Cover by Pinterest
Original Story by BabyKucing
...
Ini kisah tentang perjalanan Marabella yang mengejar impiannya, melakukan segala cara untuk menghancurkan rintangan yang menghalanginya untuk mencapai apa ia tuju.
Saat pertama kali melihat rok putih polos yang ringan dan kaki yang berdiri di ujung jari itu, selalu saja membuat jantungnya berdebar. Usianya baru 10 tahun saat mimpi itu muncul dan bergelayut dalam hatinya, gadis kecil itu tak mampu membohongi hatinya yang begitu menginginkan hal itu. Menari dengan indah seperti peri kecil yang cantik, adalah ballerina.
Semua berjalan lancar hingga tiba saat sang ibunda, orang yang selalu mendukungnya tiada. Menghilangnya sang ibu turut serta mematahkan sayap Marabella, akan tetapi Marabella tau itu bukan keinginan ibunya ketika dirinya berakhir jatuh pada mimpi yang terasa semakin jauh untuk ia gapai.
Marabella kembali bangkit dengan sisa-sisa keyakinannya, hingga ia bertemu dengan seorang pria dalam pelariannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Aku bersamamu
...----------------...
Hari demi hari terlewati begitu saja, setelah acara kelulusan kelas 3 yang bersamaan dengan audisi untuk bisa lulus dan melanjutkan sekolah di salah satu akademi balet terkenal, Marabella kembali pada rutinitas biasanya.
Latihan, latihan dan terus berlatih.
Marabella menjalani harinya dengan sedikit ringan kali ini, setelah seorang guru tari dari akademi Bicheon mendatanginya.
Dapat di pastikan bawa Marabella mendapatkan tiket ekslusif dari salah satu guru disana, yang mana itu artinya dia bisa masuk tanpa perlu melakukan seleksi.
Selain kabar gembira bagi Marabella, sekolah Balet tempatnya kini belajar pun mendapatkan durian runtuh. Total ada tiga orang yang lolos dari penilaian guru Bicheon yang hadir saat itu, selain Marabella tentunya.
Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para staff pengajar di sana. Mereka bisa menyombongkan diri pada sekolah-sekolah balet lain, jika ada tiga murid dari sekolahnya yang langsung di rekrut untuk bisa melanjutkan sekolah di akademi balet terkenal.
"Dua tahun lagi. Bertahanlah !" pekik Marabella pada cermin di hadapannya.
Pagi ini ia seperti biasanya menghadiri kelas balet lalu di lanjutkan dengan kelas-kelas lainnya, meskipun namanya memang sekolah Balet tapi semua muridnya wajib mengikuti pelajaran lainnya sebagaimana sekolah pada umumnya. Hanya saja pelajaran utama di sini adalah menari, dan untuk pelajaran lainnya hanya meliputi matematika, sains, sejarah dan bahasa.
Lalu bagaimana hubungan kontrak kerjasamanya dengan Billy ?
Itu masih berlanjut, setelah insiden Jordy yang memberikan cek kosong itu. Marabella pikir Billy akan mengambil cek itu dan kesepakatan dengannya berakhir, tapi ternyata Billy menolaknya.
Meskipun Marabella sempat marah karena leluconnya yang seakan lebih memilih uang itu, tapi pada akhirnya ia merasa lega.
Tok
Tok
Tok
Marabella bergegas mengambil tasnya dan memakai sepatu, sesaat setelah mendengar suara ketukan di pintu kamar kos nya.
"Hai !" Sapa Billy saat Marabella membuka pintu.
"Hai Bil !" sapa balik Marabella.
Banyak hal yang berubah setelah hari itu, salah satunya mereka berdua yang pada awalnya tak saling mengenal kini menjadi begitu dekat.
Mereka tinggal di rumah sewa yang bersebelahan, berkat rekomendasi dari Billy. Marabella bersyukur meskipun sewanya murah, tapi tempat itu nyaman dan layak di tinggali.
"Hei nanti sore kau ada jadwal?" Tanya Billy.
Marabella menganggukan kepala, "Aku mendapat pekerjaan paruh waktu restoran ayam sore nanti." Ucap Marabella.
"Wah, sungguh? Apa itu tidak melelahkan ?" Tanya Billy dengan wajah terkejut.
Marabella menghela nafas panjang, mengunyah roti isinya dengan lahap dan wajahnya memandang Billy dengan tatapan memelas.
"Aku kabur dari rumah, aku hanya membawa tabungan ku yang tak seberapa. Barang yang ku bawapun hanya satu koper lumayan besar dengan tas jinjing besar, uang tabunganku yang tak seberapa itu hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan tidak lebih dari satu tahun." ucap Marabella dengan mulut yang penuh makanan.
