Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 009: Kebenaran yang Menang
Pertarungan antara Seraphina dan Drakar dimulai. Dua kekuatan dahsyat saling berbenturan, membuat tanah di sekitar arena bergetar hebat.
Drakar mengerahkan seluruh kemampuan dan keahliannya yang sudah diasah puluhan tahun, namun Seraphina seolah sudah mengetahui setiap gerak-geriknya. Dengan tenang namun pasti, Seraphina melancarkan serangan balik yang akurat, hingga dalam waktu singkat tubuh Drakar terpental jatuh dengan luka yang cukup parah dan tak sanggup lagi bangkit berdiri.
"Kau... kau hanya seorang gadis kecil... bagaimana mungkin... aku bisa kalah..." ucap Drakar terbata-bata sambil menahan sakit yang luar biasa.
"Terimalah kekalahanmu Drakar. Tinggalkan tempat ini sekarang juga, jika kamu masih sayang nyawamu," ucap Seraphina tegas.
"Ayo kita pergi, Ketua. Nanti kita akan menyusun rencana lain untuk membalas kekalahan ini," ajak Gorah segera menghampiri dan membantu Drakar berdiri perlahan, lalu membawa pergi pasukan Klan Cakar Badai meninggalkan Kerajaan Bulan Perak.
Suasana kembali hening seketika. Tatapan Seraphina kini beralih tajam menuju Raja Argan. "Saatnya kau turun dari singgasana itu. Kau sama sekali tak pantas memimpin kaummu."
"Benar sekali. Sejak awal takhta itu adalah hak milik keluargaku. Akulah yang mengangkatmu menjadi raja, namun kau malah berani merampas segalanya dariku, bahkan tega membuangku beserta putriku yang baru saja lahir," tambah Lira dengan suara yang kini mulai berwibawa kembali.
"Tidak! Takhta ini takkan pernah jatuh ke tangan kalian yang hanya dianggap sampah!" Elara maju melangkah dengan penuh penolakan, meski langkahnya tampak ragu.
"Kalau begitu, apakah kau mau membuktikan sendiri siapa yang sesungguhnya pantas mendudukinya?" tantang Seraphina menatapnya lurus.
Wajah Elara mengeras, namun tak berani melawan Seraphina. Elara Mundur perlahan, teringat betapa hebatnya kekuatan yang baru saja ditunjukkan Seraphina hingga membuat Drakar pun tumbang. Bagaimana mungkin ia sanggup melawannya?
"Lihatlah, bahkan untuk sekadar melawanku pun kau sudah gemetar ketakutan dan memilih mundur. Bagaimana mungkin kau dan ayahmu mampu melindungi kaummu sendiri?" ejek Seraphina.
"Kaelan, tangkap mereka bertiga. Bawa ke tempat pengamanan Klan De Luna untuk diadili," perintah Seraphina tegas.
"Tidak! Jangan sentuh aku! Ingatlah, akulah ayahmu, Raja Argan Bulan Perak!" teriak Argan panik saat para prajurit mulai mendekatinya.
Seraphina tersenyum tipis penuh sindiran. "Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa hubungan kita sebagai ayah dan anak sudah putus? Terimalah hukumanmu atas apa yang kau perbuat selama ini."
Tanpa perlawanan yang berarti, Argan, Sari, dan Elara digiring meninggalkan aula istana. Seraphina kemudian memandu Lira menuju singgasana kerajaan. "Bu, takhta ini milik Ibu. Ibu yang seharusnya memimpin. Aku berjanji akan mencari segala cara untuk memulihkan kembali kekuatan dan srigala Ibu yang hilang."
Di markas besar Klan De Luna, Kaelan melapor menghadap Alaric. "Lapor Ketua, Seraphina sementara waktu masih menetap di Kerajaan Bulan Perak guna membantu Ibu kandungnya, Lira, memulai kembali kepemimpinan."
Alaric mengangguk paham namun dahinya sedikit berkerut. "Kaelan, kau segera kembali ke sana dan tetaplah menjaga putriku dengan sekuat tenaga. Aku yakin kini dirinya akan menjadi sasaran empuk bagi siapa saja yang menginginkan darahnya demi menambah kekuatan, terlebih lagi mereka yang bersekutu dengan kekuatan kegelapan dan iblis."
"Siap, akan kulakukan sebaik mungkin," jawab Kaelan mantap.
"Dan kau Boras, jaga ketat perbatasan antara wilayah kita dan Kerajaan Bulan Perak. Pastikan tak ada satu pun penyusup yang bisa masuk untuk mengganggu ketenangan Seraphina," perintah Alaric lagi.
"Siap laksanakan, Ketua!" sahut Boras tegas.
"Kaelan, sampaikan pesanku pada Seraphina, agar ia segera memakai kembali gelang untuk menyembuhkan kekuatannya," pesan Alaric mengingat hal penting itu.
"baik, akan aku sampaikan," ucap Kaelan.
Tak lama kemudian Kaelan segera berangkat kembali ke Kerajaan Bulan Perak, sementara Boras menuju perbatasan untuk memastikan keamanan sepenuhnya.