2. Awal Takdir yang Baru

Vira mengusap air matanya, lalu merapikan rambut dan pakaiannya. Ia ingat. Di kehidupan sebelumnya, Daril datang pagi-pagi sekali karena ingin meminjam uang.

Vira melangkah keluar dari kamar, lalu membuka pintu utama. Di ambang pintu, Daril berdiri dengan wajah lelah. Di tangannya ada sebungkus bubur hangat.

Dulu, melihat pria itu dalam keadaan seperti ini selalu membuatnya khawatir.

Tapi sekarang...

"Ada apa pagi-pagi sekali menggedor pintu rumahku?" tanya Vira datar.

Tatapannya tertuju pada pria yang sebelum waktu terulang, tanpa ragu, menghujamkan pisau ke perutnya.

Daril tampak sedikit terkejut. Ekspresi dan nada bicara Vira terasa... asing.

"Kamu belum makan, 'kan? Aku sekalian beli bubur buat kamu," ujarnya, berusaha mencairkan suasana sambil mengangkat kantong plastik di tangannya.

Pemandangan itu terasa begitu ironis. Pria yang nantinya membunuhnya kini berdiri di depan pintu sambil membawakan sarapan, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa.

"Ra..." Wajah Daril mendadak murung. "Ibu semalaman sesak. Dokter bilang harus dirawat. Aku gak punya uang."

Jika ia Vira yang dulu, pasti sudah mengajaknya masuk dan mengambil tabungannya tanpa berpikir dua kali.

Namun kini, ia tahu inilah langkah pertama yang membuatnya terus mengorbankan diri hingga kehilangan segalanya.

"Kemarin bukankah aku sudah memberimu uang?" tanya Vira. Nada suaranya tetap datar.

Ia masih mengingatnya dengan jelas. Sehari sebelumnya, ia memberikan satu juta rupiah setelah Daril mengatakan ingin membawa Mirna berobat.

Lalu, pagi ini?

Daril mengernyit. Biasanya Vira tidak pernah meminta penjelasan. Selama uang itu untuk Mirna, gadis itu selalu memberikannya tanpa banyak bertanya.

"Ra, kamu tahu sendiri biaya rawat inap itu mahal. Uang kemarin nggak cukup."

Vira mengembuskan napas pelan. "Ril, kamu itu laki-laki. Sejak ayahmu meninggal, kamulah tulang punggung keluarga. Apalagi kamu sudah lulus kuliah. Bukankah lebih baik mulai mencari pekerjaan untuk membiayai hidup kalian daripada terus bergantung padaku?"

Daril terdiam. Tatapannya dipenuhi kebingungan. Vira yang berdiri di hadapannya pagi ini terasa seperti orang yang berbeda.

"Kamu juga tahu sendiri," dalih Daril, "cari kerja zaman sekarang susah."

Vira menatapnya tanpa ekspresi. Bukan tidak ada pekerjaan. Daril hanya terlalu memilih.

Sejak ayahnya meninggal, aset peninggalan keluarga mereka terus menyusut sedikit demi sedikit.

"Kamu punya motor. Kenapa nggak jadi ojol saja?" tanya Vira.

Daril tersenyum masam. "Ra, aku pernah jadi ojek pangkalan. Seharian mangkal, tapi penghasilannya gak seberapa."

"Ya beda, lah," kata Vira cepat. "Ojol sama ojek pangkalan itu jelas gak sama."

Daril mengepalkan tangannya. Vira benar-benar berubah. Dulu, saat ia mengeluh karena penghasilannya sebagai ojek pangkalan tidak cukup, justru Vira yang menyuruhnya berhenti. Gadis itu bahkan mengatakan tenaganya lebih baik dipakai mencari pekerjaan lain yang penghasilannya lebih menjanjikan.

Sekarang...

"Ya sudah," ujar Daril, jemarinya mengecek saku celananya. "Nanti aku kerja jadi ojol."

Ia menggantung ucapannya sejenak. "Tapi..."

Vira mengernyit. "Tapi apa?"

"Ibuku sakit. Kalau aku kerja gak ada yang ngurus, Ra."

Vira menatap Daril beberapa saat. "Kalau begitu, rawat ibumu."

"Kalau aku merawat Ibu, kami makan apa?"

"Itu pilihanmu. Tapi jangan menjadikanku satu-satunya jalan keluar," tegas Vira.

Daril kehilangan kata.

Vira melanjutkan dengan nada tenang. "Kamu punya paman, bibi, tetangga, bahkan bisa menyewa perawat harian kalau memang perlu. Kamu juga bisa bekerja bergantian dengan ibumu saat kondisinya membaik."

"Lalu uangnya dari mana?" potong Daril.

"Dari hasil kerjamu."

