Indonesia
NovelToon NovelToon
LITTLE BROTHER

LITTLE BROTHER

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: jihadinraz

Lilo itu berisik.
Lilo itu cengeng.
Lilo itu....

...kesayangannya Zoya.

-

Si paling absurd, si paling annoying dan si paling emosian seperti Zoya harus menghadapi kenyataan bahwa ia suka pada adiknya sendiri, Lilo.

Alias si laki-laki bego dan naif yang sayangnya tampan ini berhasil membuat kepala Zoya dipenuhi dengan berbagai fantasi liar.

Namun Zoya tidak pernah menunjukkan perasaannya secara langsung atau memberikan kode-kode klise dan berharap Lilo menyadari perasaannya.

Zoya hanya menyukai Lilo, and that's it.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihadinraz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LITTLE BROTHER (9)

"Kak...."

"Hmm...."

"Kakak."

"Ape...."

"Kak Zoya!"

Zoya yang tengah sibuk memainkan game di ponselnya langsung mendengus kala ia kalah dari permainannya tersebut.

Gadis itu menoleh pada Lilo yang sedari tadi memanggil-manggil namanya dan menatap sang adik dengan horor.

"Sebaiknya lo punya alasan bagus udah manggil-manggil gue barusan."

Lilo terdiam sejenak, "Erlan sama Kenzy itu kembar, ya?"

Zoya terbelalak. Serius? Hanya itu? Jadi waktu Zoya untuk bermain Dino loncat selama lima belas menit tadi terbuang sia-sia?

"Ngape nanya itu tiba-tiba?" Zoya melemparkan ponselnya asal ke sofa karena sudah terlanjur kesal.

"Cuma mau tau aja. Mereka berdua kelihatan deket banget satu sama lain."

"Mereka kembar. Tapi beda ibu dan beda ayah."

Lilo menghela napas ketika mendengar jawaban dari Zoya barusan. "Gue serius, Kak isshh."

"Ya elu liat aja muka dua makhluk itu. Gak mirip-miripnya sama sekali, kan? Gimana bisa disebut kembar?"

Lilo mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Soalnya mereka kelihatan deket banget."

"Ya... kalo soal itu, lo gak salah. Mereka memang udah deket dari dulu. Bahkan sebelum kenal gue."

Lilo termenung mendengarnya. Entah laki-laki itu suka memikirkan hal yang tidak penting untuknya, atau memang topik ini menarik, ia suka saja melihat bagaimana Erlan dan Kenzy berinteraksi.

Tidak bisa Lilo bayangkan bertemu, dan mengobrol dengan orang yang sama sekian tahun. Erlan dan Kenzy sudah melalui banyak hal, namun Lilo dapat melihat masih eratnya persahabatan mereka walau dengan sekali pertemuan.

Hal yang tak pernah Lilo rasakan.

Lagi ngelamun aja gantengnya gak ilang, batin Zoya terkagum melihat gemilau wajah sang adik yang bercahaya walau sedang melamun.

Lilo tersadar, "Kak...."

Zoya mengernyit, Eh? Dia denger? Kan gue ngomong dalem hati.

"Kayaknya seru ya temenan sama mereka?"

Zoya terdiam. Jangankan menjawab atau setidaknya merespons, merasa harus seperti apa saja Zoya bingung.

Di otak kirinya, Zoya berpikir bahwa topik ini adalah topik yang sangat tidak perlu untuk dibicarakan oleh anak seusia mereka. Like... C'mon! Semua pembicaraan tentang teman dan seluruh tektek bengek-nya itu membuat Zoya geli.

Tapi di otak kanannya, Zoya merasa bahwa tidak ada salahnya Lilo membicarakan ini. Karena, ya... selama di Kanada atau pun berada di lingkungan yang sama dengannya saat ini, Lilo tak pernah merasakan memiliki seseorang yang disebut 'teman'.

"Selain bisa disuruh-suruh dan dipinjemin duit, gak ada keseruan lain dari mereka. Tapi... boleh, lah." Zoya sedikit terkekeh.

"Kira-kira mereka mau gak temenan sama gue, Kak?"

Zoya geleng-geleng. Sebenarnya seberapa tabu bagi Lilo tentang pertemanan dan segala rupanya itu?

Gadis itu jadi bimbang. Ingin menjawab, tapi pertanyaan Lilo terlalu konyol. Tidak menjawab, nanti telinganya akan menjadi korban karena dibombardir oleh pertanyaan yang sama dari Lilo.

"Dari kemiringan otak, otak mereka udah sama miringnya kayak gue. Jadi kami nyambung. Kalo sama lo... entahlah," jawab Zoya kemudian.

