Akademi Debocyle adalah akademi yang paling luas, bahkan luasnya hampir menyamai kota metropolitan. Akademi asrama yang sangat mewah bagaikan surga.
Tahun ini, berita-berita pembunuhan bertebaran dimana-mana. Korban-korban berjatuhan dan ketakutan di masyarakat pun menyebar dan membuat chaos di setiap sudut.
Dan di tahun ini, akademi Debocyle tempatnya anak berbakat kekuatan super disatukan, untuk pertama kalinya terjadi pembunuhan sadis.
Peringatan : Novel ini mengandung adegan kekerasan dan kebrutalan. Kebijakan pembaca diharapkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Garl4doR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Latania duduk di tepi ranjangnya, ruangan kecilnya diterangi hanya oleh cahaya redup dari layar laptop. Jemarinya menari cepat di atas keyboard, sesekali berhenti untuk membaca berita yang berhasil ia tembus dari dunia luar. "Pemerintah mengecam Akademi Debocyle. Desakan semakin kuat untuk membuka diri dan menyerahkan akses penyelidikan terhadap insiden 'tamu tak diundang.'" Kalimat-kalimat itu terpampang jelas di layar, membuat alis Latania berkerut. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, berpikir keras.
Teknologi Akademi Debocyle yang canggih telah lama memutus hubungan dunia luar dari dalam. Tidak ada informasi, tidak ada komunikasi—hanya kesunyian yang diciptakan oleh kubah filter yang mengisolasi mereka. Namun, Latania tidak seperti siswa lainnya. Dengan kecerdasannya, ia berhasil merakit sebuah alat sederhana yang kini terhubung ke laptopnya, menembus batasan yang bahkan para guru sekalipun anggap mustahil.
“Bukti kuat, ya?” gumamnya, matanya masih terpaku pada berita itu. Gambar satelit dan laporan dari media luar menyebutkan kehadiran sosok misterius di dalam Akademi Debocyle, memperkuat kecurigaan bahwa tamu tak diundang itu memang ada.
Latania memejamkan mata sesaat, mencoba menghubungkan semua potongan informasi yang ia temukan. Pemerintah mengawasi mereka, tetapi akademi terus membungkam semuanya. “Ini bukan sekadar ancaman biasa,” pikirnya.
Ia menutup laptopnya perlahan, pandangannya beralih ke sebuah alat kecil di meja yang masih berdenyut pelan, memberi tanda bahwa ia tetap terhubung dengan dunia luar. Dengan napas panjang, ia bergumam, “Kalau ini benar, kita semua mungkin sedang duduk di atas bom waktu.”
Ponsel Latania bergetar di atas meja, notifikasi pesan muncul di layar. Ia mengambilnya dan membaca pesan dari Alvaro dengan cepat.
Jantung Latania berdegup lebih kencang saat membaca pesan itu. Hans tertangkap? Skenario ini semakin buruk. Tangannya mengepal kuat, bukan hanya karena kekhawatiran terhadap Hans, tetapi juga karena kesadaran bahwa situasi ini semakin jauh dari kendali mereka.
Namun, pikirannya segera teralihkan oleh suara langkah kaki mendekat dari koridor luar. Langkah-langkah itu berat dan teratur, seolah-olah sengaja mengumumkan kehadirannya. Tubuh Latania menegang, semua instingnya berteriak bahwa seseorang sedang menuju kamarnya.
Ia dengan cepat meraih senapan yang tersimpan di bawah meja. Senjata itu tidak memancarkan kilau apa pun, dilengkapi peluru besi bulat yang tidak mematikan namun cukup untuk membela diri. Latania bergerak tanpa suara menuju jendela, mengintip ke luar. Malam masih pekat, angin dingin bertiup pelan.
Pintu kamarnya bergetar, gagangnya diputar perlahan. Latania tidak menunggu untuk melihat siapa yang ada di sana. Ia membuka jendela lebar-lebar dan melompat keluar, mendarat dengan gemulai di tanah. Sepatu boot-nya meredam suara saat ia mulai berlari, menembus kegelapan yang membungkus asrama akademi.
Dari balik bahunya, terdengar suara pintu kamarnya terbuka paksa. Ia tidak menoleh. Tidak sekarang. Fokusnya hanya satu, menemukan tempat aman sebelum bayangan siapa pun yang mengejarnya bisa menyusul.
