Bagaimana jadinya jika kamu malah menyukai orang yang sangat kamu benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honeyy., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Alex terus menggendong Meysa, dan pada akhirnya Alex bertemu dengan Rio dan Reva.
"Meysa," kaget Rio saat melihat Meysa digendong oleh Alex.
"Lo kenapa?" tanya Rio dengan khawatir.
"Dipatok ular," ucap Meysa, Rio mengambil alih Meysa dari gendongan Alex.
"Ehh," kaget Meysa saat tubuhnya pindah kepangkuan Rio.
"Biar gua yang gendong Meysa," ucap Rio.
"Eh gak boleh, biar gua aja, tadikan lo bilang kalo lo kecapean, jadi biar gua aja," ucap Alex mengambil alih Meysa dari gendongan Rio.
"Gua cowok kuat Lex, bukan cowok lemah, sini biar gua aja," ucap Rio mengambil alih Meysa dari gendongan Alex.
"Gua aja," ucap Alex mengambil alih Meysa.
"Gua," ucap Rio mengambil alih Meysa.
"Gua,"
"Gua,"
"Gua,"
"Gua,"
Meysa seperti dijadikan tarik tambang saja, ditarik kesini, ditarik kesana. Jujur saja Meysa dari tadi pusing akan tingkah kedua pria itu.
"Stop!" teriak Reva yang mampu menghentikan Aksi mereka.
"Biar gua aja," ucap Reva menarik tangan Meysa dan mengalungkan tangan Meysa dilehernya, tidak lupa Reva memegang pinggang Meysa agar tidak jatuh, akhirnya Reva pun memapah Meysa.
"Pelan-pelan Mey," ucap Reva sambil memapah Meysa.
"Gara-gara lo sih Lex, kasihan kan Reva, jadi dia yang mapah Meysa," ucap Rio.
"Kok gua sih yang disalahin," ucap Alex.
"Gua heran yah sama lo Lex, kenapa lo gak ngizinin gua buat gendong Meysa," heran Rio.
"Karna ... Ehh ... karna gua juga gak tahu kenapa sih, mungkin gua gak mau liat sahabat gua yang satu ini kecapean," ucap Alex entah kenapa ia bingung sendiri menjawabnya.
"Jawaban lo gak masuk akal Lex, aneh banget sih lo, masa gua gendong Meysa aja gak boleh," ucap Rio.
"Udahlah jangan diperpanjang, gua juga gak tahu kenapa gua kaya gini, mending kita ikutin si Reva, si Reva udah jauh tuh," ucap Alex, Alex dan Rio pun berjalan mengikuti Reva.
Diperjalanan sangatlah hening, tidak ada percakapan sediditpun hingga akhirnya Meysa lah yang memulai percakapan.
"Jalannya kemana?" tanya Meysa dengan lemas.
"Ke sebelah barat," ucap Rio.
"Masih jauh?" tanya Meysa lagi dengan lemah.
"Masih," ucap Rio.
Beberapa menit kemudian Reva merasakan hal aneh.
"Mey, kok tiba-tiba lo berat banget sih," ucap Reva yang masih melihat ke arah depan, namun tidak ada respon dari Meysa.
"Mey," ucap Reva sekali lagi, namun masih sama, akhirnya ia menoleh ke arah Meysa.
"Mey, lo pingsan," panik Reva menepuk pipi Meysa.
"Yo, Lex, Meysa pingsan," panik Reva.
"Tenang Rev, gak usah panik, biar gua yang gendong," ucap Rio menggendong Meysa, sekejab Rio memandang wajah Meysa yang sedang pingsan, perlahan Rio tersenyum.
'Kalau dari dekat, lo cantik juga yah Mey,' gumam Rio.
"Eh Yo, malah bengong lo, ayo jalan, emangnya lo mau dihutan selama-lamanya," ucap Alex menepuk bahu Rio, dan itu menyadarkan Rio.
"Enggak lah, ngaco lo, ayo jalan," ucap Rio berjalan terlebih dahulu sambil menggendong Meysa.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai ditenda pada pukul 05 subuh.
"Alhamdulillah anak-anak akhirnya kalian datang juga," ucap guru-guru.
"Yo, Meysa kenapa?" tanya Andi dengan nada khawatir.
"Dipatok ular," ucap Rio.
"Astagfirullah halazim," ucap semua orang, dengan cepat Andi mengambil alih Meysa dari gendongan Rio.
"Mey, kenapa lo bisa kaya gini sih," ucap Andi dengan penuh perhatian.
"Di, bawa Meysa ke tenda guru," perintah pak kepala sekolah.
"Baik pak," ucap Andi dan pergi ke tenda guru.
'Kayanya, Andi, Rio, dan Alex ... mulai suka deh sama Meysa,' gumam Reva dalam hati. 'Kira-kira siapa yah, yang akan Meysa pilih?,' monolognya lagi.
"Eh Mey, malah bengong lo, ayo kita susul si Andi, sahabat lo lagi sekarat lo malah bengong gak jelas," ucap Rio.
"Hehehe," ucap Reva cengegesan. Akhirnya Alex, Rio, dan Reva pergi menyusul Andi.
BERSAMBUNG...