Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

1. Cinta yang Membunuhku

"Jangan bergerak!"

Seorang pria bertubuh besar menarik rambut Mirna hingga wanita paruh baya itu menjerit. Sebilah pisau menempel di lehernya.

"Ahh... sakit! Lepaskan aku!" pekik Mirna.

"Diam!" bentak perampok itu.

Tubuh Vira membeku; tenggorokannya serasa tercekat. "Jangan sakiti ibu saya," katanya berusaha tetap tenang. "Apa yang kalian mau, saya akan berikan."

"Serahkan semua uang dan barang berharga kalian, atau leher wanita tua ini putus sekarang juga!"

Melihat tak ada satu orang pun bergerak, perampok itupun geram.

"Cepat!" bentaknya. "Atau kalian semua ingin mati hah?!"

Yanti, sepupu Vira yang berdiri di sudut ruangan gemetar hebat. "Vira, kasih saja! Kasih semuanya!" teriaknya panik. "Uang bisa dicari lagi. Aku gak mau mati!"

Perampok lain mulai mengobrak-abrik lemari dan laci.

"Cepat!" bentaknya. "Di mana uangnya?"

Vira baru saja hendak melangkah ketika suara mesin mobil terdengar dari luar rumah.

Brummm...

Lampu mobil menyorot melalui jendela depan.

Salah satu perampok menoleh. "Sial! Ada yang datang!"

Pintu rumah terbuka.

Daril memasuki ruang tengah, wajahnya langsung berubah tegang saat melihat ibunya ditodong dengan pisau.

"Daril!" seru Vira.

"Jangan bergerak!" ancam perampok sambil menekan pisaunya lebih kuat ke leher Mirna.

Daril mengangkat kedua tangannya. "Tenang. Saya tidak akan macam-macam."

"Serahkan semua uang kalian!"

Daril melirik Vira. Vira mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian, uang tunai yang ada di rumah sudah berada di atas meja.

"Ini semua uang yang ada," kata Vira.

Perampok itu tampak ragu.

Saat perhatian mereka teralihkan pada tumpukan uang, Daril diam-diam bergeser mendekati Mirna.

"Daril, jangan!" bisik Vira tegang.

Namun Daril menemukan celah. Dan--

Brak!

Ia menendang lutut perampok yang menyandera ibunya hingga pria itu terjatuh.

"Bu, lari!" teriak Daril.

Mirna langsung merangkak menjauh.

"Kampret!" umpat perampok yang terjatuh. "Hajar dia!"

Perkelahian pecah. Daril dan salah satu perampok saling pukul. Yang lain mendekat hendak mengeroyok.

"Tolong! Tolong!" teriak Yanti.

"Diam!" bentak salah satu perampok berbalik menghampiri Yanti.

Vira mengambil guci keramik di samping buffett.

PRANG!

Guci menghantam punggung perampok itu, pecah berhamburan di lantai.

"Akh!" Perampok terhuyung.

"Jangan coba melawan atau kalian semua akan mati!" ancam salah satu dari mereka.

Yanti makin menjerit histeris. "Tolong! Tolong! Ada perampok!"

Bahkan Mirna dan Vira ikut berteriak.

Mendengar teriakan yang semakin keras, para perampok mulai panik.

"Sial! Kabur!"

Mereka berlari keluar rumah. Suara langkah kaki menjauh dengan cepat. Beberapa detik kemudian, rumah itu kembali sunyi.

"Kita selamat..." gumam Vira lega, meski napasnya masih memburu.

Daril berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya jatuh pada sebilah pisau yang tergeletak di lantai. Pisau yang ditinggalkan perampok.

Perlahan, ia membungkuk dan mengambilnya dengan sapu tangan.

Vira yang melihatnya mengernyit. "Daril, kenapa kamu mengambilnya? Letakkan. Itu bisa jadi barang bukti untuk menangkap para perampok tadi."

Tapi Daril malah melangkah mendekat ke arahnya.

"Lihatlah pisau ini," kata Daril dengan suara rendah.

Ia membolak-balikkan pisau di tangannya itu dengan senyuman yang terasa ganjil.

"Daril, kamu mau apa?" tanya Vira yang tiba-tiba merasa tengkuknya terasa dingin.

Daril berhenti tepat di depan Vira, lalu menunduk dan berbisik dengan suara yang terdengar datar, nyaris dingin.

"Mengirimmu menyusul orang tuamu."

Jleb!

Tanpa peringatan, ia menusukkan pisau itu ke tubuh Vira.

Mata Vira membelalak. Ia menatap pisau yang menancap di perutnya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Daril.

"D-Daril...?"

Pria itu menatapnya tanpa rasa bersalah.

"Kenapa?" tanya Vira dengan suara bergetar. "Kenapa kau membunuhku?"

"Kau tahu kenapa aku bertahan selama ini?" Daril tersenyum dingin. "Karena hartamu."

"Kau...?" Vira menatap suaminya tak percaya.

