5. Sandiwara

Usai makan siang Vira kembali ke tokonya. Sedangkan Yanti membereskan meja makan.

Sambil mengangkat piring kotor menuju wastafel Yanti memutar otak mencari celah agar bisa terbebas dari beres-beres rumah. Lalu...

"Ahaaa..."

Tak!

Ia menjentikkan jarinya saat sebuah ide muncul. Ia tersenyum lebar lalu mengangkat piring di tangannya tinggi-tinggi. Beberapa detik kemudian....

Prang!

Suara benda pecah terdengar jelas dari dalam rumah. Disusul pekikan melengking.

"Aduh...!"

Vira yang sedang menghitung uang di toko langsung menoleh.

"Yanti?"

Ia bergegas masuk ke dalam rumah. Pemandangan di dapur langsung menyambutnya.

Di depan wastafel, pecahan piring berserakan di lantai. Yanti terduduk sambil memegangi pergelangan kakinya.

"Aduh... aduh, Ra..." rintihnya. "Kakiku sakit banget."

Vira menghampirinya tanpa tergesa-gesa. Tatapannya lebih dulu menyapu pecahan piring di lantai, lalu berhenti pada kaki Yanti.

"Jatuh?"

Yanti mengangguk cepat. "Iya. Tadi aku habis cuci piring. Tapi malah terpeleset." Lalu ia melanjutkan dengan suara lirih. "Kayaknya kakiku keseleo deh."

Vira menyapu pandangannya ke arah wastafel. Tak banyak bekas air di sana. Sabun cuci piring pun masih berada di tempat yang sama seperti saat ia mencuci tangan sebelum makan siang tadi.

Keningnya sedikit berkerut. Tatapannya bergeser ke pecahan piring di lantai yang masih menyisakan sedikit makanan.

Perlahan, ia berjongkok untuk mengamatinya lebih saksama.

"Kayaknya dia belum nyuci piring deh."

Lalu ia mengalihkan perhatian pada Yanti. "Boleh kulihat?"

Yanti sempat ragu, tetapi tetap mengulurkan kakinya.

Dengan hati-hati Vira memegang pergelangan kaki Yanti. Jemarinya menekan perlahan beberapa bagian.

"Aduh... sakit!" pekik Yanti saat Vira menyentuh sisi luar pergelangan kakinya.

Vira mengamati dengan saksama. Kulit di pergelangan kaki itu masih tampak biasa. Belum tampak bengkak yang berarti. Warna kulitnya juga masih normal. Tatapannya kemudian beralih ke wajah Yanti.

Rintihannya terdengar meyakinkan. Namun, entah kenapa sorot mata sepupunya itu membuat Vira teringat pada saat ia belum terlahir kembali.

"Apa benar keseleo... atau hanya mencari alasan?"

"Ra..." Yanti menggigit bibir. "Kayaknya aku gak bisa beres-beres rumah dulu deh," kata Yanti pelan. "Kalau dipaksa jalan nanti malah tambah parah."

Pandangannya beralih sekilas ke arah toko. "Kalau boleh... mulai besok aku jaga toko aja. Biar tetap bisa bantu kamu."

Sudut bibir Vira bergerak samar. "Oh, jadi ini tujuanmu."

Namun wajahnya tetap tenang. "Jangan dipaksakan."

Mendengar jawaban itu, wajah Yanti sedikit berbinar. Namun senyumnya membeku saat Vira melanjutkan,

"Kalau memang keseleo, berarti kamu harus istirahat. Ayo, berdiri pelan-pelan."

Vira meraih lengan Yanti dan membantunya berdiri. Yanti sengaja lebih banyak bertumpu pada tubuh Vira sambil terus meringis.

Setelah berhasil berjalan beberapa langkah, Vira mendudukkannya di kursi ruang makan.

"Tunggu sebentar." Vira mengeluarkan ponselnya. "Aku panggil tukang urut."

Mata Yanti membelalak sesaat. "T-tukang urut?"

"Iya." Vira tersenyum ramah.

Yanti langsung panik. "Ra, gak usah repot-repot. Paling nanti juga sembuh sendiri."

Vira menggeleng. "Jangan dianggap sepele. Kalau memang keseleo, lebih cepat ditangani lebih baik."

Tanpa menunggu jawaban dari Yanti, ia segera menelepon tukang urut langganan warga desa.

"Mak, bisa ke rumah saya sekarang? Sepupu saya keseleo."

"Sial!" umpat Yanti dalam hati.

Setelah sambungan terputus, Vira mengambil sapu dan pengki. Ia mulai membersihkan pecahan piring yang berserakan.

Beberapa saat kemudian ia memungut pecahan piring yang paling besar.

"Sayang sekali," gumamnya pelan.

Yanti menelan ludah.

"Piring ini satu lusinnya hampir tiga ratus ribu."

Yanti mulai gelisah.

"Nanti harga piring yang pecah ini aku potong dari gajimu, ya," kata Vira sambil meletakkan beling itu di pengki.

