Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / CEO
Popularitas:78.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestary

"Aku tidak mencintaimu, Raya. Kau hanya pelengkap... sampai dia kembali."

Itulah kalimat pertama yang Raya dengar dari pria yang kini secara sah menjadi suaminya, Arka Xander — CEO dingin yang membangun tembok setebal benteng di sekeliling hatinya.

Raya tak pernah memilih jalan ini.
Di usia yang baru dua puluh tahun, ia dipaksa menggantikan kakak tirinya di altar, menikah dengan pria yang bahkan tak ingin melihat ke arahnya.
Pernikahan mereka adalah rahasia keluarga—dan dunia mengira, kakak tirinya lah yang menjadi istri Arka.

Selama dua tahun, Raya hidup dalam bayang-bayang.
Setiap pagi, ia tersenyum palsu, berusaha tidak berharap lebih dari tatapan kosong suaminya.
Sampai suatu malam, satu kesalahan kecil—sepotong roti—mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Arka menatapnya bukan sebagai pengganti... melainkan sebagai wanita yang menggetarkan dunianya.

Namun, ketika cinta mulai mekar di tengah dinginnya hubungan, masa lalu datang menerjang tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch : Satu

Suara alarm di ponsel berbunyi nyaring, menggema di kamar yang sunyi dan sedikit terlalu dingin untuk selera Raya. Ia mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi kepala, berharap bisa menunda kenyataan barang lima menit saja. Tapi ia tahu, tetap saja, tidak akan ada yang berubah.

Hari ini, seperti kemarin. Seperti besok. Seperti dua tahun terakhir yang sepi dan hambar.

Dengan malas, Raya menggapai ponsel di meja samping tempat tidur dan mematikan alarm. Matanya masih setengah terpejam saat ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar di sudut ruangan. Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, menggambar pola-pola lembut di lantai kayu.

"Good morning to me..." gumamnya lirih, berusaha memotivasi diri sendiri.

Kakinya menyentuh lantai yang dingin, membuat tubuhnya bergidik. Dengan langkah malas, ia berjalan menuju kamar mandi, mencuci wajah, lalu berdiri beberapa detik menatap bayangannya sendiri di cermin. Rambut cokelat panjangnya berantakan, matanya masih sayu, tapi senyum kecil tetap ia paksakan.

"Semangat, Raya. Ini cuma satu hari lagi... lalu satu lagi... lalu satu lagi... sampai kamu bebas," bisiknya pada dirinya sendiri.

Setelah bersiap, mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang hitam, Raya melangkah keluar dari kamarnya. Ia melewati lorong panjang dengan dinding berwarna netral dan dekorasi minimalis yang terlalu sunyi untuk rumah sebesar ini.

Turun ke dapur, ia menemukan pemandangan yang sudah biasa: Arka duduk di meja makan, dengan ekspresi datar, menyesap kopinya perlahan sambil menatap tablet di tangannya. Setelan kerja hitamnya sudah rapi, dasi abu-abunya sempurna tanpa cela. Bahkan di pagi hari pun, pria itu terlihat seperti potret profesionalisme yang membosankan.

Raya menarik napas dalam-dalam.

‘Oke, mulai akting.’

"Selamat pagi," ucap Raya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Arka hanya mengangguk sedikit tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet. Tidak ada ‘pagi juga’, tidak ada senyum, tidak ada percakapan ringan. Seperti biasa.

Raya mengabaikan rasa sesak di dadanya dan menuju kulkas, mengambil sebotol susu untuk sarapan serealnya. Ia makan dengan cepat, karena tahu Arka akan segera berangkat, dan setelah itu rumah ini akan kembali sunyi seperti biasanya.

Begitu Arka selesai dengan kopinya, ia bangkit dari kursinya. Hanya suara gesekan kursi dengan lantai yang terdengar.

"Aku pergi," katanya singkat, akhirnya memecah keheningan.

Raya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Hati-hati di jalan," balasnya, walaupun ia tahu, Arka tidak pernah benar-benar mendengarnya.

Pintu depan tertutup dengan suara klik yang khas, meninggalkan keheningan yang menggantung di udara.

Raya menghela napas panjang, meletakkan sendok di mangkuk kosongnya.

"Dan... rumah ini kembali menjadi museum," katanya sambil menatap kosong ke arah pintu.

