3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa

Seorang gadis berpakaian sederhana dengan tas kain lusuh berdiri di depan toko.

Yanti.

"Ra..." panggilnya pelan. "Aku sudah sebulan lalu dipecat dari tempat kerja. Uangku juga sudah habis, sementara sampai sekarang aku belum dapat pekerjaan baru."

Ia menundukkan kepala. "Boleh gak aku tinggal di sini untuk sementara?"

Vira hanya menatapnya dalam diam. Wajah itu... Wajah yang sama. Yang tersenyum puas saat melihat dirinya meregang nyawa.

 

"Kau benar-benar bodoh, Vira."

"Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Karena aku mencintai Daril."

"Aku sudah lama menunggu hari ini. Setelah kau mati, aku bisa menikah dengannya."

 

Suara itu kembali menggema di kepalanya.

"Ra?" panggil Yanti membuat Vira tersadar. "Boleh, 'kan?"

Perlahan, Vira mengulas senyum tipis. "Tentu saja boleh. Kamu, 'kan, sepupuku, keluargaku."

Sorot mata Yanti langsung berbinar.

Dalam hati, Vira mencibir. "Ya... keluarga yang kupelihara di rumahku sendiri, lalu menungguku mati."

"Terima kasih, Ra!" Yanti langsung menggenggam tangan Vira. "Aku janji gak bakal ngerepotin kamu."

"Tapi..." Vira menggantung kata-katanya.

Senyum di wajah Yanti perlahan memudar. "Tapi apa?"

"Kalau ingin tinggal di rumahku," lanjut Vira. "kamu harus bekerja."

Yanti mengernyit. "Maksudmu?"

"Kamu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah."

Yanti membelalak. "Hah?"

"Menyapu, mengepel, mencuci, memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah," jelas Vira.

Rahang Yanti menegang. "Enak saja. Aku datang untuk numpang hidup, bukan jadi pembantu."

Namun umpatan itu hanya berani ia simpan dalam hati.

"Bagaimana?" tanya Vira dengan nada suara lembut. "Kalau kamu setuju, masuklah dan setelah sarapan bantu aku."

Vira berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau tidak, maaf. Aku gak bisa bantu kamu."

Yanti menggigit bibir bawahnya.

"Kamu tahu sendiri aku hidup sendirian," lanjut Vira. "Aku memang punya toko sembako, tapi itu satu-satunya sumber penghasilanku."

Tatapan Vira tetap tenang. "Makan, listrik, air, semuanya butuh biaya. Aku juga anak yatim piatu. Tidak ada yang menanggung hidupku selain diriku sendiri."

Yanti mengepalkan tangan di balik tasnya.

Dalam hati ia mengumpat habis-habisan. "Pelit sekali! Masa sepupu sendiri disuruh jadi kacung?"

Yanti melirik ke arah toko sembako yang berada di samping rumah itu.

"Ra..." katanya ragu. "Sebenarnya aku agak lemot kalau disuruh beres-beres rumah."

Ia tersenyum canggung. "Gimana kalau aku bantu jaga toko aja?"

Vira mengangkat sebelah alisnya. Di kehidupan sebelumnya, ia memang meminta Yanti menjaga toko.

Yanti makan gratis, tidur gratis, bahkan tidak pernah diminta mengeluarkan uang sepeser pun. Sebagai balasannya, Yanti membantu melayani pembeli.

Namun, Vira sering mendapati uang hasil penjualan berkurang tanpa alasan yang jelas. Awalnya ia mengira dirinya salah menghitung. Lama-kelamaan, ia sadar. Yanti diam-diam mengambil uang dari laci kasir sedikit demi sedikit.

Vira memilih menutup mata, karena merasa kasihan Yanti tidak memiliki penghasilan.

Ia hanya mengurangi jumlah uang tunai di laci dan lebih sering menyimpannya sendiri agar kerugiannya tidak semakin besar.

Sekarang, kesalahan itu tidak akan terulang lagi.

"Jangankan ribuan rupiah. Satu lembar uang pun tidak akan kubiarkan berpindah ke tanganmu," batin Vira.

"Maaf," ujar Vira dengan suara terkontrol. "Aku sedang butuh orang untuk mengurus pekerjaan rumah, bukan menjaga toko."

Wajah Yanti mulai berubah. "Tapi, Ra..."

"Tenang saja." Vira memotong ucapan Yanti. "Kalau kinerjamu bagus, aku tetap akan memberimu gaji."

Wajah Yanti langsung membeku. "Digaji? Berarti aku benar-benar dianggap art?"

Dalam hati ia mendecak kesal. "Kalau kayak gitu, mana bisa aku pegang uang toko?"