"Apa?!" seru Yanti. Matanya membelalak

Vira menoleh. "Kenapa?"

Yanti buru-buru menggeleng. "G-gak... gak apa-apa."

Vira kembali menyapu lantai. "Kalau memang kecelakaan, ya mau bagaimana lagi. Tapi barang yang rusak tetap harus diganti. Kan pecah karena kelalaianmu."

Yanti mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. "Dasar pelit!"

"Kalau memang sedang sakit," lanjut Vira tanpa menatap Yanti. "nanti setelah tukang urut datang kamu istirahat saja. Soal toko, biar tetap aku yang jaga."

Yanti hanya bisa menggigit bibir sambil menahan kesal. "Rencanaku gagal..."

Sementara itu, Vira menyembunyikan senyum tipisnya. "Kalau memang pura-pura, sebentar lagi bakal ketahuan saat tukang urut datang."

Setelah selesai membersihkan lantai, Vira membantu Yanti berjalan perlahan menuju ruang tengah, lalu mendudukkannya di sofa.

"Kamu tunggu di sini. Jangan dipaksakan jalan dulu."

Yanti mengangguk sambil terus memegangi pergelangan kakinya.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi..."

Vira segera bergegas ke depan. Di ambang pintu berdiri seorang wanita tua mengenakan gamis sederhana. Rambutnya sudah memutih, wajahnya dipenuhi keriput, tetapi senyumnya tetap hangat.

"Mak," sapa Vira.

Wanita tua itu mengangguk. "Katanya ada yang keseleo?"

Vira melirik sekilas ke arah ruang tengah, memastikan Yanti tidak mendengar. Setelah itu, ia mendekat dan berbisik pelan.

"Mak... saya sebenarnya kurang yakin kalau sepupu saya benar-benar keseleo."

Wanita tua itu mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"

"Entahlah." Vira mengembuskan napas pelan. "Perasaan saya dia cuma mencari alasan supaya gak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Saya ini hidup sendiri, yatim piatu, tapi masih saja ada yang ingin memanfaatkan kebaikan saya."

Wanita tua itu tersenyum tipis. "Jadi, Vira maunya bagaimana?"

Vira ikut tersenyum. "Kalau memang benar keseleo, tolong diurut yang pelan saja, Mak, biar cepat sembuh."

Ia berhenti sejenak, lalu senyumnya berubah jail. "Tapi kalau ternyata cuma pura-pura..."

Wanita tua itu langsung memahami maksud Vira. Sudut bibirnya ikut terangkat. "Tenang saja. Mak tahu harus bagaimana."

Mata Vira langsung berbinar. "Emak memang paling pengertian."

Ia merangkul lengan wanita tua itu dengan manja. "Nanti pulangnya jangan lupa bawa sembako dari toko saya ya, Mak. Anggap saja bonus."

Wanita tua itu terkekeh pelan. "Dasar kamu. Ada-ada saja."

Vira mengantar emak masuk ke ruang tengah.

Yanti yang semula bersandar di sofa langsung merapikan posisi duduknya. Senyum tipis dipaksakan muncul di wajahnya.

"Ini sepupu saya, Mak," ujar Vira. "Katanya tadi terpeleset."

Emak mengangguk pelan, lalu duduk di kursi tepat di depan Yanti.

"Mana yang sakit, Nduk?"

Yanti segera menunjuk pergelangan kaki kanannya. Wajahnya dibuat meringis. "Di sini, Mak. Sakit banget kalau dipakai jalan."

"Sebelah sini?" tanya emak sambil memegang pelan pergelangan kaki itu.

"Iya..." jawab Yanti lirih.

Emak mulai meraba perlahan, menekan beberapa titik, lalu menggerakkan pergelangan kaki itu ke kanan dan kiri.

Yanti sesekali meringis, berusaha terlihat meyakinkan.

Namun, setelah beberapa saat, emak tidak menemukan tanda-tanda bengkak ataupun pergeseran pada sendi. Ia mengangkat wajah dan melirik Vira.

Tanpa suara, Vira menggerakkan bibirnya. "Gimana?"

Emak menggeleng tipis. Lalu, dengan gerakan nyaris tak terlihat, ia memberi isyarat kecil seolah berkata, "Serahkan sama Mak."

Vira menggigit bibir agar tidak tersenyum. Ia hanya mengacungkan jempol kecil di balik tubuh Yanti.

 

✨"Orang yang terlalu sering berpura-pura, suatu hari akan merasakan sakit dari sandiwaranya sendiri."

"Kebaikan bukan berarti membiarkan diri terus dimanfaatkan."

"Dulu ia terlalu mudah percaya. Kini, ia memilih mengamati sebelum memberi." ✨

.

To be continued

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Gila ini Yanti. Baru sehari numpang di rumah Vira sudah bikin masalah. Piring jadi korban biar terbebas dari beres-beres rumah

Vira yang berada di toko mendengar suara benda pecah, disusul pekikan melengking bergegas masuk ke dalam rumah.

Vira yang jeli tahu kalau Yanti bohong atas apa yang terjadi.

