4. Takdir Mulai Bergeser

Vira mengenali wajah itu.

Arvin. Pemuda yang selalu bekerja serabutan di desanya.

Di kehidupan pertama, mereka nyaris tidak pernah berbicara lebih dari seperlunya.

Bahkan, hari ini mereka seharusnya tidak bertemu.

Dulu, Yanti yang menjaga toko, sedangkan Vira sibuk mengurus rumah. Keputusan kecil yang ia ubah hari ini ternyata membuat takdir mulai bergeser.

Arvin menunduk sambil menyerahkan uang receh yang sudah dilipat rapi.

"Aku mau beras yang paling murah aja."

Vira tanpa sengaja melihat tangannya yang penuh luka dan kapalan. Bukan karena berkelahi. Melainkan karena bekerja serabutan setiap hari.

Lalu Vira teringat Daril yang selalu mengeluh sulit mencari pekerjaan.

Sementara Arvin...

Pemuda itu tidak pernah memilih pekerjaan. Apa pun dikerjakan demi menghidupi ibunya.

Vira menerima uang yang disodorkan Arvin, lalu menghitungnya.

"Cukup, 'kan, buat beras setengah liter?" tanya Arvin dengan nada khawatir.

Vira mengangguk pelan. "Cukup."

Padahal ia tahu uang itu masih kurang sekitar dua ribu rupiah.

Tanpa mengatakan apa pun, Vira mengambil beras kualitas bagus yang harganya sedikit lebih mahal. Setelah itu, ia meraih beberapa bungkus mi instan yang masa kedaluwarsanya tinggal seminggu lagi.

"Ini, Vin." Vira menyerahkan sebungkus beras, lalu tampak ragu sebelum kembali membuka suara.

"Aku punya mi instan yang masa kedaluwarsanya sudah dekat." Ia buru-buru menambahkan, "Masih aman dimakan, kok. Aku cuma khawatir keburu lewat tanggalnya sebelum laku."

Vira menggigit bibirnya sesaat. "Kalau... kamu mau..."

Arvin tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Aku mau."

Vira mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, ini buat kamu. Jangan lupa dimakan sebelum lewat tanggal kedaluwarsanya, ya."

"Terima kasih." Sorot mata Arvin berbinar menerima pemberian itu.

Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat dada Vira terasa sesak.

Setelah Arvin berbalik pergi, Vira memandang punggung pemuda yang berjalan dengan sedikit pincang.

"Selama ini... kau hidup seberat itu," gumam Vira lirih.

Tak lama kemudian, dua orang ibu datang menghampiri toko.

"Arvin kelihatan senang, ya, Ra," ujar salah satunya yang berambut cepol.

"Dia beli apa?" tanya ibu yang mengenakan daster.

"Beras setengah liter sama mi instan, Bu," jawab Vira.

"Oh... berarti hari ini dia dapat upah lumayan," sahut ibu berambut cepol. "Biasanya buat beli beras aja susah."

Ia kemudian menyerahkan secarik kertas. "Ibu mau belanja yang ini, ya, Ra."

"Kalau ini punya Ibu," timpal ibu berdaster sambil memberikan daftar belanjaannya.

"Baik, Bu. Ditunggu sebentar, ya."

Vira menerima kedua daftar itu, lalu mulai mengambil barang-barang yang tertulis.

Sementara menunggu, kedua ibu itu duduk di bangku panjang yang tersedia di depan toko sambil mengambil makanan ringan dari rak.

"Kasihan Arvin itu," kata ibu berambut cepol pelan. "Kakinya pincang gara-gara dipukul ayahnya sendiri waktu masih kecil."

"Iya," sahut temannya. "Ayahnya pemabuk. Setelah itu malah menikah lagi. Rumah dijual, lalu pergi begitu saja sama istri mudanya tanpa peduli anak dan istrinya."

"Ibunya juga kasihan. Sejak kehilangan rumah, pikirannya terganggu."

"Untung ada tetangga yang iba. Mereka dikasih tinggal di bekas kandang kambing. Ya... walaupun bekas kandang, setidaknya masih ada tempat berteduh."

"Iya. Arvin juga hebat. Kerja serabutan buat menghidupi diri sendiri sekaligus merawat ibunya."

"Mengurus orang dengan gangguan jiwa sambil mencari nafkah itu bukan perkara mudah."

Vira tetap sibuk mengambil barang-barang pesanan, tetapi setiap kata yang mereka ucapkan masuk ke dalam benaknya.

Ia masih mengingatnya.

sebelum ia reinkarnasi, Arvin meninggal karena kecelakaan dua hari sebelum dirinya dibunuh Daril.