Ia menatap jam dinding. Pukul 07.20. Masih ada waktu untuk bersantai sebelum berangkat magang—ke kantor yang sama dengan tempat Arka menjadi CEO. Ironis. Setiap hari, mereka bekerja di bawah atap yang sama, namun tak ada satu orang pun yang tahu hubungan mereka.

Semua orang percaya, istri Arka adalah Amara. Bukan dirinya.

Dan anehnya, Raya merasa lega sekaligus sedih tentang itu.

Ia menatap ke luar jendela, menonton dunia kecil di luar sana perlahan-lahan berdenyut hidup. Orang-orang terburu-buru memulai hari mereka, bersemangat, penuh tujuan. Sedangkan dirinya...

Ia menjalani hari hanya karena itu bagian dari rutinitas yang tidak bisa ia tinggalkan.

Sambil bersandar di kursi, Raya membayangkan, andai saja dua tahun lalu ia tidak mengorbankan dirinya di altar. Andai saja ia berani menolak. Tapi semua itu sudah lewat. Ia terjebak dalam pernikahan rahasia yang tidak pernah ia pilih.

Raya tersenyum miris.

Lucu, bagaimana hidup bisa berubah hanya dalam satu hari. Dari seorang mahasiswi biasa, menjadi... istri CEO. Tapi tanpa cinta, tanpa kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Hanya status yang bahkan harus ia sembunyikan dari dunia.

Ia menutup matanya sebentar. Membiarkan perasaan hampa itu mengisi dadanya, sebelum akhirnya memaksakan diri bangkit.

‘Move, Raya. Hidup ini tidak akan menunggu orang malas.’

Mengambil tas ransel, ia memeriksa berkas-berkas magangnya, lalu mengunci pintu rumah dan bergegas keluar menuju halte bus. Meski ia tinggal bersama pria super kaya, Raya tetap mempertahankan kehidupannya yang sederhana. Tidak pernah mau menyetir mobil mewah, tidak pernah meminta kemudahan apapun.

Ia ingin menjaga sedikit kebebasan kecil yang masih tersisa.

Saat bus melaju membawa dirinya menuju pusat kota, Raya bersandar di jendela, menatap pemandangan yang bergulir cepat. Ia tidak sadar, bahwa pagi ini—yang tampak biasa saja—akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

*

Gedung megah milik Xander Corp menjulang tinggi di tengah kota, berkilauan diterpa matahari pagi.

Raya menarik napas panjang sebelum melangkah melewati pintu putar kaca, memasuki dunia yang asing namun perlahan mulai akrab baginya.

Sudah satu minggu ia bekerja di sini sebagai karyawan magang di divisi pemasaran.

Pekan pertamanya terasa seperti berjalan di atas tali — penuh kehati-hatian, takut tergelincir di antara para profesional yang tampak jauh lebih berpengalaman.

Langkah kakinya berhenti di depan lift.

Raya melirik arlojinya. Jam delapan kurang sepuluh menit. Tepat waktu, seperti biasa.

Setibanya di lantai 17, ia segera bergegas menuju ruang kerjanya, sebuah ruangan luas dengan sekat-sekat kaca, penuh dengan suara keyboard yang beradu cepat dan bisikan-bisikan kecil.

"Raya!"

Suara ceria menyapanya.

Raya menoleh dan menemukan Clara, senior yang membimbingnya selama masa magang ini. Wanita itu tersenyum ramah sambil melambaikan tangan.

"Selamat pagi, Kak Clara," sapa Raya sopan, menganggukkan kepala.

"Ayo, ikut aku. Ada rapat divisi pagi ini," kata Clara, menggamit lengannya ringan.

Raya mengangguk patuh, mengikuti Clara menuju ruang rapat kecil di ujung lorong.

Di sepanjang perjalanan, beberapa karyawan lain melirik ke arah mereka — atau lebih tepatnya, melirik ke arah Raya.

Raya sudah terbiasa dengan tatapan itu.

Sejak hari pertamanya, desas-desus tentang dirinya sudah beredar.

Bukan karena prestasi atau penampilannya.

Tapi karena satu fakta kecil yang tampaknya mengguncang seluruh lantai:

Raya adalah adik ipar dari CEO perusahaan, Arka Xander.

Dan parahnya, selama seminggu ini, ia belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan sang CEO di kantor.