Vira percaya saja kalau kaki Yanti sakit akibat terpeleset.

Wajah Vira tetap tenang ketika tahu Yanti tidak sadar telah mengatakan tujuannya sendiri. Ingin bantu jaga toko.

Yanti menolak dipanggilkan tukang urut. Vira tetap menelepon tukang urut.

Rasain kau Yanti. Harga piring yang pecah dipotong dari gajinya.

2026-07-28

1

anonim

anonim

Tukang urut datang, Vira membisiki apa yang terjadi.

Mendengar penuturan Vira, Mak tukang urut paham apa maunya Vira.

Mak mulai meraba perlahan pergelangan kaki yang ditujuk Tari.

Yanti akting sesekali meringis berusaha terlihat meyakinkan.

Mak tidak menemukan tanda-tanda bengkak ataupun pergeseran pada sendi.

Ema melirik Vira. Mereka berdua memakai bahasa isyarat.

2026-07-28

1

Anitha

Anitha

Nah orang yang berpura² keseleo biar di bikin keseleo beberan...

ah Vira idenya cemerlang juga,serahin saja sama Mak🤣di apain nanti tuh kakinya si Yanti yang tidak tahu diri itu

2026-07-05

2

lihat semua
Episodes
1 1. Cinta yang Membunuhku
2 2. Awal Takdir yang Baru
3 3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4 4. Takdir Mulai Bergeser
5 5. Sandiwara
6 6. Jebakan yang Datang Kembali
7 7. Balas Budi Telah Lunas
8 8.Balas Budi Telah Lunas
9 9. Boleh Aku Mendekatimu?
10 10. Pintu yang Mulai Tertutup
11 11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12 12. Kabar yang Membuat Panik
13 13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14 14. Benih Kebohongan
15 15. Ancaman Pengusiran
16 16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17 17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18 18. Api Fitnah Kian Membesar
19 19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20 20. Harga Sebuah Nama Baik
21 21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22 22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23 23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24 24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25 25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26 26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27 27. Orang yang Mau Berjuang
28 28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29 29.Saat Fitnah Diadili
30 30. Fitnah yang Terbongkar
31 31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32 32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33 33. Bukan Daril
34 34. Utang Budi yang Menyesatkan
35 35. Malam Pengkhianatan
36 36. Nyaris Terlambat
37 37. Aku Mau Menikahinya
38 38.Pilihan di Tengah Fitnah
39 39. Satu Barang Bukti
40 40. Keterangan yang Bertentangan
41 41. Kebenaran Mulai Mengejar
42 42. Klarifikasi di Balai Desa
43 43. Buronan dari Desa
44 44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45 45. Akad di Tengah Luka
46 46. Akad yang Menghapus Luka
47 47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48 48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49 49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50 50. Pelukan di Tengah Hujan
51 51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52 52. Perubahan yang Membuat Pangling
53 53. Dicintai dengan Benar
54 54. Jebakan yang Berbalik Arah
55 55. Luka yang Menguatkan
56 56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57 57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58 58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59 59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60 60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61 61. Vonis yang Terlambat
62 62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63 63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64 64. Rumah yang Sebenarnya
Episodes

Updated 64 Episodes

1
1. Cinta yang Membunuhku
2
2. Awal Takdir yang Baru
3
3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4
4. Takdir Mulai Bergeser
5
5. Sandiwara
6
6. Jebakan yang Datang Kembali
7
7. Balas Budi Telah Lunas
8
8.Balas Budi Telah Lunas
9
9. Boleh Aku Mendekatimu?
10
10. Pintu yang Mulai Tertutup
11
11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12
12. Kabar yang Membuat Panik
13
13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14
14. Benih Kebohongan
15
15. Ancaman Pengusiran
16
16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17
17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18
18. Api Fitnah Kian Membesar
19
19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20
20. Harga Sebuah Nama Baik
21
21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22
22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23
23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24
24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25
25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26
26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27
27. Orang yang Mau Berjuang
28
28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29
29.Saat Fitnah Diadili
30
30. Fitnah yang Terbongkar
31
31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32
32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33
33. Bukan Daril
34
34. Utang Budi yang Menyesatkan
35
35. Malam Pengkhianatan
36
36. Nyaris Terlambat
37
37. Aku Mau Menikahinya
38
38.Pilihan di Tengah Fitnah
39
39. Satu Barang Bukti
40
40. Keterangan yang Bertentangan
41
41. Kebenaran Mulai Mengejar
42
42. Klarifikasi di Balai Desa
43
43. Buronan dari Desa
44
44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45
45. Akad di Tengah Luka
46
46. Akad yang Menghapus Luka
47
47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48
48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49
49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50
50. Pelukan di Tengah Hujan
51
51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52
52. Perubahan yang Membuat Pangling
53
53. Dicintai dengan Benar
54
54. Jebakan yang Berbalik Arah
55
55. Luka yang Menguatkan
56
56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57
57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58
58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59
59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60
60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61
61. Vonis yang Terlambat
62
62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63
63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64
64. Rumah yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!