Freya, gadis berdarah campuran Indonesia-Irlandia yang terperangkap cinta masa kecil.
namun ia melakukan kesalahan besar mengajukan perjanjian konyol dengan Revan si badboy kampus untuk mau menjadi kekasihnya.
" Oke fine... Am yours now. "
Revan akhirnya menyeringai puas.
perlakuan Revan berhasil membuat Freya jatuh cinta, tapi ia harus patah hati dan kecewa akan kesalahan fatal Revan dan penolakan kedua orangtua Revan yang membuat Freya menjauh mengikuti James ke Dublin.
Akankah disana Freya menemukan cinta masa kecilnya ??
** Happy reading ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiny Flavoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 09
POV Revan
Sehabis mengantar Freya pulang, Revan dengan rasa amarahnya yang masih memuncak kembali ke rumah. Dia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dilantai dua dengan hentakan kakinya yang terdengar kasar.
" Tunggu Revan !!"
teriak ibunya menghentikan langkahnya. Dengan malas Revan menoleh kearah sumber suara dibelakangnya.
" Apalagi bu ? belum cukup bikin Revan kecewa atas sikap ibu tadi ?"
PLAAKK !!
sebuah tamparan mendarat dipipi kiri Revan.
" harusnya ibu yang kecewa sama kamu, Revan. Ternyata kamu menolak perjodohan dengan Laras gara-gara cewe barat itu."
sanggah ibunya terlihat memelototi Revan.
"Cukup, bu. Aku gak mau debat lagi sama ibu !!"
Ucap Revan hendak membalikkan tubuhnya pergi, tapi tangannya ditarik ayahnya yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
" Duduk ! kita bicarakan baik-baik. "
perintah Ayahnya tegas.
Revan pun terpaksa menurutinya untuk duduk di sofa ruang tengah. Diikuti dengan ayah, ibu, serta Ranti, kakaknya.
" Revan, ibu mu ini hanya ingin yang terbaik buat kamu. Dan gadis itu kurang baik. Keluarga kita sangat terhormat, keturunan ningrat. apa kamu mau membuat kami sekeluarga malu ? Mengenal seseorang itu harus tau Bibit, Bebet, Bobotnya. Tidak sembarangan begitu."
ungkap sang Ayah yang sukses membuat Revan semakin jengah.
" kalo Freya bukan yang terbaik buat aku, lantas siapa yang terbaik menurut Ayah dan Ibu ? Laras, Maksudnya, perempuan yang sama sekali tidak aku kenal itu ?"
Revan berdecak emosi.
" kamu memang belum bertemu Laras. tapi kami kenal baik dengan keluarganya."
sahut Ibu Revan mempertegas.
" aku gak mau dijodohkan dengan dia, Bu. Lagi pula kalian baru bertemu Freya hanya beberapa menit. Ayah dan Ibu tidak bisa membuat statement kalau Freya bukan gadis baik-baik. aku tidak tidak terima dengan tuduhan itu !!"
" Revan !! lancang sekali mulut mu bicara seperti itu didepan ayah dan ibu. Jangan kurang ajar ya kamu !!"
kata Ranti melotot sambil menunjuk kearah muka Revan.
" Mbak Ranti tidak usah ikut campur. urus saja sana, pria pilihan ayah dan ibu itu !! mau-maunya dijodohkan."
ucap Revan.
" Gadis itu sudah mencuci otakmu agar melawan orangtua sendiri. harusnya kamu sadar, Revan !!"
ibunya Revan terus menerus menuduh Freya yang bukan-bukan, hingga Revan sangat jengah mendengarnya.
Wajah revan menjadi terlihat merah karena emosi, Begitu juga dengan matanya. Bahkan kedua tangannya pun mengepal seperti hendak menonjok.
Tak lama kemudian Revan tanpa kata pergi lagi ke arah pintu rumahnya. Pria itu memilih untuk minggat sebelum emosinya terus membuncah hingga tak terkendali.
"mau kemana lagi, Rev. Revan!!"
teriaknya ibunya berusaha mencegah namun sia-sia.
Revan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan semuanya. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal dengan nafasnya yang cepat karena menahan emosi. Sesekali tangannya memukul-mukul stir mobilnya melampiaskan kekesalannya.
Lalu, mobilnya berhenti disebuah klab malam yang cukup ternama dikota ini. Dulu sewaktu kuliah Revan sering sekali ke klub itu bersama teman-temannya.
" Hei, Revan!!"
teriak seseorang sambil melambaikan tangannya memberi isyarat keberadaan.
Revan pun melihatnya, lalu berjalan mendekati asal suara yang memanggilnya. Ternyata di meja itu ada Alvon dan Rian, teman perkumpulan Revan.
" kemana aja, Bro !! lama ga pernah nongkrong dimari."
sapa Alvon menepuk bahu Revan yang baru saja duduk disebelahnya.
"udah jadi bos, dia. Sibuk teruuss... meeting, meeting." ledek Rian.
" Sultan mah bebas."
olok Alvon terkekeh.
" banyak bacot lo pada."
jawab Revan datar.
Mereka pun tertawa sambil meneguk Wine yang tadi sudah dipesan. Cukup lama mereka berbincang sambil menikmati alunan music hip-hop yang diputar oleh DJ club. ketiganya sudah mulai mabuk, namun mereka masih sadar.
Sampai akhirnya ada seorang wanita cantik dengan mini dress, bahu terbuka, mendekati ketiganya.
"hai, boleh bergabung ?"
Revan, Alvon, dan Rian saling beradu pandang.
" gila... seksi, bro."
bisik alvon pada Revan.
" hai juga, cantik." Goda Rian seraya menyentuh pipi wanita itu.
Dia bernama Sandra. Akhirnya mereka berbincang ringan sekedar basa-basi. Sandra wanita yang menyenangkan, mereka cukup terhibur dengan gaya bercandanya yang sedikit gokil. Tak lama kemudian Rian dengan sedikit sempoyongan turun area dansa didepan untuk menikmati music. Tinggallah Alvon, Revan, dan wanita bernama Sandra itu.
" kayanya lo lagi suntuk ya, Rev? turun yu, bro. kita susul si Rian tuh !"
ajak Alvon beranjak turun seraya menunjuk ke arah Rian yang tengah asik berjoget, dengan seorang wanita yang entah siapa dan dari mana datangnya.
" Males ah. gue disini aja, Bro."
Jawab Revan sambil membuka-buka menu diponselnya, berharap ada chat dari Freya sebagai penyemangat hidupnya. Namun Freya sama sekali tak memberi kabar apapun. Ingatannya malah kembali pada kejadian tadi dirumah dan membuatnya sangat frustasi dan suntuk.
" mau temen curhat?"
Ucap Sandra seolah paham bahwa pria dihadapannya itu tengah suntuk. wanita itu berusaha menggodanya seraya memainkan kancing baju milik revan dengan jari-jari lentiknya. lalu menjalar ke arah wajah tampan Revan. Anehnya, tidak ada penolakan dari pihak Revan, dia menikmati setiap sentuhan halus dari tangan liar milik Sandra.
Entah setan mana yang merasuki diri Revan hingga menyetujui tawaran wanita itu. Lalu mereka berdua memutuskan pergi meninggalkan klub menuju sebuah hotel. Menuntaskan emosi Revan dengan one night stand bersama Sandra.
.
.
.
.
.
.
sampai disini author mengikuti pov Revan. kalian pasti sudah bisa membayangkan apa akan dilakukan Revan dengan ****** itu.
ini baru ilustrasi yg top
lelaki hidung belang jg yahhh kirain bener2 mncintai hadehhh