***
Charissa duduk bersandar di sofa kecil kamar Vella, jemarinya sibuk mengetuk layar ponselnya. Sebuah game pertarungan penuh warna menyita seluruh perhatiannya, membuat sesekali ia menggerutu saat karakternya kalah. Di seberang ruangan, Vella berbaring di ranjangnya dengan mata terpejam, tetapi jelas belum tertidur.
Ponsel Charissa tiba-tiba bergetar, menampilkan notifikasi pesan dari Alvaro. Ia melirik sebentar, membaca sekilas, lalu mendengus kecil. "Pesan darurat lagi? Dasar Alvaro, selalu dramatis," gumamnya sambil kembali ke game-nya, mengabaikan peringatan di layar.
Namun, Vella yang masih terbaring tiba-tiba membuka matanya. Raut wajahnya berubah tegang, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar. "Charissa," bisiknya, suaranya rendah tapi penuh kewaspadaan. "Ada seseorang... mendekat."
Charissa berhenti bermain, menoleh ke arah Vella dengan alis terangkat. "Kau yakin? Mungkin hanya perasaanmu saja."
Vella bangkit perlahan, tubuhnya tampak bersiap. "Tidak, aku merasakannya. Energinya… agak tinggi."
Sebelum Charissa sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat dari koridor. Suara itu berhenti tepat di depan pintu. Detik berikutnya, pintu kamar terbuka paksa, dan dua siswa eksekutif muncul, menatap mereka dengan tatapan dingin.
Charissa langsung bangkit, dengan cepat menyambar kursi kecil di sampingnya. "Kalian serius mau ganggu kami di sini? Kalian memilih gadis yang salah!" teriaknya sambil mengayunkan kursi ke arah salah satu siswa eksekutif, membuatnya mundur terhuyung.
Siswa eksekutif satunya maju dengan tinju energi.
"Oh, mau adu pukulan ya? Rasakan ini!" Charissa juga meluncurkan tinjunya.
Pukulan gadis itu sudah diakui oleh seluruh anggota Fluttergeist dan siswa sekelasnya, makanya ia tidak sungkan-sungkan untuk mengadunya.
Siswa itu mengaduh ketika tinjunya kalah, akan tetapi ia tak berhenti sampai disana. "Vendetta," ucapnya sekaligus melayangkan tumitnya pada Charissa, membuat gerakan berputar yang sangar.
Gadis itu menyilangkan tangan untuk bertahan, tubuhnya bergeser beberapa langkah akibat serangan balasan itu. Vendetta adalah serangan balasan yang mampu membalikan energi kerusakan fisik yang diterima menjadi 300% lebih besar daripada aslinya.
Charissa mengibaskan tangannya, siswa yang satu lagi membuat pola sihir dan mengeluarkan sinar cahaya yang menghantam langsung Charissa—setidaknya itu yang dipikirkan kedua siswa eksekutif.
Kedua siswa eksekutif itu terkejut mendapati gadis tomboy itu masih berdiri tegak bahkan tanpa luka sekalipun dan masih menyilangkan tangan untuk berlindung, akan tetapi ada sedikit cahaya yang membentuk dinding tipis di depannya, yang membuatnya terlindungi dari serangan barusan.
Vella, dengan ketenangan luar biasa, melangkah maju. Dia mengangkat tangannya, menciptakan gelombang energi yang melontarkan kedua siswa eksekutif ke dinding. "Kalian bukan tandingan kami," ucapnya dengan suara datar.
Pertarungan berlangsung singkat. Dengan kerja sama yang baik, Charissa dan Vella berhasil melumpuhkan para penyusup. Kedua siswa eksekutif itu tergeletak tak berdaya, sementara Charissa menyandarkan punggungnya ke dinding, terengah-engah tetapi penuh kemenangan.
"Hah, mudah sekali," katanya sambil tersenyum lebar, meskipun nafasnya tersengal.
Vella tidak menjawab, ia malah meraih ponsel Charissa yang terjatuh di lantai. Membuka pesan dari Alvaro, ia membaca dengan cepat, wajahnya berubah serius.
"Alvaro memperingatkan kita untuk berhati-hati. Dia bilang Distrik Enam dipenuhi siswa eksekutif dan sepupu ku tertangkap.” Vella menatap Charissa tajam. “Kita harus lebih waspada mulai sekarang.”
