[COMPLETE✔️]
Richard Leonidas Wagner
Pemuda berandal dan tampan- membawaku masuk ke dalam hidupnya yang berbahaya.
Membuatku hampir kehilangan dua bintang penting dalam hidupku, memecah fokusku hanya tertuju padanya.
Richard mengikatku terlalu kuat hanya untuk dirinya sendiri. Dia begitu serakah, tidak membiarkan siapapun merebutku dalam genggamannya.
Richard; Ketua basket, bagian dari Geng Motor jalanan dan Narkoba— Dunia hitam yang selalu membawanya dalam masalah rumit dan Aku hampir menyerah karenanya.
Richard- Setelah Aku mengikutimu hingga akhir, bisa Kau lepas semua hal yang membahayakan hidupmu dengan sukarela?
Dan sanggupkah Aku yang lemah ini bertahan dalam sisi gelapmu yang begitu keras?
Hey Richard! ich liebe dich ..
-Bee Unknown-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksplisit
...Eksplisit(n); tegas, terus terang...
...******...
Bel pulang yang ditunggu pun berbunyi.
Menyelinap kabur bukan keahlianku dan pertama kalinya, aku berjalan melalui jalan setapak yang sisi kanan dan kirinya ditumbuhi banyak rumput ilalang sebatas pinggang.
Terlalu banyak bangunan kosong yang tidak terpakai, mengingat luas sekolah ini dua kali lipat seukuran lapangan golf.
Sekelibat bayangan horor terekam dipikiranku.
Di sini benar-benar sepi, hanya ada aku, rumput dan semilir angin menerpa rambut hingga membuat bulu kudukku merinding.
Dan tiba-tiba, sebuah tangan membekap mulutku.
Mataku terpejam, tak berani melihat situasi yang sedang terjadi sekarang.
"Sialan!"
Aku mengumpat dan membuka kelopak mataku bersamaan ketika hal pertama yang kulihat adalah gudang kosong.
Berdebu dan lembab.
Rasanya dadaku sesak, hidungku juga gatal ingin bersin namun seseorang itu menghentikannya— "Sst\~ jangan berisik!"
Richard.
Pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding sembari menatapku dengan sepasang obsidian birunya yang terang.
Dia terlihat tampan, seperti biasa.
"Apa yang—"
"Diam! Mereka masih di luar!"
Kemudian bayangan orang-orang yang ia maksud terlihat di bawah pintu. Aku tidak yakin dengan jumlah mereka tapi bisa kutebak, jika ada empat orang yang sedang mencariku— oh astaga! Kenapa mereka mengejarku?
"Richard—"
"Sst\~ diam Empusa!"
Aku mengangguk pelan, menuruti perintah Richard.
"Kau yakin? Tapi Nona Violette tidak ada di sini!"
"Brad, bagaimana?"
Jadi itu paman Brad dan para pengawal Kakakku.
"Cepat hubungi Herr Moller sekarang!"
"Kita pulang?"
"Ya! Kita pulang!"
Lima belas menit berlalu. Aku benar-benar tak tahan dengan udara di ruangan ini.
Seharusnya pihak sekolah melakukan renovasi dan memanfaatkan ruangan kosong sebagai tempat untuk kelas tambahan, misal; studio music dan ruang teater.
"Mereka sudah pergi. Ayo ikut aku!"
Yang tak kusadari, sejak tadi Richard terus menggenggam tanganku. Berjalan di depan sementara aku sibuk tersipu menatap tautan tangan kami yang terasa hangat.
Sekitar seratus meter, aku terus mengeluh sepanjang perjalanan. Tubuhku sudah gatal oleh gesekan rumput liar yang tak sengaja bersentuhan dengan kulitku, belum lagi— kejadian tadi pagi, menambah rasa gatal karena aku tak sempat membersihkan tubuhku dengan benar.
"Richard, bisa berhenti sebentar? Aku lelah."
Tak ada sahutan. Mulutku kembali merengek, "Astaga, Richard! Kakiku benar-benar mau patah sekarang!"
Richard menoleh ke belakang lalu berjongkok di hadapanku. Mengundang kernyitan di kening.
"Cepat naik ke punggungku."
"A-apa yang k-kau lakukan?"
Wajahku memerah, bak kepiting rebus.
"Ck! Menggendongmu, tentu saja!"
"Tapi-"
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Richard lebih dulu menyentak kedua lenganku.
Reflek, aku memeluk lehernya, menopang daguku di bahu tegapnya. Aroma maskulin tercium oleh hidungku dan jarak kami sangat dekat.
Tak ada spasi, seperti saat kami menaiki motor Harley Davidson miliknya. Tubuhku benar-benar menempel padanya.
Nyaman sekali!
Selain seksi, Richard juga harum! Aroma tembakau dan mint menguar. Kesan maskulin dan dewasa, semua diborong oleh pria ini.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara bass itu menginterupsi pikiran kotorku tentangnya.
Dan membuatku sadar bahwa kami sudah berdiri di depan gerbang setinggi dua meter.
Richard menurunkan tubuhku perlahan tepat di depan motor Harley miliknya— "Kau tidak keberatan naik itu lagi 'kan?"
"Kau pikir aku keturunan Queen Elizabeth I yang memilih kuda sebagai kendaraan?" Bibirku mencibirnya lagi, "Ayo pergi! Tubuhku sudah gatal ingin mandi."