"Ra--"

"Cukup, Ril," potong Vira cepat. "Kalau setiap ada masalah kamu datang mencariku, kapan kamu akan belajar berdiri di atas kakimu sendiri?"

Setelah Vira menolak, Daril tidak marah. Dia justru berkata pelan, "Aku pikir... cuma kamu yang bisa kuandalkan."

Namun Vira, yang sudah mengetahui masa depan, hanya berpikir dalam hati, "Dulu aku percaya ucapan itu. Aku mengira kau mengandalkanku karena cinta. Nyatanya, kau hanya mengandalkanku karena hartaku."

"Ya sudah," kata Daril akhirnya. "Ini bubur buat kamu. Aku pergi dulu. Siapa tahu hari ini ada rezeki buat biaya perawatan Ibu."

Ia mengulurkan kantong berisi bubur hangat kepada Vira.

Vira menerimanya. "Terima kasih," ucapnya singkat.

Daril mengangguk, lalu berbalik melangkah meninggalkan rumah itu. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke arah Vira.

"Ra..."

Vira tetap berdiri di ambang pintu.

"Aku merasa kamu berubah."

Vira tidak menjawab.

Daril tersenyum tipis, meski sorot matanya menyiratkan kesedihan. "Dulu, waktu kamu hampir hanyut di sungai, aku mempertaruhkan nyawaku buat nyelametin kamu. Aku gak pernah menyesali keputusan itu."

Ia menarik napas sejenak. "Perasaanku ke kamu juga gak pernah berubah."

Sesaat suasana menjadi hening.

Tatapan Vira tidak lagi sehangat dulu. Tidak ada senyum, tidak ada kekhawatiran. Hanya tatapan datar yang sulit ditebak.

Daril akhirnya kembali melangkah pergi. Punggung pria itu perlahan menjauh.

Vira terus menatapnya tanpa berkedip. Awal mula ia memilih Daril dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria itu adalah karena merasa berutang budi.

Namun, apa balasan yang ia terima?

Pengkhianatan. Pisau yang menembus perutnya. Dan kematian di tangan pria yang paling ia cintai.

"Cuih..." Vira meludah ke tanah. "Kalau saja aku tahu sejak dulu seperti apa wajahmu yang sebenarnya..."

Rahangnya mengeras. "Kali ini, jangan harap aku mengorbankan apa pun lagi untukmu."

Ia berbalik, lalu menutup pintu dengan keras.

Vira menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya kembali pada kejadian bertahun-tahun lalu.

 

Saat itu, ia terpeleset ketika mencari ikan-ikan kecil di tepi sungai. Arus yang deras menyeret tubuhnya. Kemampuan berenangnya pas-pasan, membuat tenaganya terkuras sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenggelam. Ketika sadar, ia sudah berada di puskesmas.

Daril ada di sana, dengan senyum penuh kelegaan ia berkata, "Syukurlah, aku bisa menyelamatkanmu."

 

Vira memejamkan mata. "Sudah cukup."

Suara lirih itu menggema di kamar.

"Aku merelakan mimpiku kuliah agar kamu tetap bisa melanjutkan pendidikanmu setelah ayahmu meninggal. Anggap saja semua itu sebagai balasan karena kau pernah menyelamatkan nyawaku."

Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari ranjang.

Setelah membersihkan diri, Vira berdiri di depan cermin. Jemarinya menyentuh pipinya yang masih putih dan mulus.

Saat menjadi istri Daril, ia bahkan hampir tak pernah memiliki waktu untuk merawat diri.

Setiap kali mempekerjakan pembantu, tak ada yang bertahan lama karena Mirna terlalu cerewet dan banyak menuntut. Akhirnya, semua pekerjaan rumah beralih ke pundaknya.

Pagi-pagi ia harus bangun menyiapkan pakaian Daril, memasak, membersihkan rumah, sekaligus menyusun dan mencatat pakaian dagangan yang akan dikreditkan. Usaha yang mereka bangun bersama.

Ironisnya, semua itu berakhir dengan sebuah tikaman.

Vira tersenyum tipis, tetapi sorot matanya terasa dingin.

"Jangan harap aku menikah denganmu lagi. Apalagi menjadi pembantu sekaligus mesin ATM-mu."

Ia keluar dari rumah, lalu membuka pintu toko sembako peninggalan kedua orang tuanya.

Toko kecil itulah yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.

Belum sempat ia menyusun barang dagangan, sebuah suara memanggil namanya.

"Vira..."

Vira menoleh. Seketika rahangnya menegang. Orang yang berdiri di hadapannya membuat tatapannya berubah tajam.

