Di usianya yang ke 30 tahun, Nora agak desperate karena belum menikah. Sedangkan teman-teman Nora sudah berkeluarga.
Sampai suatu saat Nora terjebak di lift kantor bersama Handi (43 tahun) seorang CEO lapuk yang baru putus dengan kekasihnya yang telah menjalani hubungan hampir 10 tahun.
Apakah kisah mereka hanya sampai di dalam lift?
Atau berlanjut di kehidupan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zedecia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Sudah Jadi Bubur
"Pak Handi! Lihat berita!" seru Dilan sambil menyetel TV.
Handi menganga ketika mengetahui Rosa meninggal karena gantung diri. Ia menyambar jasnya dan pergi meninggalkan ruangan kerja.
"Pak Handi.." seru Cindy dan Fanny lirih
Handi hanya mengangguk dan lari menuju parkiran.
Sedangkan di hotel yang baru, Nora terbelalak melihat berita kalau Rosa bunuh diri. Ia tersadar tadi pagi Handi langsung meninggalkan dirinya karena ingin menemui Rosa.
Apa yang dibicarakan Handi sehingga Rosa nekad bunuh diri?
"ah biarin aja. Itukan urusan si Handi, kenapa gw yang jadi pusing mikirin mereka?"
DDDRTT DDDRRRT
Ia melihat nama Handi ada di layar ponselnya.
"Halo?"
"Kamu dimana? Saya cari kamu di hotel sebelumnya katanya udah check-out. Saya butuh kehadiran kamu, Rosa bunuh diri" seru Handi sambil menyetir mobilnya.
"Terus? Saya ngapain kalau udah ketemu bapak?"
"Udah cepet kasih tau hotel apa, nanti saya cerita" ucapnya tergesa-gesa.
"Hotel Bunga di jalan Simpang Dua Puluh pak"
Nora menepuk jidatnya, kenapa ia kasih tau posisi dia ke si tua bangka itu.
"Kamar nomer berapa?"
"505"
Nora lagi-lagi kesal dengan dirinya sendiri. Tujuannya apa coba ngasih tau keberadaan dia? Apa karena sudah di gauli,hubungan batin itu ada?
Ia menutup teleponnya dan menyalakan rokoknya. Walaupun dirinya bertato dan merokok, bukan berarti ia wanita murahan.
TING TONG!
Bel kamar Nora berbunyi. Ia membuka pintunya dan mendapati Handi bermuka sedih.
Handi langsung memeluk Nora dan menangis dipelukannya.
Nora diam mematung karena serba salah, kalau ia menghibur Handi nanti dikiranya sok tahu, kalau diam aja dikiranya gak simpatik.
"Rosa gantung diri Ra.. Ini semua salah saya" ucapnya dalam tangisan.
"Tadi pagi setelah mendapat chat dari dia, saya langsung meninggalkan hotel dan menemui dia agar tidak bunuh diri. Masalahnya ini udah ke tiga kalinya dia mau bunuh diri dan saya frustasi dengan keras kepalanya".
Nora akhirnya memeluk balik Handi dan mengelus kepalanya.
"Dia ternyata sedang mengandung anak Dennis, calon suaminya yang akhirnya rujuk sama mantan istrinya. Padahal lusa dia nikah".
"Pak.. Duduk dulu ya di sofa, saya buatkan teh dulu" ucap Nora lembut.
Handi tidak mau melepaskan pelukannya, ia terus mengeluarkan isi hatinya.
"Dia meminta saya untuk menikahinya, tapi saya gak mau menikahi dia karena dia mengandung anak orang lain. Saya bilang sama dia kalau mau bunuh diri silahkan, saya tantang dia karena saya sudah lelah menghadapi sikap dia. Bukan dia doang yang frustasi, saya juga frustasi. Saya antarkan dia pulang, dan sebelum dia turun dari mobil saya bilang dia harus kuat menghadapi ini. Namun akhirnya dia gak kuat dan memilih bunuh diri".
Nora menghela napasnya, ia melepaskan pelukan Handi "pak, sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu. Keputusan untuk bunuh diri kan ada di tangan Bu Rosa. Jika bapak merasa bersalah dengan omongan bapak, seharusnya beberapa menit sebelum keluar mobil bapak minta maaf.Nasi udah jadi bubur pak, tinggal gimana kita bikin bubur itu enak aja. Dikasih kecap manis atau asin, dikasih kacang dan kerupuk yang banyak".
