Tokoh Dewi adalah anak gadis dari keluarga yang sederhana, dia di kelilingi orang yang sangat mencintai dan menyayanginya. Namun, seiringnya waktu Dewi merasa semua itu tak terasa lagi karena dia menikah dengan pria yang begitu cuek dan kurang menghargai dia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginnaindriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibuat Malu Olehnya
Acep mulai menceritakan maksudnya pada Dewi dan semua itu akan membuatnya tak akan bisa melupakannya, Acep sebenarnya dia juga mencintai Dewi namun dia ragu akan membalas cintanya Dewi, dan dia takut mengecewkan Dewi. Karena tanpa Dewi ketahui perasaan Acep pada Dewi masih tersimpan rapih di hatinya yang paling dalam. Sampai saat ini tak pernah ada yang menggantikan Dewi di hatinya.
Aceppun membuka suara, dengan kisah masa lalunya.
"Apa kau tau? Dulu pernah ada perempuan yang menyatakan cinta padaku, namun aku tak mengubrisnya. Sampai-sampai perempuan itu melupakan semuanya, karena tak ada jawaban dariku juga tak ada kepastian aku akan menjawabnya atau tidak. Makanya perempuan itu pergi dan tak kembali sampi saat ini jika bertemu ia pura-pura tidak mengenalku." Dengan terkekeh Acep menceritakan semuanya, membuat muka Dewi memerah. Karena Dewi tau siapa yang Acep maksud dia menutup mulutnya yang kaget karena semua kronologi kisahnya dan Acep ceritakan. Dewi benar-benar malu di buatnya.
"Kau ini, Apa yang membuatmu mencariku sampai ke sini? Apa kamu punya mata-mata atau menyewa detektif untuk mengikutuku samapai sini?" Dewi mengalihkan pembicaraannya karena menahan malu yang di ceritakan oleh Acep dan dia merasa penasaran dengan keberadaannya di sini.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku penasaran. Apa kau masih menyimpan rasa itu? Tapi, aku berpikir tidak mungkin karena kau sudah ada penggantinya sampai-sampai ada yang nangis tuh d bawah hujan kaya bocah aja, gak tau malu lagi pake nabrak orang. Minta maaf tapi gak bertanggung jawab, padahal tu siapa orang di tabraknya cuma pura-pura tidak kenal karena malu." Acep tekekeh menggoda Dewi yang merasa kaget ternyata orang yang di tabraknya itu Acep. Sebenarnya dia punya perasaan seperti itu cuma dia ragu karena tehalang oleh hujan yang lebat. Dewipun terus malu dibuatnya, sampai-sampai dia dibuat kesal Acep.
"Acep, kau ini puas kau bikin malu aku?" Dengan kesal dan malu Dewi mencubit Acep, namun tanpa di duga Acep mengecup pipinya Dewi dia kaget dan terbelalak dengan kelakuan Acep, jadi semakin tak karuan Dewi di buatnya.
"Kamu ini kenapa, macam-macam saja mengecupku tanpa permisi, aku bukan siapa-siapa kamu. Kamu berani-beraninya mengecupku." Kesalnya, membuat Acep tak perduli akan kekesalannya. Acep hanya tersenyum dengan tingkah Dewi yang kesal tapi terlihat gugup.
Sambil menatap Acep yang tersenyup padanya. "Apakah aku harus membuka hatiku untuknya? Secara dulu aku menyatakan cinta padanya namun dia tolak emm aku benar-benar bingung dengan semua ini, mungkinkah aku bisa menerima semua ini?" Gumamnya, membuatnya setengah melamun karena memikirkan apa yang terjadi saat ini seakan kebetulan saja, Dewi telah sendiri. Jadi membuat Acep makin ingin menggoda dengan sikapnya seperti orang linglung.
"Wi, pulang kuliah aku jemput ya? Aku mau membawa kamu ke suatu tempat yang bikin kamu bisa membuka hati kamu, itu juga kalau kamu bersedia dan mau membuka hati kamu untuk aku." Ucap aAcep, membuat Dewi mengangkat alisnya kok bisa dia baca pikiranku? Sampai aku bingung di buatnya. "Terserah kamu saja, aku tak perduli. " Dewi menimpal dengan cepat dia beranjak karna dia masih ada mata kuliah yang harus dia hadiri.