 

...✨"Kesempatan kedua bukan hadiah untuk mengulang kisah lama, melainkan keberanian untuk memilih jalan yang berbeda."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Daril modal bubur. Datang ke rumahnya Vira.

Ibunya sakit, perlu di rawat, tidak punya uang, berharap Vira memberinya uang.

Vira tidak seperti yang dulu lagi. Tidak akan menikah dengan Daril lagi.

Daril sudah lulus kuliah, tidak berusaha mencari kerja. Sudah biasa minta uangnya Vira, sudah merasa enak hidupnya bergantung pada Vira.

2026-07-27

1

^ã^😉

^ã^😉

bukan daril yg menolong vira pasti orang lain itu Dan dAril yg mengaku atas semua itu ..

Dan siapa penolong vira yg sesungguhnya Masih misteri 👍👍

2026-07-04

3

Anitha

Anitha

Cerita baru di mulai jadi belum tahu siapa Daril dan siapa Vira...

2026-07-04

1

lihat semua
Episodes
1 1. Cinta yang Membunuhku
2 2. Awal Takdir yang Baru
3 3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4 4. Takdir Mulai Bergeser
5 5. Sandiwara
6 6. Jebakan yang Datang Kembali
7 7. Balas Budi Telah Lunas
8 8.Balas Budi Telah Lunas
9 9. Boleh Aku Mendekatimu?
10 10. Pintu yang Mulai Tertutup
11 11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12 12. Kabar yang Membuat Panik
13 13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14 14. Benih Kebohongan
15 15. Ancaman Pengusiran
16 16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17 17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18 18. Api Fitnah Kian Membesar
19 19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20 20. Harga Sebuah Nama Baik
21 21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22 22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23 23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24 24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25 25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26 26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27 27. Orang yang Mau Berjuang
28 28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29 29.Saat Fitnah Diadili
30 30. Fitnah yang Terbongkar
31 31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32 32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33 33. Bukan Daril
34 34. Utang Budi yang Menyesatkan
35 35. Malam Pengkhianatan
36 36. Nyaris Terlambat
37 37. Aku Mau Menikahinya
38 38.Pilihan di Tengah Fitnah
39 39. Satu Barang Bukti
40 40. Keterangan yang Bertentangan
41 41. Kebenaran Mulai Mengejar
42 42. Klarifikasi di Balai Desa
43 43. Buronan dari Desa
44 44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45 45. Akad di Tengah Luka
46 46. Akad yang Menghapus Luka
47 47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48 48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49 49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50 50. Pelukan di Tengah Hujan
51 51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52 52. Perubahan yang Membuat Pangling
53 53. Dicintai dengan Benar
54 54. Jebakan yang Berbalik Arah
55 55. Luka yang Menguatkan
56 56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57 57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58 58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59 59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60 60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61 61. Vonis yang Terlambat
62 62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63 63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64 64. Rumah yang Sebenarnya
Episodes

Updated 64 Episodes

1
1. Cinta yang Membunuhku
2
2. Awal Takdir yang Baru
3
3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4
4. Takdir Mulai Bergeser
5
5. Sandiwara
6
6. Jebakan yang Datang Kembali
7
7. Balas Budi Telah Lunas
8
8.Balas Budi Telah Lunas
9
9. Boleh Aku Mendekatimu?
10
10. Pintu yang Mulai Tertutup
11
11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12
12. Kabar yang Membuat Panik
13
13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14
14. Benih Kebohongan
15
15. Ancaman Pengusiran
16
16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17
17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18
18. Api Fitnah Kian Membesar
19
19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20
20. Harga Sebuah Nama Baik
21
21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22
22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23
23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24
24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25
25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26
26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27
27. Orang yang Mau Berjuang
28
28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29
29.Saat Fitnah Diadili
30
30. Fitnah yang Terbongkar
31
31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32
32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33
33. Bukan Daril
34
34. Utang Budi yang Menyesatkan
35
35. Malam Pengkhianatan
36
36. Nyaris Terlambat
37
37. Aku Mau Menikahinya
38
38.Pilihan di Tengah Fitnah
39
39. Satu Barang Bukti
40
40. Keterangan yang Bertentangan
41
41. Kebenaran Mulai Mengejar
42
42. Klarifikasi di Balai Desa
43
43. Buronan dari Desa
44
44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45
45. Akad di Tengah Luka
46
46. Akad yang Menghapus Luka
47
47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48
48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49
49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50
50. Pelukan di Tengah Hujan
51
51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52
52. Perubahan yang Membuat Pangling
53
53. Dicintai dengan Benar
54
54. Jebakan yang Berbalik Arah
55
55. Luka yang Menguatkan
56
56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57
57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58
58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59
59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60
60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61
61. Vonis yang Terlambat
62
62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63
63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64
64. Rumah yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!