Lilo bergidik. Apa itu artinya jika ingin berteman dengan Erlan dan Kenzy, ia harus seperti Kakak perempuannya itu?

Nope.

"Kalau itu tolak ukur untuk berteman sama mereka, kayaknya enggak dulu. Kemiringan otak lo udah stadium empat soalnya, Kak." Lilo sempat bergidik.

Zoya tersenyum, "Bersyukurlah tangan gue gak lagi pegang pisau, bocah iblis."

...(•~•)...

"Gue seneng lo jadi sering mampir."

Agnes yang sedang menggoreskan beberapa pensil warna di permukaan kertasnya nampak menoleh ke arah Lilo sambil tersenyum.

Akhir-akhir ini Lilo memang jadi lebih sering berkunjung ke gudang alias tempat bersemayam Agnes untuk menggambar. Tapi Agnes tidak terlihat terganggu sama sekali. Alih-alih terganggu, Agnes justru lebih terlihat....

...senang.

"Kalau gak ke sini, aku ke kantin bareng Kak Zoya. Lagi pula aku gak punya siapa pun lagi untuk dikunjungi."

Ketika mengingat nasibnya dalam bersosial, Lilo bahkan sudah lelah untuk merasa lelah. Lagi pula memangnya ada tempat lain selain kantin untuk bertemu Zoya, atau ke gudang untuk bertemu Agnes yang dapat Lilo kunjungi?

Ya. Tidak ada. Benar-benar tragis.

"Ah, lagi-lagi ngelantur. Maaf, Kak. Pikiran aku akhir-akhir ini memang lagi kacau."

Agnes mengernyitkan dahinya, "Soal apa?"

Gadis itu menghela napasnya panjang saat melihat Lilo hanya terdiam tanpa memberikan respons apa pun.

Kenapa Agnes bahkan sempat bingung? Tentu saja hanya ada satu alasan mengapa Lilo begini.

Karena Tem4n.

Lihat? Penulis saja sudah bosan mengetik kata itu saking sudah seringnya Lilo merasa seperti ini.

"Gue gak menyangka ini bisa rumit buat lo."

Lilo menutup mukanya sendiri, "Entahlah, Kak... Aku jadi terkesan seperti memperumit diri sendiri."

Sejujurnya, Lilo pun ingin menjadi seperti orang lain yang tak perlu pusing jika ingin berteman. Betapa enaknya orang-orang itu tidak memikirkan apa, di mana, siapa, mengapa atau bagaimana saat ingin berteman dengan orang lain.

Tapi tidak semudah itu bagi Lilo. Untuk orang-orang sepertinya, banyak sekali hal yang harus diperhatikan dan diteliti lagi saat hendak berteman atau setidaknya berkenalan dengan seseorang.

Karena dari pengalamannya, Lilo menyadari bahwa dirinya hanya objek yang dijadikan alat untuk mereka yang mengaku sebagai 'teman'-nya.

"Kakak kenal Erlan sama Kenzy?"

Agnes menghentikan aktivitas menggambarnya sejenak, lalu menoleh pada Lilo yang baru saja bertanya.

"Siapa yang gak kenal sama dua siswa nyentrik saat MPLS itu? Dan lagi, hampir semua siswi di kelas gue tergila-gila sama mereka. Jelas gue tau...."

"...Memang kenapa?"

Lilo mengernyit, "Ternyata mereka famous di kelas Kakak?"

"Hampir di seluruh sekolah lebih tepatnya."

Lilo mengangguk-angguk. Sekali lagi, ia dibuat kagum oleh kedua laki-laki itu. Di dalam novel yang selalu ia baca, atau di serial drama yang rutin Lilo saksikan, biasanya para lelaki idola sekolah itu rata-rata angkuh, sombong dan pembuat onar.

Tapi sepertinya Erlan dan Kenzy berbeda.

"Liam."

Lilo tersadar, "Ya, Kak?"

"Dari tadi lo mempertanyakan hal-hal yang bikin gue bingung. Memang sebenernya apa yang mau lo utarakan ke gue?"

"Ah... Itu. Aku cuma berpikir untuk bisa berteman, atau setidaknya gak sekedar hai-bye sama Erlan dan Kenzy."

"But that't ridicilous." Lilo malah terkekeh.

Lucu rasanya berharap memiliki sosok teman, di saat diri sendiri justru yang seolah menutup diri untuk dunia luar seperti Lilo.

Benar-benar lucu.

"Why though?"

Lilo menoleh pada Agnes yang tengah menatapnya serius. Laki-laki itu dapat melihat sang kakak kelas menaruh pensil warnanya dan mengubah posisi duduknya agar menghadap dirinya.