Sehari setelah kecelakaan itu, ibunya ditemukan meninggal tenggelam di sungai. Karena tak ada lagi yang menjaga wanita itu.

Beberapa menit kemudian, seluruh barang pesanan sudah tersusun rapi dalam kantong plastik di atas etalase.

"Bu, ini belanjaannya. Totalnya segini."

Kedua ibu itu bangkit, membayar belanjaan mereka, lalu tersenyum.

"Makasih, ya, Ra."

"Sama-sama, Bu."

Setelah keduanya pergi, suasana toko kembali lengang.

Vira memandang ke arah jalan yang tadi dilalui Arvin.

"Dulu..." gumamnya pelan. "Aku menghabiskan begitu banyak uang untuk orang yang akhirnya membunuhku."

Ia mengembuskan napas panjang. "Bukankah jauh lebih berarti jika kesempatan kedua ini kupakai untuk membantu orang yang benar-benar pantas dibantu?"

Bayangan Arvin yang bekerja tanpa pernah mengeluh, sambil merawat ibunya seorang diri, kembali terlintas di benaknya.

Berbeda dengan Daril. Sedikit-sedikit mengeluh. Sedikit-sedikit meminta bantuan.

Namun tak pernah benar-benar berusaha bertahan dengan kemampuannya sendiri.

Vira kembali menimbang gula, tetapi pikirannya terus memutar satu pertanyaan.

Bagaimana caranya membantu Arvin tanpa membuatnya merasa dikasihani?

Ia terdiam beberapa saat, lalu matanya berbinar.

"Ah... bagaimana kalau aku mengajaknya ikut belanja stok ke toko grosir? "

Meski hanya seminggu sekali, setidaknya pekerjaan itu bisa menambah penghasilannya.

Selain itu, Arvin tidak akan merasa sedang menerima belas kasihan karena ia dibayar atas pekerjaannya.

"Aku juga bisa sekalian mencari toko grosir yang harganya lebih murah," gumam Vira pelan. "Kalau modal belanjaku berkurang, aku bisa menjual barang sedikit lebih murah. Barang jadi lebih cepat habis, pelanggan bertambah, dan keuntungannya juga ikut naik."

Semakin dipikirkan, semakin yakin ia dengan idenya.

"Ya... ini jauh lebih baik."

Vira mengangguk pelan pada dirinya sendiri.

"Daripada aku harus menyewa kuli di toko grosir untuk mengangkat belanjaan ke mobil, lalu mencari orang lagi buat menurunkannya ke toko, lebih baik sekalian minta bantuan Arvin."

Ia tersenyum tipis.

"Dia juga memang sudah terbiasa mengangkat barang-barang berat."

Namun, senyum itu perlahan memudar.

Tatapannya kembali teringat pada langkah Arvin yang sedikit pincang.

"Padahal kakinya seperti itu..."

Dadanya terasa sesak.

"Tapi dia tetap memilih bekerja kasar demi menghidupi ibunya."

 

Sementara itu, Yanti mengusap peluh yang membasahi dahinya. Ia memijat pinggangnya yang mulai pegal setelah dari pagi membersihkan rumah.

"Huft... Kalau pulang ke kampung, Ayah dan Ibu pasti menyuruhku kerja di sawah lagi."

Yanti langsung menggeleng.

"Ogah."

Tatapannya beralih ke arah toko tempat Vira sedang melayani pembeli.

"Daripada jadi babu begini..."

Sorot matanya berubah licik.

"Gimana caranya, ya, supaya aku yang jaga toko, sedangkan Vira yang mengerjakan semua pekerjaan rumah?"

 

...✨...

..."Takdir berubah bukan karena keajaiban, tetapi karena satu keputusan yang berbeda."...

..."Orang yang paling keras mengeluh belum tentu paling menderita. Kadang, yang paling terluka justru tetap bekerja tanpa banyak bicara."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Orang yang bernama Arvin berbanding jauh dengan Daril. Arvin mau bekerja apapun demi menghidupi ibunya.

Vira baik hati. Uang Arvin untuk beli beras yang paling murah setengah liter saja kurang uangnya. Tapi Vira mengambil beras kualitas bagus, dan memberi beberapa bungkus mi instan yang masih aman dimakan.

Vira juga punya rencana mengajak Arvin ikut belanja, menaik turunkan barang belanjaan.

Yanti tidak terima dengan pekerjaannya, masih mencari cara untuk bisa jaga toko. Ganti posisi dengan Vira.

