Ketika cinta datang tanpa mengenal kepada siapa ia akan datang. Sama dengan kisah cinta Fatimah Saraswati dengan dua saudara kembar yaitu Hendra dan Hendri. Kisah cinta mereka dimulai saat Fatimah atau yang biasa dipanggil Fatim yang sering bermain ke rumah Salsa sahabat dekat Fatim.
Diwaktu yang sama juga, Hendra dan Hendri yaitu saudara sepupu salsa yang baru datang dari kota S. Sedang berkunjung bersama orang tuanya. Untuk membicarakan kepindahan mereka ke kota ini.
Itulah awal perkenalan mereka. Dan disaat itulah tumbuhlah rasa cinta Hendri pada Fatimah.
Tapi karena Hendri yang tak mempunyai keberanian untuk mendekati dan mengungkap perasaannya. Ia hanya mampu mencintai nya dalam diam.
Hingga suatu saat Hendri mengetahui bahwa Hendra juga memiliki rasa pada Fatimah.
Akhirnya dengan berat hati Hendri mulai belajar melupakan rasa cintanya pada Fatimah.
Bisakah Hendra mendapatkan hati Fatimah?
Dan bisakah Hendri melupakan cinta nya pada Fatimah?
Siapakah yang dicintai Fatimah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mereka semua akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Dan mengisi liburan mereka dengan kegiatan masing-masing tak terkecuali Hendri yang masih sama memperhatikan Fatimah dari jauh di sela-sela kesibukannya.
Hingga suatu saat disaat Fatimah hendak pulang dari tempat kursusnya, tanpa sengaja Fatimah memergoki Hendri yang sedang mengikuti nya dari belakang. Dengan jarak yang bisa di bilang masih bisa terlihat dari spion motor si bejo.
" Gue kayak kenal banget sama motor itu, mirip punya si Hendri. Bukan nya mereka lagi di Medan ya. Apa gue yang salah lihat, tapi bener kok, gue hafal banget nopolnya." gerutunya sambil tetap memperhatikan jalanan.
Fatimah yang sudah mulai geram akan tingkah pengendara motor yang terus mengikutinya. Akhirnyanya mempunyai ide untuk mengerjainya. Fatimah tiba-tiba berbelok pada salah satu jalan kecil yang ia sendiri tak tahu akan kearah mana nantinya jalan tersebut.
Dan betul saja motor yang mengikutinya pun ikut berbelok kearah yang sama. Fatimah pun memutuskan menghentikan motornya disebuah rumah yang terlihat kosong. Dan motor yang mengikutinya pun ikut berhenti namun tetap menjaga jarak dengan si Bejo.
Karena Fatimah merasa sangatlah kesal akan ulah pengendara tersebut. Ia turun dari motornya dan menghampiri pengendara motor tersebut.
" turun loe, buka helm loe. Gue pingin tahu siapa sih loe? Berani-beraninya ngikutin gue. Maksud loe apaan ngikutin gue? Jawab?" marah Fatimah.
Pengendara motor itu hanya terdiam memperhatikan Fatimah dari balik helm full facenya.
" Kok loe diam aja, jawab dong. Jangan diam aja"ucap Fatimah kesal.
Lagi-lagi tak ada respon dari pengendara tersebut. Fatimah yang tambah kesal, berusaha melepas helm dari pengendara tersebut. Terjadi tarik menarik diantara mereka berdua. Hingga akhirnya terlepaslah helm tersebut. Sungguh terkejutnya Fatimah melihat siapa sosok di balik helm tersebut yang ternyata benar sesuai dugaannya. Sosok itu adalah Hendri.
" Hendri.... bukannya loe ke Medan ya. Ada acara keluarga disana?" ucap Fatimah heran sambil menyerahkan helmnya pada sang pemilik.
Tapi Hendri tak merespon pertanyaan Fatimah. Ia hanya memandangi wajah ayu Fatimah.
" Hendri gue ngomong sama loe ya, loe bisa denger gue gak sih. loe kok gak jawab, malah diam-diam Bae. Lagian ngapain loe ngikutin gue. Gue dari awal udah ngira kalo itu loe yang ikutin gue. Cuma gue mau mastiin aja kalo itu emang loe." omel Fatimah.
Hendri yang sejak tadi menatap wajah Fatimah hanya tersenyum tipis. Bagi Hendri menatap wajah Fatimah dari dekat adalah kebahagiaan baginya. Sebetulnya Hendri sudah berusaha mengubur jauh-jauh perasaannya pada Fatimah. Namun lagi-lagi perasaan itu datang malah semakin besar.