Namun ia tidak berani menunjukkannya. Saat ini ia memang sedang tidak punya tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan.

Kalau sampai Vira berubah pikiran, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.

Yanti akhirnya mengangguk pelan, menelan kekesalannya.

"Baiklah, Ra," jawabnya pelan sambil memaksakan senyum. "Aku bakal ngerjain semua pekerjaan rumah."

Vira mengangguk puas. "Bagus. Masuklah. Kamarmu di belakang, deket dapur."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Vira kembali menata barang-barang dagangannya.

Sementara itu, Yanti melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. Meski demikian, kedua tangannya sudah mengepal erat sejak tadi.

"Kamar deket dapur?" gerutunya. "Dia benar-benar menganggap aku babu. Dasar Vira sialan!"

Setelah masuk ke dalam rumah, Yanti meletakkan tasnya di kamar yang dikatakan Vira, lalu berjalan menuju meja makan. Saat membuka tudung saji, yang ada hanya bubur.

Yanti mendengus. "Sarapannya cuma bubur begini? Mana kenyang? Dasar pelit!"

Namun Yanti tak punya pilihan lain selain memakan bubur itu.

 

Setelah selesai menyusun barang di toko, Vira masuk ke dalam rumah. Ia melihat bubur di atas meja yang dibawakan Daril tadi sudah habis.

"Yanti."

"Iya, Ra?" sahut Yanti yang baru saja membuang sampah bekas bubur.

Vira menyerahkan sebuah celemek. "Tolong sapu dan pel seluruh rumah dulu. Setelah itu cuci piring yang ada di dapur."

Yanti tersenyum tipis. "Baik."

"Oh ya." Vira kembali menoleh. "Nanti sekalian cuci pakaian yang ada di kamar mandi. Kalau sudah selesai, masak nasi. Lauknya nanti aku yang belanja."

Senyum Yanti mulai terasa kaku. "I-iya."

Vira mengangguk puas, lalu kembali ke toko. "Jangan harap jadi tamu dan aku perlakukan kayak ratu. Sekali tertipu sudah lebih dari cukup."

Begitu sosok Vira menghilang dari pandangan, senyum di wajah Yanti langsung lenyap. Ia menatap celemek di tangannya dengan wajah masam.

"Dasar menyebalkan," gumamnya lirih. "Kukira numpang di sini bakal hidup enak."

Yanti mendecak kesal. "Ternyata malah diperlakukan kayak orang asing. Pekerja biasa."

Dengan enggan ia mulai menyapu lantai. Belum setengah rumah selesai, peluh sudah membasahi pelipisnya.

"Capek banget..."

Ia melirik ke arah toko. Dari kejauhan terlihat Vira sedang melayani pelanggan sambil sesekali mencatat barang yang keluar.

"Enak sekali dia. Kerjanya cuma berdiri, pegang uang, lalu duduk. Sementara aku..."

Yanti menatap lantai yang belum selesai disapu. Harus mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian. Belum lagi memasak.

Rahangnya mengeras. "Mentang-mentang punya toko. Kalau bukan karena aku belum punya tempat tinggal, mana sudi aku kerja kasar begini."

Ia kembali menatap keluar pada toko milik Vira. "Lihat saja, semua ini bakal jadi milikku."

Ia menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.

Sementara itu, dari balik etalase toko, Vira diam-diam memerhatikan setiap gerakan Yanti. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Dulu aku terlalu baik. Kali ini, setiap orang akan mendapatkan tempat yang pantas."

Vira kembali melanjutkan menimbang gula saat suara itu terdengar.

"Ra, aku mau beli beras setengah liter."

Vira menoleh. Jemarinya yang memegang timbangan seketika membeku.

Orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang tak pernah ia duga akan ditemuinya lagi.

"Kamu..."

 

...✨"Orang yang benar-benar menyayangimu akan menghargai bantuanmu. Yang memanfaatkanmu justru menganggapnya sebagai kewajiban."...

..."Memberi tempat tinggal adalah kebaikan. Membiarkan orang menguasai hidupmu adalah kebodohan."...

..."Kebaikan tanpa batas sering kali melahirkan orang yang lupa diri."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Yanti sepupu Vira benalu yang mematikan tanaman yang menopangnya.

Di kehidupan kedua Vira mau menampung Yanti tinggal di rumahnya. Harus bekerja seperti yang biasa dikerjakan ART.ćþ

Yanti mengumpat dalam hatinya.

Maunya bantu jaga toko. Biar bisa ngutil uang di laci yang ada toko.

Vira tidak butuh orang untuk menjaga toko. Yang dibutuhkan orang untuk mengurus pekerjaan rumah.

