Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membayangkan Kejadian Di Hotel
Jesika senang bukan main mendengar Anggi saat ini sedang berjuang di rumah sakit.
Usahanya tidak sia-sia menyewa seorang wanita untuk membuat Agus jatuh ke dalam jebakan ya.
Wanita itu minum sambil tersenyum puas kali ini rencananya harus jalan sesuai dengan keinginannya.
"Andaikan kau tidak berpaling dariku Agus, semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku tahu istrimu polos bahkan dia wanita yang baik-baik tidak tahu apa-apa soal hubungan kita," ucap Jesika lalu dia membuang gelas ya itu sembarang tempat.
Kekesalannya semakin bertambah karena Agus diam-diam menikah dengan Anggi. Bahkan mereka telah mengumumkan sebentar lagi akan memiliki anak.
"Tidak?! Agus hanya milikku seorang, sampai kapan pun tidak boleh ada yang mengambilnya," teriak Jesika kuat sampai wanita suruhannya masuk khawatir melihat keadaan majikannya.
"Nona hentikan! Bisa menyakiti dirimu nanti!" tahannya karena Jesika tiba-tiba menarik rambutnya.
"Aku tidak mau melihat wanita itu berada di dekat Agus, hanya aku seorang," teriaknya.
"Nona, semua itu akan segeralah terwujud sementara ini kita menunggu hasil." Jesika tertawa terbahak-bahak dia keluar dari kamar dalam keadaan yang kacau.
Tidak ada yang berubah semua seperti biasa bahkan Anggi tetap tidak bangun dari tidur panjangnya.
"Sayang, aku mohon bangunlah kasihan anak kita di sini. Sebentar lagi kamu akan melahirkan," lirih Agus.
Sudah tidak tahu lagi dia harus bagaimana sekarang melihat kondisi Anggi saat ini.
"Tuan, kami harus memindahkan Nona di ruang persalinan," ucap dokter tiba-tiba muncul bersama dengan perawat.
"Kalian yakin bisa melakukan operasi?" tanya Agus takut.
"Insyaallah Tuan," balas dokter.
"Baiklah! Aku mempercayai kalian, lakukan sebaik mungkin," pinta Agus.
"Baik Tuan," balas dokter.
Agus melihat Anggi sudah pindahkan semakin ada rasa ketakutan itu membuat dirinya sendiri.
"Sayang, aku mempercayakan kamu anak-anak. Kalian harus bisa kembali dengan selamat, aku menunggu di sini," bisik Agus.
Dokter memasukkan Anggi masuk ke dalam ruang operasi yang akan membawa ya dua tempat.
"Mohon doa ya Tuan," pinta dokter sebelum masuk ke dalam.
Agus mengangguk mengerti lalu dia duduk sejenak di bangku panjang. Dia lebih memilih memejamkan mata menahan air matanya menetes.
"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku Anggi kalau," ucapan Agus menggantung tidak sanggup melanjutkan.
Dalam ruang operasi Anggi ternyata sudah sadar, dia telah melakukan permainan dengan dokter.
"Terima kasih dokter sudah membantuku," ucap Anggi lalu dia duduk bersandar.
"Ada apa ini Nyonya? Kenapa melakukan drama yang akan menyakiti kalian dua?" tanya dokter heran.
"Ceritanya panjang dokter, pasti aku akan mas Agus akan pisah," tangisnya.
"Astagfirullah Nyonya, kalian adalah pasangan sempurna tidak akan bisa pisahkan kecuali maut," ucap dokter sambil mengelus-elus tangannya yang sempat merinding.
"Kalau takdir berkata lain aku tidak bisa mengatakan apapun dok." Dokter dilema tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Dia adalah salah satu penggemar Anggi dan Agus karena mereka begitu rendah hati. Banyak menginginkan posisinya Anggi sebagai istri dari Agus.
"Nyonya, Tuan selama ini menangis melihat anda terbaring selama ini. Tidak bisakah memberikan ruang kepadanya?" Anggi geleng-geleng kepala ia tidak bisa menjawabnya sekarang karena dia saat ini tidak bisa masih melupakan kejadian di hotel kemarin Agus nyaris melakukan sesuatu kepada wanita lain.
"Kalau aku tidak menghampirinya kemarin, apa yang akan terjadi selanjutnya?" Anggi merasakan kepalanya denyutan membayangkan kejadian di hotel kemarin.