" Hello....malah bengong nih bocah. Hendri....loe masih waras kan." tanya Fatimah menyadarkan lamunan Hendri sambil menepuk-nepuk bahu Hendri lumayan keras.
" Apaan sih loe, sakit tau. Loe gak usah banyak tanya, kayak wartawan aja nanya mulu kerjaannya. Udah gue mau berangkat kerja dulu. Terserah loe, mau pulang apa mau tetep disini. Dan gue punya pesen buat loe, tetaplah jadi Fatimah yang sekarang. Gue doain semoga loe selalu bahagia. Gue cabut dulu" ucap Hendri seraya pergi melajukan motornya.
Fatimah yang merasa heran dengan sikap dan ucapan Hendri. Ada rasa kehilangan juga sedih yang meliputi hati Fatimah.
" Kenapa kok sikap Hendri hari ini aneh ya, dan kenapa gue ngerasa bakal kehilangan Hendri. Ahhh mikir apa sih gue, paling juga tuh bocah lagi iseng doang.." ucap Fatimah berlalu pergi untuk kembali pulang kerumah.
Setelah kejadian terakhir itu, Fatimah tak lagi menjumpai Hendri sama sekali. Hingga liburan pun usai dan saatnya ia kembali kesekolah dengan kelas dan suasana yang baru.
Untuk permulaan Semester, semua siswa-siswi berangkat lebih pagi. Seperti biasa jika awal tahun ajaran, semangat mereka masih full terisi. Jadi tak ada yang bisa mengendurkan semangat untuk memulai pembelajaran di kelas yang baru.
" Akhirnya tinggal satu tahun lagi gue di sekolah ini. Gue harus manfaatin waktu yang ada buat ngejar nilai, biar gue bisa masuk universitas yang gue mau. Ayo fatimah, semangat." ucap Fatimah menyemangati dirinya.
Sambil menunggu Salsa, ia mulai berbaur dengan teman-teman yang lain yang sudah berada di dalam kelas.
" hai ... Hai Inces Salsa datang" teriak salsa seperti biasa.
" Dasar, bisa gak sih loe pagi-pagi gak teriak-teriak. Datang-datang bikin heboh aja" gerutu salah satu siswa.
" Sirik aja loe, inget sirik tanda tak mampu. Senggol dong." ucap Salsa tak mau kalah.
Fatimah langsung menarik sahabatnya itu, ke tempat duduk mereka.
" Apaan sih loe, masih pagi juga. Udah bikin onar, sadar Bu. Ini masih permulaan, udah bikin rusuh aja." ucap Fatimah.
" Dih dia duluan yang mulai, gue cuma membela diri. Udah santai aja, nih sesuai janji gue. Oleh-oleh buat loe, juga buat ayah sama ibu." ucap Salsa santai sambil menyerahkan 3 buah paper bag.
" Kok banyak banget Sal, tapi makasih banget buat oleh-olehnya." ucap Fatimah .
Tak berselang lama datanglah Hendra sendirian tanpa kehadiran Hendri di sampingnya.
" Selamat pagi gadis-gadis cantik" sapa Hendra.
Aku dan Salsa saling pandang melihat Hendra yang datang sendirian.
" Eh kak, tumben loe datang ke sekolah sendirian. Mana bang Hendri kok gak bareng sama loe berangkatnya? " tanya Salsa heran.
" Loe gak tahu Sal, 3 hari yang lalu Hendri berangkat ke Sydney. Dia mutusin untuk melanjutkan studinya disana. Ikut Eyang gue dari keluarga mama. Alasannya sih karena eyang gue disana sendirian." jelas Hendra.
" kok gue gak tau sih kak kalo bang Hendri berangkat kesana?" tanya Salsa lagi.
" Kan loe baru pulang hari Sabtu kemarin, gue juga kaget pas Hendri bilang ke papa gue kalo dia mutusin pergi ke sana. Itupun mendadak banget" ucap Hendra.
Fatimah yang mendengarkan perbincangan antara dua sepupu itu. Merasa ada yang janggal atas kepergian Hendri. Padahal beberapa hari yang lalu ia masih sempat bertemu dengan Hendri sepulang ia dari kursus.
