Dari kerumuhan warga, muncul dua anak kecil yang memegang kalungan bunga yang jelas terlihat merupakan rangkaian sendiri. Merasa paham dengan keinginan sang anak kecil, Risda langsung jongkok didepan anak kecil itu, berbagi senyum dulu baru sang anak mengalungkan bunga keleher Risda, spontan Risda memeluk yang dibalas sang anak dengan hangat dan kuat.
“Namanya siapa ?”.
“Meilani Bu”.
“Kelas berapa sekarang ?”.
“Kelas satu Bu”.
Risda mengelus kepala Meilani perlahan. “Terima kasih ya …”.
“Sama sama Bu”.
Risda berdiri lagi dan langsung mengikuti Asrul yang menyalami banyak warga yang menyambut mereka. Warga mengarak Risda dan Asrul ke balai desa dengan terus tertawa dan bernyanyi gembira. Ini yang membuat Risda maupun Asrul merasa bagai orang penting dari Ibukota.
Sambutan ini memang tak bernilai mewah, tapi ungkapan dan nyanyian mereka membuat suasana sangat riuh dan gembira, satu sambutan luar biasa yang Risda dan Asrul sama sekali tak pernah menyangka akan mereka terima.
Waktu berjalan tampak cukup cepat, saat sore menjelang semua sudah kembali kerumah masing-masing. Risda dan Asrul masih terus menerima jabat tangan para warga yang hendak pulang, penuh tawa dan senyum yang saling balas membalas, keadaan baru lengang saat maghrib menjelang. Risda dan Asrul beranjak menuju rumah yang bakal menjadi tempat tinggal mereka.
“Ini kamar Bu Risda, yang sana Kamar Pak Asrul. Silahkan Pak, Bu..”.
Risda dan Asrul hanya tersenyum dan beranjak menuju kamar masing masing. Risda agak terkejut melihat kondisi kamarnya yang lumayan bagus, jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya.
Kamar yang diberikan kepadanya ini sama sekali tak ada samanya dengan cerita teman temannya dulu yang mengatakan fasilitas didaerah yang bakal ditempati jauh dari kata layak.
Risda duduk ditempat tidur yang pakai kasur cukup bagus. Tangan Risda menuju saku celananya dan mengambil HP yang ada disana. Kali ini Risda baru tepuk kepala, tak ada sinyal sama sekali.
Ini satu dari sekian yang benar dari apa yang…
Tak Perlu Ada Cinta
Memulai Hidup di Pedalaman
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 136 Episodes
Comments
Khairil Anwar Peni
Itulah kenyataan yang ada di negeri ini. Dalam penempatan guru yang tidak merata sehingga ada yang maju sekali sementara ada yang tertinggal jauh dari kata layak
2021-05-27
1
Yoo_Rachel
boom likeeeee
2021-04-20
1