Di tengah gemerlap dunia sekolah yang penuh dengan nilai-nilai status sosial, Cailyn, seorang wanita dengan penampilan yang tampak ketinggalan zaman, harus berhadapan dengan stereotip dan pandangan merendahkan karena statusnya sebagai anak yatim piatu.
Namun, ketika para siswa elit memilih untuk menilainya sebelah mata, Pangeran sekolah yang menjadi primadona malah memberikan senyuman manisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat tulus
Eps 9
"Halo, Tante," ucap Ayara dengan senyum termanisnya.
"Halo, Sayang."
Gadis cantik dengan rambut hitam kecoklatan ini memeluk singkat lalu mencium pipi kanan dan kiri Caroline, ibunda dari Luke.
Wanita cantik paruh baya ini tersenyum kemudian mengajak Ayara masuk setelah mengunci pintu.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Caroline sembari berjalan bersisian dengan Ayara.
Ayara mengangguk kecil dengan senyum menggemaskan yang enggan luntur dari bibirnya. "Sudah, Tante."
Keduanya bergabung dengan Luke yang sedang membaca buku di ruang keluarga.
"Luke, kenapa baca disini?" tanya Caroline sedikit heran, karena keluarga mereka memiliki ruang perpustakaan dengan ruang baca tersendiri.
"Oh Ma, hai Ayara. Aku lebih suka disini daripada di ruang baca Ma, bikin ngantuk."
"Apa kau mau ku temani di ruang baca, Luke?" tanya Ayara antusias.
Luke tersenyum kecil. "Tidak perlu, disini saja lebih nyaman."
Sudah sejak kecil Ayara bermain seperti ini dengan Luke dan keluarganya. Mereka sangat akrab bahkan orang tua Luke sangat menyukai Ayara yang manis, lembut dan penurut.
"Hei, Luke, dua bulan lagi ulang tahunmu yang ke tujuh belas kan? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Ayara.
Luke hanya mengedikkan bahu singkat. "Hm … tidak ada."
"Tante, apa tidak ingin merayakan ulang tahun Luke?" tanya Ayara lagi terdengar provokatif.
Caroline terlihat berpikir. "Kau benar. Luke, kita rayakan ulang tahunmu. Undang semua teman-teman mu, ya?"
Luke menoleh lalu menutup buku kecil yang ia baca. "Ma, tidak perlu repot. Lebih baik kita makan malam seperti biasanya tidak perlu mengadakan pesta."
"Hei, ini ultahmu yang ke 17. Sweet seventeen Luke," sanggah Ayara.
"Ah, tapi–"
"Kita rayakan. Kalian bicarakan dulu, Mama mau membuat camilan untuk kalian," final Caroline memotong kalimat Luke, tidak ingin dibantah.
Luke menghela pelan lalu melanjutkan kegiatan membacanya. Berdebat dengan dua wanita di hadapannya tidak akan ada harapan untuk menang.
"Kenapa Luke? Ada yang kau pikirkan?" tanya Ayara menelisik.
"Tidak ada," jawabnya biasa.
"Benarkah? Tapi wajahmu tidak setenang biasanya?"
Mendengar kalimat itu, Luke berhenti membaca. Apakah terlihat seperti itu?
Sebenarnya ia masih memikirkan beberapa hal tentang Cailyn namun tidak ada orang yang tepat untuk diajak bicara. Mungkin jika itu Ayara, teman baiknya itu akan memberi masukan yang membantu.
"Ah, sebenarnya … aku hanya sedikit kepikiran, sepertinya Cailyn menghindari ku akhir-akhir ini," ucap Luke. Ia meletakkan buku di tangannya, bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan dengan antusias.
Ayara mengernyitkan alisnya sesaat, lalu tersenyum kecil. "Benarkah? Kenapa kau pikir begitu?"
"Sudah hampir dua minggu ini aku tidak menemukannya di perpus sekolah."
"Mungkin dia sedang ada urusan lain."
"Tidak mungkin. Setahuku dia memang memilih diam di perpustakaan daripada di tempat lain."
Luke terus menceritakan jika ia pernah mencari ke beberapa tempat namun tetap tidak menemukan Cailyn.
