Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Maya

Cinta Untuk Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:319.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Deviss

Maya adalah seorang wanita biasa yang dijodohkan dengan pilihan orang tuanya. Dia berkali-kali menolak karena sudah memiliki kekasih.

Sedangkan lelaki pilihan orang tuanya, bernama Prawira. Dia seorang abdi negara yang baru saja dipindah tugaskan di Jakarta.

Pernikahan mereka berlangsung seminggu setelah tragedi itu. Maya terpaksa menjalani semua ini. Masa lalu yang datang kembali, membuat dirinya terguncang.

Bisakah Maya melewati semua ini, akankah dia mendapatkan cinta dihidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deviss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKHIR KEBOHONGAN

Ponsel itu terus menerus berdering tetapi sang empunya tidak juga terbangun. Rasa penasaran Maya besar yang akhirnya, ia perlahan menggeser ikon berwarna hujau ke atas lalu dikerahkannya ke telinga kanan. Masa bodo jika nanti dia dimarahi oleh pemilik ponsel ini.

"Rangga, lu di mana? Di cariin Bunda. Cepetan pulang!" Maya yang mendengar itu menjadi bingung. "Hallo, Rangga ... hallo, WOI ... lu di rumah Kania 'kan, gue ke sana!" ucapnya lagi.

Maya memberanikan diri untuk berbicara. "H-hallo," sapa Maya terbata-bata.

"Oh ... Kania? Gue wira, suruh adik gue pulang, ya. Di cariin Bunda," ucap seseorang di sebrang sana.

"Pra, wi, ra?"

"Hm ... tolong ya suruh dia pulang, terim–"

"A-aku bukan Kania," jelas Maya memotong pembicaraan, "a-aku maya." Maya melihat ponsel itu masih dalam panggilan tetapi tidak ada respon apa pun darinya.

"Hallo," sapa Maya lagi.

"Ah ... Maya, minta tolong yang punya ponsel ini suruh pulang." Maya berdehem sembari mengangguk, walaupun tidak terlihat oleh siapapun.

"Hm, nanti aku bangunkan." Setelah orang itu berterima kasih lalu dimatikan oleh Maya dan dikembalikan seperti semula.

Permainan apa ini? Maya menatap Rangga dengan bayak pikiran hingga tidak terasa air mata mengalir. Tangannya bergerak cepat menghapus cairan bening itu. Ia berjalan ke sisi ranjang, lalu mendorong kuat hingga dia jatuh dan terbangun dari tidurnya.

"Hais ... ap–" ucapan Rangga terhenti saat melihat Maya mengeluarkan air mata. "Ada apa? orang itu tidak memaafkan ka–"

"Siapa kamu?!" potong Maya. Rangga hanya berdecak, melihat arloji di tangan menunjukan pukul sepuluh malam. Mengacuhkan pertanyaan Maya, Ia bangkit merapikan pakaian sembari berjalan ke arah sepatun yang tergeletak di dekat jendela lalu memakainya.

Maya mendekat dengan tatapan penuh dengan kemarahan. "Jawab pertanyaan aku! Kamu Prawira atau Rangga?" tanya Maya. Ia melihat gerakan tangan Rangga yang sedang memakai sepatu terhenti sebentar lalu melanjutkannya kembali.

"Dia siapa? dia yang memberi tahu kamu? Tahu apa dia?" Rangga malah balik bertanya. Ia pikir Juha yang memberitahunya.

"Bukan dia, tapi Prawira asli, lihat saja di ponsel kamu ada berapa panggilan." Rangga mengambil ponselnya yang masih tergeletak di atas kasur, lalu membukanya.

Mata Rangga terpejam sebentar, membuang napasnya dengan kasar. Berjalan mendekati Maya, mengulurkan tangannya ke depan. "Gue Rangga, adiknya Prawira." Dijawab decakan oleh Maya. "Oke karena sudah ketahuan, gue gak perlu lagi pura-pura dan ...."