"Belum lagi jika ada keperluan mendadak seperti aku harus rumah sakit, uangku pasti makin menipis. Mau tak mau aku harus sehemat mungkin, dan mulai bekerja untuk menabung."
Billy yang mendengarnya merasa sedikit kasihan, meskipun mereka sama-sama keluar dari rumah, ada yang berbeda.
"Hidupmu nyaris seperti gembel.." ucap Billy sambil menepuk-nepuk pelan kepalan Marabella.
"Iyakan? Ini semua karena kakekku sudah meninggal. Jika saja kakeku masih ada, ayahku tidak akan pernah bisa memperlakukan aku dan ibu seperti ini." ucap Marabella dengan murung.
"Sudah, sudah ! Jangan murung seperti itu, lihatlah apa kau tak malu pada langit yang begitu cerah itu." ujar Billy sambil menunjuk ke arah langit yang berwarna biru.
Marabella mendelik galak ke arah Billy, "Aish, aku salah memilih tempat curhat.." ucapnya dengan sebal.
Billy tertawa kecil dan membuat Marabella semakin merajuk, tapi di detik selanjutnya sebuah ungkapan singkat dari Billy membuat ke dua bola mata Marabella berkaca-kaca.
Sambil kembali menepuk-nepuk pelan kepala Marabella, Billy berujar sambil tersenyum hangat.
"Sekarang tak apa, meski kakekmu tak ada. Sekarang ada aku bersamamu."
Tak ada balasan, mereka membiarkan kesunyian mengambil alih kecanggungan yang mendebarkan ini.
...----------------...
Satu tahun berlalu tanpa ada masalah berarti, tak ada pergerakan mencurigakan apapun dari Jordy.
Dalam waktu yang lumayan singkat itu, hubungan Marabella dan Billy semakin dekat. Bahkan sampai beberapa teman mereka mengungkapkan jika, dimana ada Marabella maka di sana akan ada Billy juga.
Berawal dari kesepakatan yang saling menguntungkan, mereka berdua menjadi seperti sahabat yang saling melindungi.
Seperti saat Billy yang mengajaknya membolos di atap gedung sekolah pada jam pelajaran umum, atau saat keduanya berusaha menyelinap keluar dari jam latihan malam untuk sekedar pergi ke pasar malam.
Marabella tanpa sadar mulai terhanyut dengan kedekatan mereka, hingga lupa jika mereka berada pada hubungan palsu demi keuntungan masing-masing.
....
MarabellaJournal, xx xx xxxx
Aku tidak tau perasaan macam apa yang kini muncul pada hatiku, satu hal yang pasti emosi ini begitu asing.
Akan tetapi, debaran yang muncul saat senantiasa kita bersama begitu mirip dengan debaran pada jantungku saat aku melakukan putaran Fouettes.
...----------------...
Maria meletakan sebuket bunga Krisan kuning di bawah batu nisan bernamakan Billy Sean, dulu saat pria itu melamarnya dia membawakan sebuket bunga Krisan perak.
Saat Maria menerimanya ia begitu bahagia, menjadikan bunga Krisan dengan warna putih itu sebagai bunga favoritnya.
Akan tetapi, saat ini dirinya merasa jika itu ternyata sangat menyedihkan.
Billy secara tak langsung mengatakan jika dia menyukainya sebagai teman, sebuket bunga Krisan itu mewakilkan perasaannya. Maria sadar jika cinta Billy bukan dirinya, melainkan wanita bernama Marabella di masa lalunya.
Dan kini Maria memberikan sebuket Krisan kuning sebagai ungkapan, bahwa selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Maaf, selama ini aku telah egois. Aku selalu merasa kita saling mencintai, walaupun benar kamu mencintaiku tapi itu bukan cinta seperti yang aku harapkan." ucap Maria dengan suara yang getir.
Tangannya membelai lembut batu nisan itu dengan pandangan nanar, "Aku baru menyadari sekarang, jika selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan." ujar Maria.
Maria ingat bagaimana saat dirinya pertama kali bertemu dengan Billy, meski kondisi Billy yang buruk ia tetap berada di sampingnya. Ia terus mengejar Billy dengan perasaan cintanya yang menggebu-gebu, hingga akhirnya Billy luluh.
Namun ternyata luluhnya pria itu bukan karena perasaan cintanya telah tumbuh, melainkan luluh karena besarnya rasa simpati pada dirinya.
Billy pun menyadari perasaannya sendiri yang suatu saat mungkin menyakiti Maria, maka sampai akhir hayatpun ia tak mampu mengatakan semuanya dengan lisannya sendiri.
Maria benar-benar mencintai pria itu dengan tulus.
'Terima kasih, telah mencintaiku sedalam ini..'
Itu ucapan terakhir Billy saat hingga saat ini masing terngiang dalam ingatannya, sebagai kenangan terakhir untuk seseorang yang telah begitu banyak berkorban.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...