Jika gadis itu memang tidak menghindarinya, mungkin mereka masih bisa berpapasan di tempat-tempat yang sering Cailyn datangi.
"Aku pernah melihatnya saat berjalan melewati lorong, namun saat aku mengejarnya dan mencoba memanggilnya, dia sudah tidak ada. Bukankah itu aneh?" tanya Luke penasaran.
Ayara mengalihkan pandangannya lalu mengambil remot tv dan menghidupkannya. "Mungkin itu hanya perasaanmu saja," ucapnya. Tidak ada senyuman lagi di wajah putih gadis itu.
"Tidak Ayara. Waktu itu aku berhasil menemuinya langsung saat Cailyn sedang di bully, dan dia benar-benar menghindari ku," ucap Luke lirih di akhir kalimat. Laki-laki itu tampak termenung menatap lantai.
Tidak ada sahutan dari Ayara. Hanya suara tv yang memenuhi ruangan itu.
"Jangan dipikirkan, mungkin dia hanya sungkan pada mu," suara Ayara memecah keheningan.
"Semoga saja begitu."
Pembicaraan itu terhenti saat Caroline datang membawa cemilan dan minuman, mereka kembali membahas rencana ulang tahun Luke.
Keesokan harinya, Luke tetap tidak menemukan Cailyn. Luke melihat siluet Cailyn yang berjalan ke arah kantin namun saat ia mencoba melihatnya sekali lagi, ternyata itu bukanlah Cailyn.
Dan akhir-akhir ini, entah kenapa Ayara lebih sering bersama dengan Luke. Namun tidak seperti biasanya, entah kenapa rasanya ada sesuatu yang kurang.
"Aku pulang dengan Sashi ya," ucap Ayara. Luke mengangguk singkat.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Luke memang sering mengantar Ayara pulang jika wanita itu memintanya. Namun juga tak jarang jika gadis itu masih pergi ke tempat lain dengan teman-temannya yang lain.
Luke melajukan mobilnya di tengah padatnya murid yang juga mengantri untuk ke luar gerbang sekolah. Entah kenapa hatinya tidak nyaman memikirkan Cailyn saat ini, apakah Luke membuat salah?
Niatnya sangat baik. Ia berharap orang-orang tahu jika Cailyn dekat dengannya, dengan begitu tidak akan ada yang berani menindas gadis lemah itu. Lalu, kenapa Cailyn justru menghindar?
Saat hendak melewati halte bus, secara tidak sengaja Luke melihat Cailyn yang sedang duduk menunggu bus yang datang.
Dengan cepat Luke mencari celah untuk menepikan mobilnya. Ia keluar dan berjalan ke arah gadis itu.
"Lyn?" panggil Luke pelan. Namun gadis yang ia panggil malah tersentak, kaget bukan main. Gadis itu juga berdiri dari duduknya dengan cepat.
"Kenapa kaget begitu?" tanya Luke terkekeh kecil. Melihat Cailyn yang tampak canggung. Tidak ada ekspresi marah di wajah Cailyn, Luke lega melihatnya.
Namun, ada hal lain juga yang sedikit menggelitik Luke. Ia senang melihat wanita itu.
"Ah, a-ada apa? Kenapa kesini?" tanyanya canggung. Mata Cailyn tampak melirik, melihat keadaan sekitar.
"Apa kau mencari sesuatu?" tanya Luke bingung. Ia bahkan menoleh melihat sesuatu yang mungkin dicari Cailyn.
Luke tidak sadar jika banyak pasang mata yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya.
"Tidak ada. Ada apa?" tanya Cailyn tersenyum canggung. Gadis itu melirik sekilas pada mobil sedan milik Luke yang terparkir di dekat halte.
"Mau kuantar pulang?" tanya Luke dengan senyum penuh pesonanya.
Mata Cailyn melebar, begitu juga dengan pupilnya yang ikut sedikit melebar membuat Luke tersenyum senang. Itu artinya gadis ini senang mendengar tawaran itu.
"Ah, tidak perlu. Aku akan naik bus saja," jawab gadis itu kaku.