Handi menatap Nora yang terlihat bijak hari itu "temani saya ke rumah duka ya Ra karena nanti malam mau dikuburkan".
Nora mengangguk dan membuatkan teh hangat untuk Handi. Setelah itu ia mengganti bajunya agar lebih layak saat di rumah duka.
"Pak, pacaran hampir 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Apalagi kalau setiap hari selalu bersama, bapak harus kuat hadapi masa-masa kehilangan" ucap Nora pelan.
**
Handi dan Nora sampai di rumah duka. Bibinya Rosa berlari ke arah Handi dan menangis di pelukannya. Sedangkan mantan calon suaminya Rosa hanya terduduk diam melihat mantan calon istrinya terbujur kaku.
Handi menghampiri pria yang bernama Dennis itu "lu gak tau kalau Rosa hamil?".
Dennis mengangguk "tapi gw dipaksa rujuk sama mantan istri, kalau engga gw dipecat dari perusahaan ayahnya".
Handi mengepalkan tangannya, rahangnya menjadi kaku mendengar penuturan Dennis "dasar benalu".
Nora memegang tangan Handi yang terkepal, ia mencoba menenangkan Handi. Perlahan Handi mulai relax dan ia melihat jasad Rosa untuk terakhir kalinya.
Air matanya jatuh "Ros, makasih udah nemenin aku selama 10 tahun. Maaf aku gak bisa menenangkanmu".
Nora jadi ikutan nangis saat mendengar ucapan Handi untuk terakhir kalinya.
Tak berapa lama, Handi pamit undur diri dari rumah duka itu.
Di dalam mobil mereka tenggelam dalam keheningan. Sesekali Nora melirik Handi yang beberapa kali menyeka air matanya.
"Pak, kita ke bukit yang buka 24 jam yuk. Bapak mau teriak atau nangis disitu bebas. Namanya bukit pelampiasan pak".
Handi menuruti Nora, mereka menuju ke bukit pelampiasan dan kebetulan disana sudah mulai sepi.
"Pak, silahkan nangis sepuasnya disini, teriak boleh. Asal sehabis ini bapak benar-benar lega dan tenang" ucap Nora sambil memberikan ruang untuk Handi.
Handi menatap langit yang gelap, hatinya begitu sedih malam itu. Ia mencoba memasrahkan segalanya agar hatinya kembali lega.
"Ros.. Maafin aku ya bikin kamu seperti ini. Maaf aku menggantungmu selama 10 tahun karena orangtuaku gak mengizinkan kita menikah. Maaf Ros, aku gak bisa menduakan Tuhanku, namun aku juga gak bisa mutusin kamu. Aku gak tega dengan keadaan mentalmu, dan hari ini aku menghancurkan mentalmu berkeping-keping. Maaf atas segala sikap dan tutur kataku selama 10 tahun, maaf selalu bikin kamu menunggu dalam kesia-siaan. Tenang disana Ros sama anakmu, titip salam rinduku pada mamamu".
Nora ikutan nangis untuk kedua kalinya, kali ini ucapan Handi begitu menyayat hati Nora, ia terbawa kedalam kehidupan Handi dan Rosa padahal awalnya karena terjebak di lift bareng Handi.
"Kayaknya mereka berdua bucin banget dulunya sampai kayak begini" gumamnya dalam hati.
Ia memberikan botol air mineral dan tissue pada Handi. Ia tidak mau terlalu ikut campur urusan Handi dan Rosa, semoga setelah semua ini berlalu Nora bisa bebas dari Handi.
"Saya antarkan kamu pulang ke hotel ya" ucap Handi dengan wajah suntuk.
Nora mengangguk dan masuk ke mobil Handi. Selama dalam perjalanan ke hotel, Handi tak melepaskan tangan Nora. Setiap ia memegang tangan Nora ada kekuatan baru untuk merelakan Rosa pergi.
"Pak, sampai sini aja ya.. Saya mau istirahat, maka~"
Handi mencium lembut bibir Nora, kali ini Nora meresponnya dengan lembut dan melepaskan ciuman itu.
"Pak, saya sadar saya jadi pelarian bapak. Tolong pikirkan perasaan saya juga, saya korban pemerkosaan bapak, tapi saya masih mau nemenin bapak. Tolong jangan membuat saya jadi jatuh cinta sama bapak" ucapnya lirih.
Bersambung