"Lo mau orang lain gak meremehkan lo lagi? Maka percayalah bahwa lo bisa. Lo mau membahagiakan orang yang lo sayang? Maka percayalah bahwa lo mampu...."

"...Dan lo mau keinginan lo terwujud? Maka percayalah bahwa lo bisa mendapatkan itu. Semuanya akan terasa rumit kalau kita sendiri yang mempersulit, Liam."

"You know what I mean?"

Agnes tersenyum kemudian, "Abaikan perkataan panjang lebar gue tadi kalau itu bertentangan dengan prinsip lo."

"Your life, your rules, Liam."

Lilo termenung. Laki-laki itu merasa... inilah mengapa ia suka saat berbincang dengan Agnes.

Setelah berbicara yang seakan mengguruinya, Agnes selalu memberikan 'kendali' lagi pada Lilo agar laki-laki itu tetap melakukan hal yang ingin ia lakukan.

Agnes benar-benar dewasa.

"You know what, Kak? Rasa-rasanya aku–"

"Lilo?"

Lilo dan Agnes kompak menoleh pada seorang gadis yang baru saja menaruh tumpukan buku ke salah satu meja bekas.

Lilo dapat melihat gadis dengan rambut cokelat terikat ke belakang itu kini tengah saling adu tatap dengan Agnes.

"Kak Zoya?"

...(•~•)...

"JERRY MONYEEEDDDDDDD!!!!!"

Semua murid kelas XII-IPS 1 sepertinya sudah tidak asing dengan jeritan nyaring bukan main yang keluar dari mulut Nayla barusan.

Seperti biasa, Jerry dan Nayla tampak kejar-kejaran layaknya anak TK yang sedang bermain di kelas.

Tapi yang membuatnya berbeda, adalah karena tangan Nayla sedang menggenggam erat sebuah penggaris besi tajam yang beberapa kali ia arahkan pada Jerry, namun meleset.

Kelelahan, Nayla berhenti berlari. Dengan napas yang tersengal-sengal, gadis itu duduk di bangku yang entah milik siapa dan mengipasi dirinya sendiri.

"Lo gak capek liat gue marah-marah, apa? Balikin bedak gue!"

Jerry menggeleng, "Ini tugas gue sebagai ketua kelas untuk menyita barang-barang begini. Lo itu murid bukan biduan!"

"Gak usah gaya-gayaan! Sok-sokan ketua kelas. Kayak gak pernah nakal aja lo! Balikin sini! Emak gue bisa ngamuk kalo itu sampe ilang!"

"Ya makanya! Kalo mau, sini kejar dulu! Masa gak bisa tinggal lari doang? Itung-itung olahraga biar gak... bulat."

Jerry memvisualisasikan kata 'bulat' barusan dengan membentuk lingkaran di udara dengan kedua tangannya.

Belum lagi raut wajah laki-laki itu yang cengengesan membuatnya terlihat semakin menyebalkan.

"Lo... LO BILANG GUE BULAT?!!"

Jerry mengacungkan jempolnya, "Sehat dan berisi!"

Sudah cukup. Hinaan dengan menggunakan nama orang tua masih bisa Nayla tolerir. Tapi jika menyangkut berat badan....

...Di situlah Nayla bergerak.

Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk mencabik-cabik sosok upil menyebalkan yang mirip manusia alias Jerry itu.

Tapi sial, Nayla tidak sadar tali sepatunya sebelah kanannya terlepas akibat berlari-lari tadi.

Apa lagi? Tentu saja gadis itu terjatuh tepat di depan Jerry dan membuat keduanya terbaring di lantai dengan posisi Nayla di atas dan Jerry berada di bawah.

Sejenak, keduanya saling menatap satu sama lain dengan napas yang sama-sama tidak beraturan.

Bahkan Nayla sempat merasakan–

"Gue tebak. Lo mulai suka sama gue dan berusaha untuk deket sama gue dengan situasi seolah ketidaksengajaan...."

"...Iya, kan?"

Nayla mendengus sebal. Padahal posisi mereka masih berada di lantai. Tapi sempat-sempatnya Jerry mengatakan hal menggelikan itu dengan senyumannya yang mirip bayi bagong itu.

*Bughh!!

"AARRGHH! ASET GUE!!"

Jerry merasakan hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya saat sebuah tendangan berhasil mendarat pada 'adik kecil'-nya.

Jerry tidak bohong. Rasanya benar-benar ngilu.

"Suka sama gue gak gini caranya, Nay!! Damn... Sakit banget!" Jerry masih memegangi area yang ditendang oleh Nayla barusan.

Dan Nayla hanya mendengus sebal, "Gak.su.di."

...-TO BE CONTINUED-...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!