Luke terkekeh kecil lalu menarik tangan Cailyn meskipun gadis itu sedikit memberontak. Sedikit saja karena setelahnya Cailyn terdiam dengan wajah bersemu dan menurut saja masuk ke dalam mobil.
"Pasang sabuk pengamannya," suruh Luke. Cailyn langsung mengambil sabuk pengaman itu dan memasangnya dengan cepat. Seolah sering menggunakan mobil, apakah benar gadis ini yatim piatu?
Rumor yang ia dengar, Cailyn adalah gadis yatim piatu miskin yang memberikan segalanya untuk uang dan hidup enak. Tapi Luke tidak percaya itu.
Mungkin ia sudah terbiasa diantar mantan pacarnya menggunakan mobil.
Luke melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju alamat yang Cailyn sebutkan.
Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya suara musik dari pemutar musik di mobil yang berbunyi sedari tadi.
"Kenapa menghindariku?" tanya Luke tiba-tiba.
"Ya?" tanya Cailyn. Gadis itu menoleh cepat seolah tidak mengerti pertanyaan yang Luke ajukan.
"Akhir-akhir ini kau terus menghindari ku kan?" tanya Luke lagi mengulang pertanyaannya.
"Hm? Untuk apa aku menghindarimu?" Cailyn tidak menjawab malah kembali bertanya.
Luke tersentak lalu menoleh pada Cailyn, menatapnya heran. Detik berikutnya, ia kembali terkekeh kecil. Gadis itu selalu berhasil membuat Luke tertawa.
Memang benar, semua orang mencoba mendekati Luke lalu untuk apa Cailyn menghindarinya?
"Baiklah, kau tidak menghindari ku. Dan ku harap, kau juga tidak melakukannya lagi setelah ini."
Hanya memerlukan sepuluh menit perjalanan dengan mobil, mereka sudah sampai di rumah Cailyn.
"Terima kasih banyak," ucap Cailyn tulus.
"Sama-sama. Masuklah," suruh Luke. Rumah ini cukup bagus untuk seorang yatim piatu. Dengan siapa Cailyn tinggal saat ini?
Cailyn mengangguk lalu berbalik untuk masuk ke rumahnya, namun langkahnya kembali berhenti. "Apa kau tidak ingin mengajakku mampir?" tanya Luke.
Sekuat hati ia mencoba menahan senyumannya begitu melihat Cailyn yang kebingungan dan merasa bersalah.
"Aku hanya bercanda. Masuklah, Lyn." Jika Luke bisa dekat dengan Cailyn, setidaknya gadis itu tidak akan dibully di sekolah.
Keesokan harinya, sepulang sekolah ia masih menemui guru matematika untuk memberikan form olimpiade yang akan datang.
Sekolah sudah mulai sepi. Saat melewati ruang olahraga, Luke berhenti karena mendengar suara wanita yang sepertinya sedang bertengkar.
"Jangan-jangan?!"
Luke tiba-tiba cemas. Dalam benaknya kini muncul wajah Cailyn yang sedang dibully oleh siswi sekolah ini. Ia buru-buru berlari ke belakang gudang tempat penyimpanan alat olahraga dan menemukan Cailyn dan tiga orang perempuan yang sudah kacau dengan bau telur busuk dan baju yang basah entah karena apa.
"Hentikan!" teriak Luke penuh penekanan.
Ketiga gadis itu kabur tunggang langgang sedangkan Cailyn terdiam menatapnya dengan nafas terengah.
Cailyn duduk di ubin dan bersandar pada tembok. Gadis ini tidak menangis tapi terlihat jelas wajahnya sedang tertekan.
"Apa ada yang luka?" tanya Luke khawatir.
"Ah … bagaimana caranya membersihkan bau telur di kepala ku?"
Luke termangu. Tidak disangka gadis ini sangat kuat. Luke tersenyum lalu menarik tangan Cailyn agar ikut bersamanya.
Dan saat ini Cailyn yang termangu menatap tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya.
"Em … Luke, ini …?"
"Salon. Kau harus masuk," ucap Luke dengan senyum manisnya.
semangat terus thooor untuk berkarya.... cerita nya bagus 2 bikin cerita yang baru lagi ya hehehe 🥰