Semuanya seolah menganggap Raya seperti makhluk aneh, mencurigai ada 'hubungan istimewa' yang membuatnya bisa magang di tempat elit seperti ini.

Begitu mereka duduk di ruang rapat, pembicaraan tak lama kemudian bergulir.

"Eh, Raya," bisik Clara sambil mencondongkan tubuh, suaranya dibuat setengah berbisik, setengah menggoda, "bener ya kamu itu... adik iparnya Pak Arka?"

Raya terkejut sesaat, sebelum mengangguk canggung. "I-iya, kak. Tapi kami nggak dekat..."

"Ohhh..." Clara mengedipkan mata penuh arti.

Beberapa rekan lain mulai mendekat, pura-pura sibuk sambil memasang telinga.

"Aku dengar, Pak Arka itu... orangnya super galak ya? Sampai-sampai, semua kepala divisi aja pada gemeteran kalau dipanggil ke lantai 30," celetuk seorang senior pria bernama Rio.

"Aku juga pernah dengar," sahut Nadia, staf pemasaran lain, menambahkan. "Katanya, ekspresi dia tuh nggak pernah berubah. Kayak... patung hidup."

Beberapa orang terkikik pelan.

Raya hanya bisa tersenyum tipis, tidak tahu harus merespons apa.

Dalam hati, ia mengakui — selama di rumah pun Arka memang bukan orang yang banyak berbicara, apalagi menunjukkan ekspresi.

To Be Continued >>>

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
Tika Septi
up ny lama bgt mesti
Sarinah Quinn
di tunggu up nya thor 🙏❤️
Harun Gayam
up lg , lanjut .
Tika Septi
trlalu lama update ny smpai lupa critany
Suparmi Fatih
Thor ini episode terakhir ya khok nggak up lagi
Lalula _
udh lupa min cerita nya
Eva Septa Juwita
Bagus bikin penasaran
Eva Septa Juwita
Mana lg lanjutanya
Chelviana Poethree
thor
Suparmi Fatih
ini cerita mau lanjut apa udah nggak berakhir
arsenmakapuas
next
falea sezi
laki tempe menye2
falea sezi
ortu arka tololll
Mundri Astuti
si arka pengecut ...dah lah raya kamu mesti kuat dan mandiri, Krn kamu skrg ngga sendiri, ada calon anak yg mesti kamu lindungi dan sayangi
sutiasih kasih
smua krumitan itu krna km yg mncitakn sndiri arka....
km itu laki" banci menye"....
klo km mncintai raya.... dan punya sikap tegas.... g akn km bkalan mnikahi amara....
kmu itu serakah... mau dpt dua"nya... raya & amara....
smoga di masa datang.... km bkalan nyesel seumur hidupmu sdh mnyia"kn raya jga ankmu... hnya demi pikiranmu yg bodoh.... keegoisan org tuamu dan keserakahan amara....
sutiasih kasih
mnyesakn.... klo punya suami jiwa banci... g ada tegasnya.... g punya sikap sng garda untuk istri ap lgi skrg ada calon baby....
klo arka lbh mengalah untuk mngikuti kmauan org tuanya yg tak punya hati.... sdh lah jgn lgi ada prtemuan di msa datang.... & g prlu arka jga org tuanya yg gila itu tau klo ada darah daging yg telupakan....
klo prlu saat arka yg bodoh itu mnikahi mantan sialannya.... tak kn ada kturunan yg hadir untuk mereka para pnghianat... bhkn mantu idaman trnyata seorang jalang murahan...
biar nyesel seumur hidup tuh.... krna sdh mnyia"kn raya...
Suparmi Fatih: ini mau lanjut apa tamat sih thor,lama update nya
total 2 replies
miaFM86
rayanya ribet orngnya,,,arka gk gentle,,,
Mundri Astuti
ni rayanya lemah, arkanya ngga tegas, ngga bisa melindungi ..kumaha iye
sutiasih kasih
msa iya km itu g punya sikap arka...
org tuamu... slm ini brfikiran sesat... dan km jga tak melihat bgmn raya yg sdh mnjadi tumbal atas kbrjatan calon mantu jsayangan org tuamu yg dungunya klewatan....
tak bisa melihat mna perempuan tulus dan yg busuk...
krumitan smua itu km yg mnciptakn arka.... andai km jdi laki" tegas dlm mngmbil tindakn.... g akn km khilangan raya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!