Kalau kinerja Yanti bagus, Vira akan memberi gaji.

2026-07-27

1

Anitha

Anitha

Si Yanti itu orang yang tidak tahu diri yaaa,mau numpang saja kok pengen hidup enak,Vira sudah tahu kalo si Yanti ada maksud lain ia bukan orang baik jadi Vira sekarang lebih hati² dan waspada...

Daril kah yang mau beli beras setengah liter🤭

2026-07-04

4

anonim

anonim

Sudah bagus Vira mau menampung untuk tinggal di rumahnya. Di gaji pula. Daripada jadi pengangguran dan mau tinggal di mana, mana ada yang gratis.

bukannya bersyukur, Yanti masih menggerutu dan berkhayal semua milik Vira bakal jadi miliknya.

2026-07-27

1

lihat semua
Episodes
1 1. Cinta yang Membunuhku
2 2. Awal Takdir yang Baru
3 3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4 4. Takdir Mulai Bergeser
5 5. Sandiwara
6 6. Jebakan yang Datang Kembali
7 7. Balas Budi Telah Lunas
8 8.Balas Budi Telah Lunas
9 9. Boleh Aku Mendekatimu?
10 10. Pintu yang Mulai Tertutup
11 11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12 12. Kabar yang Membuat Panik
13 13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14 14. Benih Kebohongan
15 15. Ancaman Pengusiran
16 16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17 17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18 18. Api Fitnah Kian Membesar
19 19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20 20. Harga Sebuah Nama Baik
21 21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22 22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23 23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24 24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25 25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26 26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27 27. Orang yang Mau Berjuang
28 28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29 29.Saat Fitnah Diadili
30 30. Fitnah yang Terbongkar
31 31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32 32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33 33. Bukan Daril
34 34. Utang Budi yang Menyesatkan
35 35. Malam Pengkhianatan
36 36. Nyaris Terlambat
37 37. Aku Mau Menikahinya
38 38.Pilihan di Tengah Fitnah
39 39. Satu Barang Bukti
40 40. Keterangan yang Bertentangan
41 41. Kebenaran Mulai Mengejar
42 42. Klarifikasi di Balai Desa
43 43. Buronan dari Desa
44 44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45 45. Akad di Tengah Luka
46 46. Akad yang Menghapus Luka
47 47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48 48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49 49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50 50. Pelukan di Tengah Hujan
51 51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52 52. Perubahan yang Membuat Pangling
53 53. Dicintai dengan Benar
54 54. Jebakan yang Berbalik Arah
55 55. Luka yang Menguatkan
56 56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57 57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58 58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59 59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60 60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61 61. Vonis yang Terlambat
62 62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63 63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64 64. Rumah yang Sebenarnya
Episodes

Updated 64 Episodes

1
1. Cinta yang Membunuhku
2
2. Awal Takdir yang Baru
3
3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4
4. Takdir Mulai Bergeser
5
5. Sandiwara
6
6. Jebakan yang Datang Kembali
7
7. Balas Budi Telah Lunas
8
8.Balas Budi Telah Lunas
9
9. Boleh Aku Mendekatimu?
10
10. Pintu yang Mulai Tertutup
11
11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12
12. Kabar yang Membuat Panik
13
13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14
14. Benih Kebohongan
15
15. Ancaman Pengusiran
16
16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17
17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18
18. Api Fitnah Kian Membesar
19
19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20
20. Harga Sebuah Nama Baik
21
21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22
22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23
23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24
24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25
25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26
26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27
27. Orang yang Mau Berjuang
28
28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29
29.Saat Fitnah Diadili
30
30. Fitnah yang Terbongkar
31
31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32
32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33
33. Bukan Daril
34
34. Utang Budi yang Menyesatkan
35
35. Malam Pengkhianatan
36
36. Nyaris Terlambat
37
37. Aku Mau Menikahinya
38
38.Pilihan di Tengah Fitnah
39
39. Satu Barang Bukti
40
40. Keterangan yang Bertentangan
41
41. Kebenaran Mulai Mengejar
42
42. Klarifikasi di Balai Desa
43
43. Buronan dari Desa
44
44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45
45. Akad di Tengah Luka
46
46. Akad yang Menghapus Luka
47
47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48
48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49
49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50
50. Pelukan di Tengah Hujan
51
51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52
52. Perubahan yang Membuat Pangling
53
53. Dicintai dengan Benar
54
54. Jebakan yang Berbalik Arah
55
55. Luka yang Menguatkan
56
56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57
57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58
58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59
59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60
60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61
61. Vonis yang Terlambat
62
62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63
63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64
64. Rumah yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!