2026-07-28

1

Anitha

Anitha

denger cerita Arvin sangat menyedihakan,Arvin bekerja keras dan kerjanya serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri dan merawat ibunya..
semoga saja bekerja dengan Vira kehidupan Arvin lebih baik,semoga kamu kelak jadi orang yang SUKSES Arvin....

jadi Pengusaha Hebat dan SUKSES

huh dasar orang numpang kok mau tukeran posisi sama yang punya Toko..
tidak akan bisa wleee...
kamu ngaca atuh Yanti...
di kampung saja kamu di suruh ke sawah😄

2026-07-04

3

Uthie

Uthie

laki-laki yg tanggung jawab itu yaa memang dilihat dari usaha nya yg tak pernah mengeluh dan selalu berusaha bekerja apa saja demi orang yg di tanggung nya 👍

2026-07-05

2

lihat semua
Episodes
1 1. Cinta yang Membunuhku
2 2. Awal Takdir yang Baru
3 3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4 4. Takdir Mulai Bergeser
5 5. Sandiwara
6 6. Jebakan yang Datang Kembali
7 7. Balas Budi Telah Lunas
8 8.Balas Budi Telah Lunas
9 9. Boleh Aku Mendekatimu?
10 10. Pintu yang Mulai Tertutup
11 11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12 12. Kabar yang Membuat Panik
13 13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14 14. Benih Kebohongan
15 15. Ancaman Pengusiran
16 16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17 17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18 18. Api Fitnah Kian Membesar
19 19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20 20. Harga Sebuah Nama Baik
21 21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22 22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23 23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24 24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25 25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26 26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27 27. Orang yang Mau Berjuang
28 28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29 29.Saat Fitnah Diadili
30 30. Fitnah yang Terbongkar
31 31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32 32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33 33. Bukan Daril
34 34. Utang Budi yang Menyesatkan
35 35. Malam Pengkhianatan
36 36. Nyaris Terlambat
37 37. Aku Mau Menikahinya
38 38.Pilihan di Tengah Fitnah
39 39. Satu Barang Bukti
40 40. Keterangan yang Bertentangan
41 41. Kebenaran Mulai Mengejar
42 42. Klarifikasi di Balai Desa
43 43. Buronan dari Desa
44 44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45 45. Akad di Tengah Luka
46 46. Akad yang Menghapus Luka
47 47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48 48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49 49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50 50. Pelukan di Tengah Hujan
51 51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52 52. Perubahan yang Membuat Pangling
53 53. Dicintai dengan Benar
54 54. Jebakan yang Berbalik Arah
55 55. Luka yang Menguatkan
56 56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57 57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58 58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59 59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60 60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61 61. Vonis yang Terlambat
62 62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63 63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64 64. Rumah yang Sebenarnya
Episodes

Updated 64 Episodes

1
1. Cinta yang Membunuhku
2
2. Awal Takdir yang Baru
3
3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4
4. Takdir Mulai Bergeser
5
5. Sandiwara
6
6. Jebakan yang Datang Kembali
7
7. Balas Budi Telah Lunas
8
8.Balas Budi Telah Lunas
9
9. Boleh Aku Mendekatimu?
10
10. Pintu yang Mulai Tertutup
11
11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12
12. Kabar yang Membuat Panik
13
13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14
14. Benih Kebohongan
15
15. Ancaman Pengusiran
16
16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17
17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18
18. Api Fitnah Kian Membesar
19
19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20
20. Harga Sebuah Nama Baik
21
21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22
22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23
23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24
24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25
25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26
26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27
27. Orang yang Mau Berjuang
28
28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29
29.Saat Fitnah Diadili
30
30. Fitnah yang Terbongkar
31
31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32
32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33
33. Bukan Daril
34
34. Utang Budi yang Menyesatkan
35
35. Malam Pengkhianatan
36
36. Nyaris Terlambat
37
37. Aku Mau Menikahinya
38
38.Pilihan di Tengah Fitnah
39
39. Satu Barang Bukti
40
40. Keterangan yang Bertentangan
41
41. Kebenaran Mulai Mengejar
42
42. Klarifikasi di Balai Desa
43
43. Buronan dari Desa
44
44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45
45. Akad di Tengah Luka
46
46. Akad yang Menghapus Luka
47
47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48
48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49
49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50
50. Pelukan di Tengah Hujan
51
51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52
52. Perubahan yang Membuat Pangling
53
53. Dicintai dengan Benar
54
54. Jebakan yang Berbalik Arah
55
55. Luka yang Menguatkan
56
56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57
57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58
58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59
59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60
60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61
61. Vonis yang Terlambat
62
62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63
63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64
64. Rumah yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!