Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Sepulang dari sekolah, Rifki memilih tidur siang hingga matahari terbenam. Memasak seperti biasa, juga makan seperti biasa, kemudian mendengarkan music sambil membaca buku di kamarnya. Iki, pria itu masih ragu untuk pindah walau dia sudah menghubungi kepala sekolah. Dia rasa, Nina–sahabatnya itu akan putus sekolah jika begitu sikapnya. Belum putus dengan satu, sudah pedekate lagi dengan yang satu. Dulu, saat masih SMA kelas satu, Nina begitu anti dengan yang namanya pacaran, tapi itu sebelum Haikal menjadi siswa baru di sekolah mereka. Setelah sebulan Haikal jadi siswa, Nina mulai terlihat centil.
"Kamu ya ... aku panggil panggil kok nggak menyahut!" Nina menatap kesal Iki yang sementara membaca buku. Lagi lagi Nina masuk lewat balkon.
"Nggak baik masuk di kamar pria normal seperti aku, Nina," ujar Iki tanpa menatap Nina.
"Cis!" Nina berdecih lalu merebahkan tubuh di tempat tidur Iki. Memejamkan mata, Nina meraih bantal guling. "Bantal kamu wangi sekali," ujarnya pelan.
Iki membiarkan Nina tidur di kamarnya, sementara dia keluar ke lantai satu. Mengambil air dingin, membawanya naik ke kamar. "Gaya tidur kamu nggak pernah berubah." Iki hanya menggelengkan kepala.
Ponsel Iki berdering, segera Iki menerima panggilan dari Novi. Belum juga menyapa, Iki disapa dengan tangis Novi yang menjadi jadi. Iki yakin, kabar tentang Haikal yang hampir menodai Nina telah sampai di telinga Novi. Sekalipun begitu, Iki tak ingin bertanya.
"Iki, maafkan aku. Aku tahu aku salah, aku mau kita balikan. Kamu mau kan?"
Iki tersenyum. "Maaf, Novi, aku sudah punya pacar."
Nina yang tadinya hanya menutup mata, detik itu juga dia membuka matanya lebar-lebar. Dia menarik diri hingga duduk. Tatapannya tak lepas dari Iki yang masih melakukan panggilan telepon dengan Novi.
"Dia melarang ku pacaran, sementara dia sendiri pacaran tapa sepengetahuanku!" umpat Nina mengepal tangannya. Tak tenang, Nina mendekati Iki. "Siapa wanita itu?" tanya Nina. Maksud dari Nina, siapa wanita yang pacaran dengan Iki. Ana anak Akutansi itu atau siapa.
"Kamu dengar sendiri kan? Kekasih ku ada bersamaku sekarang," ucap Iki pada Novi. Iki menatap Nina yang menatap kesal padanya.
Novi memutuskan panggilan secara sepihak. Tentu hal itu membuat Iki tersenyum. "Dasar wanita!" gumam Iki pelan.
Masih penasaran, Nina mengganggu Iki yang mulai mendudukkan bokongnya di kursi. Membuka buku, Iki mulai membaca tanpa menghiraukan Nina yang terus mengganggunya. "Iki, benar kamu sudah punya kekasih?" tanya Nina penasaran.
"Cis! Kau ini mengganggu sekali," Iki mendudukkan Nina di pahanya, menatap Nina sekilas kemudian menatap bukunya.
"Lepasin aku, Iki!" berontak Nina.
Iki tersenyum, dia menatap mata Nina lekat-lekat. "Dasar genit, belum putusin Haikal tapi sudah pedekate lagi dengan Zeto. Sana pulang!" Iki menurunkan Nina dengan kasar.
Nina mendengus kesal. "Hei! Aku pacaran secara terang terangan. Lah kamu, kamu sembunyi dariku!" ketus Nina menarik langka ke balkon. Menyelinap ke kamarnya, Nina terus mengumpat. Kesal tak karuan, Nina merebahkan diri di atas tempat tidur. Miring kiri kanan namun pikirannya masih terganggu soal kekasih Rifki. Kesal, Nina kembali ke kamar Iki.
