Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Langkah Naila

Jejak Langkah Naila

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: resa.p

Naila, seorang gadis berusia 12 tahun, tumbuh dalam keluarga sederhana yang porak-poranda sejak kepergian sang ayah. Sejak saat itu, ia dipaksa menjadi kuat—bukan karena ingin, tetapi karena keadaan yang memaksanya. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Berjuang demi sebuah gelar di belakang namanya, Naila terus melangkah meski sering kali dunia terasa terlalu berat. Ia berharap pendidikan bisa menjadi jalan keluar dari kemelut hidup, sekaligus bukti bahwa dirinya mampu. Namun, di tengah perjuangannya, ia terjebak dalam cinta semu yang justru menambah derita.

Hidup Naila seolah seperti drama yang terus diputar ulang yang penuh konflik batin, pengorbanan, dan kesepian yang dalam. Tapi dari luka itulah ia perlahan belajar tentang arti keteguhan, harapan, dan mencintai diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon resa.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Habis Kontrak

Sepeda motor itu akhirnya tiba di depan kost kecilku pada suatu sore yang mendung. Deru mesinnya memecah keheningan yang sejak beberapa hari terakhir terasa begitu akrab. Sejak kak Mila pulang kampung untuk menunggu hari di mana Kak Ivan akan datang melamarnya dan aku resmi tinggal sendiri. Tidak ada lagi suara pintu kamar yang dibuka bersamaan, tidak ada obrolan ringan sebelum tidur, dan tidak ada tawa kecil yang biasanya mengisi ruang sempit itu.

Awalnya aku mengira aku akan terbiasa. Namun ternyata, kesepian memiliki suara yang lebih keras daripada yang kubayangkan.

Weekend menjadi hari-hari terberat. Kost terasa semakin sempit ketika tak ada siapa-siapa. Karena itulah, hampir setiap akhir pekan aku memilih pergi ke rumah kak Nila. Bukan sekadar bertamu, tapi mencari rasa pulang. Ia adalah orang yang menemaniku sejak awal perjalanan mencari pekerjaan, sejak hari-hari penuh ketidakpastian itu. Biasanya aku datang membawa buah dan sedikit makanan bukan sebagai balasan, hanya ungkapan terima kasih yang tak pandai kuucapkan dengan kata-kata. Meskipun hanya sehari, berada di rumah kak Nila sudah cukup mengusir rasa sepi yang menumpuk sepanjang minggu.

Jika tidak ke rumah kak Nila, biasanya Fera yang datang ke kostku, diantar oleh kakaknya. Kami kembali dekat setelah sekian lama terjebak dalam masa abu-abu yang tak pernah benar-benar kami bicarakan. Kota Y bukan tempat yang ramah bagi pertemanan baru, terutama dengan orang-orang lokalnya. Maka, kami pun saling menemukan kembali dua orang perantau yang sama-sama merasa asing.

Fera bekerja di perusahaan A, perusahaan produksi barang jadi yang sekilas mirip dengan tempatku bekerja di perusahaan E, hanya saja hasil produksinya berbeda. Ia sudah satu tahun sembilan bulan di sana, hingga akhirnya kontraknya habis awal bulan ini. Keputusan Fera sederhana namun berat ia akan pulang kampung terlebih dahulu, mengurus berkas, menenangkan diri, lalu kembali berjuang mencari pekerjaan baru. Aku mengantarnya sampai batas kota dengan doa-doa yang tak terucap.

Sementara itu, waktuku di perusahaan E masih tersisa sekitar enam bulan. Tapi justru di sanalah kebimbanganku bermula. Aku mendaftarkan diri ke beberapa kampus di sekitar kota Y. Proses administrasi ku lalui, formulir kuisi, dan setelah semuanya beres, aku kembali bekerja seolah hidupku tak sedang berada di persimpangan besar. Perkiraan awal, perkuliahan baru dimulai sekitar delapan bulan lagi.

Aku merasa takut. Takut tak sanggup kuliah sambil bekerja, takut dengan sistem kerja shift yang melelahkan, takut juga karena kontrakku sebentar lagi akan berakhir. Namun keyakinan keluargaku menjadi sandaran terakhir. Dengan napas panjang, aku membayar tiga puluh persen biaya pendidikan, sebuah keputusan yang terasa seperti melompat ke laut tanpa tahu seberapa dalam airnya.

Hari-hari berikutnya tak berjalan sesuai rencana. Tiba-tiba, tempat kerjaku berhenti beroperasi sementara karena tidak ada permintaan. Aku dipindahkan ke departemen lain, departemen yang asing bagiku, padahal masa kontrakku tinggal hitungan minggu. Rasanya ingin menolak, ingin bertanya mengapa semua harus terjadi bersamaan. Namun aku memilih diam. Profesionalisme memaksaku bertahan.

Aku belajar ulang dari awal. Prosesnya berbeda, meski barang yang dihasilkan sama. Tanganku canggung, pikiranku lelah, tapi aku terus berjalan. Hingga tanpa terasa, hari itu tiba.

Hari terakhirku di perusahaan E.

Shift malam, yaa hari terakhirku sama seperti hari pertamaku.

Pagi harinya, semua perasaan bercampur menjadi satu. Antara sedih, senang, haru yang tak satu pun bisa ku pilah. Aku dan teman-teman yang sama-sama habis kontrak berganti pakaian yang sudah kami siapkan masing-masing. Kami berkumpul, tertawa kecil, lalu berpamitan. Kepada atasan, kepada rekan kerja, kepada sahabat-sahabat yang pernah berbagi lelah dan tawa di dua departemen yang berbeda.

Aku membawa sedikit kenang-kenangan, mengikuti tradisi yang telah lama hidup di sana. Tak kusangka, aku justru pulang dengan tangan penuh dengan bingkisan seperti cokelat, hadiah kecil, dan kenangan besar yang tak mungkin muat dalam tas. Pelukan terakhir, senyum yang dipaksakan, dan janji-janji untuk tetap saling mengingat.

Setelah semuanya berakhir, aku memutuskan pulang kampung. Tapi sebelum benar-benar pulang, aku mencoba peruntungan sekali lagi. Sebuah perusahaan di sekitar sana membuka kesempatan. Aku langsung mengikuti psikotest tahap pertama. Tes itu berjalan lancar, dan pihak yayasan berkata akan mengabari melalui nomor yang telah ku serahkan. Aku mengangguk, menyimpan harapan kecil di saku celana.

Sore harinya, aku menuju rumah kak Nila. Aku menginap beberapa hari, berpamitan dengan hati yang berat namun penuh rasa syukur. Dan akhirnya, dengan koper sederhana dan kenangan yang tak sederhana, aku naik kereta api.

Kereta itu membawaku menjauh dari kota Y dari kost sunyi, dari shift malam terakhir, dari perpisahan-perpisahan yang tak sempat kuucapkan dengan kata sempurna. Menuju kampung halaman, menuju jeda, dan mungkin… menuju awal yang baru.

1
HitNRUN
Keren abis
Violeta Itzae Gonzalez O.
Author, kita fans thor loh, jangan bikin kita kecewa, update sekarang 😤
Aura Cantika
Plot yang rumit, namun brilian.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!