"Sekarang usaha ini sudah cukup besar," lanjut Daril. "Aku tak membutuhkanmu lagi. Kau terlalu banyak mengatur. Semua uang harus lewat persetujuanmu. Aku muak hidup di bawah kendali perempuan."

"Hugh..."

Vira memuntahkan darah saat Daril mendorong pisau itu lebih dalam.

"Lagipula..." Sorot mata Daril tajam menusuk. "Wanita mandul sepertimu memang tidak berguna. Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."

Tubuh Vira melemah. Darah terus mengalir dari lukanya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menoleh ke arah Yanti. "Tolong aku..."

Namun, Yanti hanya tersenyum. Ia mendekat, lalu memeluk lengan Daril. "Kau benar-benar bodoh, Vira. Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Aku mencintai Daril."

Vira menatap Yanti dengan mata berkaca-kaca.

"Aku sudah lama menunggu hari ini," kata Yanti penuh senyuman. "Setelah kau mati, aku bisa menikah dengan Daril."

Dada Vira terasa bagai dihantam batu besar. Dengan putus asa, ia menatap Mirna, berharap wanita yang ia rawat dan sayangi seperti ibunya sendiri itu menolongnya.

Namun Mirna justru mendengus. "Lebih baik kau mati. Selama ini kau terlalu cerewet. Sedikit-sedikit melarangku makan ini dan itu. Aku lebih memilih Yanti jadi menantuku."

Air mata mengalir dari sudut mata Vira. Ia tidak pernah menyangka akan mati di tangan pria yang dicintainya. Lebih menyakitkan lagi, ia juga dikhianati oleh sepupunya sendiri dan dibenci oleh ibu mertuanya yang selama ini selalu ia jaga.

Saat kesadarannya mulai menghilang, hanya ada satu penyesalan dalam hidupnya.

"Jika diberi kesempatan kedua..."

Vira tersenyum pahit. Darah hangat masih mengalir dari luka di perutnya.

"...aku tidak akan pernah menikahi Daril."

Kelopak matanya perlahan tertutup. Dan--

Gelap.

Tok! Tok! Tok!

"Ra! Vira! Ra!"

Tok! Tok! Tok!

"Vira! Bangun!"

Vira tersentak. Aroma racun nyamuk bakar menusuk hidungnya.

"Ngh..."

Napasku...?

Refleks, kedua tangannya langsung meraba perutnya. Tidak ada pisau, tidak ada darah. Perutnya utuh.

Namun rasa nyeri itu masih terasa begitu nyata, seolah mata pisau Daril baru saja menembus tubuhnya beberapa detik yang lalu.

"Hah...!"

Ia terengah-engah. Napasnya memburu, seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin.

Tok! Tok! Tok!

"Vira! Kamu sudah bangun belum?"

Suara itu... Itu suara Daril.

Tubuh Vira menegang. Wajah pria yang menusukkan pisau ke tubuhnya kembali terlintas jelas di benaknya.

 

"Karena aku sudah muak padamu."

"Wanita mandul dan pelit."

"Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."

 

"Jangan... jangan mendekat..." gumam Vira lirih sambil mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Matanya bergerak liar mengamati kamar.

Lemari kayu tua, meja belajar, rak buku. Boneka kain yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.

"Ini... Bukankah ini kamar lamaku?"

Tangannya gemetar saat meraih kalender yang tergantung di dinding. Ia membeku. Tanggal itu...

Mustahil.

"Ini... lima tahun yang lalu?"

Dadanya naik turun. Dengan tergesa ia turun dari ranjang, lalu berlari menuju cermin.

Di sana, pantulan seorang perempuan berusia awal dua puluhan menatap balik ke arahnya. Belum ada gurat lelah di wajahnya. Belum ada bekas luka. Belum ada cincin pernikahan di jari manisnya.

"Apa ini mimpi?"

Air matanya tiba-tiba mengalir.

"Aku... hidup?"

Ia menatap kedua telapak tangannya berulang kali, seolah takut semua ini hanya mimpi.

Tok! Tok! Tok!

"Ra! Cepat buka pintunya!"

Suara Daril kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Tubuh Vira langsung membeku. Bukan rindu yang memenuhi dadanya.

Melainkan ketakutan.

Ingatan tentang pisau yang menembus tubuhnya kembali berkelebat. Tanpa sadar, ia mundur beberapa langkah dari pintu.

"Vira?" panggil Daril lagi. "Aku tahu kamu di dalam. Tolong buka sebentar. Aku butuh bicara."

Vira mengepalkan tangannya. Air matanya berhenti mengalir. Sorot matanya perlahan berubah dingin.

Ia ingat. Hari ini... adalah hari ketika Daril datang meminjam uang dengan alasan Mirna sakit. Hari ketika ia mulai mengorbankan segalanya demi pria itu. Namun... Kali ini berbeda.

"Kau datang mencari pertolongan..." bisiknya pelan. "...dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."

