertikaian mereka. Ia menangis, meminta Shinji agar meminta maaf atas apa yang telah dikatakannya. Tapi Shinji menolah untuk mengucapkan kata tersebut kepada ayahnya yang sudah menghidupinya selama ini. Amarah sang ayah semakin menggebu-gebu, sampai pangkal kepalanya. Wajahnya memerah padam menahan emosi yang berdesakan ingin keluar dari lubuk hatinya.
Belum sempat Tuan Shirogane melemparkan pukulan di kedua pipi Shinji, pelayan lainnya masuk ke ruang sidang dan menahan Raja Shirogane saat ini agar menahan amarahnya. Mereka menyeretnya di kamar, begitupun dengan Nyonya Shirogane yang mengikutinya dari belakang.
Shinji tak tahan dengan semuanya. Apapun yang diucapkannya sangat salah di telinga kedua orang tuanya. Pasti dirinya salah, selalu salah. Sementara orang tuanya— terutama ayahnya—selalu benar. Ada dua peraturan di rumah ini. Satu, orang tua tidak pernah salah. Kedua, jika orang tua salah, kembali ke peraturan nomer satu. Tidak adil.
Ikut kesal, Shinji berlari keluar rumah untuk menemui mobil sportnya. Ia memandanginya sejenak, memikirkan rencana selanjutnya untuk membalas dendam kedua orang tuanya yang tidak memberikan keadilan walau itu hanya secuil kecil roti basi.
Keadilan tidak ada di dalam rumah ini. Pikiran Shinji bercampur antara kasihan, marah, kesal, dan sedih. Kasihan jika nantinya kedua orang tuanya kesusahan saat dirinya melakukan rencana ini. Marah dan kesal dengan perlakuan yang didapatnya. Sedih jika nantinya dia malah tiada sebelum membalas semuanya.
Namun iblis jahat yang mengeram di hatinya membujuk dirinya untuk melakukan segera rencana gila itu. Amarahnya meluap-luap saat iblis itu membisikkan kejahatan yang didapatnya sewaktu kecil sampai sekarang. Hidupnya hanya akan berada di dalam belenggu peraturan keluarganya.
Segeralah Shinji masuk ke dalam mobil. Menancap gas dan memutar stirnya menuju taman kota yang penuh dengan bunga sakura yang berguguran. Mobilnya melaju sangat kencang. Suara halus namun keras menggema disetiap jalan yang dilewatinya. Pemilik mobil orang-orang yang lain berteriak protes dengan kelakuan kurang ajarnya.
Polisi-polisi yang sedang bertugas mengejarnya dengan mobil polisi maupun motor dari kantor mereka. Klaskon mobil menghiasi Minggu pagi itu. Tak banyak yang tahu jika pemilik mobil adalah anak bangsawan campuran Jepang-Inggris, yaitu Shirogane Shinji.
Teriakan demi teriakan mengiringi suara mobil-mobil yang berkejaran. “Tangkap diaaa!” teriakan dari gerombolan polisi, yang diyakini berasal dari pemimpin gerombolan tersebut. Dari dalam mobil, Shinji melihat ke spion. Ia tertawa keras. “Dasar, polisi seperti itu mana bisa menangkapku,” gumamnya menambah kecepatan mobil.
Ia merasa ada di lintasan balapan dan dilihat banyak orang. Disiarkan secara langsung bagaimana dirinya melawan kumpulan polisi dengan wajah memerah karena marah dengan apa yang dilakukannya sekarang.
Kejadian ini mengundang media yang sedang mencari berita. Mereka segera berkumpul di jalan yang akan dilintasi Shinji nantinya. Reporter membawakan acara dengan bibir menyungging, memberikan senyuman, seperti menahan tawa atas apa yang sedang terjadi.
...* * * * *...