Bugh!! Nina memukul bahu Iki. "Cepat jawab! Siapa lagi kekasih kamu kali ini?" tanya Nina cemberut.
Rifki terkekeh. "Penasaran bangat sih, Neng," ledek Iki.
Memanyunkan bibir, Nina masih kesal pada sahabatnya itu. "Iki, siapa wanita yang akan jadi korban itu?" tanya Nina terdengar gila.
Iki tertawa terbahak bahak. "Korban? Kau ini, mana berani aku menodai anak orang lain sebelum menikahinya."
"Cis!" Nina berdecih. "Katanya mau nikah sama aku," sindirnya lalu kembali ke kamarnya.
Masih penasaran, pagi ini Nina menunggu Iki di depan pintu rumahnya. Nina dengan seragam sekolahnya bahkan ia memegang helem ditangannya. Pintu rumah Iki terbuka, dilihatnya Iki sudah tampan dan tentunya wangi seperti biasa.
"Ngapain?" tanya Iki dengan kening berkerut.
"Nunggu kamu," jawab Nina menampilkan senyum lebarnya.
Iki menempelkan tangan di dahi Nina. "Nggak demam," gumamnya menyindir. "Sana bawa motor sendiri," usir Iki. Iki naik di atas motornya, menyalakan mesin motor lalu menatap Nina. "Mau sekolah di rumah atau di sekolah Aktif?"
Tersenyum, Nina segera naik di atas motor. "Iki, helem." Nina menyerahkan helmnya pada Iki. Iki mendesah pelan, mengambil helem dari tangan Nina kemudian menurunkan standar motornya.
"Belajar pakai helem dulu baru pacaran," sindir Iki.
"Kan ada kamu," ujar Nina dengan santai. Tatapannya tak lepas dari wajah Iki. Nina bisa mengenakan helem sendiri, tapi dia nyaman dengan perhatian Iki. Dan karena sudah terbiasa, dia lebih suka Iki membantunya.
"Iki, siapa sih kekasih kamu itu?" tanya Nina dalam perjalanan ke sekolah.
Iki tak menjawab, dia mengambil pembahasan lain hingga mereka tiba di sekolah. Membantu Nina melepas helmnya, kemudian mengajak wanita itu ke kantin. Mengambil satu bungkus makanan, dan tak lupa memesan minuman.
"Aaa ..." Iki membuka mulutnya dengan tangan yang terulur menyuapi Nina.
"Janji kamu akan beritahu aku siapa pacar kamu?" Nina berunding sebelum membuka mulutnya.
"Oke," balas Iki dengan santai.
Membuka mulutnya, Nina menerima suapan demi suapan dari Iki. Hingga satu bungkus makanan kandas dimakan berdua. Selesai, Nina menagih janji Iki. "Siapa wanita itu?"
Rifki tertawa, dia berhasil membuat Nina penasaran setengah mati. Saking penasarannya, wanita itu mengabaikan panggilan telepon dari Zeto. Bahkan dia kembali bersikap seperti sebelumnya, tak memberi jarak antara dirinya dan Iki.
"Iki ...." teriak Nina dengan kesal. Mengambil tasnya, Nina mengejar Iki yang lebih dulu ke kelas.
"Nina," panggil seseorang. Nina menoleh dan mendapati Haikal di depan kelas satu jurusan Sekretaris.
"Haikal," gumam Nina pelan.
"Ayo cepat!" Iki tiba-tiba menarik tangan Nina. "Kamu harus bisa melupakannya!" tegas Iki.
"Iki, tunggu!" Nina menghentikan langkahnya. "Kamu duluan saja, aku temui Haikal dulu," kata Nina yang berhasil membuat Iki marah namun dia hanya diam saja.
tpi keren ceritanya tingkat kan