"Pulang jam berapa kamu, nanti aku jemput." Teriak Acep, "Jam 5 sore, tunggu saja aku d depan kampus tak perlu kau tunggu di depan kelasku, karna aku tau kau pasti mencarinya." Jawabnya dengan berteriak dan melambaikan tangannya menandakan dia pamit pada Acep.
"Aku harus mendapatkan kamu Dewi, jangan sampai kamu di sakiti lagi oleh laki-laki berengsek seperti dia. Apalagi bersama orang lain selain aku" Gumamnya, dan beranjak meninggalkan kafe menuju tempat kerjanya yang masih di daerah Bandung. Karena selain pemilik kafe yang dekat kampusnya Dewi, Acep mempunyai cabang pekerjaan yang lain selain empunya kafe.
Setelah bertemu dan berbicara dengan Acep, Dewi menghampiri teman-temannya yang sedang siap-siap ingin menyantap makanan dengan senyum yang merekah saat Dewi datang menghampirinya, tingkah Dewu membuat penasaran teman-temannya. Tapi, mereka tak mau bertanya karna akan merubah moodnya Dewi. Karena mereka tau sifat temennya yang satu itu. Akhirnya mereka menyantap makanan dengan suka cita, karena makanannya mengenyangkan perut dan tidak mengeluarkan isi kantong. Katanya sih ada yang sudah membayarnya, Makanya mereka senang dengan penuh kemenangan.
Setelah selesai makan-makan mereka kembali lagi ke kampus dengan hati gembira. Setibanya di kampus mereka langsung menuju kelas, dan merekapun segera masuk dalam kelas karena mata kuliah yang diambilnya akan segera di mulai. Makanya mereka tergesa-gesa takut terlambat.
Teman-temannya penasaran dengan cerita Dewi dan Acep. Dengan perasaan malu oleh cerita Acep, Dewi menampakan wajah yang memerah saat mengungat kejadian tadi di kafe. Teman-temannya heran dengan sikap Dewi yang senyum-senyum sendiri. Membuat Meutia menanyakan sikap temannya itu, "Wi, kamu sehat? Apa karena laki-laki itu kamu seperti ini? Emm kamu jatuh cinta sama dia?" Dengan menatap Meutia wajah Dewi dengan serius dan mendapat jawab anggukan kepalanya dan tersenyum kepada teman-temannya dengan menahan rasa malunya.
Jampun menunjukkan waktunya kelas sudah berakhir, teman-teman Dewi memperhatikan tingkah temannya itu yang monda mandir gak jelas di depan kelas, membuat teman-temannya menggelengkan kepalanya. Merekapub terkekeh dengan tingkah temannya itu.
"Apa yang harus aku lakukan, dia akan menjempuku aaaccchhh kenapa hatiku berdebar seperti ini membuat aku tak karuan," gumamnya membuat teman-temannya heran. Saking herannya Tusi mengagetkan Dewi.
"Wi, ayo pulang mau sampai kapan kamu mondar mandi seperti itu, kaya stum aja yang suka bolak balik di jalan," ucap Tusi, "Stum? membuat dewi sadar dengan kata itu." "Ya stum alat berat yang buat ngeratain jalan, percis kaya kamu ini." "Sial kau.... " Dewi kesal, membuat mereka terkekeh dengan tingkahnya.
"Makanya jangan ngayal mulu kaya orang yang kurang sedikit, soalnya dari tadi kamu melamun terus." Rina menimpalnya.
Gerbang kampus
"Wi, kok dia tau kalau kita pulang jam segini. Apa kamu memberi tau dia kalau kita pulangnya jam segini?" Teman-temannya penasaran membuat Dewi mengangkat bahunya, padahal dia tau Acep akan menjemputnya ke kampus. Karena dia takut Dewi terjerat laki-laki yang salah.
Bersambung..
Maaf ya kalau ada kata-kata yang gak sesuai soalnya masih belajar, jangan lupa terus like, komen dan juga vote ok... biar ceritanya aku lanjutkan lagi. mohon terus dukungannya, supaya aku bisa belajar lagi dan lagi. Demi kelancaran semuanya.
lanjut
jgn lupa feedback ea 😄😄😄
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU
sukses untuk karyanya
jangan lupa mampir di karyaku yang menceritakan cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
Jejak sampai sini dulu, ditunggu feedback nya dan happy reading membaca karyaku yang tak seberapa
Salam manis for Author
Dukunganku ku berikan pada kisah cerita mu ini..
Salam dari
MAYRA
PERJALANAN HIDUP KANIA