Entah apa yang keliru dari ucapanku, dia menyeringai nakal.
"Apa? Kau pasti berpikiran kotor bukan?"
Richard mengedikkan bahu santai, ia kembali pada mode biasanya. Lalu memutar kunci dan suara debuman kuda besi miliknya terdengar.
Membantuku naik dan tanpa persetujuan, Richard menarik kedua lenganku, memeluk perut berototnya— "Pegangan, Frau Wagner!"
"Kau bilang apa?"
Sepertinya aku mendengar Richard mengatakan sesuatu.
"Tidak ada!"
Hening kemudian.
Motor sudah melaju menjauhi gerbang sekolah. Aku tidak bertanya tujuan kami karena sibuk menetralisir debaran jantungku sekarang.
Lalu saat motor mulai memasuki kawasan apartemen mewah dengan gedung bertingkat tiga puluh, kepalaku melongok ke depan dan bertanya; "Ini apartemen siapa, Richard?"
Hingga di belokan terakhir, pria itu tidak menjawab pertanyaanku dan berpikir, Richard memang tak berniat memberitahuku.
Pintu lift terbuka. Aku terus mengikuti Richard sampai ke depan pintu nomor 16.
"Kita akan menemui siapa?"
Mata unguku menatap ke sekeliling. Apartemen yang luas dan bagus. Aku menyukainya.
Dan mungkin Ben bisa membelikan satu unit sebagai hadiah ulangtahunku nanti.
Richard kembali dengan dua gelas minuman dingin ditangannya— "Ini apartemenku!"
"Kau tinggal sendirian? Dimana orangtuamu?"
"Ya, aku tinggal sendiri."
"Tidak takut, huh?"
Ia mendudukkan pantatnya di sampingku, matanya terpejam dan aku bisa melihat rahang tegas di wajah tampannya, "Tidak ada yang perlu kutakutkan di sini!"
Kemudian Richard mendekat, semakin mendekat dan mengendus tubuhku— "Empusa, kau mencium sesuatu?"
Sial, sial, sial!
Aku lupa menaruh seragam kotorku di binatu sekolah.
"Eh? Itu .. Mungkin kau lupa memasang pengharum ruangan, Richard." Mataku berlarian ke segala arah, memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal agar Richard tak menaruh curiga dan berakhir mengetahui kejadian yang menimpaku pagi ini.
Hanya tidak ingin Bianca berada dalam masalah, mengingat ucapan Kate padaku kemarin.
"Richard tidak akan membiarkan siapapun membuat miliknya bersedih dan kau ... Tolong jangan berpikir buruk tentang hubungan Richard dan Bianca!"
Aku termangu beberapa saat dan suara Richard kembali terdengar.
"Bicara yang benar, Empusa!"
Namun bukannya menjawab, aku justru menggigit bibir bawahku, gugup.
"Empusa—"
Sialan! Aku merasa terpojok hanya dengan mendengar suara beratnya yang seksi itu.
"Violette—"
Richard itu* *eksplisit***. Sulit ditebak dan sedikit *abnormal***. Butuh usaha ekstra untuk bisa membuatnya terlihat seperti pria biasa pada umumnya.
"Frau Wagner-"
"Hm, ada ap— kau barusan memanggilku apa?"
"Frau Wagner. Keberatan?"
Aku mendengus melihat ekspresi wajahnya itu, "Siapa kau hingga berani mengubah marga Moller menjadi Wagner?"
Violetku menatapnya tajam!
Sebetulnya aku hanya berusaha menyembunyikan rona merah yang muncul di wajahku karena panggilan manis itu.
Aku menyukainya, ngomong-ngomong.
"Aku? Richard, tentu saja!"
"Bukan itu maksudku, bodoh!" Lalu aku berniat menanyakan sesuatu yang semenjak kemarin kupikirkan, "Oh ya! Kenapa kau tidak memberitahuku jika nomor itu milikmu, huh?"
"Kau bisa menghapusnya jika keberatan menyimpan nomorku."
Dengar? Richard itu memang sesuatu.
Bukan kalimat itu yang ingin kudengar sebagai jawabannya.
"Terserah kau!"
Kemudian ponsel Richard berbunyi. Aku tidak tahu siapa yang menghubunginya tapi sepertinya itu penting. Ia bahkan langsung berdiri menjauhiku.
"Hm, masuklah! Aku bersama Violette sekarang."
Ya Tuhan! Akhirnya aku bisa mendengar suara berat Richard memanggilku dengan nama Violette.
Tujuh menit kemudian pintu apartemen Richard terbuka.
Bukankah itu Amora?
"Hai Violette."
Dia menyapaku. Suaranya terdengar sangat lembut.
Tunggu! Apa dia sungguhan gadis berandalan yang kutemui di sekolah? Maksudku, penampilan Amora berbeda dari biasanya. Dia terlihat cantik dengan dress putih itu.
Gadis itu masih tersenyum. Amora memberiku dua paper bag yang ia bawa.
"Tadi Richard mengirim pesan padaku dan mengatakan jika seseorang sedang lapar. Jadi dia memintaku memasakkan sesuatu dan mengantarnya ke sini."
Violetku bergulir ke arah Richard yang terlihat biasa saja melihat interaksi kami. Menuntut penjelasan mengenai situasi yang terjadi.
Richard, sebenarnya kalian berdua ini apa?
...******...
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!