" Apa ini maksud ucapan terakhir Hendri ke gue waktu itu. Kenapa dia gk bilang kalo mau pergi. Setidaknya pamit kek sama gue gitu." gerutu Fatimah dalam hati.
" eh fatimah, ni bocah ya. Pagi-pagi udah bengong aja. Noh ayam pak ratno tiba-tiba mati ngeliat loe bengong begitu." ucap Salsa asal.
Pak ratno adalah penjaga sekolah yang tinggal di sana. Yang memiliki banyak peliharaan ayam.
" eh Marimar mana ada ayam mati sebab gue bengong. Kadang-kadang suka ngasal kalo ngomong nih bocah." ucap Fatimah sambil memukul bahu Salsa pelan.
Tak beberapa lama terdengar bel masuk berbunyi. Pelajaran pun dimulai, Karena ini masih permulaan tahun ajaran baru. Maka hanya di isi dengan perkenalan dari beberapa guru. Kemudian pemilihan pengurus kelas. Selebihnya adalah jam kosong, yang di habiskan sebagian siswa untuk saling berbagi cerita tentang liburan mereka kemarin. Atau hanya sekedar tidur-tiduran di dalam kelas.
Karena masih awal tahun ajaran, dan masih belum ada bahan pengajaran. Maka diputuskan untuk semua siswa dipulangkan lebih awal. yang kemudian disambut suka cinta oleh semua siswa-siswi.
Semua siswa keluar dari kelas masing-masing tak terkecuali Salsa,Fatimah dan juga Hendra. Mereka berjalan beriringan menuju ke pelataran sekolah. Fatimah dan Salsa berjalan ke arah gerbang sedangkan Hendra menuju tempat parkir.
" loh Fatimah, tumben loe gak sama si Bejo. loe pulang naik apa?" tanya Salsa .
" Biasa si Bejo lagi mode mogok. kemarin dibawa ayah ke bengkel, jadinya tadi pagi gue di antar ayah berangkat sekolah. Paling gue numpang angkot aja pulangnya." jelas Fatimah.
" Bareng gue aja gimana, atau kalo loe mau biar kak Hendra yang antar loe pulang. Lumayan Kan irit ongkos."usul Salsa.
" Gak deh, gue naik angkot aja . Rumah gue kan jauh banget dari rumah kalian. Gue gak mau ngerepotin loe pada." balasku merasa tak enak.
" Ya elah , kayak sama siapa aja loe. Udah gpp, biar gue minta tolong Kak Hendra aja buat anterin loe pulang. Pasti dia dengan senang hati buat nganterin loe pulang. Secara diakan cinta banget Ama loe" ucap Salsa dengan entengnya.
Tiba-tiba saat sedang asyik ngobrol, ada sebuah mobil yang berhenti didepan mereka. Terlihat sosok Hendra dari dalam mobil .
" Kalian belum pulang, loh Fatimah. Mana si Bejo, kok loe berdiri disini?" Tanya Hendra.
" Si Bejo lagi mogok. Oh ya bisa gak gue minta tolong antar Fatimah pulang? Daripada dia naik angkot." ucap Salsa sambil mengedipkan sebelah matanya pada Hendra.
Hendra yang mengerti maksud kedipan mata Salsa. Langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang.
" Ya pasti mau dong nganterin cewek cantik kayak Fatimah. Mana bisa menolak kalo bisa gue mau antar jemput deh." ucap Hendra bersemangat.
" Ya udah sana fat, cepet naik. Keburu berubah pikiran tuh orang." jawab cepat Salsa sambil mendorong masuk Fatimah ke dalam mobil Hendra.
Fatimah hanya bisa pasrah, menuruti ucapan Salsa. Yang tak ingin membuat kecewa sahabatnya tersebut.
" loe gak ikut naik juga, biar sekalian bareng." ucap Hendra.
" Gak, gue nunggu di jemput pak Rudi aja. Bentar lagi juga datang. Lagian juga gue gak langsung pulang, mau ke tempat papi dulu. Ada urusan gue disana. Udah kalian duluan aja. Tuh liat pak Rudi udah datang jemput gue." ucap Salsa.
Sebelum Salsa naik ke mobilnya. Ia berjalan mendekati Hendra, serta membisikan sesuatu yang hanya dimengerti mereka saja. Kemudian Salsa pamit, dan berjalan meninggalkan mobil Hendra. Untuk menghampiri mobil yang di kendarai pak Rudi, sopir pribadi papinya.