 

...✨"Pengkhianatan terbesar bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang paling kita percaya."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anitha

Anitha

mampir kak....
apa bener dalam mimpinya Vira itu akan jadi kenyataan,dan menunjukan sifat asli Daril dan ibunya nenikah dengan Vira karena Harta

2026-07-03

3

LibraGirls

LibraGirls

Haiiiiii shaya Mampir kesini karna author Nana 😁

2026-07-13

1

Muzaata Alenmiyu

Muzaata Alenmiyu

aku mampir thor,, baru dapet notif hari ini 🙏🏼😁

2026-07-07

1

lihat semua
Episodes
1 1. Cinta yang Membunuhku
2 2. Awal Takdir yang Baru
3 3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4 4. Takdir Mulai Bergeser
5 5. Sandiwara
6 6. Jebakan yang Datang Kembali
7 7. Balas Budi Telah Lunas
8 8.Balas Budi Telah Lunas
9 9. Boleh Aku Mendekatimu?
10 10. Pintu yang Mulai Tertutup
11 11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12 12. Kabar yang Membuat Panik
13 13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14 14. Benih Kebohongan
15 15. Ancaman Pengusiran
16 16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17 17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18 18. Api Fitnah Kian Membesar
19 19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20 20. Harga Sebuah Nama Baik
21 21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22 22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23 23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24 24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25 25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26 26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27 27. Orang yang Mau Berjuang
28 28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29 29.Saat Fitnah Diadili
30 30. Fitnah yang Terbongkar
31 31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32 32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33 33. Bukan Daril
34 34. Utang Budi yang Menyesatkan
35 35. Malam Pengkhianatan
36 36. Nyaris Terlambat
37 37. Aku Mau Menikahinya
38 38.Pilihan di Tengah Fitnah
39 39. Satu Barang Bukti
40 40. Keterangan yang Bertentangan
41 41. Kebenaran Mulai Mengejar
42 42. Klarifikasi di Balai Desa
43 43. Buronan dari Desa
44 44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45 45. Akad di Tengah Luka
46 46. Akad yang Menghapus Luka
47 47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48 48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49 49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50 50. Pelukan di Tengah Hujan
51 51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52 52. Perubahan yang Membuat Pangling
53 53. Dicintai dengan Benar
54 54. Jebakan yang Berbalik Arah
55 55. Luka yang Menguatkan
56 56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57 57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58 58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59 59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60 60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61 61. Vonis yang Terlambat
62 62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63 63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64 64. Rumah yang Sebenarnya
Episodes

Updated 64 Episodes

1
1. Cinta yang Membunuhku
2
2. Awal Takdir yang Baru
3
3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
4
4. Takdir Mulai Bergeser
5
5. Sandiwara
6
6. Jebakan yang Datang Kembali
7
7. Balas Budi Telah Lunas
8
8.Balas Budi Telah Lunas
9
9. Boleh Aku Mendekatimu?
10
10. Pintu yang Mulai Tertutup
11
11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
12
12. Kabar yang Membuat Panik
13
13. Sebelum Lamaran Itu Datang
14
14. Benih Kebohongan
15
15. Ancaman Pengusiran
16
16. Fitnah yang Mulai Menyebar
17
17. Benih Fitnah di Balik Senyum
18
18. Api Fitnah Kian Membesar
19
19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
20
20. Harga Sebuah Nama Baik
21
21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
22
22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
23
23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
24
24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
25
25. Langkah Baru di Tengah Fitnah
26
26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
27
27. Orang yang Mau Berjuang
28
28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
29
29.Saat Fitnah Diadili
30
30. Fitnah yang Terbongkar
31
31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
32
32. Akhir Fitnah, Awal Dendam
33
33. Bukan Daril
34
34. Utang Budi yang Menyesatkan
35
35. Malam Pengkhianatan
36
36. Nyaris Terlambat
37
37. Aku Mau Menikahinya
38
38.Pilihan di Tengah Fitnah
39
39. Satu Barang Bukti
40
40. Keterangan yang Bertentangan
41
41. Kebenaran Mulai Mengejar
42
42. Klarifikasi di Balai Desa
43
43. Buronan dari Desa
44
44. Penyesalan yang Datang Terlambat
45
45. Akad di Tengah Luka
46
46. Akad yang Menghapus Luka
47
47. Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
48
48. Ancaman di Balik Kebahagiaan
49
49. Semakin Jauh dari Jalan Pulang
50
50. Pelukan di Tengah Hujan
51
51. Hak yang Dijaga dengan Hormat
52
52. Perubahan yang Membuat Pangling
53
53. Dicintai dengan Benar
54
54. Jebakan yang Berbalik Arah
55
55. Luka yang Menguatkan
56
56. Bahagia yang Terlambat Kusadari
57
57. Kebahagiaan yang Membakar Iri
58
58. Tertangkap Basah di Tengah Malam
59
59. Akhir Pelarian, Awal Kehidupan Baru
60
60. Kehidupan Baru, Penyesalan Lama
61
61. Vonis yang Terlambat
62
62. Bahagia di Kesempatan Kedua
63
63. Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
64
64. Rumah yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!