"Keluar!" Rangga diam menatap tepat di kedua bola mata Maya, tidak lama kemudian ia menuruti. Keluar melewati jendela lagi dan tembok tajam itu.

🌷🌷🌷

Suara alarm membangunkan Maya yang baru saja tertidur. Sejak kepergian Rangga dari kamarnya ia terus saja menangisi kebodohannya. Sahabat yang ia hubungi pun tidak habis pikir dengan kakak beradik itu, bisa-bisanya mereka membohongi Maya. Ia menyingkap selimut lalu beranjak untuk membersihkan diri dan beribadah.

Setelah selesai semua Maya malas keluar untuk sarapan bersama. Padahal jam sudah menunjukan pukul 7 pagi yang setengah jam lagi ia harus berangkat ke kantor. Tidak lama kemudian ponsel berdering, tertera nama Juha di layar benda persegi panjang itu.

"Hallo," sapa Maya.

"Suara kamu kenapa? semalam dia pulang jam berapa? dia gak tidur bareng kamu 'kan?" Kata-kata itu membuat dahi Maya mengkerut. Kenapa sekarang dia jadi posesiv begitu.

"Satu-satu kali, Bang."

"Gak ada waktu lagi, Cantik. Saya pagi ini mau sertijab. Cepat jawab!" seru Juha.

"Dia pulang jam 10. Puas?" Juha tertawa.

"Terima kasih, Cantik. Sampai ketemu sore nanti." Maya berdehem menjawab ucapan Juha, malu sekali dibilang cantik, lalu mematikan panggilannya. Sejenak melupakan masalah semalam, ia keluar dari kamar. Melihat kedua orang tuanya sedang sarapan bersama.

"Sudah selesai? Sini sarapan dulu, May," ucap sang Mama.

"Maya langsung berangkat aja, Ma, Pa. Maya duluan ya." Setelah berpamitan Maya langsung memesan ojek online untuk sampai ke kantornya.

Di kantor Maya langsung membuka berkas yang sama sekali belum dia sentuh dan hari ini harus selesai, karena besok libur. Setiap jam berganti ia memperhatikan ponselnya tetapi tidak ada pemberitahuan dari Juha.

Sore pun tiba Maya langsung bergegas turun, karena Juha sudah menunggunya setengah jam yang lalu. Ini seperti dejavu, melihat penampilan Juha yang keren membuat dia jadi berandai-andai. Berharap kalau calon suaminya nanti adalah Juha.

Juha mengajak Maya ke tempat yang romantis. Makan malam di pinggir laut memang itu impian semua para wanita. Apa lagi kalau makanannya berbau-bau seafood, dia langsung suka.

"Dek, saya mau bilang sesuatu boleh?" tanya Juha.

"Bilang apa, Bang? jangan yang aneh-aneh, ya," pinta Maya sembari menyuapi Juha daging udang yang tadi ia kupas.

"Gak kok, ini serius." Maya mangangguk. "Saya besok pindah tugas ke daerah Bandung," ucap Juha. Pergerakan mengunyah Maya terhenti sebentar sembari menatap datar."Kamu gak marah 'kan?" Maya tertawa.

"Bagus donk, berarti di sana butuh abang. Kenapa saya mesti marah? Saya bukan pacar, bukan tunangan, istri juga bukan," jelas Maya membuat Juha tersenyum.

Maya tidak Ingin berharap lebih dari Juha. Kalaupun malam ini menjadi momen pengakuan cinta, ia tidak akan menerimanya, karena pada akhirnya akan ada hati yang terluka.

Setelah selesai, Maya dan Juha berjalan di sekitar pantai. Memandang kilauan indah dari lampu-lampu kecil yang tergantung di sepanjang jalan. Menoleh–melihat Juha sedang menerima panggilan.

Tidak lama kemudian Juha mendekati Maya. "Dek, hari ini kamu bener-bener gak ada acara yang lain 'kan?" tanya Juha.

Maya menggeleng sembari berkata, "Gak ada, Bang. Kenapa emangnya?"