Charissa menghela napas panjang, menyesal telah mengabaikan pesan itu sebelumnya. "Baiklah, mulai sekarang aku akan lebih serius. Tapi sungguh, kalau semua siswa eksekutif semudah ini, aku tidak terlalu khawatir."
Vella hanya menggeleng pelan. "Jangan meremehkan mereka. Ini baru permulaan."
***
Shally sedang duduk di gudang bekas yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan Fluttergeist. Ia sedang memeriksa bahan medis dan alat pendukung lainnya, memastikan semuanya siap untuk digunakan kapan saja.
Sebagai anggota tim, ia tahu betul bahwa perannya adalah Support, memastikan teman-temannya tetap bisa bertarung tanpa gangguan.
Saat sedang menghitung stok, ponselnya bergetar. Pesan dari Alvaro muncul di layar.
Shally membaca pesan itu dengan hati-hati, rasa cemas menyelinap di hatinya. Ia tahu situasi ini buruk, bahkan lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan. Namun, belum sempat ia bereaksi, sebuah suara kecil terdengar dari ujung ruangan.
"Shally... kau di sana, bukan?"
Suara itu lembut, tetapi mengandung nada yang menyeramkan. Shally terdiam, matanya bergerak ke arah asal suara. Lampu di ruangan itu remang, menciptakan bayangan yang bergerak pelan-pelan di dinding.
Dengan hati-hati, Shally mengambil tongkat kecil yang biasanya ia gunakan untuk memancarkan cahaya. Ia menggenggamnya erat, berjalan mundur ke arah pintu. Namun sebelum ia mencapai pintu, bayangan besar muncul di hadapannya, menghalangi jalannya.
Salah satu siswa eksekutif berdiri di sana, dengan tatapan dingin menusuk. "Kau tahu, kami selalu mengawasi tim kecilmu. Kau mungkin bukan petarung utama, tapi kami tahu seberapa penting peranmu."
Shally menelan ludah, pikirannya bekerja cepat. Ia menyadari bahwa melawan secara langsung bukanlah pilihan. Dengan suara tenang, ia berkata, "Jika kalian ingin mencari Alvaro, aku tidak tahu di mana dia. Dan meskipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu."
Siswa eksekutif itu tersenyum dingin, melangkah mendekat. "Kami tidak perlu tahu di mana dia sekarang. Kami hanya perlu memastikan bahwa tim kalian tidak bisa bergerak."
Dengan gerakan senyap, Shally merapalkan mantra pada tongkatnya, menciptakan kilatan cahaya terang yang membutakan lawannya sejenak. Ia memanfaatkan momen itu untuk berlari ke arah belakang gudang yang punya sedikit celah untuk kabur.
Meski bukan seorang petarung, Shally tahu setiap sudut tempat itu dengan baik. Ia berhasil mencapai tempat aman, memblokir celah di belakangnya. Napasnya tersengal, tetapi ia tetap fokus. Dengan tangan gemetar, ia membuka perangkat komunikasi tim mereka dan mengirimkan pesan darurat.
Mereka tahu keberadaan kita. Hati-hati, siswa eksekutif mulai bergerak. Aku akan mencari tempat aman sementara.
Shally tahu bahwa pertarungan tidak selalu tentang kekuatan fisik. Dalam situasi seperti ini, akalnya adalah senjata terbaiknya.
Malam itu seluruh anggota Fluttergeist menyadari bahwa keberadaan mereka sudah menjadi target akademi, entah apa yang akademi rencanakan sampai menangkap salah satu diantara mereka meski pada akhirnya pasti ada satu pertanyaan yang muncul : Apa sebenarnya yang ada dibalik tembok kebenaran Akademi?
***
Dimalam yang sama.
Code name Red masih melakukan investigasi. Korban kembali jatuh untuk kedua kali nya. Belum ada bukti belum ada petunjuk, tapi terjadinya pembunuhan adalah bukti nyata bahwa dia betul berada disini.
Diterima, teruskan tugasmu, Red. Omong-omong kau tidak bisa dihubungi ketika genting.
Akademi punya sistem yang memblokir informasi dari luar masuk ke dalam maupun sebaliknya. Semenjak blokade dijalankan aku tidak bisa keluar untuk memberi informasi. Kebetulan aku menemukan gadget berguna untuk menembus sistem itu.
Begitu, baiklah semoga beruntung.
semangattt/Determined//Determined/
misteri? keqnya masih org dalam kan. hmmm