"Ikut saya ya!" Juha memegang tangan Maya, lalu membawanya pergi.

Maya bingung sekaligus pasrah ke mana Juha membawanya. Laju Motor dia melambat lalu berhenti di sebuah kafe dengan nama The Young Cafe. Dari luar terlihat suasananya sangat nyaman untuk nongkrong.

"Kita mau makan lagi?" tanya Maya dengan heran.

Juha tertawa sembari membantu melepaskan helm yang melekat di kepala Maya. "Gak, Cantik. temen-temen ngadain acara perpisahan buat aku di sini. Yuk!" ajak Juha.

Maya menggeleng pelan tanda tidak mau ikut berkumpul. Juha yang tadinya sudah berjalan beberapa langkah berbalik arah karena melihat Maya hanya diam. "Kenapa?" tanya Juha.

"Pasti banyak orang deh." Maya tersenyum masam.

"Gak kok, ini bukan resmi, hanya beberapa orang yang biasa kumpul bareng. Kalau yang resmi sudah tadi siang," jelas Juha sembari memegang tangan Maya, lalu membawanya masuk.

Maya dan Juha mendekati salah satu meja. Di sana terlihat sekitar tujuh orang sedang bercengkrama. Dari sekian banyaknya pengunjung datang hanya mereka yang paling gaduh. Juha mempersilahkan Maya duduk lebih dulu baru dirinya.

"Dek, kenalin, ini temen-temen saya. Bayu, Putra, Adit, Joko, Adi, dan, Wira," jelas Juha menunjuk satu persatu. Maya tersenyum menyatukan kedua tangannya di bawah dagu.

"Nanti kalau kalian lihat dia lagi kesulitan, mohon bantuaannya ya." Mereka mengangguk yang berujung meledek, tidak terkecuali Prawira yang menatapnya sebentar lalu fokus kembali pada ponselnya.

Ponsel Maya berdering, tertera di layar ponsel dengan nama 'Mama'. Ia segera menjauh, lalu menjawabnya. Tidak lama kemudian, Maya kembali duduk di sebelah Juha. "Bang, pulang yuk! tadi Mama telepon," pinta Maya. Tanpa disadari, Prawira menatap Maya yang sedang berbicara pada Juha.

Bersambung ....

1
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Tamat yaaaak...?
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Ha...ha...ha...sukaaaaa...dech biar klepek klepek tuh Prawira ha...ha....ha....
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Syukur prawira di panas2 in sama Rangga....se 7 Rangga biar Prawira klojotan pikiran nya bercabang 1000
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Prawira edhaaaaaan....
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Prawira gilaaaaaa....menduakan wanita...pnya anak malah malah seblm nikah dg Maya...gila pke bgts tuh Prawira.....😠😠😠
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Baliiiiik...sama Juha aja lbih baik lbih setia , Prawira gombaaaaaaal....
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Kerent bdn nya Prawira...he...he...he...
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Hi...hi...hi...knp adek nya Prawira yg cemburu...aneh...
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Waaah seruuuu...ha...ha...ha...
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Hi...hi...hi...mnding Maya dpt Juha dech....wwwkkkk..
nggak di dua in.
Swis Indi
mana ini cerita Maya season 2 nya author 👍🥰 di tunggu ya
Adinda Wahyuni
hanya bisa berasumsi 🤔🤔
Adinda Wahyuni
😂😂😂
reader di prank ..
Novi Margaretha
gak seru klau nikahny hrs sm prawira,gak smua perjodohan itu bucin,bosen deh baca crita yg awal dijodohkan lm2 bucin,hrsny cintany yg diperjuangkan,cwe kok gak bs tegas sm pendirianny😡
Gogon
semangat thorrr
Pudi Astuti
sehat selalu thor
Crusiana Habiba
setia menantimu author cantik ❤️
Lina
ku setia menunggumu author cantik 🥰😊
Lovenia
stia menunggu mba😍
Yenny DA Yoesuf
selalu ditunggu kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!